Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
32


__ADS_3

"Siapa yang tau takdir seperti apa yang akan menghampiri diri kita? Takdir begitu baik padaku hingga ia mempertemukan kita kembali!"


-Main Lead-


...****************...


Ken mengejar Luna yang sudah berlari terlebih dahulu ke arah rumah.


"Brrrr.....dingin sekali di luar....haaahhhh.... hufffhhh..." ucap Luna sambil membuka pintu, sesekali gadis itu tampak menggosok kedua telapak tangannya.


Ken yang berlari langsung masuk ke dalam rumah setelah Luna membukakan pintu.


"Hufftt... bagaimana kau bisa bertahan di dalam mobil dengan cuaca sedingin itu?" tanya Luna sambil menutup pintu setelah Ken masuk ke dalam rumah.


"Kau pikir aku tidak kedinginan? ini semua karena seorang gadis yang mengusirku dari rumahnya!" ucap Ken sambil melirik Luna.


"Itu juga salahmu, kenapa kau mengatakan kata-kata kasar seperti itu!" ucap Luna dengan tatapan kesal.


"Ck...kau yang terlalu baper, baru diucapkan kata-kata seperti itu langsung ambil ke hati, dasar sensian!" ledek Ken.


"Hishhh...dasar pendendam, kau tidak mau kalah pada perempuan, hissh kau sama saja dengan Gama," ketus Luna.


"Tentu saja sama, kami kan sahabat, apa kau tidak punya sahabat hmm?" tanya Ken.


"Tentu aku punya, dia gadis baik, cantik dan lembut tapi kalau sudah marah, seluruh kota Bali ini bisa diratakannya!" ucap Luna.


"Hahahahahah, dimana logikamu? mana ada manusia yang bisa meratakan kota Bali yang besar ini, kurasa sampai seumur hidupnya ia tak akan bisa melakukan itu!" celetuk Ken.


"Ck....itu hanya kiasan kak Ken," kesal Luna.


Gama, Aiden dan Bima saling menatap ketika mendengar perbincangan Ken dan Luna, mereka terkejut saat mendengar pria yang terkenal irit bicara itu kini sangat cerewet bersama Luna.


"Tampaknya Ken sudah terkena sihir nona cerewet itu hahahah," tawa Aiden saat mendengar Ken banyak berbicara dengan Luna.


"Aku heran kenapa gadis itu bisa membuat seorang Ken yang terkenal dingin dan kejam bisa tertawa seperti itu," ucap Bima.


"Wah Gama, sepertinya kau harus menjaga istrimu dengan baik, jangan sampai Ken merebutnya hahahah," goda Aiden.


Gama menatap kesal ke arah Aiden,


Brukkkk


Bantal Sofa melayang tepat di wajah Aiden.


"Rasakan itu!" ketus Gama.


"Arghhh....dasar bego!" kesal Aiden sambil mengusap wajahnya.


"Bim, Carikan aku tukang jahit, akan ku jahit mulut embernya itu!"di kesal Gama.


"Siap laksanakan, telingaku juga gerah mendengar kicauan burung gagak ini!" balas Bima dengan tatapan meledek pada Aiden.


"Haissshhh....sahabat macam apa kalian!" kesal Aiden sambil memukul-mukul bantal sofa yang mengenai wajahnya tadi.


Luna dan Ken berjalan menuju ruang santai masih dengan pembahasan yang sama. Mereka terus saja berdebat.


"Kau memang tidak bisa diajak bercanda!" Luna berhenti sejenak sambil menatap Ken dengan berkancah pinggang.


"Ck....kau yang terlalu berlebihan, bagaimana mungkin manusia bisa meratakan kota sebesar ini," balas Ken yang tidak mau kalah.


"Astaga, sudah ku bilang itu hanya kiasan, kenapa kau menanggapinya berlebihan sih, tidak asik!" ucap Luna.

__ADS_1


"Dasar pria membosankan," ketus Luna. Gadis itu beranjak menuju sofa dan duduk di samping Gama.


Gama, Aiden dan Bima hanya diam menonton perdebatan dua manusia beda gender itu. Bahkan sampai di tempat duduk pun mulut mereka tak berhenti komat-kamit.


"Hey aku bukan pria membosankan, kau yang terlalu berlebihan! dasar cerewet!" balas Ken.


"Cerewet? astaga, kau memang tak mau mengalah pada perempuan, aku yakin tak ada yang mau padamu!" ucap Luna lagi dengan wajah kesalnya.


"Jangan asal bicara nona, gini-gini aku yang paling tampan diantara mereka semua!" balas Ken.


"Tampan sih tampan tapi kaku kayak kanebo kering!" celetuk Luna.


"Kenapa kau terus mengejekku Luna!" kesal Ken.


"Kau yang memulai!" balas Luna.


Ketiga pria di dekat mereka sudah seperti orang gila, mereka terlihat menatap Luna dan Ken secara bergantian.


Gama mulai jengah dengan perdebatan tiada akhir ini. Gama sudah jelas tau kepribadian Luna yang jika diajak berdebat pasti akan lanjut terus sampai fajar menyingsing.


Kalau Ken, dia cukup terkejut saat melihat sahabatnya itu berdebat dengan seorang wanita, baru kali ini Ken bisa bicara banyak dengan orang lain apalagi baru kenal.


"Apa kalian tidak berniat untuk berhenti!" bentak Gama dengan suara kesalnya. Kupingnya panas mendengar betapa cerewetnya dua makhluk itu.


Ken dan Luna terdiam saat mendengar suara Gama, mereka menatap ke arah Gama, begitupun dengan Aiden dan Bima yang tersentak dengan suara pria itu.


"Jangan ikut campur!" ucap Ken dan Luna bersamaan dengan aura menyeramkan dan tatapan kesal dari mata keduanya. Setelah itu mereka kembali berdebat.


Gama yang biasanya membentak kini malah terkejut karena di bentak oleh kedua orang itu.


"Aura Combo!" gumam Aiden dan Bima.


"Kenapa jadi aku yang dibentak!" kesal Gama.


"Ahahahah, kau benar, Ken dan Luna benar-benar luar biasa!" celetuk Bima.


Gama menatap kesal ke arah mereka berdua.


Mereka hanya bisa pasrah, kupingnya panas mendengar ocehan tak berujung keduanya.


Sudah hampir satu jam mereka berdebat namun tak ada tanda-tanda perdebatan itu akan berakhir. Sementara Aiden dan Bima sudah molor di atas sofa sejak tadi.


"Kenzo, Luna!!" teriak Gama.


Aiden dan Bima tersentak, mereka bangun dari tidurnya yang tidak nyenyak.


Gama tidak peduli dengan itu, jika tidak dihentikan maka mereka tidak akan tidur malam ini. Sebab jam sudah menunjukkan pukul 12 malam dan kedua manusia itu masih setia dengan perdebatan mereka.


Luna dan Ken masih terus berdebat.


"Apa telinga dan mata kalian sudah tidak berfungsi? ini sudah jam dua belas malam dan kalian masih berdebat?" kesal Gama.


Ken dan Luna menghentikan perdebatan mereka begitu mendengar ucapan Gama yang mengatakan ini sudah jam dua belas malam.


"Luna bukannya kau yang mengatakan bahwa mereka membuat keributan? kenapa sekarang kau yang bikin ribut?" kesal Gama sambil menatap Luna.


"Dan kau Kenzo,berapa umurmu ? kenapa kau berdebat seperti anak kecil, apa ini bakat terpendammu? aku tidak pernah melihatmu bicara dengan orang yang baru kau kenal sampai selama ini!"


"Biasanya kau hanya tahan sampai semenit itu pun kalau sampai, apa kau salah makan obat hari ini?" kesal Gama menatap mereka berdua bergantian.


"Dia yang mulai duluan!" ucap mereka berdua saling menunjuk satu sama lain.

__ADS_1


"Hoaaammmm.....kalian ini seperti anak-anak, kumohon berhenti berdebat ini sudah malam, aku sangat mengantuk!" ucap Bima dengan muka bantalnya, sedangkan Aiden sudah kembali terlelap dengan menggunakan bahu Bima sebagai sandaran.


"Cukup!" bentak Gama.


"Tidak ada lagi perdebatan, kita tidur sekarang! tak ada penolakan, Luna besok kita jualan, jangan sampai terlambat, dan kalian besok kalian pulang!"tegas Gama.


Ken dan Luna ingin membalas, namun tatapan kesal Gama mengurungkan niat mereka.


"Kami tidur dimana?" tanya Ken.


"Luna apa kamar adikmu bisa dipakai untuk mereka?" tanya Gama.


"Ha? lalu aku tidur dimana?" tanya Luna.


"Ck... maksudmu kita tidur berpisah? kita suami istri Luna, pokoknya mereka tidur di kamar Yuna adikmu dan kita tidur di kamarmu!" tegas Gama.


Luna menyerah, toh memang mereka sudah sah jadi tidak salah dan tak ada yang melarang.


"Baiklah, kak Ken kalian ke kamar pink itu, ranjangnya hanya satu, kalian bisa menggunakan kasur tambahan, ada selimut bersih kok di dalam," ucap Luna.


"Baiklah, selamat malam!" ucap Ken.


"Ayo Bim!" ucap Ken mengajak Bima.


"Bagaimana dengan ini?"ucap Bima menunjuk Aiden yang sudah molor.


"Kita angkat saja!" ucap Ken.


Mereka mengangkat Aiden ke kamar Yuna dan melakukan seperti yang dikatakan Luna tadi.


Sedangkan Gama dan Luna tidur dalam satu kamar yang sama, agak canggung tapi memang mereka harus terbiasa.


"Tak usah takut begitu, apa kau pikir aku akan berbuat yang aneh-aneh padamu?" ucap Gama yang melihat Luna tampak menjaga jarak dengannya.


"Eh...i... iya," ucap Luna gugup.


"Ck...lagi pula kalau aku berbuat apa-apa padamu bukan masalah kan? toh kita sudah sah," ucap Gama sambil menarik Luna dalam pelukannya.


Luna terkejut, jantungnya berdegup kencang padahal ini bukan kali pertama ia memeluk pria itu.


"Tidurlah, selamat malam semoga mimpimu indah," ucap Gama sambil mengecup pucuk kepala gadis itu.


"Se.. selamat malam Gama," balas Luna yang wajahnya merona saat mendapat kecupan dari suaminya. Gama tersenyum samar.


Mereka semua tidur dengan pikiran mereka masing-masing di malam itu.


"Jika dia memang gadis itu, maka siapa yang mati?" batin Aiden.


"Siapa sebenarnya Luna?" batin Bima.


"Apa aku terlalu merindukanmu sampai aku melihat dirimu dalam dirinya?" lirih Ken.


"Aku harus mencari tahu hal ini, apa mungkin Luna gadis itu? jika iya maka aku tak akan membiarkannya mengingat masa lalunya!" batin Gama.


"Hufftt....aku sangat gugup," gumam Luna yang tidak bisa tidur.


.


.


.

__ADS_1


jangan lupa Like, vote dan komen ya biar author makin semangat , 😉😊😊


__ADS_2