Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
51


__ADS_3

Ken dan Luna kembali ke mobil dengan menenteng tas belanjaan mereka. Ken mengemudi menuju Desa tempat mereka tinggal selama hampir satu bulan ini, seperti biasa di dalam mobil pasti selalu saja ada topik bahasan yang akan mereka bahas apalagi ada dua gadis cerewet di dalam mobil itu.


Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di rumah Luna. Rumah yang selalu tampak asri dan indah, kini di halaman rumah itu terparkir dengan rapi tiga mobil sport milik Ken, Aiden dan Bima yang sudah dipasangkan atap.


Ken membantu Gama keluar dari dalam mobil, Luna dan Anna bersama sama membawa barang belanjaan mereka ke dalam rumah.


"Kak ini gak kebanyakan?" tanya Anna saat melihat stok belanjaan yang dibawa Luna.


"Nggak dek, entar kita bagi sama Ferdi juga, Simboknya lagi sakit, kasihan dia," ucap Luna.


"Oke deh kak, setelah ini kita masak yok, sekaligus masakin buat kak Ferdi sama simbok," usul Anna sambil membuka barang belanjaan mereka yang sudah di letakkan di atas meja.


"Kamu bisa masak An?" ucap Gama yang tiba-tiba masuk ke dapur.


"Bisa dong kak kan Kak Luna yang ajarin, katanya jadi perempuan itu harus bisa mandiri, iya kan kak?" ucap Anna.


Luna menoleh pada mereka sambil tersenyum," Iya dong," ucap Luna.


"Padahal dulu kamu masak air aja gak bisa loh hahahah," ledek Gama sambil menggeser kursi rodanya ke samping kursi yang diduduki oleh Luna.


Luna sedang mengeluarkan semua belanjaan mereka dan membersihkan dengan telaten. Gama dan Anna juga ikut membantu di samping Luna.


"Masak air gak bisa? wah untung kamu ketemu sama kakak ya An, hahah" ucap Luna sambil tertawa.


"Hehehe, ya lagian itu kan kak Gama yang bilang, lagian Anna gak ingat heheh," tawa Anna dengan tangannya yang terus membersihkan ikan dengan telaten.


"Kak Ken dimana?" tanya Luna.


"Lagi ngecek mobil, udah tiga hari gak dinyalakan jadi harus di cek dulu," ucap Gama yang dengan serius membersihkan sayur dan memasukkannya ke dalam wadah yang sudah di sediakan oleh Luna.


"Ohh begitu toh," ucap Luna.


"Hmmm, Luna, Anna ada yang ingin kutanyakan," ucap Gama tiba-tiba.


"Ada apa?" tanya Luna sambil menoleh ke arah Gama sebentar lalu kembali lagi ke aktivitasnya.


"Apa kalian mau ikut ke Jakarta?" ucap Gama dengan nada keraguan.


"Jakarta? " ucap Anna.


"Iya, kita pulang ke rumah," ucap Gama.


"Wah Anna mau kak, Anna juga pengen lihat rumah kita dulu, pengen lihat semua kenangan yang Anna gak bisa ingat," ucap Anna dengan wajah sendu, ia menunduk dengan wajah sedih.


Luna menatap adiknya, begitupun dengan Gama. Luna memegang pundak Anna.


"Kalau kamu mau kita akan ikut sama Gama ke Jakarta," ucap Luna lembut, ia tau adiknya itu sangat penasaran dengan masa lalunya, ia tidak boleh egois dengan memilih tetap tinggal ditempat itu.


"Benar kak?" ucap Anna sambil mengangkat wajahnya dan menatap Luna dengan berbinar binar.


Luna mengangguk sambil tersenyum, Anna langsung menghamburkan pelukannya pada kakak iparnya.


"Yeyyy.... terimakasih kak, kakak yang terbaik!!" seru Anna.


"Jadi kalian setuju kan?" ucap Gama, ia tersenyum melihat kedekatan sang adik dengan istrinya.

__ADS_1


Luna dan Anna melepas pelukannya, mereka berdua mengangguk setujui sambil tersenyum ke arah Gama.


Hati Gama semakin terasa hangat saat melihat senyuman kedua gadis yang sangat dicintainya.


"Baiklah, aku akan menelpon Mark untuk menyiapkan keberangkatan kita, Minggu depan kita akan berangkat ke Jakarta," ucap Gama.


"Tapi bagaimana dengan terapimu Gam?"tanya Luna.


"Aku sudah mengurus hal itu, kau tenang saja," ucap Gama.


"Hmmm...aku akan tenang jika kau tidak melewatkan terapimu," ucap Luna dengan nada yang tegas.


"Baiklah Ibu Negara, perintah Anda mutlak bagi saya," ucap Gama.


"Pfftttthhh...kalian ini pasangan yang aneh hahah," ledek Anna.


"Biasa aja tuh," ucap Luna sambil memonyongkan bibirnya, membuat Anna dan Gama terkekeh.


"An, nanti kamu di Jakarta balik sekolah ya, kakak akan daftarkan kamu home schooling," ucap Gama.


"Home schooling? kenapa gak sekolah normal aja Gam?" tanya Luna.


"Anna masih butuh pemulihan, tapi kalau Anna mau boleh kok sekolah normal," ucap Gama.


"Gimana An? kamu mau pilih sekolah normal atau home schooling?" tanya Luna.


"Home schooling gimana kak?" tanya Anna.


"Kamu sekolah di rumah, gurunya yang datang ke rumah buat ngajarin kamu," jelas Luna.


"Hmmm... baiklah, terserah kamu, tapi syaratnya kamu harus diikuti pengawal, kakak gak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Gama.


"Siap Bos!!" seru Anna sambil menghormat.


"Semangat banget sih An, udah gak sabar ya hahah," ucap Luna sambil mencolek hidung mancung adiknya.


"Semangat dong kak, Anna pengen banget punya banyak teman, waktu ke kota sama paman dan Bibi Anna lihat mereka pakai seragam sekolah, punya teman belajar, seru deh kayaknya," ujar Anna dengan mata berbinar-binar.


"Anna selalu bayangin apa Anna dulu punya teman, apa Anna juga belajar seperti mereka, pasti seru, Anna juga pengen ketemu guru, ngerjain pr, ngerasain di hukum guru, juara, pengen banget heheh,"


Anna terus berbicara tentang sekolah dan keinginannya. Luna menunduk, ia merasa sedih karena tidak bisa memenuhi keinginan gadis remaja itu. Luna menghentikan pekerjaannya, ia menurunkan tangannya dan meremas kedua tangannya di bawah meja.


Ketika mendengar ucapan Anna ia merasa tidak berguna, ia bahkan tidak bisa menyekolahkan gadis itu karena biaya pendidikan yang cukup besar serta jarak sekolah yang jauh dari rumah mereka.


Gama menyadari perubahan wajah Luna, ia melihat gadis itu menangis, air matanya yang jatuh ia sembunyikan dengan menundukkan kepalanya. tangannya meremas kedua ujung bajunya.


Perlahan Gama mengambil tangan Luna dan menggenggamnya. Luna dengan cepat menghapus air matanya dan menoleh ke arah Gama.


Gama tersenyum menatap Luna dengan lembut ia menggenggam tangan gadis itu.


Anna yang sedari tadi berbicara tiba-tiba diam karena tidak mendengar balasan dari kakaknya.


"Loh kenapa..diam...eh...Kak...kak..Luna kok nangis?" ucap Anna panik, segera ia mencuci tangannya dan menghampiri kakaknya.


"Maafkan Anna kak, bukan maksud Anna buat kakak nangis, hiks...hiks...hiks...maaf Anna salah, harusnya Anna gak ngomongin itu," ucap Anna yang malah menangis sambil memeluk Luna dari belakang.

__ADS_1


Luna mengelus kepala gadis remaja itu.


"Kakak juga minta maaf belum bisa ngasih apa yang kamu mau, kakak gak pernah. nanyain ke kamu," ucap Luna.


"Nggak, kali ini emang Anna yang keterlaluan, harusnya Anna jaga perasaan kakak, maaf ya kak," ucap Anna lagi.


"Iya gak apa-apa kok," ucap Luna lembut.


Gama mengambil tisu dan menghapus air mata istrinya dengan pelan.


" Jangan nangis, kau sangat jelek kalau nangis!" ejek Gama.


"Ck....dasar om-om kurang umur, kau juga jelek sekali kalau menangis, wajahmu kau tekuk begini," ujar Luna sambil menekuk wajahnya dan memanyunkan bibirnya.


Anna melepas pelukannya, ia tergelak mendengar ucapan kedua kakaknya.


"Hahhaha, kalian lucu sekali kak," ucap Anna.


"Nah kalau ngomel gini kan cantik, jangan nangis nangis lagi ya sayang," goda Gama sambil menaikkan satu alisnya.


"Ishh...malu ahkk," ucap Luna menundukkan wajahnya yang merona Semerah kepiting rebus.


"Bwahahhahaha," Gama dan Anna tertawa serentak.


"Kalian berdua nakal sekali ya.... menggodaku terus, dasar kakak beradik nakal!" ketus Luna yang kini berwajah kesal.


"Wah...wah... sepertinya seru sekali, kalian tertawa sampai kedengaran ke luar!" ujar Ken yang baru masuk ke dalam dapur.


"Ck....kau mengganggu keharmonisan keluarga kami saja," celetuk Gama.


"Cih, siapa yang mengganggumu, mereka juga keluargaku iya kan Anna, Luna," ujar Ken tak mau kalah.


"Sejak kapan kau masuk dalam daftar keluarga kami, aku tidak Sudi," balas Gama dengan wajah kesal.


"Aku hanya menganggap Luna dan Anna yang menjadi keluarga ku, kalau kau ku anggap satpam mereka saja hahahah," ejek Ken sambil tertawa terbahak-bahak.


Anna dan Luna saling menatap, mereka terkikik geli mendengar perdebatan kedua pria tampan itu.


"Hahahah, mereka lucu sekali hahha," tawa Anna.


Saat mereka tengah asik berbincang di dapur, tiba-tiba Aiden masuk dan berteriak panik.


"Gamaaaa....Lunaaaaa....Keennnn...Annnn,!!!!!" teriak Aiden histeris.


.


.


.


Jangan lupa like, vote dan komen 😊😉


Author hanya mengharapkan kemurahan hati para readers untuk memberikan like.


Terimakasih semuanya!!

__ADS_1


__ADS_2