Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
Luna Menjelaskan


__ADS_3

Mereka semua duduk dengan wajah lesu di dalam ruang santai, apa yang dikatakan Luna benar, mereka bahkan tidak mampu memecahkan masalah sekecil ini padahal jumlah mereka sangat banyak, belum lagi bantuan dari Dokter Vanya dan pihak kepolisian.


Luna, Gama bersama Aiden dan Mikha berjalan menuju ruang Santai setelah berbincang mengenai penyebab Aiden dan Mikha terjebak malam itu.


Gama merangkul bahu istrinya, Luna sendiri memasang wajah datar dan tidak menoleh ke arah mereka sedikit pun, sebenarnya dia tau dia juga salah karena apa yang dikatakan oleh Bima dan yang lainnya ada benarnya juga.


Luna juga tidak boleh langsung marah pada mereka.


Mereka semua melihat kedatangan Luna dan yang lainnya.


"Dek, maaf ya," ucap Bima yang langsung menghampiri Luna yang sudah duduk di atas sofa bersama Gama.


Pria itu duduk di atas lantai sambil menatap Luna dengan wajah penyesalan, dia menyesal telah berbicara dengan nada tidak seperti biasanya pada Luna.


"Maaf ya," ucap Bima Lagi.


Luna menatap kakaknya dan dia menatap mereka semua.


"Luna juga minta maaf karna marah marah, Luna tau kalau Luna terlalu berlebihan, maaf ya semuanya," ucap Luna dengan mata berkaca-kaca.


Mereka semua duduk melingkar di depan Luna dan menatap ibu hamil itu.


"Maaf kalau Luna terlalu kasar, maaf kalau Luna sering omelin kalian, maaf kalau Luna banyak mintanya," ucapnya, tanpa sadar air matanya malah menetes.


"Kami juga minta maaf Luna!" ucap mereka bersama-sama.


"Maaf ya dek kalau kami terlalu mengekangmu, maaf ya kalau membuat kamu kepikiran," ucap Ken sambil melemparkan senyumnya ke arah sang adik.


"Kami hanya khawatir padamu, kami nggak mau terjadi apa apa pada nona cerewet kami dan si kembar, kalau kamu merasa tidak nyaman langsung kasih tau aja ya Na," ucap Andin.


"Kami semua sayang padamu Na, kami gak mau kamu kepikiran dengan hal hal berat yang malah membuat kamu sakit, tapi cara kami juga salah karena malah membuat kamu merasa tersiksa, maaf ya," tambah Alex.


Mereka semua menatap Luna, jujur saja mereka sangat menyayangi nona cerewet mereka itu, tanpa Luna, mungkin mereka tidak akan busa bersatu seperti hari ini.


"Hiks... hiks... hiks... Luna sayang kalian," ucap wanita itu sambil menangis haru.


"Kami juga sayang padamu nona cerewet!!!" seru mereka bersamaan.


Luna menatap mereka begitu juga dengan mereka.


"pffftthhh hahahhahaha," mereka semua tertawa bahagia bersama sama, sungguh keluarga yang sangat harmonis.


Mereka tidak lahir dari rahim yang sama, mereka semua memiliki masa lalu yang menyakitkan, mereka semua memiliki perjalanan hidup yang menyedihkan, namun Tuhan mempertemukan mereka menjadi satu keluarga, seorang sahabat yang bahkan lebih dekat dari saudara kandung sendiri.


"Bagaimana kamu bisa mendapatkan bukti bukti itu Na?" tanya Ken penasaran.


"Iya, bahkan kami tak bisa mendapatkan bukti itu, semuanya sangat detail," ucap Alex yang benar-benar penasaran, dia sampai duduk di atas meja kayu di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Cih penasaran juga ya? kalau untuk yang satu ini Luna benar benar kesal pada kalian semua!!' ketus ibu hamil yang mood mengomelnya kembali berkobar kobar.


"Iya kamu penasaran, aku sendiri bahkan tak bisa menemukan siapa dalangnya, bagaimana kamu yang bekerja sendirian bisa mendapatkan semua bukti itu Na??" tanya Mark dengan tatapan serius.


"Gak usah ngegas, yang marah sama Luna karena Luna kerja bener siapa tadi hah? kalian kan? sekarang giliran penasaran kalian malah ngegas dasar otak udang!"celetuk Aiden dengan wajah kesal.


"iya iya gak usah ngomel juga kali den!" ucap Bima.


"Ya gimana kak Aiden gak ngomel, pasti Luna tadi nangis kan kak?" ucap Ferdi yang duduk santai di samping Anna yang memilih asik menonton daripada harus ikut campur urusan orang dewasa.


"Nangis?" ucap Bima.


"Ya pasti Luna nangis, kalian aja gak peka, masa cuma gara gara hal itu kalian sampai marah sama Luna," tambah Andin menatap mereka dengan wajah kesal.


"Husshhh... sudah sudah, kita nggak membahas itu sekarang, " ucap Luna melerai perdebatan mereka.


"Jadi bagaimana kamu bisa dapat semua video itu sayang!" tanya Gama.


"Hmmm sebentar, ummm... sayang boleh minta tolong ambilkan laptop yang ada di kamar si bawah tempat tidur?" ucap Luna.


"Bawah tempat tidur?" tanya Gama menyerngitkan keningnya, namun Luna hanya tersenyum penuh misteri saja.


"Iya," jawabnya.


Gama beranjak dan mengambil sebuah laptop dengan gambar apel digigit di atasnya.


"Terimakasih," ucap Luna.


Dia langsung menyalakan laptopnya dan membuka file file yang sudah dikumpulkannya selama dua hari.


"Anna, boleh kakak pakai tv-nya sebentar?" tanya Luna pada Anna yang duduk anteng di depan tv bersama Ferdi.


"Ohh boleh boleh kak," ucap Anna.


Mereka pun menyambungkan Laptop dengan layar televisi yang cukup besar dan lebar itu agar semuanya bisa melihat.


"Nah Lihat ini," ucap Luna menunjukkan beberapa orang yang lewat dari depan pintu darurat dimana nenek Rose jatuh.


"Kenapa dengan mereka? mereka hanya Lewat kan?" ucap Alex.


Luna tersenyum tipis, "Inilah ketidaktelitian kalian!" ucap Luna. Dia menghentikan video saat seorang pria berkacamata hitam tampak lewat dari depan pintu darurat dan menatap ke arah pintu itu.


Di depan pintu darurat sendiri ada sebuah kamera CCTV yang dipasang untuk mengawasi pasien.


"Lihat kacamata pria itu!" ucap Luna.


Mereka meneliti dan dengan jelas mereka bisa melihat bayangan seorang perempuan paruh baya tampak memanggil manggil nenek Rose sebelum masuk ke dalam ruangan tangga darurat itu.

__ADS_1


"Ba...bagaimana bisa ada rekaman ini!" ucap Ken terkejut, dia saja yang paling teliti diantara mereka semua tidak bisa menemukan hal kecil itu.


"Makanya teliti dong kak!" celetuk Luna.


"Kalian lihat kan, tampak pria itu menatap si nenek yang masuk ke dalam ruang darurat, namun karena ada yang memanggil nenek, pria itu tidak curiga apa pun," ucap Luna.


"Nah beberapa hari lalu Luna berhasil menghubungi pria itu dan dia mengatakan bahwa memang ada seorang wanita yang memanggil nenek untuk masuk ke dalam ruangan itu," jelas Luna.


"Nah dan video ini merujuk pada orang yang sangat kak Rose kenali," ucap Luna.


"Dan dia adalah Ibu kak Rose seperti yang kalian lihat di video dalam ponsel Luna!" jelasnya.


"Bagaimana kamu yakin kalau nyonya Beti yang melakukan itu na?" tanya Ken yang melihat kekasihnya tampak diam.


"Setelah mengecek semua CCTV menuju tangga darurat di hari itu, satu satunya orang selain nenek yang masuk ke tangga darurat sebelum nenek kecelakaan adalah nyonya Beti, Luna sudah memastikan kalau hanya dia yang masuk ke tangga darurat waktu itu," jelas Luna.


"Lalu kalian mungkin akan terkejut mendengar suara rekaman panggilan telepon ini, Luna menyadap ponsel nyonya Beti dan menemukan hasil panggilan ini sebelum dia melakukan aksinya," ucap Luna sambil membuka sebuah file berisi rekaman panggilan nyonya Beti.


Deg.. deg .. deg... deg


Jantung mereka berdegup tak karuan, mereka benar benar penasaran dengan apa yang akan di tunjukkan oleh Luna.


Rose menggenggam erat tangan Ken, dia berusaha menyiapkan hatinya untuk mendengarkan isi rekaman itu.


"Ini isi rekamannya," ucap Luna.


Tap...


Mereka mendengar dengan seksama.


"Spongebob Squarepants..... Spongebob... Squarepants... spong..."


Tap....


"Eh Ups... salah heheheh," kekeh Luna yang malah memutar rekaman suara latarbelakang animasi anak anak, hadeh udah jantungan eh malah di bercandain.


"Lunaaaaa...." ucap Mereka.


"Hahahahahaha, habisnya kalian serius sekali hahahahahah," kekeh Luna yang malah membuat mereka tarik nafas berusaha sabar menghadapi kelakuan ibu hamil ini.


.


.


.


like, vote dan komen 😉😉😊😉

__ADS_1


buset dah Na, author dah jantungan malah dibercandain hahahahhahahah


__ADS_2