
"Kurang ajar!!!" Teriak Ken sambil melemparkan kursi kayu yang ada di dalam ruangan itu ke arah di dinding hingga hancur berkeping-keping.
Brakkkk
Brukkk
Amarah Ken memuncak kala mendengar ucapan mereka tentang Mama alias nyonya Park yang meninggal karena perbuatan mereka.
Sebenarnya Ken mengawasi mereka dari kamera CCTV tak terlihat yang di pasang dalam ruangan itu, selain merekam gambar juga merekam suara.
"Katakan sekali lagi bangs4t, apa yang kalian lakukan pada Mamaku!!" Teriak Ken penuh amarah, dia mengeluarkan belati kecil dari kantong celananya.
Klik....
Klaakk
Klikk......klakkk
Ken membuka tutup belati kecil itu, Laura, Melly dan Gisel terdiam, mereka menatap ngeri pada Ken yang benar-benar marah saat ini.
"Matilah aku saat ini juga, dia mendengar semua ucapan si licik itu!" Gumam Gisel saat melihat pisau di jari jari Ken yang siap kapan saja menyayat kulit mulusnya.
Tak....tak....tak,
Deru langkah kaki Ken terdengar kala pria tampan itu berjalan mendekati sel mereka.
Tangan Ken masuk ke dalam sel itu dan langsung menarik rambut Laura.
"Arhhhh....lepaskan akuuuuu!!" Teriak Laura kesakitan.
"Hehehe, lepaskan? Hohoh tidak semudah itu bangs4t, aku akan melepaskan mu setelah melewati panasnya api neraka, " ucap Ken dengan sorot mata tajam, dia mengangkat belatinya lalu menggerakkannya di sekitar wajah Laura.
"Laura!!" Pekik Gisel panik kala Ken mulai mengancam nyawa putrinya.
Melly menatap Ken ketakutan, dia benar-benar takut pada pria itu.
"Ken apa yang kau lakukan? Dia adikmu!!!" Teriak Gisel.
"Ka..kak.....le...lepaskan aku, arghhh sa...sakit," rintih Laura saat belati itu menggores permukaan wajahnya hingga mengeluarkan darah segar.
"Adik?" Ucap Ken seraya berdiri sambil menarik rambut Laura dengan kuat sehingga gadis itu ikut berdiri.
Brakkk
"Pel4cur ini bukan adikku!!" Ketus Ken sambil melepaskan kepala Laura dengan kasar hingga membentur dinding.
"Arghhh....Mama, arhhh shhh,sakit!" Ringis Laura sambil memegang kepala yang pusing.
"Laura, kau....apa yang kau lakukan padanya, dia adikmu Ken!!" Teriak Gisel histeris.
Ken mendekat sel tahanan Gisel,
Klikk....klaakkk
Klikk....klaak
Klikk ...klaaakk
Belatinya di buka tutup, tampak darah Laura mengalir pada permukaan pisau itu.
Ken menatap pisaunya sambil menyeringai.
"Hahahaha, baru ku gores sedikit saja darahnya sudah banyak begini, bagaimana kalau...."
Srakkkk.....klotangg.....
Ken melemparkan belatinya ke arah Gisel dan.....
Sreett
__ADS_1
Pipi Gisel terkena sayatan pisau kecil itu,Ken tidak mengarahkan pada kepala Gisel jika iya maka Gisel sudah tinggal nama sekarang!
Gisel membeku kala pisau itu menggores wajahnya dan melewati rambutnya hingga terpotong sedikit, belati tajam itu menembus kaca jendela di belakang Gisel dan jatuh keluar.
"Ken....Kaa....kau...a...apa yang kau lakukan," ucap Gisel gemetaran, dia syok bahkan sampai terjatuh di sel tahanannya.
Ken berjongkok di depan Gisel dengan senyuman menyeringai seperti orang yang kerasukan setan.
Tangan Ken bergetar hebat, bahkan kepalanya pusing, tapi dia menepis semuanya itu.
"Hah....cuiihh!" Ken meludah ke lantai, dia mengusap wajahnya dengan tangannya sambil menyeringai.
Gisel semakin ketakutan, dia bisa melihat aura kekejaman di mata Ken. Apalagi Melly dia terus diam dan tak mau berbicara.
"Katakan apa yang kau lakukan pada Mamaku!" Ucap Ken dengan suara berat, dia masih berjongkok di depan sel tahanan wanita itu.
Ken merogoh sakunya dan mengeluarkan pisau belati lain yang disimpannya di dalam kantong celananya.
Klikk....klakk....klikk.....klakkk
Bunyi benda itu kembali menderu dalam ruangan itu, mendengar bunyi benda itu saja sudah mampu meruntuhkan pertahanan mental mereka.
Gemetar, takut dan merinding itulah yang mereka rasakan di ruangan yang penuh sesak dan mencekam itu.
Aura Ken benar benar membunuh mereka.
"Kau!" Ucap Ken sambil menunjuk Melly dengan belatinya sambil bangkit berdiri.
Melly bergetar ketakutan,
"Jiahh hahhahahaah, baru digertak seperti itu saja kau sudah ketakutan, lemah!" Ken tertawa seperti orang gila di depan mereka.
"Jelaskan apa yang terjadi pada Mamaku!" Ucap Ken seraya menaikkan sebelah alisnya, dia berdiri tepat di depan sel Melly yang sempit itu.
"A...aku...aku..."
"Bicara yang jelas jika kau tidak ingin belati ini merobek mulutmu itu!" Tegas Ken sambil memutar-mutar belati tajam itu di tangannya.
Pranggg
Pranggg.....
"Bicara yang jelas bangs44aaaatt!!!" Ucap Ken, pria itu menghentakkan pemukul bisbol yang terbuat dari besi ke baja penyekat sel tahanan itu.
"Arhhhhh.....ampun...ampun!!" Teriak Mereka ketakutan saat melihat pria itu benar-benar marah seperti kesetanan.
"Jelaskan...hah....haaahhh, sekarang!!!" Teriak Ken.
"Di...dia yang mengusulkan ku untuk meracuni Mama kalian, a..aku aku menaruh ra..racun di obat yang dikonsumsinya," ucap Gisel mengaku dengan suara gemetaran, dia sudah tidak sanggup menghadapi kemarahan pria itu.
"Aku? Bu..bukan kah kau yang meminta usul agar wanita itu tidak mengganggu kalian lagi?" Ucap Melly mencoba mencari pembenaran atas dirinya.
"Kau yang memintaku menaruh racun itu!" Ucap Gisel.
"Diaaaaaaammmmm!!!" Teriak Ken marah.
Dan tiba-tiba...
Brukk
Ken pingsan tak sadarkan diri di hadapan ketiga wanita itu.
Mereka membelalakkan mata mereka melihat kejadian itu di depan mata mereka.
Pintu di buka dengan kasar, tampak Luna dengan raut khawatir masuk ke dalam ruangan itu, dia berlari menghampiri kakaknya diikuti oleh Gama, dan kakak-kakaknya yang lain.
Mark dan Rendi diutus mengurus perusahaan sehingga mereka tidak ikut disana.
"Kak Ken bangun!!" teriak Luna, gadis itu langsung memeluk kakaknya dengan erat, ia tidak menangis di depan para wanita itu, dia juga sudah mendengar semua ucapan mereka tentang kematian Mamanya.
__ADS_1
Luna berusaha kuat dan tidak menangis, dia menahan dalam-dalam tangisannya. Aiden, Bima, Gama dan yang lainnya terdiam melihat gadis itu.
Mereka bisa melihat kesedihan mendalam di mata gadis itu. Tapi Luna dengan pintarnya menyembunyikan rasa takut, khawatir dan kesedihannya. Gadis itu tidak mau terlihat lemah di hadapan musuhnya.
"Sayang," ucap Gama seraya memegang bahu Luna yang tampak gemetar saat memeluk kakaknya.
"Bagaimana ini?" Ucap Luna dengan suara Gemetar, dia berusaha menahan ketakutannya.
"Biar kami bawa dia Luna, kau juga ikutlah bersama kami!" Ucap Aiden yang langsung mengambil alih tubuh Ken diikuti oleh Bima.
"Iya, kau ikut dengan mereka, biar aku yang mengurus ini," ucap Gama pada istrinya.
Luna bangkit berdiri setelah Ken diangkat oleh Aiden.
"Tidak aku ingin bicara pada mereka," ucap Luna dengan tatapan datar menatap ketiga wanita itu satu persatu.
"Tapi..."
Alex menepuk bahu Gama membuat pria itu berhenti bicara.
"Biarkan saja," ucap Alex pelan.
"Kalau begitu kami bawa Ken ke rumah sakit, kalian harus segera menyusul!" Ucap Aiden yang sudah berlari membawa Tubuh Ken di gendongannya.
Beberapa saat yang lalu, Rombongan Gama tiba di markas besar J.B grup, Luna merengek minta ikut ke gedung itu, dia ingin melihat langsung ketiga wanita yang sudah memporak-porandakan kehidupan mereka semua.
Dengan pasrah pria-pria itu mengikuti permintaan nona cerewet mereka. Sesampainya disana, mereka masuk ke dalam ruang kontrol CCTV dan mengawasi ketiga wanita itu.
Mereka cukup terkejut dengan apa yang mereka saksikan dan dengar, fakta tentang Kematian sang ibu yang menurut Ken sebenarnya agak janggal, bagaimana bisa Mama mereka meninggal begitu saja hanya karena sakit setelah bercerai dari tuan Anderson.
Yang mereka tau, Nyonya Anderson alias Nyonya Nadia adalah wanita yang kuat dan hebat dia tidak selemah itu.
Ken dan Luna terkhususnya, meradang saat mendengar pengakuan Melly. Saat itu Ken benar benar tidak bisa menahan amarahnya, dia langsung masuk ke dalam ruang tahanan itu.
Setelah kepergian Aiden dan Bima yang membawa Ken bersama beberapa anak buah, kini di ruangan itu tersisa Gama, Luna dan Alex serta beberapa anak buah.
Tak
Lampu dinyalakan agar lebih jelas.
"Huuffttt akhirnya jelas juga, sedari tadi mataku sakit saat mencoba melihat makhluk kegelapan ini, mereka menyatu dnwgan gelap!" Ucap Luna sambil menyunggingkan bibirnya.
Gama dan Alex terhenyak dengan Gadis itu.
"Dia benar-benar marah saat ini!" Batin Gama.
"Aura mereka sama!" Batin Alex.
Sreeetttt
Luna menyeret sebuah kursi kayu dan meletakkannya di tengah-tengah ruangan itu,dia menatap mereka satu persatu sambil duduk di kursi itu.
Glekk
"Dia menyeramkan, aura apa ini!" Batin Laura.
"Siapa gadis ini? Kenapa dia sama dengannya?" Batin Gisel.
"Belum selesai efek dari pria setan itu, sekarang gadis iblis ini yang datang, " batin Melly gemetar ketakutan.
.
.
.
Hay reader baik, jangan lupa kasih like, komentar, vote dan hadiah banyak banyak yaaaaaaa,
__ADS_1
salam dari Aiden pria tampan sejagat ❤️❤️❤️❤️