
Di sebuah restoran mewah, tampak Ken, Mark, Rose dan Andin tengah melihat lihat lokasi itu untuk acara kejutan besok.
Mark berjalan di samping Andin sedangkan Ken berdampingan dengan Rose.
"Wah restoran nya bagus ya," ucap Rose yang kagum dengan dekorasi restoran bergaya tradisional itu sesuai dengan budaya di Indonesia itu.
"Kamu suka?" Tanya Ken.
"Suka, wah cantik!"celetuk Rose tanpa sadar berjalan semakin dekat dengan Ken.
"Kamu juga," ucap Ken.
Rose menatap Ken, dia tersadar sudah berada pada jarak terlalu dekat dengan Ken.
"Eh..ma..maafkan atas ketidaksopanan saya tuan," ucap Rose.
"Jangan sungkan," ucap Ken yang tersenyum lembut yang membuat hati seorang Rose berbunga bunga.
"Sering-sering juga boleh," batin Ken.
"Sadar Rose kamu gak boleh suka sama tuan Ken, kalian itu beda!" Ucap Rose dalam hati.
"Erghh...tapi nggak bisa, aku tetap suka," batin Rose lagi yang bergelut dengan pikirannya.
"Gimana menurutmu Mark? Apa ini sesuai dengan gaya Gama? " Tanya Ken pada Mark yang berjalan di belakang mereka.
"Ini akan cocok tuan," ucap Mark penuh hormat.
"Menurutmu bagaimana Andin? Apa Luna akan suka tempat ini?" Tanya Ken.
"Ummm....menurutku Luna akan suka dengan tempat ini hanya saja..." Andin berhenti sejenak sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu.
"Kenapa?" Tanya Mark yang berdiri di sampingnya.
"Kita butuh warna yang lebih cerah, Luna suka warna warna segar, ruangannya harus kita dekor sedikit supaya lebih fresh, kalau begini terkesan gelap," ucap Andin.
"Ahh Andin benar, apalagi untuk perayaan ulang tahun harus lebih berwarna dan kita juga merayakan kehamilan Luna jadi harus lebih berwarna, kita butuh tambahan balon, bunga yang berwarna dan dekorasi panggung yang lebih cerah," ucap Rose menanggapi perkataan Andin.
"Benar kak, dan untuk meja- mejanya kita beri penutup warna biru tua saja, Luna suka warna itu, karena menyambut baby twin kita juga membuat pernak pernik untuk penyambutan baby," usul Andin.
"Yap aku setuju, dengan demikian acaranya akan lebih berwarna, dan warna warna ini juga membantu menstabilkan mood ibu hamil," ucap Rose.
"Dan lagi kita harus buat karpet supaya lantainya tidak licin, jangan sampai Luna kenapa-kenapa hanya karena kesalahan sedikit saja, jauhkan segala macam benda tajam yang berbahaya," tambah Rose.
"Aku pernah membaca kalau ibu hamil itu sangat sensitif, jadi saat acara besok kita tidak boleh memakai parfum berlebihan harus parfum yang wanginya enak dan nggak bikin mual," ucap Andin.
Ken dan Mark saling menatap, mereka malah dihiraukan oleh kedua gadis yang sangat bersemangat itu sampai-sampai mereka duduk di meja restoran itu dan berdiskusi tanpa memperdulikan dua pria tampan di dekat mereka.
"Wahh kita di kacangin Mark," ucap Ken.
"Tapi mereka hebat tuan!" Balas Mark.
"Aku setuju," ucap Ken.
"Bagaimana apa kalian setuju?" Tanya keduanya bersamaan pada pria tampan itu.
"Baiklah itu ide yang bagus, sepertinya kita butuh keahlian seorang Aiden untuk membuat dekorasi disini dan kemampuan penjagaan dari tim Bima," ucap Ken.
"Saya akan menghubungi mereka untuk datang kesini tuan," ucap Mark.
"Baik, jadi tempatnya sudah deal ya," ucap Ken.
"Apa kita tidak bicara pada pemilik Restoran?" Tanya Andin.
"Ini milik kekasihmu," ucap Ken sambil melirik Mark yang mengalihkan pandangannya pada spot lain.
__ADS_1
"Ahh....pantas saja tidak berwarna," celetuk Andin.
Mark hanya bisa pasrah menerima ledekan dari kekasihnya yang masih cuek cuek bebek kepada dirinya.
"Sabar Mark sabar demi calon Ibu dari anak-anak mu, eh calon Ibu jadi istri aja belum Mark, ayo berjuang!!," batin Mark.
Mereka melanjutkan diskusi mereka, dan Mark menghubungi Aiden perihal dekorasi dan Bima yang kabarnya kembali besok dari luar kota setelah melakukan perjalanan bisnisnya.
"Baiklah kalau begitu kita berpencar saja, aku dan Rose akan memesan menu untuk acara besok serta mengatur keamanan dan kalian berdua bisa bertemu Aiden untuk membahas mengenai dekorasi," ujar Ken.
"Baik saya setuju tuan!" Jawab Mark dengan cepat, dia tentu tidak mau menyia-nyiakan waktu berdua dengan kekasihnya yang masih meragu pada dirinya.
Andin berwajah kecut saat mendengar hal itu lain halnya dengan Rose dia malah merasa canggung karena akan ditinggal berdua bersama Ken.
Andin dan Mark berangkat bersama menuju rumah Aiden dimana Alex juga sedang berada disana. Sedangkan Ken dan Rose tetap di Restoran.
"Menu apa yang aman untuk ibu hamil Rose?" Tanya Ken sambil duduk di kursi di hadapan Rose.
"Sebenarnya tidak perlu terlalu memilih, semua bergantung pada mood si Ibu, Sayur sayuran, protein dari daging, olahan telur atau susu, kemudian buah, sangat baik untuk Ibu hamil," jelas Rose.
"Hmmm...kau benar Ze," ucap Ken memanggil Rose dengan sebutan ze.
"ZE?" Ucap Rose.
"Mulai hari ini akan kupanggil begitu, OZE," ucap Ken menekankan kata 'OZE'.
"Ta...tapi," Rose merasa tidak enak.
"Sudah jangan dibahas, lalu apa yang harus kita siapkan?" Tanya Ken.
"Kita pesan saja makanan dengan kaya rempah dan menggugah selera makan, biasanya Ibu hamil sangat pemilih kita tidak tau selera Luna," ucap Rose.
"Emmm...nanti akan kutanyakan pada Luna dia mau menu apa, daripada berabe saat acara nanti," ujar Rose lagi.
"Lalu apa makanan kesukaanmu Ze?" Tanya Ken tiba-tiba sambil menatap Mata Rose. Jantung Rose dag dig dug tak karuan,dia memalingkan wajahnya yang terasa panas.
"Eh...emmm...sa..saya suka semuanya," jawab Rose gugup.
Ken tersenyum, dia sangat senang melihat wajah gugup dari Rose gadis yang disukainya.
"Ohhh begitu, emmm apa kau tidak nyaman bersamaku? Sepertinya kau sangat takut," ucap Ken.
Rose mengangkat kepalanya," Tidak Bu...bukan begitu tuan," ucap Rose gugup.
"Lalu kenapa hmm?" Tanya Ken yang mendekatkan wajahnya pada Rose sehingga jarak mereka sangat dekat.
"Saya gugup dan ja..jantung saya berdebar tak karuan, Anda sangat lembut, eh...ups," Rose tersadar dengan ucapannya. Rose menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Ken tersenyum lembut sambil semakin mendekat pada Rose dan memandang matanya dengan intens.
Cup
"Aku suka dengan kejujuranmu," ucap Ken yang mengecup punggung tangan Rose yang menutupi bibir gadis itu.
Bagai tersambar petir, Rose terdiam kaku karena mendapat kecupan di punggung tangannya.
Rose terbelalak, matanya membulat besar, perasaannya campur aduk, jantungnya berdegup kencang dan wajahnya panas karena gugup.
"Rose, hei Oze, Ze...hello??" Panggil Ken yang menatap heran pada Rose yang malah melamun saat ditanya tentang menu.
"Eh...i..iya?" Rose tersadar ternyata itu cuma khayalan belaka.
"Astaga Rose apa yang kau pikirkan!" Ucap Rose merutuki dirinya sendiri, bagaiman bisa dia memikirkan di perlakukan manis seperti itu oleh Ken.
"Ada apa Ze?" Tanya Ken.
__ADS_1
"Ah ti..tidak tuan, tidak ada apa-apa," ucap Rose merasa canggung.
Mereka melanjutkan diskusi mereka meski Rose Tak bisa mengontrol jantungnya yang berdebar tak karuan.
Sama seperti kondisi Andin saat ini yang tiba merasa gugup saat Mark dengan berani menggenggam tangannya saat berjalan keluar dari restoran.
"Kenapa?" Tanya Mark saat melihat wajah Andin memerah dan gugup.
"Ti..tidak ada apa-apa," jawab Andin asal meski jantungnya berdegup kencang.
"Ya sudah ayo!" Ucap Mark sambil menggenggam tangan Andin dengan lembut membuat Andin merasa nyaman tanpa merasa terpaksa.
"Astaga kenapa aku gugup seperti ini sih? Aduhh cukup Andin ku harus berhati-hati dengan Mark dia bisa saja sama dengan laki laki bajingan itu," batin Andin sambil mengingat masa lalunya yang dimanfaatkan oleh sang mantan.
Andin merasa sedih,dia teringat dengan kejadian itu lagi yang seketika membuat moodnya berantakan dan Mark menyadari itu.
Mark berhenti lalu memutar tubuh Andin dan menatapnya dengan intens.
"Jangan takut, aku tidak sama seperti dia,akan kubuktikan, kamu aman bersamaku, aku benar-benar tulus mencintaimu," ucap Mark yang memang blak blakan soal perasaannya, baginya lebih baik memberitahukan semuanya daripada menutupi karena hanya akan merugikan kedua belah pihak.
"Ba.. bagaimana kau bisa tau," ucap Andin sambil menatap Mark dengan tatapan sendu.
Mark tersenyum, senyuman yang sangat disukai oleh Andin.
"Tentu aku tau, semakin kau mencintai seseorang maka semakin kenal kau pada dirinya," ucap Mark sambil tersenyum dan mengelus pucuk kepala Andin.
Grepp
Andin spontan memeluk Mark, hal yang tak pernah dia lakukan sama sekali, namun kali ini hatinya menuntunnya untuk memeluk pria yang tersenyum namun tampak kesepian itu.
Mark yang mendapat pelukan Andin merasa terkejut sekaligus senang, sebab ini pertama kali mereka berpelukan tanpa ada paksaan.
"Apa kau ingin menangis?" Tanya Mark.
Andin mengangguk, jujur saja ia benar-benar akan menangis saat ini.
"Masuk ke mobil yuk, nanti dikira aku melakukan kekerasan, heheh," kekeh Mark.
Andin mengikut saja, dia benar-benar akan menangis saat ini.
Mark membuka pintu untuk Andin dan dia juga masuk ke dalam mobil dari sisi lainnya.
"Apa kau masih teringat dengan masa lalumu?" Tanya Mark lembut.
Andin mengangguk, dia memilih ujung bajunya dia merasa sangat sedih saat ini. Dengan inisiatif, Mark kembali memeluk Andin yang tampak trauma dengan masa lalunya.
"Aku berjanji tidak akan sama seperti dia," ucap Mark.
"Menangislah, tapi berjanji padaku ini terakhir kali kamu menangis karena masa lalumu," ucap Mark.
Andin menangis tersedu-sedu, dia merasa terpukul saat ini, untung ada Mark yang meskipun sangat kaku pada orang lain tetapi selalu bersikap hangat pada Andin.
"Aku akan melindungi mu Andin, tak akan kubiarkan kamu menangis seperti ini lagi, aku berjanji, aku akan membuktikan kalau aku benar-benar pantas untukmu," batin Mark.
"Ku harap keputusan ku tepat," batin Andin yang membalas pelukan Mark dengan erat.
.
.
.
Like, vote dan komen 😉😉😊😊
Rose kau membuatku gemeshh ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1