
Luna menatap datar ke arah mereka bertiga. Aura yang sangat kuat dan mendominasi terasa mencekik leher mereka hingga mereka kesulitan bernafas.
Laura, Melly dan Gisel menatap ke arah Luna, mata mereka juga tertuju pada dua pria yang berdiri di belakang Luna, apalagi kehadiran Alex membuat mereka terbelalak kaget.
"Alex? Kenapa dia disini? Bu...bukannya dia menghianati Gama?" Batin Melly saat melihat Alex disana.
"Apa ini? A..Alex juga disini?" Batin Laura.
"Kenapa jadi sepi?" Ucap Luna seraya menunduk dan menatap mereka bertiga dengan tatapan tajamnya.
"Ayolah lanjutkan, bukannya kalian tadi sedang membahas banyak hal penting hmm?" Tanya Luna.
"Ahhh mungkin mulut kalian perlu di robek dulu baru bicara," ucap Luna seraya mengeluarkan pisau kecil dari dalam kantong celana jeans yang dipakainya.
"Klik...klakk...klikk...kelak hahahahahah," Luna tertawa terbahak-bahak sambil membuka tutup pisaunya persis seperti yang dilakukan oleh Ken.
"Kenapa dia seperti psikopat!" Batin Alex.
"Ini sisi yang baru dari gadisku ini, aku sedih melihatmu seperti ini sayang," btain Gama.
"A..apa yang mau kau lakukan hah? Apa urusanmu ikut campur dengan kami, sana kau!" Teriak Laura histeris.
"Ohohoho, tentu aku harus ikut campuran karena kau sudah mencoba mengambil suamiku dari sisiku nona manis," ucap Luna.
"Ahhh dan kau terlibat dengan wanita itu!" Ucap Luna sambil menunjuk Gisel dengan pisaunya.
"Apa hubungannya?" Tanya Laura seraya melirik sang Mama yang Hanya diam sejak tadi.
Luna menyunggingkan bibirnya, dia menatap Laura sambil menyeringai.
"Ahhh, biar ku perkenalkan diriku, aku Nana Evelyn Anderson," ucap Luna sambil menaikkan alisnya.
"Pernah dengar nama itu NYONYA PARKK???" Tanya Luna.
Laura dan Gisal terbelalak, nama itu adalah nama anak kedua tuan Anderson dari mendiang istri pertamanya.
"Ba... bagiamana mungkin ,kau....ti..tidak mungkin kau gadis sialan itu!!" Bentak Gisel.
"Dia sudah mati, kau bukan gadis sialan itu, beraninya kau mengaku ngaku sebagai anak itu!!" bentak Gisel.
"hohoho, Tuhan memberikan kesempatan hidup kedua kalinya untukku, supaya aku bisa menghancurkan hidup kalian pencuri!!" sinis Luna.
"Dimana suamiku anak tidak tau diuntung, aku tau pasti semua ini hanya akal-akalan kalian untuk mendapatkan harta tuan Anderson!" Teriak Gisel.
"Dimana kalian sembunyikan suamiku!!!" Teriak Gisel.
"Ahhh jadi anda tidak tau dimana suami Anda, hmmm terimakasih, kalau begitu aku pergi dulu, aku tidak perlu lelah bertanya di mana lokasi pria itu, sepertinya aku akan segera mengirim kalian ke neraka!" Ucap Luna dengan santainya sambil berdiri dan beranjak dari kursinya.
"Ayo sayang," ucap Luna pada suaminya.
"Sebentar, Alex pegang Luna," ucap Gama.
Gama berjalan mendekat lalu menatap ketiga oang itu.
"Kalian harus membayar setimpal dengan perbuatan kalian baik di masa sekarang maupun di masa lalu, tunggu hukuman kalian!" Ucap Gama.
__ADS_1
"Tidak,Gama lepaskan aku, aku ini tantemu!!" Teriak Melly histeris.
Namun Gama tidak menghiraukan, mereka ditinggalkan begitu saja di ruangan itu.
Gama menghampiri Luna yang tampak melemah setelah keluar dari ruangan itu, Luna duduk dengan tatapan kosong di sebuah kursi.
"Sayang," panggil Gama sambil memegang bahu istrinya.
Luna menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Alex tak bisa berbuat apa-apa, sejak tadi gadis itu diam saja.
"Kemarilah," ucap Gama.
Luna bangkit berdiri dan langsung menghamburkan pelukannya pada suaminya.
"Kau kuat, kau wanita kuat, tenang kan dirimu, tarik nafas dan buang, kau harus tenang, kita masih harus memastikan keadaan Ken," ucap Gama sambil mengelus punggung gadis itu.
Luna mengangguk pelan, dia benar-benar ingin menangis, tapi sebisa mungkin harus ditahannya.
"Sudah ayo, kita melihat Ken," ucap Gama sambil merangkul bahu istrinya.
Mereka pun berangkat menuju rumah sakit dimana Ken di rawat. Sepanjang perjalanan Gama terus merangkul dan mengusap punggung Luna, dia tau kalau gadis itu sedang menahan tangisnya sekarang.
Alex yang membawa mobil, perjalanan mereka tidak memakan waktu lama.
Sesaat kemudian mereka tiba di rumah sakit milik Ken, dari keempat orang itu memang Ken yang paling banyak punya rumah sakit yang ditanami saham dan didirikannya sendiri.
Luna, Gama dan Alex berjalan menuju ruangan perawatan setelah di beritahu oleh Aiden melalui telepon tadi saat mereka dalam perjalanan.
" Sayang apa pun yang terjadi pada kakakmu, kau harus kuat, jangan terlihat lemah di hadapannya supaya dia bisa kembali sehat," ucap Gama sambil menggenggam tangan Luna dengan tersenyum.
" Tenang, aku selalu di sisimu," ucap Gama.
"Lex, sebaiknya segera kita urus para bajingan itu, Ken tidak akan sanggup menghadapi ini," ucap Gama pada Alex.
Sejak kemarin Alex sudah kembali bekerja sebagai partner bisnis Gama dia bukan lagi asisten sebab Alex sendiri punya bisnis yang harus di urus meski tidak seberapa tapi dia senang melakukan itu.
"Aku akan membereskan semuanya, kalian tenang saja, mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal, akan ku cari tahu penyebab kematian mendiang Ibu kalian Luna, kau harus tenang ya," ucap Alex.
"Terimakasih kak, biarlah hukum yang berjalan dan mereka mendapatkan hukuman seberat-beratnya atas perbuatan keji mereka!" Ucap Luna.
"Kau benar, jangan kotori tanganmu hanya untuk berurusan dengan orang orang munafik itu!" Tegas Gama.
Mereka tiba di ruang perawatan Ken, tampak Aiden dan Bima berjaga disana setelah Ken ditangani oleh dokter.
"Ahh kalian sudah sampai," ucap Aiden sembari bangkit berdiri dari sofa dimana dia duduk.
Ken di rawat di ruang rawat VIP, Aiden dan Bima menemaninya disana. Saat ini Ken belum sadarkan diri karena masih dalam pengaruh obat.
"Bagaimana keadaannya kak?" Tanya Luna yang langsung mendekati bed rest Ken.
"Huhh....kurasa lebih baik kalian bicara dengan dokter George, aku meneleponnya untuk datang kesini, aku lebih percaya pada dokter itu," ujar Aiden dengan wajah muram.
Sedangkan Bima hanya diam saja, dia terus menatap Ken dengan tatapan sendu.
Luna dan Gama saling menatap, tampak kekhawatiran pada Luna dan Gama paham dengan hal itu.
__ADS_1
Gama menggenggam tangan Luna, dia tersenyum lembut sambil mengelus punggung gadis itu.
"Ayo, kau harus tenang sayang," ucap Gama menguatkan Luna. Gadis itu mengangguk pelan, mereka beranjak dari ruangan itu menuju ruangan dokter George yang memang disediakan khusus di setiap rumah sakit milik Ken, alasannya karena Dokter George adalah dokter kepercayaan mereka.
Aiden membawa mereka, Alex mengikuti mereka di belakang.
Tok
Tok
Tok
Aiden mengetuk pintu ruangan dokter George, meski mereka adalah pimpinan, mereka tetap mengedepankan sopan santun sebab dalam situasi ini,mereka adalah keluarga pasien yang membutuhkan bantuan dokter.
Jika biasanya orang-orang dengan jabatan tinggi memiliki sikap angkuh, tapi tidak dengan mereka.
Setelah dipersembahkan masuk, mereka melangkah ke dalam ruangan itu.
"Selamat datang tuan, nyonya," sambut Dokter George dengan sopan.
"Silahkan duduk," ucapnya lagi.
"Dok, apa yang terjadi pada kakak saya, ada apa dengannya?" Tanya Luna sedikit panik, Gama mengelus punggung gadis itu agar dia lebih tenang.
"Mungkin mendengar berita ini akan sangat mengejutkan bagi tuan tuan dan nyonya, tuan Ken terkena penyakit Meningitis!" Ucap Dokter George.
"Kami sudah melakukan CT Scan, dan serangkaian prosedur pemeriksaan lainnya, dan hasilnya Tuan Ken mengidap penyakit Meningitis," jelasnya lagi.
Luna, Gama dan Alex terdiam, mereka begitu terkejut dengan berita ini.
"Ka...kakak, sudah sampai tahap mana dok?apakah parah?" Tanya Luna dengan suara bergetar, dia menggenggam erat tangan suaminya, berusaha mencari kekuatan dari sana.
Gama dengan setia merangkul dan menenangkan istrinya, ini juga berat untuk mereka.
"Untuk meningitis nya kita bersyukur langsung cepat dideteksi, sebab ini masih tahap awal, dengan pengobatan rutin tuan Ken bisa sbuh nyonya," ujar Dokter George.
"Lalu apa yang harus kamu lakukan?" Tanya Luna.
"Saya sangat menyarankan agar tuan Ken mendapatkan perawatan total di rumah sakit agar pengobatan dapat dilakukan dengan intensif," jelas Dokter George.
"Dia bisa sembuh kan dok?" Tanya Luna.
"Karena dideteksi dengan cepat kemungkinan sembuhnya cukup tinggi nyonya, tugas kita selanjutnya adalah memberikan semangat pada tuan Ken, dia mungkin akan melalui fase paling berat, saya harap kalian semua senantiasa mendukungnya," ucap dokter George.
"Arhhhh.... syukurlah, dok tolong lakukan yang terbaik, saya mohon," ucap Luna penuh harap.
"Kami akan melakukan yang terbaik nyonya," ucap Dokter George meyakinkan Luna.
.
.
.
jangan Lupa like, vote dan komen ya author butuh dukungan kalian 😉😉😉😉
__ADS_1