
Luna menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama di pesta rekan bisnis Aiden. Meskipun tanpa ia beri tau, Gama sudah tau apa yang terjadi dengan istrinya.
Selama bercerita tampak raut kesedihan di wajah Luna, dia memang orang yang terbuka pada suaminya. Luna bukan tipe gadis bodoh yang menyimpan semua rasa sakit di hatinya dengan alasan tidak ingin membuat orang lain khawatir.
Dia tipikal perempuan yang mengunakan Logika dan perasaan dengan seimbang sehingga dapat mengambil keputusan dengan bijak.
"Sudah jangan bersedih hati, kau jelek kalau memberi begitu!" Ucap Gama mencoba menghibur istrinya. Ingin rasanya ia memeluk gadisnya itu saat ini, tapi apa daya jarak memisahkan mereka.
"Aku hanya kesal saja, Ibunya sudah merusak keluarga kami sekarang anaknya ikut ikutan mau merusak keluarga kita hiks hiks hiks, aku takut terjadi apa apa, aku gak bisa pisah dari kamu hiks hiks hiks," Luna malah menangis, wanita mana yang tidak sedih saat tau ada wanita lain yang mengincar suaminya bahkan mengaku sebagai kekasih suaminya di depan umum.
"Sayang jangan menangis, kamu kan kuat, jangan nangis, kita lalui ini semua bersama sama, tunjukkan pada dunia bahwa hanya Luna yang pantas di sisi Gama dan hanya Gama yang sepenuhnya memiliki Luna di dunia ini," ucap Gam.
"Sampai kapan pun Luna adalah istrinya Gama," ucap Gama meyakinkan istrinya.Hati Gama sakit saat melihat Luna menangis, ia tak rela air mata istrinya terbuang untuk orang orang jahat seperti mereka.
"Hiks..hikss...sayang cepatlah pulang, kau lama sekali disana, aku gak mau sendirian," rengek Luna dengan air mata bercucuran.
"Ciee udah kangen ya, belum juga sehari sayang, sabar ya," ucap Gama berusaha menghibur istrinya.
"Disana kan ada Ken, Aiden, Bima juga, Anna, Ferdi, dan Andin serta Mark, masa kamu kesepian?" Ucap Gama.
"Kalau gak ada kamu gak seru, kan aku udah bilang aku jatuh cinta sama kamu kalau kamu jauh gini kan rasanya kayak ada yang kurang, emang kamu gak kesepian gitu jauh dari istri sendiri?" Ketus Luna.
"Aku juga sama sayang disini. Sepi kalau gak ada nona cerewet ini, aku benar-benar merindukanmu, kalau gitu besok aku pulang aja ya biar berobat disana aja," ucap Gama.
Luna terdiam, ia berpikir seharusnya dia tidak boleh egois memikirkan rasa sepinya sendiri, suaminya juga pasti kesepian disana.
Luna menggelengkan kepalanya, kemudian ia menghapus air matanya.
"Kamu tetap disana, jalani pengobatan terbaik, kami semua mengharapkan yang terbaik untukmu, jangan stress, banyak istirahat, berdoa makan teratur, istirahat yang cukup, aku baik kok disini, kamu gak usah khawatir," ucap Luna.
"Selama kamu disana aku akan rajin nelpon kamu," ucap Luna sambil tersenyum.
"Baiklah terimakasih sayang, aku benar-benar bersyukur bertemu denganmu," ucap Gama.
"Sama aku juga," ucap Luna.
"Ya udah kamu tidur, matikan ponselnya aku juga akan istirahat ini sudah larut malam," ucap Gama.
"Hooaaammm....baiklah, aku mengantuk sekarang, huhhh gak ada kamu mau di peluk," ucap Luna.
"Heheh, sabar ya sayang, tidur gih, selamat malam aku mencintaimu," ucap Gama tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Luna.
"Selamat malam sayang, i love you too," ucap Luna sambil membalas lambaian tangan suaminya.
Dengan terpaksa keduanya tidur tanpa saling memeluk seperti yang biasa mereka lakukan selama hampir dua bulan usia pernikahan mereka.
Sementara itu di Bali, seorang pria gondrong tengah tertawa terbahak-bahak di dalam ruangan pribadinya di kantornya ketika melihat foto yang dikirimkan oleh Luna.
"Pfftttthhh hahahhahaha, ini sih pisangakan pisang hahahaha, huahahahahah tak ku sangka mereka pecinta sejeni hahahah," Bima tertawa terbahak-bahak melihat foto Aiden dan Ken yang tersungkur di lantai sambil berciuman.
__ADS_1
"Ahahahahah, ini sangat menghibur, ahhh gadis itu selalu bisa membuat moodku membaik, aku semakin menyayangimu adik kecil hahahah,"
Bima bisa meringankan rasa penat di tubuhnya sejenak setelah mendengar ocehan gadis itu, bahkan melihat foto itu membuat semangatnya bangkit.
Hari terus berlalu, sudah dua Minggu Gama berada di Korea Selatan namun tampaknya belum ada tanda-tanda kalau pria itu akan pulang ke tanah air.
Belakangan ini dia juga semakin sulit di hubungi, namun Luna berusaha berpikir positif, ia dengan sabar akan menghubungi Gama beruntung jika dijawab, kalau pun tidak di angkat, Luna akan mengirimkan foto dan pesan suara mengenai semua kegiatannya setiap hari.
Luna benar benar merindukan suaminya itu.
Andin sudah kembali pulih, hubungannya dengan Mark masih dingin sebab Mark masih belum meminta maaf sejak terakhir kali mereka berdebat.
Perusahaan Bima di Bali sudah kembali normal meski pria itu harus bolak balik beberapa kali antara Jakarta-Bali.
Anna menikmati sekolahnya seperti biasa, ia juga merindukan kakaknya meski rasa rindunya kalah besar dengan Luna.
Ferdi dan Andin di percayakan oleh Luna untuk mengurus bisnis online mereka yang kebanjiran pembeli, Luna membantu mereka mengkoordinir bisnis mereka.
Seperti biasa, Ken, Aiden dan Bima akan setia menemani Luna jika mereka tidak sibuk.
Hari ini rencananya, Luna akan bertemu dengan paman yang menyelamatkan kakaknya saat kecil dulu, Luna masih mengingat Paman dari pihak ayahnya itu lebih tepatnya pria itu adalah suami adik ayah Ken dan Luna,
Pria itu sangat penyayang dan penuh kasih berbeda dengan tuan Anderson pria yang tega menjual anaknya sendiri.
Keluarga Pamannya sebenarnya tinggal di Indonesia, hanya saja mereka beberapa waktu ini mengurus bisnisnya yang berada di New York sehingga tidak bisa menemui Luna. Mereka memiliki sepasang anak yang sangat mempesona, anak pertamanya seorang pria bertanggungjawab dan anak kedua mereka gadis pendiam yang pemalu.
"Ah...sudah kak, ayo kita berangkat!" Seru Luna sambil tersenyum ceria.
Ken merangkul bahu adiknya, hari ini mereka pergi bersama Bima, Aiden tidak bisa ikut sebab ia harus mengurus beberapa masalah di hotel milik nya.
"Hai nona cantik, silahkan masuk!" Sapa Bima yang sudah berdiri di depan mobil menyambut Luna yang tampil cantik dengan rambut di gerai di padukan dengan gaun berwarna peach yang sangat manis dipakai oleh gadis berbedak tipis itu.
"Terimakasih tuan tampan," balas Luna sambil tersenyum.
Mereka berangkat menuju Rumah Ken lebih tepatnya rumah yang di berikan oleh Paman mereka untuk ditinggali oleh Ken.
"Kak kok aku gugup ya," ucap Luna.
"Udah gak sabar ya ketemu Paman dan Bibi? Paman dan Bibi juga udah gak sabar ketemu kamu, sepupu kita juga datang!" Ucap Ken sambil melirik Luna dari kaca depan.
"Heheh, iya Luna pengen jumpa, emmm....sepupu kita itu kak Satria sama Sabrina ya kak kalau Luna gak salah ingat," ujar Luna mengingat kembali keluarga yang sudah berpisah belasan tahun dengannya.
"Iya, kamu masih ingat ternyata, mereka juga merindukanmu!" Seru Ken.
" Hmmm.... seandainya Gama ikut pasti akan lebih menyenangkan," ucap Luna pelan dengan nada sedih namun masih bisa di dengar oleh Ken dan Bima.
Bima dan Ken saling menatap, mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa, karena mereka saja sulit menghubungi sahabat mereka itu.
"Luna jangan sedih ya, Gama pasti baik-baik saja, ku harus kuat!" Seru Bima menyemangati Luna.
__ADS_1
Luna menatap ke arah Bima, ia tersenyum mendengar ucapan Bima.
"Kakak benar aku harus kuat!" Seru Luna sambil tersenyum manis.
"Nah gitu dong, oh iya besok kita ke perusahaan kakak ya, kakak mau tunjukin ke kamu perusahaan yang kakak bangun sendiri!" Seru Bima dengan Antusias.
"Loh mana boleh begitu, dia harus ke perusahaan milikku dulu, kau tidak boleh mendahuluiku," tukas Ken dengan menatap Bima sebentar lalu kembali fokus ke arah jalanan.
"Ckk..memang kau siapa? Pokoknya Luna ikut ke perusahaanku besok!" Tegas Bima.
"Tidak boleh, dia harus ke perusahaan milikku!" Balas Ken.
"Perusahaan ku Ken!" Ucap Bima bersikukuh.
"Tidak boleh, ke perusahaanku dulu!" Balas Ken.
Luna tersenyum geli melihat perdebatan kedua pria di depannya itu, ia merasa sangat disayangi oleh kakak kakaknya.
Drrttt....drrttt...drrttt
Ponsel Luna berbunyi, Luna melihat nama Aiden disana.
"Halo kak!" Jawab Luna.
Bima dan Ken menghentikan perdebatan mereka saat mendengar Luna menjawab panggilan seseorang.
"Besok kita jalan jalan ke perusahaan kakak ya, kakak udah siapin semuanya, pokoknya besok kakak jemput jam 9 pagi, kakak gak ke rumah Park malam ini oke!!" Ucap Aiden.
"Ohhh...jadi besok kita ke Perusahaan Kakak," ucap Luna seraya memperbesar volume suaranya.
Bima dan Ken saling menatap, mereka masih mendengar.
"Baiklah kak, Luna ke perusahaan kak Aiden saja, kedua pria di depan Luna tidak ada yang mau mengalah," sindir Luna sambil menyeringai.
"Maksudnya? Ah sudahlah pokoknya besok kakak jemput, pakai baju cantik ya adik kakak, bye Kakak tutup dulu telponnya ini kakak lagi rapat, bye sayang!" Ucap Aiden mengakhiri panggilannya.
Luna tersenyum, bagaimana bisa pria itu menghubunginya saat di tengah-tengah jalannya rapat seperti tau saja jika Ken dan Bima sedang membahas hal yang sama.
.
.
.
jangan lupa like, komentar dan votenya, 😊😊
maaf author lama up 🙏🙏🙏
tapi author pasti up tiap hari.
__ADS_1