
Seperti yang sudah mereka sepakati hari kemarin, Bima dan Celine telah melakukan pemberkatan pernikahan hari ini ditemani oleh para sahabat Bima dan keluarga besar Park.
Kabar pernikahan Bima juga sampai ke telinga Keluarga Lee yang sedang berada di Korea Selatan, jangan keluar Ken yang berada di Australia.
Mendengar kabar pernikahan ini mereka berencana untuk segera kembali ke Indonesia, apalagi mereka mengetahui bahwa ada mata-mata yang menyusup ke dalam rumah besar Park.
Bima dan Celine sudah mendaftarkan pernikahan mereka di pencatatan sipil setelah melakukan pemberkatan pernikahan.
"Jadi sekarang kita suami istri?" ucap Celine, mereka berdua sedang berada di dalam mobil, Badu keluar dari gedung pencatatan sipil setelah mendaftarkan pernikahan mereka.
"Menurutmu bagaimana? Cincin itu sudah tersemat di jari kita bukan? " ucap Bima.
"Hmmm... ahhh tak kusangka aku akan menikah dengan cara ini," ucap Celine.
"Sama, aku juga tida menyangka kalau aku juga akan menikah dengan cara seperti ini," ucap Bima.
"ini," ucapan Celine sambil menyerahkan sebuah dokumen yang sudah dirancangnya semalam.
"Apa ini?" tanya Bima.
"Kontrak kita, " ucap Celine.
Bima mengangguk sambil mengambil kertas itu.
"Hmmm.... jadi pernikahan ini akan berakhirnya setelah semua urusan kita selesai?" ucap Bima yang di balas anggukan kepala oleh Celine.
"Ya memang begitu kan?" ucap Celine.
"Hmmm.. apa tidak ada tambahan lain? semisal peraturan yang tidak boleh di langgar atau sejenisnya?" tanya Bima.
"Kurasa itu tidak perlu, toh kita hanya orang asing yang tidak saling mengenal, dan kita melakukannya ini untuk kepentingan masing-masing, jadi kurasa bisa saling mempercayai bukan?" ucap Celine.
"itu menurutmu," ucap Bima.
"Maksudmu?" tanya Celine.
"Ahh tidak bukan apa-apa, nanti saja kutandatangani kontrak itu, sekarang kita ke rumah besar Park, kau akan tinggal bersamaku mulai hari ini," ucap Bima.
"Mengapa harus bersama? hukannya ini pernikahan kontrak?" tanya Celine.
Pletak
Bima menyentil kening Celine yang ternyata polosnya keterlaluan.
"Awhhh kenapa kau sentil kepalaku!??" gerutu Celine sambil menggosok keningnya.
"Kau ini bodoh atau bagaimana, kita sepasang suami istri, terlepas dari kontrak itu dan lagi pula kau tau kan kalau mata mata Sarah ada di rumah besar Park, dan Jerry masih mengincar mu," jelas Bima.
__ADS_1
"Kalau kau di culik oleh bajingan itu bagaimana? aku tidak mau jadi Duda padahal baru menikah," ucap Bima.
"Oh iya kau benar juga, " ucap Celine sambil manggut-manggut pertanda mengerti.
"Baiklah tunjukkan jalan ke rumahmu," ucap Bima.
"Rumah? mau ngapain?" tanya Celine lagi yang langsung saja membuat Bima geleng geleng kepala dengan sifat istri kontraknya itu.
"Mau malam pertama!" ucap Bima dengan jahilnya.
"Whaaaatttt!!!!" pekik Celine dengan mata membulat fan mulut ternganga, tanganmya refleks disilangkan di depan kedua dadanya.
Pletaakk
Sekali lagi sentilan maut menghujam kening Celine membuta gadis itu kembali meringis kesakitan.
"Awhhh... shhh kau sudah melakukan KDRT aku akan melaporkan mu aghhhh sakit tauuu," ucap Celine sambil menggosok gosok keningnya.
"Ck.. ck.. ck.. dasar kau ini, kita ke rumahmu mau mengambil barang barangmu Celine, apa kau mau pakai pakaian itu terus selama tinggal bersamaku? aku sih tak masalah, tapi apa kau nyaman ? dasar lelet!" ucap Bima.
"Ehh... ya maaf, entah kenapa aku jadi lelet di dekat mu , ini benar benar aneh!" celetuk Celine.
"Cih.. dasar wanita aneh," ucap Bima.
"Kau juga aneh, main sentil sentil saja, ku sentil balik tau rasa kamu!" ucap Celine.
"Coba saja kalau berani, nih coba nih kau bisa atau tidak hmm?" ucap Bima di depan wajah Celine.
Deg-deg... deg... deg... deg...
Kecepatan jantungnya Celine berubah dari normal menjadi lebih cepat membuatnya memalingkan wajahnya yang memerah ke arah lain, tangannya memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Su.. sudahlah, a.. ayo kita pergi," ucap Celine tiba tiba menjadi gugup.
"Apa kau malu? ternyata kau tidak sedingin kelihatannya," ucap Bima sambil tersenyum tipis karena ia berhasil membuat gadis itu gugup meskipun dia sebenarnya sama gugupnya.
"Astaga, hampir saja aku di luar kontrol, kenapa matanya seolah menarikku untuk menjelajah?" batin Bima sambil menyalakan mobilnya.
"Ya Tuhan kalau begini aku bisa mati muda, tapi mata itu, aku sepertinya sangat mengenalnya, tapi dimana aku melihat mata itu," gumam Celine yang menatap ke luar jendela mobil.
"Hei tunjukkan jalannya," ucap Bima.
"Ahhh kita ke kafe saja, aku tinggal disana," ucap Celine.
Bima terbelalak, dia cukup terkejut saat mendengar bahwa Celine tinggal di kafe seorang diri.
"Apa kau tidak punya rumah? apartemen atau sejenisnya? kenapa tinggal di kafe, siapa temanmu tinggal disana?" tanya Bima.
__ADS_1
"Tidak, terlalu ribet kalau harus punya rumah untuk kutinggali sendiri, toh aku sering bepergian kesana kemari jadi Kafe sudah cukup untukku, dan aku tinggal sendiri," jelas Celine.
"Bepergian?" tanya Bima.
"Ya bepergian kemanapun aku mau," ucap Celine.
"Wah kau penganut paham liberalis garis keras ternyata," ucap Bima.
"Bukan seperti itu, hanya mengisi waktu luang dan menikmati hidup saja," ucap Celine.
"Lalu apa kau akan tetap melakukannya saat kita masih dalam status menikah?" tanya Bima.
"Kalau kau melarang aku tak masalah, toh kau suamiku untuk sementara ini, jika sudah berpisah....." Celine berhenti sebentar, " ekhmmm.. aku bisa melakukannya kembali," sambungnya dengan tatapan tak bisa diartikan.
Entah kenapa mendengar kata berpisah membuat mereka berdua sedikit tidak rela, tapi apa yang mereka harapkan, ini juga cuma pernikahan kontrak yang bahkan keluarga keduanya belum tau.
"Ekhmm... baiklah," ucap Bima datar.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju kafe milik Celine dengan keheningan, tak ada lagi percakapan di antara mereka, keduanya fokus dengan pikiran mereka masing masing.
Celine melirik jari manisnya yang sudah disematkan sebuah cincin pernikahan yang dia sendiri tidak tau berapa harga benda itu. Seandainya dia tau pasti dia akan melongo Karena harganya sama dengan sebuah Kalung keluaran merk BVLGARI bernilai hampir 1 M mata uang rupiah.
"Apa nasibku akan terus seperti ini? apa aku memang tidak ditakdirkan memiliki pasangan hidup, hufftt... mengapa aku sedih padahal kan aku yang mengusulkan hal ini untuk membalas dendam pada pria bajingan itu," batin Celine sambil memutar mutar cincinnya.
"Hidupku memang menyedihkan, huffft... ini semua karena perbuatan kedua bedebah itu, aku benar benar tak bisa membuka hatiku untuk orang lain, kalian benar benar menghancurkan hidupku," batin Celine.
"Belum lagi orang tua si berengsek itu, mereka sampai menghina Mama, lihat akan ku hancurkan kalian!!"geram Celine sambil mengepalkan tangannya.
Tiba tiba Bima menggenggam tangan gadis itu membuatnya tersadar dari lamunannya dan menatap Bima.
"Jangan melamun, jangan memikirkan semuanya sendirian, bukankah kau punya suami sekarang? manfaatkan saja aku," ucap Bima tanpa menoleh namun tangannya mengusap lembut punggung tangan gadis itu.
Celine terkejut, dia baru melihat sisi hangat dari seorang Bima, tampak pria itu benar benar berbeda saat itu.
"hek.. egh.. hek.. egh.. ," Celine tiba tiba cegukan, dia spontan menutup mulutnya, wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang.
"Lah kenapa cegukan?" ucap Bima buru buru memarkir mobilnya untuk memberikan minum pada Celinw.
"hek.. egh.. aku.. hek.. aduh ma..hek.. maaf," ucap Celine yang tak bisa mengontrol cegukannya.
"Dia masih sama," batin Bima sambil tersenyum.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😊😉😊😊