
Luna mengangkat tangannya dan....
Plakk
Plakk
Plakk
Suara pukulan menggema di dalam ruangan itu, semua pelayan tidak berani melihat apa yang terjadi, mereka menunduk.
Dini sudah gemetar ketakutan di depan Luna, ia menutup matanya, namun sesuatu membuatnya bingung, tadi ia melihat tangan Luna terangkat dan ia mendengar tiga pukulan lebih mirip ke suara tamparan.
"kok gak sakit ya?" batin dini, ia masih menutup matanya tak berani melihat Luna.
"Dasar lantai nakal, ughhh...nakal....nakal...nakal..!!!" teriak Luna sambil memukul-mukul lantai hingga menimbulkan suara mirip tamparan.
"Pffthh hahahaha...." terdengar suara tawa dari ujung pintu. Ternyata Ken dan Aiden sudah menyaksikan mereka sedari tadi, jangan lupakan Aiden yang selalu siap siaga merekam semua kejadian itu.
Mereka tertawa terbahak-bahak melihat wajah puas para pelayan saat melihat Luna mengangkat tangannya seolah akan memukul Dini.
Para pelayan memberanikan diri membuka mata mereka. Mereka melihat Luna tengah mengomeli lantai sambil memukul-mukul lantai dengan tangannya.
"Eh... hufffhhh.." Para pelayan bernafas lega karena suara pukulan yang mereka dengar bukan suara pukulan yang mereka pikirkan.
"Dini kamu gak apa-apa kan, kenapa kamu tutup mata hmm? kok badanmu gemetaran? kakimu berdarah," ucap Luna sambil memegang bahu gadis itu.
"Bi Eniiiiii!!" panggil Luna.
"Ambilkan kotak obat!!" ucap Luna.
"Din...Dini, hei kenapa ?" tanya Luna seraya menggoncang tubuh gadis di depannya itu.
Dini membuka matanya, ia menatap Luna dengan mata berkaca-kaca, ia langsung memeluk Luna sambil menangis, sungguh gadis itu sedang ketakutan sekarang, ia pikir ia akan di pukul oleh majikannya, ternyata bukan dirinya yang di pukul tapi lantai.
""Eh...kok nangis, haissh ini lantainya nakal banget sih,sampai buat kamu jatuh dan nangis begini, sakit banget ya? husshh udah jangan nangis, nanti kita obati," ucap Luna seraya menepuk pundak gadis yang menangis di pelukannya.
"Hiks...hiks..hiks," pelayan lain malah ikut menangis melihat perlakuan Luna pada Dini.
"Loh kok malah nangis berjamaah sih, kak Keeeennnnnnn, kak Aideeenn mereka kenapa ini?"ucap Luna panik saat melihat semua pelayannya menangis di depannya.
Ken dan Aiden berjalan mendekati Luna, mereka juga tidak mengetahui penyebab para pelayan itu menangis.
"Entah, kamu kali yang terlalu kejam sampai bikin mereka nangis," ujar Ken.
"Loh kok aku sih kak, Luna gak ngapa-ngapain loh," ujar Luna, tangannya masih setia menepuk-nepuk punggung Dini yang menangis sesenggukan.
"Kamu terlalu sering ngerjain mereka Luna, ini nih akibatnya, kamu sih nakal!" ledek Aiden.
"ishh...kak Aiiii....nggak gitu loh," kesal Luna.
"Kalian kenapa nangis sih, kesini duduk sini, jangan nangis dong, emang kenapa sih?" tanya Luna penasaran.
"Hiks...hiks..hiks Nyonya bisakah kami memeluk nyonya juga?" tanya pelayan pelayan wanita itu.
__ADS_1
"Hmm? sini sini kalau mau peluk, kalian kenapa sih?" ucap Luna yang masih bingung.
"Nyonyaaaa....hiks hiks hiks," para pelayan menangis berjamaah sambil berpelukan dengan Luna.
Ken dan Aiden sepertinya mengerti arti tangisan mereka ini apalagi melihat kejadian tadi.
""hishhh jangan nangis, kalian udah besar loh, kayak anak TK aja masih nangis-nangis, kalian aneh!!" celetuk Luna.
"Heheheh, nyonya, sebenarnya kami merasa sangat bahagia saat ini," ucap mereka yang mulai melepaskan pelukan mereka dan duduk di samping Luna.
Ken melihat Bi Eni membawa kotak obat dan handuk yang lebih besar. Dia mengambil Handuk itu lalu berjalan dari belakang Luna kemudian menutup tubuh Luna dengan handuk besar itu.
"Pakai ini dulu, nanti kamu demam," ucap Ken sambil meletakkan handuk di tubuh adiknya.
"Terimakasih kak," jawab Luna sambil tersenyum, Ken menepuk kepala adiknya dengan lembut.
"Hmm.." ucapnya sambil beranjak dari sana dan mengambil kaki palsu Luna kemudian membersihkannya seperti yang biasa Luna lakukan.
"Kalian bahagia tapi kok nangis sih?"ucap Luna dengan wajah bingung.
"Heheh, gini nyonya, kami gak pernah dapat majikan sebaik nyonya, saya pribadi nyonya, sebelum bekerja disini saya selalu mendapat perlakuan kasar dari majikan saya sebelumnya," ucap salah satu pelayan.
"Terkadang hanya karena salah sedikit saja saya dibentak bentak seolah saya bukan manusia," lirih pelayan itu.
Luna dengan seksama mendengar penuturan pelayan pelayan itu.
"Kalau saya, pernah disetrika sama majikan saya karna bajunya hilang, katanya saya yang curi tau taunya ada di lemarinya, bahkan bekasnya masih ada sampai sekarang," ucap pelayan lain sambil menunjuk bekas luka di tangannya.
"Kami bersyukur punya majikan yang baik seperti nyonya, kalau itu majikan kami yang dulu mungkin kami sudah disiksa nyonya," lirih mereka.
"Dini juga pikir tadi nyonya mau pukul Dini, tapi Dini heran kok gak ada rasanya," ucap Dini dengan polosnya.
"Ck...ck...ck..kalian semua memang aneh! makanya apa apa itu dilihat dulu dong, hadehhh aku tak habis pikir dengan kalian," celetuk Luna.
"Lalu majikan majikan kalian itu sepertinya harus dituntut atau kalau perlu kita cincang-cincang saja terus kasih sama buaya, emang dadar ya mentang-mentang orang kaya bisa seenaknya sama orang lain, " ketus Luna.
'Kalian jangan takut lagi, kalau ada yang berani sama kalian mereka berdua jadi pawang!" celetuk Luna sambil menunjuk Aiden dan Ken yang sedang memeriksa kaki palsu Luna dengan seksama.
"Eh apa?" tanya Aiden saat mengetahui kalau diri mereka dilihat oleh mereka semua.
"Iya kan kak?' ucap Luna.
"apanya yang iya lun?" tanya Aiden bingung.
"Ck...jawab iya aja kak," ucap Luna lagi.
"Iya deh iya, entah apa yang mau diiyakan,"gerutu Aiden.
"Nah dengar kan, " ucap Luna.
"Hahahah, nyonya lucu sekali ya, kami jadi betah tinggal disini," ucap pelayan itu.
" Terimakasih nyonya, nyonya sangat baik," tambah yang lain.
__ADS_1
" Sudah sana lanjutkan pekerjaan kalian, jangan nangis nangis lagi malu sama umur!!" celetuk Luna dengan tatapan meledek.
"Pfhhtt hahahah....siap nyonya," jawab mereka sambil tertawa.
"Bi Eni mana kotak obatnya?" tanya Luna.
"Ini Nyonya," ucap Bi Eni sambil memberikan kotak obat pada Luna.
"Emm Luna sebaiknya kamu ganti pakaian dulu, biar bi Eni yang mengobati gadis itu, jangan samapi kau sakit, pakaianmu basah!" ucap Aiden.
"Benar nyonya, biar saya yang obati," ucap Bi Eni.
"Baiklah, lain kali kamu hati-hati jalannya ya Din, pasti lututmu sakit," ucap Luna.
" Baik nyonya, terimakasih banyak!"ucap Dini sambil menunduk hormat dan bangkit sambil di bantu Bu Eni.
"Kami permisi ke belakang dulu nyonya," ucap Bi Eni yang dianggukkan oleh Luna.
"Kak mana kakiku?" tanya Luna.
"Ini bentar kakak pasangin!" ucap Ken yang sudah selesai membersihkan kaki palsu milik Luna.
"Biar aku aja kak," ucap Luna merasa tidak enak.
"Udah diam, jangan bawel!" ucap Ken sambil memasang kaki palsu milik Luna.
"Apa kakimu masih sering sakit?" tanya Ken yang merasa sedih melihat kaki adiknya namun ia berusaha menahan kesedihannya ia tidak mau adiknya merasa tidak nyaman.
" Terkadang sih kak," ucap Luna.
" Kita periksa aja ke dokter ya Luna, entar kita cek keseluruhan, apalagi ingatan kamu baru pulih, kami gak mau terjadi apa apa sama kamu," ujar Aiden.
"Oke deh kak," jawab Luna.
"Nah...siap, udah gih sana ganti baju, kamu basah semua itu, eh by the way kakak salut sama kamu," ucap Ken.
"Salut kenapa kak," tanya Luna.
"Kamu rendah hati banget, kami pikir kamu tadi mau pukul pelayan itu ternyata semua di luar dugaan," ujar Ken yang memang benar-benar salut dengan adiknya itu.
"Biasa aja kali kak, sebagai sesama manusia kita harus bisa saling menghormati orang lain, lagi pula dia juga terpleset tadi, kan kasihan," balas Luna sambil bangkit berdiri.
"Udah deh, Luna ke kamar dulu ya kak," ucap Luna sambil beranjak meninggalkan mereka disana.
Ken dan Aiden tersenyum menatap punggung gadis itu, mereka begitu bahagia memiliki adik sebaik Luna.
.
.
.
like, vote dan komen 😊😉😊
__ADS_1