Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
49


__ADS_3

Di sebuah rumah besar, tampak dua orang anak kecil tengah duduk dan makan di meja makan bersama Ayah dan Ibu baru mereka.


Ibu kandung mereka sudah meninggal sehari yang lalu tepat pada saat pernikahan ayah mereka dilaksanakan bersama wanita itu.


"Makan! setelah itu pakai pakaian yang bagus kita akan pergi ke suatu tempat!" titah tuan Anderson dengan wajah tegas membuat kedua anak itu ketakutan.


Anak lelaki berusia sebelas tahun dan seorang anak perempuan berusia tujuh tahun terlihat meneteskan air mata karena mendapat bentakan dari ayah mereka.


"Papa..Mama dimana hiks hiks hiks, Nana mau sama Mama," tangis Nana kecil.


"Diam!!" teriak wanita itu kesal karena mendengar suara tangis anak kecil adalah hal yang paling di benci olehnya.


"Sayang, lihat dia, dia sudah merusak pendengaranku dengan suara jeleknya itu," ucap wanita itu dengan suara menggoda namun tatapan menyeringai ia tujukan pada kedua anak itu.


"Tenang saja sayang, setelah ini kita tidak akan melihat dua bocah tengil itu lagi," ucap Anderson dengan senyuman liciknya.


"Dek jangan nangis, kakak disini," ucap Ken menenangkan Nana.


Setelah selesai makan, mereka dibawa berganti pakaian. Tuan Anderson memasukkan mereka ke dalam mobil dan membawa mereka ke sebuah rumah mewah.


"Kak, Nana takut," bisik Nana sambil memeluk Kakaknya dengan erat. Ken membalas pelukan adiknya.


"tenang ya, kakak disini," ucap Ken.


Tuan Anderson dan wanita itu menyeret mereka masuk ke dalam rumah mewah itu. Keduanya langsung dibawa oleh anak buah pemilik rumah itu. Tampak seorang pria seusia tuan Anderson menyambut mereka dengan senyuman licik.


Anderson dan istri barunya melakukan transaksi, bahkan suara tawa mereka terdengar sampai ke ruangan bermain dimana Ken dan Nana dikurung.


Tuan Anderson dan istrinya meninggal kediaman pria itu.


Nana dan Ken duduk di sudut ruangan, ruangan gelap dan tidak ada apa-apa selain buku buku yang berserakan disana. Bau dan tidak terurus.


Tak


Tak


Tak


Suara langkah kaki seseorang terdengar mendekat ke ruangan itu. Ken memeluk adiknya dengan erat, Nana ketakutan nia menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan kakaknya.


Ceklek...


Pintu dibuka, tampak seorang pria dengan cambuk di tangannya masuk ke dalam ruangan itu ditemani tiga orang anak buahnya.


Lampu dinyalakan, namun suasana masih remang-remang.


"Ikat mereka!" titah Pria itu.


"Jangan om..adik saya, jangan sakiti dia!!" teriak Ken histeris saat melihat adiknya diambil paksa oleh orang itu.


"Kakak...hiks hiks hiks,Kakak!!!!"teriak Nana.


"Hahhaha, menangislah, aku ingin mendengarnya terus menangis hahahhaha," tawa pria psikopat itu.


Ken dan Nana diikat dengan rantai besi dengan sangat kuat.


"Halo anak kecil, kenapa kalian diam hmm? Menangis lah!!!" bentak pria psikopat itu.

__ADS_1


"Hiks...hiks..hiks, Ma..ma...kakak," Nana mulai menangis histeris.


"Lepaskan kami Om, kumohon hiks hiks, Nana," tangis Ken meronta ronta berusaha melepaskan ikatan itu dari tangan dan kakinya.


Plakk


Srettt


Plakk


Pria psikopat itu melepaskan cambukannya ke kulit kedua anak itu. Mereka berdua menangis kencang dan berteriak kesakitan.


"Hahahah, menangislah, mengangilah terus hahahahah," pria itu tertawa terbahak-bahak saat mendengar suara tangisan keduanya.


Setiap hari pukulan, tamparan dan hinaan yang di terima kedua anak itu, bahkan terkadang mereka dipaksa membersihkan seluruh isi rumah itu dengan tangan mereka sendiri.


Selama dua Minggu mereka disiksa, bahkan Nana sudah tidak sanggup berjalan, luka di kaki dan tangannya terasa sangat perih begitu juga dengan Ken.


Hingga suatu hari rumah itu di serang oleh paman Ken dan Nana yang sudah tahu kemana mereka dijual.


Paman mereka berhasil menyelamatkan Ken namun Mereka kalah bertarung saat anak buah pria psikopat itu kembali dan menghabisi mereka.


Paman Ken hanya bisa membawa Ken kecil dan tidak bisa menyelamatkan Nana.


Ken Menangisi adiknya yang pingsan karena sakit saat itu.


Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu mereka masih terus berusaha mencari keberadaan Nana hang sudah dibawa jauh keluar dari kota itu.


Tiba-tiba sebuah Video dikirimkan ke email paman mereka.


"Kakak....Kak...Ken,...Kakak...Na..na...Sayang," Nana tidak sadarkan diri dan mati disaat itu juga.


Ken menangis histeris saat melihat tubuh adiknya sudah tak bernyawa, bahkan dalam video itu mereka sampai menyiram Nana dengan air namun ia tidak bangun.


"Nana...Nana..Na...Adik kakak...hiks hiks....adikku, arghhh...Nana...huhuhu,". Ken menangis histeris, ia berteriak kencang, hatinya hancur berkeping-keping.


"Nana...Nana....."


"Kak Ken, Kak Ken bangun!!" panggil seseorang sambil mengguncang tubuh Ken yang terlihat berkeringat, sedari tadi pria itu meracau.


"Nana!!" teriak Ken saat ia bangun dari tidurnya.


"Hahh....hahhh...Luna? apa aku ketiduran disini?" tanya Ken saat sadar ia tertidur di sofa ruang perawatan Gama setelah kembali kemarin malam dari rumah sakit miliknya di Jakarta.


"Iya, ada apa kak? kenapa kakak berteriak tadi?" ucap Luna sedikit panik, sebab ia terbangun saat mendengar pria itu meracau, jam menunjukkan pukul lima pagi membuat Luna terbangun dengan cepat.


Gama mendengar racauan pria itu, ia tau bahwa Ken sedang dalam masa sulit sekarang, ia tidak mempermasalahkan jika Luna dekat dengan pria itu, sedangkan Yuna masih lelap dalam tidurnya.


"Ahh...kakak hanya bermimpi buruk saja," ucap Ken sambil memperbaiki posisi duduknya.


Luna duduk di samping Ken sambil memberikan handuk kering pada pria itu.


"Lap dulu keringatnya," ucap Luna.


"Terimakasih Luna," ucap Ken.


"Maaf membangunkan kalian," ucap Ken sambil menatap Gama dan Luna bergantian.

__ADS_1


"Tak apa," ucap mereka berdua.


" Kenapa kakak sampai bermimpi buruk? apa terjadi sesuatu?" ucap Luna sambil memeriksa tubuh Ken dengan penuh perhatian.


"Kenapa tangan kakak banyak luka? ini wajah kakak juga luka luka, kakak dari mana sih?" ucap Luna yang kini beranjak dan mendekati nakas di samping brankar Gama.


"Bolehkah aku merawatnya?" tanya Luna pada Gama yang menatapnya dengan tatapan lembut.


"Silahkan, dia kan kakakmu," ucap Gama sambil tersenyum.


"Hmm... baiklah, kau istirahatlah lagi, aku akan membantunya dulu, jangan sampai kau kurang tidur," ucap Luna sambil merapikan selimut suaminya dengan lembut lalu beranjak dari sana.


Namun Gama menghentikannya dengan memegang tangannya.


Luna berbalik dan menatap Gama," Ada apa? apa kau butuh sesuatu?" tanya Luna.


Gama menggelengkan kepalanya,


"Aku hanya ingin berterima kasih, dan rawatlah Ken dengan baik, dia butuh seseorang di sampingnya," ucap Gama.


Luna membalas genggaman Gama, sambil tersenyum ia berkata," Aku akan merawatnya dengan baik, tenanglah," ucap Luna.


Luna mendekati Ken, sedangkan Gama kembali tidur walaupun sebenarnya tidak benar-benar tidur.


"Kemari kak, sini ku obati, kenapa kau sampai luka-luka begini? apa kau baru saja berkelahi atau apa?apa kau tidak takut terkena penyakit tetanus? ini banyak sekali lukanya, dasar Ceroboh!" ketus Luna dengan mulut cerewetnya, namun tangannya terus bergerak membersihkan luka di tangan dan wajah Ken.


"Kalau ada apa-apa minta bantuan, jangan sok jadi pahlawan, kenapa kau bisa sampai luka separah ini, haishhh lihat wajahmu berantakan!" kesal Luna.


Ken hanya tersenyum menanggapi Omelan gadis di depannya itu. Setidaknya rasa rindu pada mendiang adiknya bisa teratasi dengan kehadiran Luna di sisinya.


Ken sudah menganggap Luna sebagai adiknya ,begitu pun dengan Aiden dan Bima, mereka semua sangat menyayangi gadis cerewet mereka itu.


"Seandainya Nana hidup, pasti dia akan secantik Luna," batin Ken sambil menatap Luna yang terus mengoceh dan mengobati dirinya.


Bughh


"Jangan melamun Kak Ken!!!! nanti kesambet, aku yang repot!!" ketus Luna setelah memukul perut Ken dengan tangannya.


"Awww...sakit Lunaaaa," Ucap Ken langsung memegang perutnya.


"hahahah, Kak Ken lemah hahaha," ledek Luna.


"Lun.... hemmph...," mulut Ken langsung ditutup oleh Luna.


"Ssstttt...." ucap Luna sambil menunjuk Gama dan Yuna yang masih tidur, padahal Dira sendiri yang buat keributan.


"Luna...Luna, dasar gadis aneh!" batin Ken.


.


.


.


Hai, Jangan Lupa Like, Vote dan komentarnya ya, Author berharap semuanya mau ngasih like biar author makin semangat 😉😊😊😉😊😉


Thanks for reading 👌😊😊

__ADS_1


__ADS_2