
Hari terus berlalu sebagaimana biasanya, Celine disibukkan dengan berbagai macam tingkah jenaka Bima yang semakin hari membuatnya selalu kesal, tertawa, bahkan sampai marah-marah.
Bima berusaha sekuat tenaga dan cerdik mungkin untuk bisa mendekatkan dirinya dengan Celine istrinya sendiri.
Semakin dia melakukan hal itu semakin dia memahami bahwa hatinya telah jatuh cinta kepada Celine yang notabenenya adalah istrinya sendiri, entah bagaimana sifat Celine yang terkadang ceroboh, tegas, pemarah, bisa juga lembut, membuat Bima semakin jatuh hati pada wanita itu.
Segala kebutuhan dan keperluannya kini telah ditangani oleh Celine tentu saja dengan ancaman bahwa dia akan membongkar siapa miss C yang kemarin sempat masuk artikel dan portal berita terbesar di Indonesia, selain mengancam dengan cara itu Bima juga mengancam dengan cara mengecup bibir Celine jika dia menolak.
Entah bodoh atau sudah terhipnotis dengan pesona seorang Bima, Celine terpaksa menurut dan pasrah dengan keadaannya meskipun hatinya mengatakan bahwa dia sangat senang melakukan hal itu.
Hanya saja setiap kali dia mengingat kesepakatan mereka dari awal pernikahan membuatnya merasa sedih dan merasa rendah diri kalau dirinya hanya dianggap sebagai rekan untuk membalaskan dendam mereka kepada dua manusia yang telah menyakiti hati mereka di masa lalu.
Namun dia berusaha untuk berpikir positif dan menjalankan perannya saat ini sebagai seorang istri meskipun mereka masih terikat dengan pernikahan kontrak.
Karena jika ditanya, jujur dari dalam hati yang paling dalam Celine sudah menaruh hati kepada suaminya sendiri.
Hari ini Bima akan berangkat bekerja ke kantor seperti biasanya, dia mengajak selling untuk ibu Sandra nama saya dan mengatakan bahwa dia sedang ada urusan dengan Kafe dan kos-kosannya.
"Ayolah ikut lah dengan ku, kau bisa mengurus urusan mu besok," ucap Bima yang mulai tak rela berpisah dari Celine.
"Aku tidak bisa Bima, pekerjaanku cukup banyak hari ini, kapan-kapan saja aku ikut denganmu, " ucap Celine sambil memberikan jas Bima.
Keduanya sudah terbiasa tidur bersama, sehingga membangun hubungan yang kuat di antara mereka meskipun masing-masing belum menyatakan perasaan.
"Haisshhh.... Baiklah, " ucap Bima.
"Tapi tunggu dulu kapan kita akan melakukan pembalasan itu? Kenapa semua rencana kita berjalan di luar jalur? Aku sudah tidak sabar ingin melihat mereka berdua hancur!" Tanya Celine yang merasa kalau waktu pembalasan mereka telah lewat.
"Eh.... Emmm itu ya, nanti saja kita bahas Aku sedang terburu-buru, bye Celine!" Ucap Bima sambil mengecup puncak kepala Celine, hal yang biasa dilakukan setiap pagi, dan tentu saja selalu berhasil membuat Celine salah tingkah.
"Tunggu aku akan mengantarmu," ucap Celine yang mengejar Bima keluar dari dalam kamarnya.
Namun siapa sangka Bima berlari dengan kencang sehingga Celine ketinggalan.
"Loh dimana dia?" Ucap Celine clingak clingak namun tak lagi menemukan keberadaan suaminya bahkan mobil Bima sudah tidak ada di halaman rumah itu.
"Cari siapa Celine?" Tanya Andin yang baru saja jalan jalan padi bersama kedua anaknya di temani Rose dan Ken, sedangkan Mark dan yang lainnya sudah pergi bekerja.
Sekitar 2 atau 3 minggu yang lalu keluarga Mark dan keluarga akan kembali ke tanah air dan tinggal bersama yang lain di rumah besar Aiden.
__ADS_1
Mendengar bahwa Bima telah menikah mereka sangat senang meskipun mereka tidak dapat menghadiri nya mereka menyaksikan pernikahan Bima dan Celine melalui video call yang dihubungkan Luna ke ponsel mereka.
Andin mendorong kereta bayi yang berisi Joan dan Jesika sedangkan Rose tengah mengandung dengan usia kehamilan sudah 6 bulan.
"Ehh Andin, Cari Bima tadi, tapi dia udah gak kelihatan," ucap Celine sambil menggaruk lehernya menatap mereka.
"Kalian dari mana?" Tanya Celine yang masih merasa canggung, sebab Dia tinggal bersama dengan orang-orang berpengaruh di Indonesia bahkan di luar negeri anggap dirinya sedikit insecure dengan keadaannya.
"Cuma jalan jalan aja kok, kenapa kamu gak ikut sama Bima?" Tanya Rose sambil mengunyah buah apel di tangannya.
"Aku ada urusan dengan Kafe dan kos kosan jadi nggak bisa ikut," ucap Celine.
"ohh begitu," ucap mereka.
" Celine jangan Canggung dengan kami, santai saja, kamu itu bagian keluarga kami, " ucap Ken.
"Sepertinya kita butuh bicara, ayo masuk dulu ke dalam, " ajak Ken sambil merangkul istrinya.
"Ayo Celine," ajak Andin sambil tersenyum.
Celine mengikuti mereka dari belakang sambil menundukkan kepalanya.
"Hehh... Yang masih tidur sama Baby Aurel tadi siapa? Emang ngapain aja semalam sama kak Aiden Sampai terlambat bangun, Kakak sih.. " ledek Rose yang sejak kehamilannya dia berubah menjadi orang yang cerewet.
Mikha terkekeh, dia menggaruk tengkuknya tentu saja semalam dia mengarungi dunia yang indah bersama suaminya sampai dia terlambat bangun dan tidak jadi ikut jalan jalan pagi bersama yang lain, bahkan dia sampai tidak mengantarkan Aiden ke kantor.
"Heheh, kalian tau lah," kekeh Mikha yang sudah ketularan sableng dari Aiden.
"Ya udah masuk, itu perut Rose udah menggelembung kaya balon jangan lama lama berdiri entar meletus bahaya! " Celetuk Mikha.
Mereka geleng-geleng kepala dengan sifat Mikha yang benar benar tertular dari Aiden atau mungkin memang sifatnya seperti itu Namaun ditutupi oleh rasa minder dan malu di masa lalu.
"Kau persis dengan Aiden, ada ada saja," celetuk Ken.
"Tentu saja kak, Ken dia kan suamiku hahahah, ya sudah ayo masuk, Awas balonnya jatuh hahaha" kekeh Mikha.
"Mikhaaaaa" ucap mereka sambil memelototi Mikha.
"Hahahah just kidding my lovely family," ucap Mikha.
__ADS_1
"Mamiiiii" teriak Aurel yang berlari dari dalam kamar.
"jangan lari nanti ja...."
Brukkk
Belum sempat mereka menyelesaikan perkataan mereka, Aurel sudah jatuh tengkurap di atas Lantai.
"Aurelll" teriak mereka panik.
Aurel bangkit berdiri sendiri sebelum maminya sampai di tempatnya, dia berdiri dengan senyum mengembang di wajahnya sambil mengangkat jari jempolnya.
"Heheh mantap..." Kekeh bocah yang akan beranjak empat tahun itu.
"pffftthhh hahahhahaha," mereka tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Aurel yang persis seperti kedua orangtuanya, bagaimana bisa dia bercanda di saat seperti ini hadehh keturunan Aiden memang meresahkan.
"Ck... Ck... Ck... Liat ya bentar lagi nangis nih," ucap Mikha pada yang lain.
Benar saja, Baby Aurel berjalan menghampiri Maminya sambil menangis dan merentangkan kedua tangannya meminta di peluk Maminya.
"huaaaaaaa Maaamiiiiii hiks hiks hiks.... Sakiiittttt huaaaa... Mami.. Auler atuhhhh hiks hiks hiks" rengek bocah kecil itu, membuat Mikha dan yang lainnya geleng-geleng kepala dengan sifat baby Aurel yang memang benar-benar mirip Papinya.
"Sudah sayang, gak apa apa, lain kali hati hati ya," ucap Mikha sambil mengecup tangan Aurel dan mengusap air matanya.
"Hiks hiks, hiks, ada monster jahat di lantainya huh... Bikin Alel atuh!!" Celetuk baby Aurel .
"Iya. Iya Monster jahatnya nanti kita basmi, sekarang kita kesana dulu" ucap Mikha.
Mereka pun masuk ke ruang keluarga dimana mereka biasa berkumpul.
Celine menatap iri pada mereka semua yang bisa merasakan bagaimana indahnya punya keluarga kecil seperti itu sedangkan pernikahan nya hanyalah pernikahan kontrak yang akan berakhir jika rencana mereka telah selesai.
Sama halnya dengan seorang wanita yang mengintip dari balik pintu, dia adalah Vanya yang menatap iri pada mereka yang sudah memiliki keturunan, dia menangis sedih meratapi nasibnya yang belum juga dipercayakan memiliki keturunan.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 😊😉😊