
Perasaannya bercampur aduk, antara sedih dengan kepergian sang Papa dan senang dengan kehadiran sahabat-sahabatnya.
"Aku juga mau ikut tapi kak Ken sedang sakit," ucap Luna menatap mereka.
"Tak apa Luna, kamu dan Gama jaga Ken disini, mereka membutuhkan kehadiranmu, setelah pemakaman dilakukan kakak akan langsung pulang ke Indonesia," ucap Aiden sambil menepuk pundak Luna.
"Maaf ya kak, Luna juga mau dampingin kakak disana, tapi kak Ken juga lagi sakit," ujar Luna.
" Sayang kamu gak usah sedih begitu, kita nanti bisa menyaksikan prosesi pemakaman dengan video call, Ken juga bisa menyaksikannya saat dia bangun nanti," ucap Gama.
Luna mengangguk paham.
"Kak Aiden bisa nangis juga ya, dasar cengeng," ledek Luna.
Aiden mencebikkan bibirnya," Arhh hilang sudah kharismaku sebagai pria tertampan Se Asia," celetuk pria itu yang membuat mereka geleng-geleng kepala, sudah dalam situasi seperti ini, kedua manusia itu masih bisa bercanda.
"Hahahah,kakak masih tampan kok!" Tawa Luna.
Gama, Bima dan Alex menatap mereka sambil tersenyum. Mereka tau, meski Aiden dan Luna tertawa, tapi mata mereka tak bisa bohong, mereka sedang dalam kondisi terpukul saat ini.
"Uhuk...uhukk...," Seseorang terbatuk,
Mereka mencari sumber suara, mata mereka tertuju pada Ken yang baru saja sadar.
"Ken," ucap mereka langsung bangkit berdiri dan menghampiri pria itu.
"Kau sudah bangun kak, bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit? Apa ada yang kau butuhkan? apa kau pusing, apa kau lapar, haus mau apa hmm??" Tanya Luna seperti seorang wartawan dengan serentetan pertanyaan.
Ken tersenyum baru bangun dia sudah disuguhi ocehan gadis itu.
"Kakak baik-baik saja," ucap Ken
"Ck... apanya yang baik-baik saja, kau sampai pingsan begitu tadi di depan tiga wanita itu, sungguh tidak keren, mana ada pahlawan yang jatuh pingsan di depan penjahat, ada ada saja!" Celetuk Luna.
"Kau benar Luna, ada ada saja kau ini Ken!" Ketus Aiden.
Ken tergelak, begitu juga dengan yang lain. Tapi mata Ken tertuju pada mata Luna dan Aiden yang tampak memerah dan wajah Aiden yang sembab.
"Ada apa denganmu den, kau juga Luna?" Tanya Ken.
"Emmm...tidak apa apa kok kak," ucap Luna.
__ADS_1
"Katakan ada apa? Ada apa dengan mereka berdua Gam?" Tanya Ken.
"Tanya sendiri pada Mereka," balas Gama cuek.
"Ohhh ayolah kalian berdua kenapa?" Tanya Ken khawatir, dia menyadari ada sesuatu yang salah pada Aiden.
"Pria tua itu, Papaku meninggal Ken, huuuhhhh...." Ucap Aiden sambil mendesah berat, Luna menguatkannya sambil menepuk lengan pria itu.
"A..apa? Kapan?" Tanya Ken yang cukup terkejut dengan berita inj.
"Beberapa saat lalu, dia meninggal karena serangan jantung," ucap Aiden dengan mata sedih.
"Kau harus kuat den, Adikmu membutuhkan mu, ingat kami ada disini bersamamu!" Ucap Ken menguatkan sahabat baiknya itu.
"Ck...sok soan mau nasehatin orang lain," ketus Luna
"Iya kau benar Luna, sendirinya nggak bilang bilang kalau lagi sakit, cih....dasar pria bodoh!" Balas Aiden.
"Apa kalian sudah tau?" Tanya Ken merasa bersalah.
"Epe Kelian sudah tauu...heh nyenyeneye," ucap Luna dan Aiden bersamaan mengikuti kata kata Ken.
"Dasar pria bodoh!" Ketus keduanya.
Sebenarnya sejak dua minggu lalu Ken sudah mengalami gejala itu, hanya saja dia menyembunyikannya. Saat diperiksa hasil yang sama seperti yang diucapkan dokter George yang didapatkannya.
Dia tidak mau memberitahu yang lain karena terjadi beberapa masalah selama jangka waktu itu, dia tidak mau membuat mereka khawatir, apalagi saat Luna hilang.
"Lain kali beri tahu kami kalau ada sesuatu denganmu, buat yang lain juga begitu, jangan menyembunyikan sesuatu yang akan membuat semua orang khawatir," ucap Gama yang dianggukkan oleh mereka.
" Iya maaf, ahh lalu bagaimana denganmu den, apa kau akan berangkat? Aku ikut ya!" Ucap Ken
"Tidak boleh!" Ucap mereka bersama-sama seketika membuat Ken terdiam menatap mereka satu persatu, apalagi Luna dan Aiden saat ini sudah berkancah pinggang menatapnya dengan kesal.
"Ohhh ayolah aku ingin mendampingi Aiden," ujar Ken.
"Sekali tidak ya tetap tidak!" Ucap Mereka lagi bersama sama.
"Kakak ini sok mau jadi jagoan atau apa sih? Udah tau sakit masih mau ngikut, kalau kakak kenapa kenapa gimana coba, dasar tidak punya perhitungan!" Ketus Luna.
" Kali ini aku setuju kalau kau itu bodoh Ken, kau harus istirahat total di rumah sakit, kau tidak boelh keluar dari tempat ini sebelum benar-benar sembuh!"
__ADS_1
Kali ini Bima yang angkat bicara, dia benar-benar kesal dengan pria itu.
"Ba..baiklah aku menurut, tidak melawan, maaf kalau membuat kalian khawatir," ucap Ken menyerah, dia memang harus menuruti permintaan mereka semua,jika tidak bisa jadi mereka melakukan hal hal yang lebih gila.
"Lalu kapan kalian akan berangkat?" Tanya Ken.
"Nanti malam, kami akan berangkat," jawab Bima.
"Alex akan ikut bersama mereka," ujar Gama.
"Aku jadi tidak enak, maaf karena tak bisa ikut Den," ucap Ken.
"Kau harus sehat baru aku memaafkanmu!" Ucap Aiden.
"Baiklah, aku akan sembuh, jika tidak, aku pasti akan diomeli habis habisan oleh si cerewet ini," ucap Ken sambil tersenyum tipis.
"Ck...itu karna aku mengkhawatirkan mu kak, aku takut kau kenapa-kenapa, jangan sampai ada yang sakit di antara kita semua, Luna gak mau kehilangan salah satu dari kalian," ujar Luna sambil menatap mereka satu persatu.
"Memang kematian adalah hal yang tidak bisa kita hindari, tapi kalau Luna boleh meminta sama Tuhan, tolong jangan Dia ambil salah satu dari kalian di usia yang masih muda, biarlah kita menua bersama dan hidup bahagia, Luna udah terlanjur sayang sama kalian semua," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
"Luna gak mau kalian sakit, kalian sedih, kalian terpuruk, kalau terjadi sesuatu seperti itu, Luna siap kapan pun jadi teman bicara kalian, jadi jangan sungkan ya," ucap Luna yang masih menahan tangisannya.
"Luna juga kalau mau nangis, nangis aja sayang, gak apa-apa kok, kan ada kita," ucap Ken sambil menggenggam tangan Luna yang berdiri di dekatnya.
"Arhhh...hisshhhh.....kakak...Luna kan jadi benaran nangis, hiks hiks hiks, Tuh kan air matanya merembes udah kayak hujan aja huhuhuhu, arhhh kakak ahhh!" Luna menangis tersedu-sedu di depan suami dan kakak kakaknya, sangat jarang gadis itu menangis di depan mereka semua, tapi kali ini dia benar-benar menangis.
Perasaannya sungguh bercampur aduk, tidak bisa digambarkan dengan apa pun.
"Hiks hiks...hiks... Luna sayang kalian," ujarnya sambil menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kami juga sayang sama si cerewet ini!" Ucap Mereka sambil tersenyum. Aiden menepuk pucuk kepala Luna dengan penuh kasih sayang, Gama, Alex, Bima dan Ken tersenyum melihat gadis itu menangis haru di depan mereka.
Mereka semua bisa bernapas lega setidaknya penyakit Ken bisa disembuhkan. Ken juga tampaknya tidak bersedih dan terpuruk karena keadaannya ini, tentu semua ini karena dukungan besar orang orang di sekitar mereka.
Kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari orangtua, saudara dan teman mereka bisa dapatkan disini, sungguh persahabatan yang benar-benar rukun.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komentarnya ya reader 🤗🤗🤗