Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
90


__ADS_3

Sambil malu-malu, Luna mengikuti langkah kaki wanita yang di percayainya adalah bibinya, wanita yang lembut dan baik hati, beliau juga yang mendampingi Ibunya saat bercerai dengan Papanya hingga meninggal.


"Halo Paman Bramasta!" Sapa Bima sambil tersenyum,


"Nak Bima, ayo duduk dulu duduk!" Ucap pria yang biasa di panggil Bramasta Farenheit itu.


"Hai Sat, Hai Sabrina!" Sapa Bima ramah sambil duduk di sofa di depan mereka.


"Hai Bim, gimana bisnis? Lancar?" Tanya Satria berbasa basi, lain halnya dengan Sabrina yang sangat pemalu, dia selalu saja diam.


"Lancar bro, Kau bagaimana? Masih melanjutkan sandiwara cintamu?" Ucap Bima sambil menaikkan satu alisnya.


"Ck...diamlah jangan bahas itu disini!" Ucap Satria seraya menatap kesal ke arah Bima.


"Santai bro," ucap Bima.


"Jadi ini Nana, kemarilah nak, Paman merindukanmu!" Ucap Paman Bramasta sambil merentangkan kedua tangannya sambil berdiri.


Luna menatap Ken, pria itu mengangguk pelan sambil tersenyum. Luna bangkit berdiri lalu memeluk pamannya yang begitu berjasa dalam kehidupan mereka, jika pamannya tidak melakukan hal itu mungkin saja dia dan Ken tinggal nama saat ini.


"Arghhh...maafkan paman tak sempat membawamu waktu itu," ucap Paman Bramasta ,Ken seketika menatap Paman Bramasta sambil memberi kode agar tidak membicarakan kejadian itu.


"Ck..kenapa aku lupa menyampaikan hal ini?dasar bodoh!!" Ketus Ken merutuki dirinya sendiri.


"Jadi ini paman Pasta yang suka kasih Nana makan permen kan? Bibi Ayu yang cantik, kak Satria yang sering narik narik rambut Luna waktu kecil dan Sabrina yang selalu ceria," ucap Luna menatap mereka satu persatu setelah melepaskan pelukannya dari paman Bramasta.


"Kau masih ingat panggilanmu pada paman hahaha, dia benar benar Nana ponakan cantik paman, terimakasih sudah bertahan nak!" Ucap Paman Bramasta.


"Hai Na kau masih ingat dengan kakak kan heheh, sudah lama kakak tidak memainkan rambut birumu yang panjang itu," ucap Satria sambil tersenyum jahil.


Luna langsung memegang rambutnya ia duduk di samping Sabrina yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan berbinar-binar.


"Sabrina lihat kakakmu, dia mau memainkan rambutku lagi," rengek Luna pada Sabrina tanpa rasa canggung sedikit pun.


"Kak berhentilah bersikap seperti anak kecil!" Ucap Sabrina, baru kali ini gadis itu berbicara panjang selain bersama wanita yang menjadi teman serumah Satria.


"Ck..aku hanya ingin mengikatnya," sungut Satria.


"Pftt hahahhahaha," mereka semua tertawa bahagia dengan pertemuan mengharukan itu.


Paman dan Bibi tak menyangka akan bertemu kembali dengan Luna yang dikira meninggal, mereka sama sekali tidak membahas kejadian itu karena itu sebuah trauma berat bagi Ken dan Luna.


Mereka berbincang-bincang hari itu, melepaskan rindu satu sama lain. Luna banyak tertawa hari ini meski hatinya tidak bisa lepas dari suaminya yang sulit di hubungi.

__ADS_1


Sementara itu di Seoul Korea Selatan, seorang pria tampan berpakaian kasual bernuansa Hitam tengah berlari di sepanjang taman dimana banyak orang yang juga melakukan olahraga pagi disana.


Pria itu berlari terus dengan wajah yang selalu tersenyum sumringah, di telinga nya menempel sebuah headset nirkabel, tampak ia sedang mendengarkan rekaman suara seseorang yang sangat di cintainya sambil tersenyum bahagia.


"Haaaahh...haaahhh," pria itu duduk di bangku taman dimana asistennya yang sudah selesai berlari sejak tadi.


"Silahkan tuan!" Ucap pria itu sambil menyerahkan botol air mineral.


Pria tampan itu menerima botol air minum nya danenenggak habis air mineral itu.


Glekk


Glekk


Glekk


Terdengar suara nyaring dari tenggorokan pria itu, jakunnya naik turun menandakan ia sedang minum dengan cepat saking hausnya. Keringatnya bercucuran membasahi wajah, leher dan seluruh tubuhnya.


" Terimakasih Rendy!" Ucap Gama.


Pria itu adalah Gama, sejak seminggu yang lalu sudah dinyatakan sembuh, pemulihannya begitu cepat karena sebelumnya sudah melakukan terapi yang ternyata merangsang saraf-saraf kakinya.


Apalagi pijatan yang diberikan istrinya setiap malam membantu merangsang saraf-saraf kakinya.


"Tuan menurut laporan anak buah tuan, nyonya muda sering bersedih hanya saja selalu beliau tutupi dari orang lain," lapor Rendy.


" Aku tau, tapi apa boleh buat, ini juga karena pekerjaan mereka tidak becus!" Kesal Gama sambil meremukkan botol air mineralnya.


"Pokoknya kita pulang dua hari lagi, aku tidak mau terlalu lama disini, jika ada keperluan lain aku akan datang dan membawa istri dan adikku!" Ujar Gama.


"Ngomong-ngomong apa dia sudah bertemu dengan pamannya?", Tanya Gama sambil menatap Rendy.


"Sudah tuan sesuai rencana Anda, mungkin saat ini mereka sudah di rumah tuan Ken"jawab Rendy.


" Kerja bagus!" Gama tersenyum tipis.


"Tapi tuan, orang-orang yang mengikuti nona saat di pesta itu masih terus mengawasi nona, apa perlu saya lakukan tindakan?" Tanya Rendy.


"Biarkan saja dulu, selama mereka tidak mengancam nyawa nyonya kalian, tapi jika ada pergerakan sedikit saja, langsung basmi mereka,!" Tegas Gama.


"Baik tuan!" Jawab Rendy.


"Kak Ren kau pasti merindukan kak Katie dan anak anakmu kan, maaf karena menyita waktumu!" Ucap Gama sambil menepuk pundak pria di sampingnya itu .

__ADS_1


"Bukan masalah tuan, Katie juga mengerti dengan tugas saya, setiap malam saya menghubungi mereka untuk melepas rindu," ujar Rendy.


"Wahhh, aku jadi iri padamu kak, apa aku akan punya keluarga semanis kalian? Aku juga ingin punya anak dari Luna, pasti menyenangkan," ucap Gama.


"Anda pasti bisa tuan!" Ucap Rendy memberi semangat pada tuannya.


"Kak Ren setelah pulang dari sini bawalah mereka ke rumah besar Park, Luna pasti senang bertemu dengan kak Katie dan anak-anak mu" ucap Gama.


"Baik tuan, mereka pasti senang juga" ucap Rendy.


"Hmmm, baiklah ayo kembali kak Ren kita selesaikan semua masalah ini, aku tidak sabar ingin bertemu istriku, haaah aku juga tidak sempat menghubunginya," desah Gama dengan nafas berat.


Pekerjaan Gama di Korea ternyata tidak sesimpel yang mereka pikirkan, terjadi beberapa masalah besar sehingga mengharuskan Gama bekerja extra.


Bahkan setiap malam ia harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, sampai ia tidak sempat mengangkat panggilan atau sekedar menelepon istrinya.


Namun yang membuat Gama senang, Luna selalu mengiriminya pesan suara seolah tau kalau dirinya sedang merindukan suara gadis cantik itu.


Setiap hari Luna tidak lupa mengirim pesan untuk menyemangati Gama. Jika sempat ia akan membalas, karena kalau sampai menjawab panggilan maka pekerjaannya akan semakin menumpuk.


Suara yang di kirimkan Luna dikumpulkan oleh Gama menjadi satu file, inilah yang selalu ia dengarkan selama beberapa hari ini sebagai penyemangat karena tak bisa mendengar langsung ocehan gadis cantik itu.


"Bersabarlah sayang, jangan sedih aku akan memberikan kejutan untukmu, kau wanitaku, gadis kesayanganku!" Batin Gama.


Gama dan Rendy langsung berangkat menuju perusahaan, seperti biasa Gama akan di sambut oleh para karyawan dengan antusias apalagi pesona pria itu semakin terpancar setelah ia sembuh dari kelumpuhannya.


Dengan gagah pria bermarga Park itu melenggang masuk ke dalam perusahaan yang dulu di rintis Ayahnya, mata para karyawan tertuju pada pria itu.


Siapa yang tidak akan terpesona dengan seorang Gama yang tampan dan berkharisma, namun setampan apa pun pria itu, dia tidak tersentuh.


Gama terkenal sebagai Presdir kejam dan tegas, ia tak pernah tersenyum di depan karyawannya, wajahnya selalu datar dan dingin sehingga tidak ada yang berani mencoba bermain api dengan pria itu.


" Serahkan semua laporan setelah rapat terakhir Minggu lalu, aku ingin semuanya ada di meja ku sekarang!" titah Gama pada Rendy.


"Siap Tuan!' jawab Rendy.


.


.


.


jangan lupa like, vote dan komen 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2