
Di ruangan Presdir tampak terjadi pembicaraan yang serius antara Bima dan Gama tepat setelah rapat tahunan dilakukan.
"Aku tetap akan membawanya ke perusahaan!" ucap Gama dengan tegas.
"Gam, kumohon jangan lakukan itu, aku takut Luna akan kenapa-kenapa nanti, kau tidak tau saja banyak ular beludak disini!" ketus Bima, pria itu tengah berjalan mondar-mandir sambil berkancah pinggang di depan sahabatnya.
Rendy hanya diam seperti biasa, namun pria itu tidak sekaku Mark Lee yang bahkan tidak punya ekspresi sudah seperti patung saja.
"Baru kali ini kulihat tuan Bima berusaha melindungi seorang perempuan, sepertinya nyonya muda sangat berharga bagi mereka!" batin Rendy.
"Hei Bima, kau tidak mengenal istriku sepenuhnya ya? dia persis seperti Kenzo!!" ucap Gama.
"Hufftt aku hanya takut dia kenapa-kenapa, apalagi pamanmu itu sangat menyebalkan, lebih baik langsung kita jebloskan saja mereka ke penjara Gam," pinta Bima sambil meremas rambutnya, sangat kesal dengan keputusan Gama yang akan melibatkan Luna dalam rencana balas dendamnya.
"Kau bawel sekali, tenanglah dulu, aku tidak seceroboh dan sebodoh itu membiarkan istriku masuk ke lubang bahaya,kau pikir suami macam apa aku?" ketus Gama.
"Aku bukan Presdir bodoh yang dibutakan dengan pembalasan dendam sampai lupa dengan keselamatan orang orang terpenting di hidupku," jelas Gama.
"Hufftt....kuharap semua akan berjalan lancar, jika tidak aku yang akan langsung menjebloskan mereka ke penjara! kenapa tidak dari dulu kau cari tau tentang mereka, kau memang bodoh!" kesal Bima.
"Ck....apa kau masih bisa berpikir jernih saat kau kehilangan kedua orangtua dan adikmu? jangan sembarang bicara Bim, aku juga butuh waktu untuk pulih!!" balas Gama yang juga ikut kesal dengan ucapan Bima.
"Terserahmu saja, tapi jika sampai Luna maupun Anna kenapa-kenapa aku tidak akan memaafkanmu!" tukas Bima.
"Hey tuan, aku jadi bingung suami Luna aku apa kau? atau jangan-jangan kau menyukai istriku?" balas Gama dengan tatapan curiga ke arah Bima.
Bima yang kesal di Katai oleh Gama mengambil bantal sofa lalu melemparnya ke wajah Gama.
Plukk
"Rasakan itu, pantas saja Luna mengatai dirimu pria bodoh, ck...ck...ck tak heran Luna tidak percaya kalau kau itu Seorang Presdir," ketus Bima.
"Ck...diamlah, kau yang mulai dasar pria aneh!" balas Gama tak kalah ketus sambil menjatuhkan bantal sofa itu ke sembarang arah.
"Kenapa kau jadi tertular cerewet seperti Luna?" balas Bima.
"Halaah...kau sendiri tidak sadar kalau dirimu juga cerewet!" seru Gama.
Mereka terus-menerus berdebat, Rendy yang menyaksikan itu semakin terheran-heran dengan tingkah kedua CEO itu, bagaimana mungkin mereka bisa berdebat seperti anak kecil seperti itu, apalagi setelah kecelakaan itu Gama benar-benar tidak bisa diajak bicara.
Tapi yang disaksikan oleh Rendy sekarang adalah kedua presdir itu berubah total.
"Sudah diamlah, mumpung kita membahas gadis itu, ayo kita Video Call aku sudah rindu padanya," ucap Gama sambil mengeluarkan ponselnya.
"Dasar bucin!" ketus Bima.
"Kita gunakan laptop saja, layarnya lebih lebar!" usul Bima yang memulai panggilan dengan laptop di meja Gama.
__ADS_1
"Ah kau benar juga," ucap Gama.
Bima menghubungi nomor ponsel Luna dan menghubungkannya ke laptop.
Tuuutt
Tuuutt
"halo, dengan siapa gerangan?" suara seorang pria yang tak lain adalah Aiden dengan wajahnya yang memenuhi layar laptop menjawab panggilan Bima di ponsel Luna.
"Ck..mana istriku?" tanya Gama kesal karena yang mengangkat bukan istrinya melainkan pria maskulin dengan wajah kocaknya.
"Aku ini kan istrimu sayang, ummah....hahhaah,"Aiden menirukan suara perempuan sambil tertawa terbahak-bahak melihat wajah Gama dan Bima yang kesal, untung saja ia sekarang di rumah Gama jika bersama mereka mungkin dia sudah di gantung di gedung J.B grup.
"Aiiiiideeeennn!!!" teriak Bima dan Gama mulai kesal dengan tingkah absurd sahabat konyol mereka itu.
" Kak Aideeenn mana ponselku!!" teriak Luna di seberang telepon.
"Ponselmu? tadi bukannya sama Ferdi?" bohong Aiden.
"Ck....itu apa dasar pembohong, berikan sini, aku mau menghubungi Gama!!" rengek gadis itu lagi.
Bima dan Gama saling menatap, mereka tersenyum mendengar suara gadis itu.
"Heheheh baiklah, ini aku sudah menghubunginya untukmu!" celetuk Aiden sambil menyerahkan ponsel Luna.
Kini ponsel sudah di tangan Luna, tampaklah wajah cantik gadis itu memenuhi layar laptop di meja kerja Gama. Bima duduk di samping Kursi roda Gama, sambil tersenyum mereka menyapa gadis itu.
"Halo Kak Bima, halo Gama, kapan kalian pulang? kenapa lama sekali? ini sudah jam lima sore, Anna juga nyariin kalian, kalian gak lupa makan siang kan? terus Gama gak lupa minum obat kan Kak Bima? apa rapatnya lancar?" cerca Luna dengan serentetan pertanyaan.
Gama dan Bima saling menatap, mereka tersenyum lalu kembali menatap layar.
"Sudah semuanya Luna, kamu gimana hari ini? Apa rakitannya udah beres? Kakimu bagaimana apa sakit? vitaminmu kau minum kan? " tanya Gama.
"Siapa temanmu di rumah? apa Ken disana? bagaimana dengan Ferdi apa dia latihan? apa ada yang terjadi selama kami tidak di rumah? Bagaimana dengan Anna apa dia senang dengan sekolahnya? hmmm?" ucap Bima langsung melanjutkan pertanyaan dari dirinya.
"Ck....kalian kenapa jadi secerewet ini sih? harusnya cukup aku yang cerewet, kalau kaian ikutan cerewet nanti rumah jadi kayak pasar, dasar aneh!!" celetuk Luna dengan wajah kesalnya.
"Pfffttt...hahahhahah," Bima dan Gama tertawa terbahak-bahak.
"Itu pembalasan Luna, supaya kau juga merasakan bagaimana rasanya di cereweti hahhaha," Tuka Bima sambil tertawa terbahak-bahak.
Tampak Luna malah merona karena merasa malu, ia menggaruk tengkuknya sambil nyengir kuda di depan mereka.
Tiba-tiba Rendy datang lalu membisikkan sesuatu pada Gama, pria itu tampak menyergitkan keningnya, namun segera ia mengangguk.
"Hai, itu kak Rendy ya?" sapa Luna saat melihat Rendy di layar ponselnya.
__ADS_1
"Ahh iya, dari mana kamu tau Luna?" tanya Gama.
"*Kak Ken yang kasih tau, hehehe," balas Luna.
"Halo kak Rendy, salam kenal aku Luna, semoga kita bisa bertemu secepatnya*," sapa Luna ramah.
Rendy tertegun,ia terkejut dengan keramahan gadis itu, pantas saja Gama dan Bima bisa berubah seperti ini, ternyata alasannya adalah seorang gadis yang terlihat ramah dan baik.
"Ahh...halo nyonya, saya Rendy, senang bertemu dengan Anda, saya harap juga bisa bertemu secara langsung dengan Anda!" ucap Rendy sambil menunduk hormat.
"Baiklah," jawab Luna sambil tersenyum manis.
"Kalau begitu saya permisi, tuan-tuan, nyonya," ucap Rendy sambil membungkuk hormat yang dianggukkan oleh mereka.
"Luna apa nanti malam kamu jadi ke tempat Andin?" tanya Gama sambil menyeruput air putihnya.
"Tentu saja, aku tidak yakin membiarkan gadis itu berdua dengan Mark, dia terlalu kaku, ck...aku heran kenapa dia seperti itu, apa dia ada masalah dengan wanita," celetuk Luna.
"Kau benar Luna dia tidak percaya dengan wanita, nanti kau bisa tanyakan sendri padanya," ujar Bima.
"Ahh jadi benar ya, sepertinya kita harus menyatukan kedua manusia aneh itu?" usul Luna dengan senyum licik di wajahnya.
"Maksudmu ?" tanya Gama.
"Andin itu sangat membenci laki-laki sebenarnya, tapi setelah diselamatkan Mark kemarin, dia sepertinya sedikit berubah, kurasa menjodohkan mereka adalah hal yang baik!" ucap Luna.
"Aku tidak sabar membayangkan perubahan mereka hahahaha," ucap Luna sambil tertawa.
Gama dan Bima menggelengkan kepala mendengar ucapan gadis itu. Ada ada saja gadis ini pikir mereka.
Sementara mereka berbicara sambil sesekali tersenyum dan tertawa, tuan Jae Sung, Laura dan Melly masuk ke dalam ruangan itu atas seizin Gama setelah Rendy memberitahu tadi.
Mereka terkejut saat melihat dan mendengar kedua pria itu tertawa terbahak-bahak di depan layar laptop.
"Ada yang aneh dengan mereka, kenapa mereka tertawa seperti itu?" Melly pada tuan Jae Sung.
"Sssttt diamlah, kau lihat tidak mata asisten Rendy itu, jangan bicara sembarangan jika kau ingin selamat keluarga dari ruangan ini," bisik Tuan Jae Sung.
Rendy menatap mereka dengan tatapan Pembunuh penuh dendam, Laura bergidik negeri ketika netranya bertemu dengan netra tajam pria itu.
"Suruh mereka duduk Rendy!" suara bariton Gama memenuhi ruangan.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 😊😉😊😉