Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
116


__ADS_3

Luna membawa Alex masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang santai. Ken, Aiden, Bima, dan yang lainnya menyusul mereka.


Kini suasana dalam ruang santai itu cukup menegangkan, tatapan mata ketiga pria itu seolah menghujam jantung seorang Alex yang semakin tidak berani menatap mata mereka.


Ken, Aiden dan Bima mengeraskan rahang mereka. Reaksi mereka persis seperti apa yang di tebak oleh Luna. Ferdi, Andin dan kedua asisten itu diam saaja dan mengamati situasinya.


Luna menatap ketiga kakaknya dengan sebal.


"Ck......apa mata kalian tidak sakit jika melotot terus? Awas jika mata kalian sampai keluar," ledek Luna dengan wajah kesal.


Ken, Aiden dan Bima hanya bisa mendesah berat, tak mungkin mereka menghajar pria itu disini pikir mereka.


"Berani sekali bajingan ini datang ke tempat ini!" Geram Ken tanpa memperdulikan yang lain.


"Mau apa kau kesini dasar penghianat!!" Bentak Bima.


Aiden menatap kedua sahabatnya lalu berganti menatap Alex dan Luna.


"Luna apa kau tidak apa-apa? Kemana saja kau lima hari ini? Kenapa kau tidak pulang? Apa yang terjadi padamu dan kenapa dia ada disini? Bagaimana kau mengenalnya?" Tanya Aiden berusaha meredam emosinya agar tidak meledek.


"Ck..... diantara kalian bertiga yang pikirannya masih normal hanya kak Aiden, adiknya baru pulang bukannya langsung di tanya keadaannya malah melototin orang sampai matanya mau keluar!" Omel Luna.


Ken dan Bima saling menatap, mereka tersenyum tipis akhirnya celotehan gadis itu terdengar di rumah besar ini lagi.


"Aku tidak apa-apa kak malah sangat sehat dan dalam kondisi yang prima, dia merawatku dengan sangat baik," ucap Luna seaya melirik Alex yang duduk di sampingnya.


"Lalu apa yang terjadi saat kau hilang, kami sangat khawatir padamu, kami berusaha mencarimu kemana-mana Luna, kami seperti orang gila apalagi suami mu dia sampai sakit, tidak makan tidak minum hanya memikirkan dirimu!" Ucap Ken bertubi-tubi, dia benar-benar khawatir dengan kondisi adiknya.


Luna menghela nafas, dia juga sebenarnya dibalik sifat cerewet dan tukang omelnya itu sangat mengkhawatirkan keluarga nya, hanya saja dia sangat pintar menyembunyikan perasaannya di hadapan mereka semua.


Luna hanya akan menumpahkan segala emosinya di depan Gama, dia tidak bisa menutup perasaannya di depan pria itu.


"Saat aku di culik, anak buah kak Alex yang menyelamatkanku, jika tak ada dia mungkin aku sudah tidak bernyawa sekarang atau mungkin sudah terjadi kekacauan besar di rumah ini," jelas Luna, dia mulai bersikap lembut agar mereka tidak khawatir.


"Kau tau tidak siapa bajingan ini Luna?" Ketus Bima sambil menatap tajam pada Alex.


"Dia bukan bajingan kak Bima," ucap Luna tak kalah ketus.


"Apa kalian sudah membaca file yang ku kirimkan itu? Apa masih kurang jelas semua bukti dan rekaman video itu kak? Apa perlu kita kembali ke masa lalu untuk mencari tau semuanya?" Ucap Luna dengan mata berkaca-kaca, mereka sampai heran kenapa gadis ini menangis.

__ADS_1


"Hanya untuk menyelamatkan Gama, kak Alex harus mengorbankan persahabatan dan dirinya agar menjauhkan wanita ular yang berna Tiara itu dari Gama," ucap Luna, tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Hanya untuk menjaga keselamatan keluarga ini, kak Alex ....dia ....dia harus pergi dan menghindari kalian, membuat dirinya sendiri difitnah," ucap Luna.


"Kalau memang kak Alex berniat jahat, mungkin lima hari yang lalu dia sudah mengancam kalian dengan aku sebagai sanderanya!" Ucap Luna sambil menangis.


Alex hanya tertunduk, dia benar-benar khawatir saat ini, dia takut mereka tidak percaya dengannya.


"Kalian tau sendiri lebih jelas mengenai tempramen Gama, dia sangat keras kepala dan bodoh, bahkan setelah kami menikah dia bisa bisanya tidak sadar kalau dia di gandeng oleh wanita itu, kalian pikir aku tidak kecewa hah? Hikss...hiksss......kenapa kalian tidak bisa berpikir jernih sih hiks hiks," Luna malah menangis di depan mereka.


"Luna, sudahlah aku pergi saja, nanti suasananya semkin runyam," ucap Alex pelan pada Luna.


Mereka semua menatap Alex dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, antara terkejut, marah kesal, senang dengan kebenaran dan malu karena salah paham.


Luna menatap Alex yang terlihat nyalinya sudah menciut, Luna tau bahwa ini pasti berat untuk mereka dan akan sulit untuk mempercayainya.


"Kak semua kesalahpahaman ini harus diselesaikan, apa kalian mau terus hidup dalam kebencian padahal pria tua tidak tau diri itu yang mengkambinghitamkan kalian semua?" Ucap Luna sembari menatap mereka satu persatu.


"Bagaimana kami bisa yakin kalau dia....tidak punya niat lain Luna? Gama sampai seterpuruk itu karena kejadian di masa lalu, jangan sampai gara gara kau membawa bajingan ini dia sampai sakit lagi Luna!"


"Dia merebut tunangan Gama dan jelas jelas dia membawanya ke rumah sakit waktu itu, jangan sembarang bicara Luna!" Tegas Ken yang dimatanya sudah tampak kemarahan.


"Jangan karena kau istrinya Gama kau bisa berbuat semena-mena Luna, kau hanya orang baru disini!" Ucap Ken lagi, pria itu benar-benar marah saat ini sampai dia melupakan kalau gadis di depannya itu adalah adiknya sendiri.


Kenzo tersadar, dia diselimuti kebencian dan kemarahan sampai dia melukai hati adiknya.


"Lu.... Luna," ucap Kenzo menatap Luna.


Deg.....deg.....deg.....


Mereka semua terkejut, baru kali ini Kenzo berbicara dengan nada kasar seperti itu pada adiknya.


Luna terdiam, air matanya mengalir deras, dadanya terasa sesak.


"Ya a...aku...aku hanya orang baru hiks hiks hiks, a..aku tidak seharusnya ikut campur dalam masalah ini hiks hiks hiks,....a...aku memang tidak diinginkan disini," Luna menangis tersedu-sedu, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia benar-benar terpukul dengan ucapan Kenzo.


"Lu...Luna maafkan aku, maaf bukan begitu maksudku," ucap Ken yang langsung mendekati Luna berusaha menyentuh kepala gadis itu.


"Jangan sentuh aku, aku benci padamu!" Tangis Luna sambil menepis tangan Kenzo dengan kasar.

__ADS_1


Ken terdiam, dia sadaar dia salah, seharusnya dia mendengarkan mereka dulu.


"Ini masalah suamiku, apa aku tidak berhak ikut campur? Aku tidak mau dia terus terusan hidup dalam kebencian!!!" Teriak Luna marah.


"Aku yang menjalani pernikahan ini, aku ingin suamiku melupakan semua traumanya, jika kau tidak setuju maka jangan anggap aku adikmu!!" Ucap Luna dengan sorot mata penuh Amarah.


Baru kali ini mereka melihat Luna benar-benar marah dan itu dilampiaskannya pada Ken.


Ken tersentak, dia benar-benar merasa bersalah telah membuat adiknya terluka bahkan sampai membencinya.


"Ayo kak Alex, Anna kita temui Gama, jika dia juga menolak kak Alex maka aku akan pergi dari rumah ini!" Ucap Luna dengan tegas.


"Luna kurasa kita tidak harus melakukan ini, biarkan saja semuanya seperti yang dulu," ucap Alex menahan tangan Luna.


"Nggak bisa kak, aku mau mereka ini tau kalau kakak sudah banyak berkorban!" Ucap Luna.


"Asal kalian tau, pria yang kalian benci ini yang memastikan keamanan ku, keamanan Anna, dan keamanan Gama selama ini, kalian bahkan tidak ada apa-apa nya dengan dia," ucap Luna menatap kesal terutama pada Ken.


"Na, baiklah ayo kita temui Gama, tapi kau harus tenang, dia sedang sakit sekarang!" Ucap Aiden yang memang bisa bersikap tenang dalam situasi seperti ini.


Luna, Aiden, Alex dan Anna beranjak dari ruang santai menuju ruang perawatan Gama lebih tepatnya kamar yang sudah diubah menjadi ruang perawatan oleh Ken.


Di ruang santai Ken terdiam, dia terduduk lemas saat melihat kalau adiknya benar benar benci padanya terlihat dari sorot mata gadis itu.


"Arhhhh......sial, kenapa aku sampai semarah itu tadi," gerutu Ken sambil mengusap kasar wajahnya.


"Anda terlalu kasar pada Luna tuan, dia gadis yang bisa diajak bicara baik-baik, jika dikasari seperti ini dia hanya akan menaruh benci pada Anda," ucap Andin.


"Dan akan sangat sulit mengambil hati gadis itu tuan, saya harap tidak ada lagi yang membuatnya marah seperti itu, dia bisa melakukan hal nekat tuan," jelas Andin yang sudah hapal betul dengan sifat Luna yang tidak bisa ditebak oleh siapa pun.


"Kau seharusnya bisa mengontrol emosimu Ken, dia adikmu, berbicaralah padanya nanti," ucap Bima sambil menepuk bahu pria itu.


Ken menyesali perbuatannya,dia mengusap kasar wajahnya, bagaimana bisa dia berbicara sekasar itu pada Luna.



.


.

__ADS_1


.


jangan lupa like, vote dan komen 😉😉😊


__ADS_2