Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
148


__ADS_3

Hari berlalu, sudah dua minggu Anna pulang dari rumah sakit setelah dirawat selama seminggu. Keadaannya cukup membaik namun dokter menyatakan bahwa Anna akan mengalami gangguan psikis untuk sementara ini.


Anna hanya bisa berdekatan dengan perempuan, dan hanya Ferdi satu-satunya pria yang bisa berdekatan dengannya.


Hal ini membuat Gama dan yang lainnya frustasi. Setiap mereka mencoba dekat dengan Anna maka Anna akan bergetar ketakutan, ini membuat mereka benar-benar tersiksa.


Pagi kembali menyingsing, tampak di rumah besar Park suasana terasa cukup sepi sebab Bima sedang di luar kota untuk mengurus bisnisnya, sudah tiga hari dia disana, Aiden menemani Mamanya di apartemen miliknya, Alex dan Mark masih terlelap di dunia mimpi mereka sebab ini adalah hari Minggu.


Andin seperti biasa sedang berolahraga bersama Ferdi dan Anna di taman belakang. Dan Ken masih di rumah sakit.


Luna menggeliat di bawah selimut, tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun begitu juga dengan pria tampan di sampingnya. Hobi baru keduanya adalah buka bukaan setiap ada kesempatan apalagi di malam hari, Ekhmm....pasti otak anda traveling kemana-mana.


Gama memeluk Luna dengan erat, dia menatap wajah gadis itu sambil tersenyum. Sepertinya semalam sesuatu ditegakkan meski memang rutinitas hampir setiap hari jika mereka tidak menginap di rumah sakit.


"Lihatlah wanita ini, dia tidur seperti seorang bayi besar," gumam Gama sambil mengelus pipi istrinya yang terlihat semakin tembem.


Luna mengerjapkan matanya dia menyesuaikan penglihatannya dengan sinar lampu yang menerangi ruangan kamar mereka.


Mata cantiknya berkedip-kedip, ia menatap suaminya sambil tersenyum manis.


Cup


Ciuman singkat dari Gama sontak membuat pipi dan telinga Luna memerah membuatnya semakin menggemaskan di mata Gama.


"Selamat pagi sayang," ucap Gama setelah mengecup bibir ranum milik istrinya.


Gama menatap istrinya begitu juga sebaliknya.


Cup


"Selamat pagi sayang," balas Luna melakukan hal yang sama dengan suaminya.


"Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Gama sambil memainkan anak rambut Luna.


"Kalau kamu disini tidurku akan terus nyenyak meski badan ku harus sakit setiap malam," sindir Luna yang membuat Gama terkekeh.


"Heheheh, sakit tapi enak kan?" Goda Gama sambil menaikkan satu alisnya.


"Ihkk...dasar otak mesum," gerutu Luna sambil menelusup kan kepalanya ke dada bidang suaminya.


"Heheheh, hmmm...hari ini kakakmu pulang loh apa kamu tidak akan bersiap-siap? Atau kita lanjutkan permainan semalam?" Goda Gama.


Luna menatap tajam ke arah suaminya, semalam badannya di buat sakit akibat ulah suaminya.


"Ck...kenapa sekarang pikiranmu itu itu saja?" Ledek Luna .


"Karena istriku ini sangat cantik," goda Gama.


"Hmmm aku tau itu hahahhaha," tawa Luna.


"Sayang kamu pengen punya anak berapa?" Tanya Gama tiba-tiba.


"Anak? Apa kamu mau punya anak?" Tanya Luna balik.


"Tentu saja siapa yang tidak mau punya anak sayang? Aku sangat menyukai anak anak," ucap Gama sambil tersenyum.


Luna terdiam, membuat Gama menatap heran pada istrinya.


"Kenapa diam?" Tanya Gama.

__ADS_1


"Sayang..." Ucap Luna menatap mata suaminya dengan mata berkaca-kaca.


"Ehh kenapa menangis, apa aku salah bicara?" Tanya Gama.


"Emm...ba.. bagaimana kalau aku tidak bisa punya anak, hiks hiks hiks, bagaimana kalau...ka..kalau kita gak akan punya anak, apa...apa kau akan meninggalkanku?" Tanya Luna tiba-tiba.


Deg


Pertanyaan sulit yang menjebak, jika salah menjawab mungkin Luna akan menangis histeris.


Gama terdiam, dia tidak pernah memikirkan kemungkinan ini sama sekali, sekalipun begitu, rasa cintanya lebih besar pada istrinya.


"Mau punya anak atau tidak itu semua terserah Yang di Atas," batin Gama yang masih bergelut dengan pikirannya.


Luna menatap suaminya yang tiba-tiba diam, dia merasa sangat sedih, entah kenapa moodnya benar-benar tidak baik beberapa hari ini.


"Hiks...hiks...hikss...kau diam...huhuhu...kau jahat, kau tidak menjawab pertanyaanku," ucap Luna sambil melepaskan pelukannya, dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Gama tersentak Kaget saat melihat istrinya tiba-tiba menangis dan melepas pelukannya.


"Hiks hiks hiks...jahat, kau jahat," tangis Luna tersedu-sedu sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Gama terkejut dia segera memakai boxernya lalu mengejar istrinya.


"Sayang ada apa? Kenapa kau menangis?" Tanya Gama yang kini berdiri di ambang pintu kamar mandi sambil menahan tangan Luna.


Luna menatapnya sambil menangis, "kau jahat, kau diam, kau pasti akan meninggalkanku jika aku tidak bisa punya anak, hiks hiks hiks...." Ucap Luna.


Gama terkejut mendengar ucapan Luna, tak pernah sekalipun di benaknya terbersit pikiran untuk meninggalkan Luna.


Greepp


Gama menarik Luna ke dalam pelukannya. Dia memeluk istrinya yang menangis semakin keras.


"Hiks...hiks...hiks...tapi kau diam tadi, kau tidak menjawab ku, sudah lama aku memikirkan hal ini, aku ...aku takut kau pergi arhhhh....hiks hiks hiks," ucapnya sambil menangis tersedu-sedu.


"Sstttt....jangan menangis," ucap Gama.


"Dengar aku, mau kita punya anak atau tidak, itu semua terserah pada Tuhan, jika punya anak, kita bersyukur karena di berikan tanggung jawab besar, jika belum punya, kita hanya bisa berusaha dan berdoa, tapi kalau memang Tuhan tidak beri, kita bisa adopsi, jadi jangan terlalu memikirkan hal yang belum terjadi ya sayang," jelas Gama sambil menatap mata istrinya.


"Tapi.."


"Sudah jangan di pikirkan, aku gak mau kamu sakit cuma karena mikirin itu," ucap Gama.


"Sekarang senyum ya, kamu jelek kalau nangis," ledek Gama sambil mengusap air mata istrinya.


"Ck...ledek aja terus, " ketus Luna.


Gama tersenyum, dia mengecup kening istrinya.


Luna menatapnya, seketika senyumannya mengembang membuat hati Gama Benar-benar menghangat.


"Jangan khawatir atau memikirkan hal yang tidak-tidak, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, seperti apa pun keadaanmu nanti, percaya pada ku sayang," ucap Gama.


Luna mengangguk sambil tersenyum.


Hap


Gama menggendong Luna, mereka masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Mau ngapain eh?" Ucap Luna.


"Mandi bareng sayang, biar cepat, kakakmu sudah menunggu di rumah sakit," ucap Gama sambil menurunkan Luna saat mereka masuk ke dalam kamar mandi.


"Ck...itu mah maunya kamu," ucap Luna.


"Heheheh, " Gama tergelak.


Mereka berduaan di kamar mandi, tentu kalian tau apa yang mereka lakukan, ya mandi lah mau ngapain lagi, mandi diselingi tawa, *******, pekikan uhhh.... Sungguh otak ini tercemar. (Maafkan author hahhaah, 😂)


Sementara itu di rumah sakit, tampak Rose sedang mempersiapkan kepulangan Ken. Dua hari yang lalu, Ken dinyatakan sembuh oleh dokter dari penyakit yang diidapnya, penyembuhan yang cukup cepat karena langsung di tangani dengan baik serta dukungan penuh dari keluarga membuat Ken cepat sembuh.


Rose sedang melipat dan memasukkan pakaian Ken ke dalam tas. Sedangkan Ken, dia duduk sambil menatap Rose dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Emm....a..ada apa tuan menatap saya seperti itu?" Tanya Rose yang merasa canggung dan gugup saat di tatap oleh Ken.


"Kamu can...ekhmmm...ah tidak ada apa-apa," kilah Ken langsung memalingkan wajahnya.


"Ahh baik tuan," jawab Rose sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Rose," panggil Ken.


"Ada apa tuan?" Jawab Rose, tangannya masih asik merapikan barang-barang Ken.


"Bagaimana keadaan nenek?" Tanya Ken.


Rose menghentikan aktivitasnya, dia menatap Ken sebentar lalu memalingkan wajahnya, dia terlihat sedih.


"Kesehatan nenek semakin memburuk, dia melupakan semuanya," lirih Rose sambil menunduk.


"Are you okay?" Tanya Ken.


Rose menggeleng pelan, memang keadaan neneknya semakin memburuk beberapa hari terakhir. Jika biasanya neneknya akan mengingat dirinya barang sekali sehari tapi akhir-akhir ini neneknya tidak lagi mengingat siapa pun, bahkan namanya sendiri dia lupa.


Ken berdiri, dia menghampiri Rose dan duduk di kursi di samping Rose.


"Aku tak pandai menghibur seseorang, tapi satu hal yang ku tau kalau semua yang terjadi di hidup ini bukan sebuah kesialan atau kutukan, Tuhan membuat semuanya terjadi karena Dia memiliki rencana lain untuk hidup ini," ucap Ken.


"Jadi selagi masih ada waktu, rawatlah nenekmu dengan baik, karena kita tidak tau kapan kematian itu tiba, apapun yang terjadi kau harus bisa menghadapinya dengan baik," ucap Ken.


"Hufftt....tuan benar, tapi sangat sedih melihat orang yang kita sayangi melupakan diri kita," ungkap Rose.


"Sedih boleh, tapi jangan berlebihan," ucap Ken yang di balas senyuman oleh Rose.


Ken tertegun melihat senyuman manis di wajah Rose, mata mereka beradu pandang seolah ruang dan waktu berhenti, tatapan dalam menyentuh relung hati mereka menimbulkan getaran getaran aneh di hati keduanya.


Tiba-tiba saja jantungnya berdegup dengan kencang dan wajahnya terasa panas.


"Ekhmm...ekkhhmmm... hufftt kenapa disini panas sekalj ya," ucap Ken langsung bangkit berdiri sambil mengipasi wajahnya.


Rose tersenyum tipis, dia juga merasa gugup apalagi saat Ken menatapnya seperti tadi.


"Ada apa dengan ku? Erghh...kenapa aku gugup begini sih," batin Rose sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Arhhhh apa ini namanya cinta?" batin Ken


.


.

__ADS_1


.


JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN KOMENTAR YA READERS TERCINTA 😊😊😉😉😉😉😉😉😉😉😉😉😉😊😉😊😊😊🤗🤗🤗🤗😎


__ADS_2