
Hari berganti menjadi pagi, tampak penghuni bumi mulai melaksanakan aktivitas pagi mereka, jam menunjukkan pukul 7 pagi, Luna mengerjapkan matanya, ia melihat benda yang terasa hangat di depannya.
Terdengar degupan jantung beraturan dari pemilik tubuh yang Luna peluk saat ini. Luna mendongak dan menatap wajah Gama.
Seperti biasa jika ia bangun terlebih dahulu, Luna akan memandangi wajah tampan itu sambil tersenyum. Entah kenapa ia sangat suka melihat wajah itu, wajah yang selalu membuatnya merasa tenang.
"Dia sepertinya kelelahan," batin Luna sambil memainkan jari-jarinya di wajah Gama, mungkin efek kelelahan, Gama tidak menggubris sama sekali sentuhan Luna di wajahnya.
"Dia sangat tampan, emmm... sebaiknya hari ini aku memasak makanan spesial untuk mereka semua," ucap Luna sambil tersenyum lembut memikirkan apa yang akan ia masak pagi ini.
Dengan perlahan Luna melepas pelukan tangan Gama di pinggangnya, perlahan-lahan ia turun dari ranjang, kemudian ia memperbaiki selimut Gama, setelah itu ia menyibakkan selimut di bagian kaki Gama lalu mulai melakukan pijitan lembut agar pria itu tidak terbangun.
"Semoga kamu cepat pulih ya kaki, kasihan dia harus terpuruk selama setahun ini," Luna berbicara pada kaki Gama layaknya berbicara dengan manusia, memang ada saja tingkah gadis bar bar ini.
Setelah selesai, Luna membersihkan diri selama beberapa menit dan memakai pakaian baru yang sangat cock di pakai olehnya. Luna terlihat mengenakan sebuah dress Biru tua sepanjang mata kaki dengan lengan pendek.
Rambut birunya diikat setengah dan wajahnya di biarkan polos begitu saja namun tetap sangat cantik natural.
"Wah cantik sekali hehheh," ucap Luna memuji dirinya sendiri di depan kaca.
Luna mendekati suaminya, ia tersenyum melihat wajah Gama yang terlelap dengan sangat tenang.
Luna merapikan rambut pria itu yang sedikit berantakan. Ia menatap wajah itu, jujur saja Luna memang sudah jatuh cinta dengan suaminya sendiri, apalagi saat ia tau kalau ia jatuh cinta, dia semakin bahagia karena baru pertama kali merasakan hal itu.
"Hatiku telah jatuh padamu, kuharap di sini juga ada rasa yang sama," ucap Luna pelan sambil memegang dada suaminya.
Cup
Luna memberanikan diri mengecup kening Gama.
"Astaga apa aku terlalu berani, haishhh aku bisa di tuduh melecehkan seorang pria yang sedang tiduran nanti," gumam Luna sambil menepuk bibirnya sendiri.
"Hmm tapi gak apa apa deh, heheheh, aku masak dulu ya suamiku hihihihi," Luna cekikikan dengan dirinya sendiri karena selalu bertingkah aneh jika di dekat Gama.
Luna meninggalkan Gama di dalam kamar lalu pergi menuju dapur tanpa tersesat. Tentu saja tidak tersesat, ia sudah mengelilingi rumah besar itu semalam walaupun belum semuanya tapi ia sudah tau letak ruangan yang akan sering dikunjunginya.
Sementara itu di dalam kamar tampak Gama duduk di atas ranjangnya sambil tersenyum, ia memegang kening yang dicium Luna tadi.
__ADS_1
Sebenarnya Gama tidak benar-benar tertidur, ia sudah bangun sejak jam 6 pagi dan memilih memandangi wajah cantik istrinya, saat ia melihat Luna bergerak dalam pelukannya ia langsung kembali ke mode pura-pura tidur.
Ia mendengar semua ucapan gadis itu, ia begitu terharu mendapatkan seorang gadis yang menerima dirinya apa adanya.
"Aku juga mencintaimu sayang," batin Gama.
Gama meraih ponselnya lalu menghubungi sebuah nomor disana.
"Atur jadwalku dan pastikan dokter yang akan menangani ku yang terbaik, seminggu lagi aku akan berangkat setelah menyelesaikan semua urusan di perusahaan, dan ingat pastikan nona muda dan nyonya kalian aman!!" ucap Gama dengan tegas pada Rendi tangan kanannya yang lain.
Jika Mark membantunya mengurusi masalah perusahaan, maka Rendi akan membantunya dalam urusan pribadi. Terkadang mereka bekerjasama melaksanakan satu tugas yang sama seperti saat ini menyelesaikan kasus Andin. Tugas mereka tergantung pada ucapan Gama, terkadang mereka bisa bertukar peran.
Rendi dan Mark saling mengenal, Rendi lebih tua daripada Gama dan Mark, pria itu berusia sekitar 32 tahunan dan dia menjadi asisten tuan Park saat usianya baru menginjak 19 tahun.
Rendi sendiri sudah menikah dan mempunyai sepasang anak yang sangat menggemaskan. Istrinya adalah salah satu manajer di perusahaan Gama.
"Baik tuan, mengenai data nyonya Luna saya menemukan sesuatu yang akan membuat kita semua terkejut tuan," ujar Rendi dari seberang telepon.
"Hmmm segera kirimkan semua hasilnya padaku, dan tes yang terakhir kali kukatakan padamu!" ucap Gama dengan nada yang sangat serius.
"Baik tuan," ucap Rendi.
"Baik tuan!" ucap Rendi dengan nada hormat dan taat.
Setelah selesai dengan urusannya dengan Rendi, Gama menghubungi Mark dan memastikan pria itu melakukan pekerjaannya dengan baik dan menyelesaikan semuanya dengan bersih.
Tampak Gama berbicara dengan serius pada Mark, ia sedang memerintahkan Mark untuk menyelesaikan tugasnya secepat mungkin ,jika boleh hari ini juga ia sudah selesai dan kembali ke Jakarta entah itu bersama Andin atau tidak.
Setelah selesai, Gama termenung di atas ranjangnya sambil menatap ponselnya.
Ceklek
Pintu kamar di buka, sebuah kepala dengan rambut panjang menyembul keluar dari antara celah pintu itu sambil melirik ke arah Gama.
"Arhhhh....setan tanpa badannnnn!!!!!" teriak Gama saat matanya bertatapan dengan mata Luna yang menatapnya sambil melotot, wajahnya putih dan belepotan.
Mendengar teriakan Gama, Luna cepat-cepat masuk ke kamar dengan wajah kesal sambil menutup pintu rapat-rapat.
__ADS_1
Tampak wajah gadis itu dipenuhi dengan tepung dan rambutnya sedikit berantakan, bahkan pakaiannya belepotan dengan tepung dan coklat serta gula.
Rambutnya sedikit berantakan dan lehernya juga terkena tepung.
" Pfhhtt......hahahaaa, ada apa denganmu Luna? Apa kau habis berperang melawan peralatan dapur hahaha, kenapa wajahmu comeng-comeng seperti itu ahahahah," Gama yang sadar jika itu adalah Luna seketika itu tertawa terbahak-bahak melihat penampilan istrinya yang sudah seperti orang gila.
"Hahahahaha, astaga kau kenapa? kenapa sampai berantakan begitu?" ucap Gama sambil memegangi perutnya yang mulai terasa kram karena tertawa.
"Ck....aku kesal isshhhh....sudah ku bilang tadi aku saja, tapi dia terus menghalangiku arkhhhh....jadi belepotan kan," gerutu Luna sambil mencebikkan bibirnya dan menghentakkan kakinya ke lantai karena sangat kesal dengan kejadian yang dialaminya tadi di dapur.
Luna berjalan mendekati Gama dan duduk di lantai yang tepat berada di dekat kasur Gama yang memang letaknya di atas Lantai.
"Haishhh....lihat bajuku semuanya jadi kotor, mereka menyebalkan sekali hiks....hiks hiks..," Luna menggerutu kesal, bahkan ia sampai menangis di depan Gama dengan wajah kesalnya.
Gama yang masih tertawa menatap Luna sambil tersenyum. Tingkah istrinya ini menjadi hiburan tersendiri bagi dirinya.
"Sudah jangan menangis, kalau kotor kan bisa diganti," ujar Gama sambil menangkup wajah belepotan Luna dengan kedua tangannya, Gama mengambil tisu yang ada di atas meja lalu membersihkan sisa tepung di wajah Luna.
"Jangan menangis, kau semakin jelek kalau menangis," ujar Gama masih memegang wajah Luna dengan lembut.
"Aku kesal sekali hissshh," ketus Luna sambil mencebikkan bibirnya.
"Ya sudah sana bersihkan dulu dirimu, ganti pakaianmu," ucap Gama sambil menarik tangannya dari wajah Luna.
Dengan perasaan kesal Luna bangkit berdiri, walaupun seperti biasa mulutnya komat-kamit menggerutu.
"Padahal aku suka dengan bajunya, ishhhh....awas aja ya kak Ken dan Kak Bima akan ku balas kalian!" gerutu Luna sambil mengambil pakaian ganti dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Gama tersenyum gemas melihat tingkah laku Luna yang selalu memberi warna di hatinya.
"Sebenarnya ada apa sampai kau belepotan begitu?" gumam Gama .
Ia meraih ponselnya lalu membuka rekaman CCTV tersembunyi yang terhubung ke ponselnya .
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 😊😉