Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
81


__ADS_3

Mereka semua tiba di kediaman Park, hari sudah sore, Ferdi dan Anna membantu Andin masuk ke kamarnya yang terletak di lantai satu agar memudahkan gadis itu mengingat kondisinya.


Aiden dan Bima tidak ikut bersama mereka, sebab ada beberapa urusan yang harus mereka lakukan sedangkan Ken, pria itu duduk di ruang kerja Gama.


⛲Di Taman Belakang


Luna menatap Mark dengan tatapan kesal, netra hitam pekat gadis itu seolah menembus jantung setiap orang yang menatapnya.


Mark dan Luna berdiri saling berhadapan, dengan berpangku tangan Luna memasang wajah kesal pada pria kaku itu.


"Kau!!" bentak Luna sambil mengangkat tangannya,


"Haaahhhh, rasakan ini bodoh!" kesal Luna.


Brukk


Satu pukulan berhasil membuat seorang Mark kesakitan. Luna menendang tulang kering Mark dengan kuat sampai-sampai pria itu terjatuh ke tanah.


"Arghhh....maafkan saya nona,shhhh" Mark meringis kesakitan sambil mengusap kakinya. Tendangan Luna bagai jarum yang menusuk sampai ke ubun-ubun.


"Apa kau tau kesalahanmu?" tanya Luna, kali ini ia benar-benar menyeramkan, rahangnya mengeras urat uratnya mengembang.


Mark langsung bangkit berdiri, ia menunduk di hadapan Luna. Alasan Mark begitu menurut dengan Luna karena beberapa hari yang lalu saat bertemu dengan tuannya, pria itu mendapat perintah bahwa ucapan Luna adalah mutlak dan kepentingan gadis itu adalah kepentingan Gama juga.


"Say mohon maaf jika sudah menyinggung nona, tapi saya tidak mempunyai maksud seperti itu pada nona, perkataa.." Mark berhenti bicara ketika Luna menari jarinya di depan bibir seraya mengisyaratkan cukup.


"ssttthhh.....Kau diam!" kesal Luna karena mendapatkan jawaban membosankan.


"Duduk!" titah Luna sambil melirik kursi di samping mereka dan Mark bagaikan sebuah program yang sudah di atur menuruti perintah nonanya.


Luna juga ikut duduk di samping Mark, dengan cepat Mark menggeser tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan nonanya.


"Kau bisa diam atau tidak Mark?" kesal Luna.


"Maaf nona," seperti biasa jawaban Mark selalu seperti itu.


"Ck... membosankan!" ketus Luna.


"Ma.."


"Diamlah jangan berbicara," ucap Luna.


Sejenak mereka hening, yang terdengar hanya semilir angin yang berhembus lembut menyentuh kulit wajah mereka, sinar matahari sore seraya memijit kulit mereka dengan lembut.


"Kenapa kau mengatakan hal itu Mark?" tanya Luna, gadis itu berbicara tanpa menatap lawan bicaranya, matanya asik menatap kupu-kupu yang beterbangan di sekitar taman itu.


"Saya..." Mark terdiam.

__ADS_1


"Asal kau tau, perempuan mana pun yang mendengar ucapanmu tadi pasti sakit hati denganmu, untung saja aku tau kisahmu dari tuanmu jika tidak, aku mungkin tak akan bisa menahan diriku Mark," jelas Luna.


"Kisah saya Nona?" ucap Mark sedikit terkejut.


"Hmm, Gama menceritakan semuanya tentangmu, kau itu sedikit banyak mirip dengan kehidupan yang di jalani Andin, dia menderita sama seperti dirimu," jelas Luna, Mark dengan setia mendengarkan ucapan Nonanya.


"Dia sudah beberapa kali di bawa ke pria hidung belang hanya untuk menjual tubuhnya, dan kedua iblis itu yang melakukannya," jelas Luna.


"Beruntung dia bijak, dia bisa selamat dan mempertahankan harga dirinya, aku salut dengan perjuangan gadis itu," ujar Luna.


"Pernah sekali dia berpacaran dengan seorang pria kaya, ternyata pria itu diam diam membayar kedua iblis itu untuk mendapatkan tubuh Andin, Andin yang jatuh cinta dengan pria itu sangat terkejut saat mengetahui transaksi itu, di hari itu juga dia meninggalkan mereka di tempat transaksi di lakukan," tambahnya.


"Hampir saja kesuciannya di renggut oleh pria itu, tapi yang paling ku benci dari gadis itu, dia sangat bodoh!" ketus Luna.


"Sudah tau orangtuanya seperti setan masih saja mau tinggal di rumah eh di neraka itu, akhirnya tersiksa kan," ucapnya.


"Lalu apa hubungannya dengan saya nona?" tanya Mark.


"Ck...dengar saja aku bercerita Mark, aku tau kau menyukai gadis itu, aku menyampaikan ini agar kau tidak bermain-main dengan sahabatku!" ketus Luna.


Mark terbelalak, ia terkejut dengan ucapan Luna.


"Ba.. bagaimana no..nona bisa tau?" tanya Mark terkejut.


"Wah jadi benar!" seru Luna.


Mark menggaruk tengkuknya, ia sangat bingung dengan ucapan gadis itu.


"Mark! jika kau benar benar menyukainya, maka berusahalah memenangkan hati Andin,dia gadis yang sulit apalagi setelah kau perlakukan begitu, aku hanya bisa menasehati saja, dan ingat tidak semua wanita itu sama!" ujar Luna.


"Mungkin seseorang meninggalkanmu di masa lalu dan menaruh luka di hatimu, bukan berarti semua wanita seperti itu,"


"Jika begitu, maka aku juga akan menganggap semua laki-laki itu bejat seperti tuan Anderson ayah kandung yang tega menjual anak anaknya demi uang," ujar Luna.


Pluk


"Jadi ku harap kau bisa merubah pola pikirmu yang sedikit kolot itu, kau harus bisa membuktikan bahwa ada wanita yang tidak sama dengan ibumu, ada wanita baik yang bisa menjaga dan tidak akan meninggalkanmu!" seru Luna sambil menepuk bahu Mark layaknya seorang teman.


Mark terdiam, ia berpikir apakah selama ini ia salah langkah, apakah hanya karena dendam dengan satu orang ia sampai tega menyakiti orang lain, apakah hanya karena satu orang ia tidak bisa hidup bahagia, jawabannya ya, selama ini Mark terkunci dalam jeratan gelap itu selama puluhan tahun.


"Mark, apa kau mendengarku?"tanya Luna yang merasa Mark tidak berbicara sejak tadi.


"Ah..i..iya nona, saya mendengarkan," jawab Mark tersentak kaget.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu dan Andin?" tanya Luna.


"Katakan dengan jujur!" tegas Luna tepat sebelum Mark menjawab.

__ADS_1


"Saya menciumnya nona," jawab Mark jujur.


"Pantas saja dia semarah itu, itu ciuman pertamanya bodoh!"gerutu Luna.


"Kau harus meminta maaf padanya, kalau kau benar-benar menyukainya jangan jadikan dia mainan, bangunlah hubungan yang serius, tapi jika tidak aku akan menjodohkannya dengan Kak Ken, kak Aiden atau kak Bima!" tegas Luna.


"Baik nona saya mengerti," jawab Mark.


"Kalau kau butuh teman, kau bisa bicara denganku, anggap aku adikmu kak Mark!" seru Luna mengubah panggilannya pada Mark.


"Terimakasih nona," balas Mark.


"Pergilah temui dia dan selesaikan masalah kalian, jangan terlalu kaku kak Mark, lakukan dengan benar!" ucap Luna sambil bangkit berdiri dan menepuk punggung pria itu.


"Saya mengerti," jawab Mark.


Luna meninggalkan pria itu disana, Mark merenungkan perbuatannya. Jika Luna tidak mengingatkannya mungkin saja di salah mengambil keputusan dengan mempermainkan hati seorang gadis tidak bersalah.


"Hufftt... sepertinya aku benar-benar jatuh hati pada gadis itu, disini rasanya aneh setiap kali aku mengingat namanya," gumam Mark sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.


Drrttt


Drrttt


Drrtt


Sebuah panggilan telepon menghentikan lamunan Mark. Ketika melihat siapa yang menelepon ia menyerngitkan keningnya.


"Mau apa dia menghubungiku?" gumam Mark.


Mark mengangkat panggilan itu.


"Hal..." kata-kata Mark terpotong.


"Dimana Gama? kenapa dia tidak di kantornya? kau juga kenapa tidak di kantor? seharian kami menunggu kalian!" bentak seseorang dari seberang sana yang ternyata adalah tuan Jae Sung.


"Ck...pengganggu," balas Mark sambil menutup teleponnya.


"Hufft, melelahkan," Mark mendesah.


.


.


.


like, vote dan komen, kasih hadiah banyak banyak 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2