
Setelah menghabiskan waktu selama 3 jam di taman hiburan, Gama membawa istrinya menuju toko aksesoris tentu saja dengan pesanan pesanan yang sudah diminta oleh Luna tadi.
Luna berjalan masuk ke dalam toko aksesoris sambil menenteng paper bag berisi ice cream dan juga martabak yang dimintanya tadi.
Gama menggandeng tangan istrinya dan masuk ke dalam gedung itu, para karyawan yang sudah direkrut oleh Luna secara langsung menunduk hormat saat melihat pimpinan mereka datang ke dalam toko itu.
"selamat siang tuan nyonya," sapa mereka dengan hormat.
"Selamat siang," jawab Gama dan Luna dengan ramah. Jika dulu Gama adalah presdir yang terkenal sangat dingin, sejak menikah dengan Luna dia mulai bisa bersikap ramah dengan orang lain.
Gama mengantarkan istrinya ke dalam ruangan kerja istrinya yang sengaja diletakkan di lantai satu agar istrinya tidak perlu naik turun ke lantai atas meskipun ada lift di dalam bangunan tersebut.
Para karyawan menatap mereka dengan tatapan iri, tentu saja mereka iri, siapa yang tidak iri melihat pasangan yang begitu serasi dan romantis seperti Luna dan Gama.
"Tuan dan Nyonya benar benar serasi ya,"ucap salah seorang Karyawan wanita.
"iya aku setuju, mereka pasangan paling sempurna!"sahut yang lain.
"Ekhmmm.... lanjutkan pekerjaan kalian jangan menggosip," seseorang yang tak lain adalah Andin yang baru saja datang bersama Rose dari toko bahan baku.
"Ehh... Bu manajer, maaf Bu" ucap Mereka, langsung saja para karyawan itu kocar kacir menuju ruang kerja mereka masing-masing.
"ck...ck..ck jam segini udah pada ngejulid aja," ucap Andin.
"Sudahlah, ayo dimana ruang kerjanya aku tidak sabar mencoba merakit sesuatu dengan bahan bahan ini!" ucap Rose.
"wohooo... Kak Rose ambisius sekale ya, okelah ayo kesana," ucap Andin membawa Rose ke ruangan yang berseberangan dengan ruang kerja Luna.
Setelah mengantarkan istrinya ke toko, dengan tidak rela, Gama pergi dari gedung itu.
"Sayang aku kerja dari sini aja deh," ucap Gama lagi.
"Nggak usah sayang, kamu cepat ke kantor gih, nanti waktu jemput aku bawain nasi goreng ya," ucap Luna yang sedang menikmati es krim cokelatnya sambil menatap laporan penjualan selama sebulan terkait.
"Aishhh, bener nih?" Ucap Gama yang masih bersandar di daun pintu.
Luna menatap suaminya yang seperti anak anak itu, Luna meletakkan es krimnya lalu menghampiri suaminya.
"Sayang sana gih kerja di kantor, istri dan baby kamu gak mau kamu jadi malas, ke kantor ya," bujuk Luna.
"Haisshh... Iya deh iya, tapi ini dulu...." Ucap Gama sambil menunjuk bibirnya.
Cup
Luna mengecup bibir suaminya sambil tersenyum.
"Sudah sana," ucap Luna.
Gama tersenyum, dia mengecup kening istrinya, lalu dia berlutut di depan Luna dan mengecup perut istri.
"Anak-anak Papa, Papa yang tampan ini kerja dulu ya, jangan bikin Mama sakit, Papa sayang kalian ummah," ucap Gama.
Luna tersenyum melihat tingkah suaminya, dia bersyukur bahwa suaminya Benar benar mencintai dirinya dan calon bayi mereka.
"Dahh sayang, nanti kujemput ya," ucap Gama beranjak meninggalkan Luna di dalam ruang kerja gadis itu.
"Dah, dadah Papa!" Seru Luna menirukan suara anak kecil yang membuat Gama tersenyum.
__ADS_1
Setelah kepergian Gama, Luna kembali ke meja kerjanya, dia selalu punya semangat yang tinggi untuk bekerja. Mungkin hormon kehamilannya mempengaruhi mood bumil itu.
"Wahh anak anak Mama sepertinya akan jadi pekerja keras ya, kalian membuat Mama semangat bekerja!" Seru Luna sambil mengelus perutnya.
Luna kembali berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Selama bekerja tubuhnya tidak merasa mual, lelah dan pusing, justru semangatnya berapi api.
Sementara itu Aiden sedang dalam perjalanan bersama nyonya Maureer menuju toko aksesoris Luna.
Dalam pikiran Aiden yang bisa membantu menyelesaikan masalah Bima hanyalah Luna.
Dengan bergegas Aiden membuka pintu mobilnya dan langsung pergi tanpa menunggu Nyonya Maurer bahkan sampai lupa mengunci mobilnya.
"Ck...ck..ck Aiden Aiden, " ucap Nyonya Maureer geleng-geleng kepala dengan tingkah anaknya, dia mengambil ponsel Aiden yang ketinggalan dan keluar dari mobil itu.
Aiden berlari ke dalam toko aksesoris yang sudah berisi dengan banyak karya dan barang jualan yang siap dikirim.
"Lunaaaa...." Teriak Aiden, dikira hutan atau apa kali ya, dasar Aiden.
"Luuuunaaaaaaaa....hemmphh," teriakan Aiden dihentikan oleh sepotong martabak cokelat.
"Hemphh...nyamm.... Nyamm hennak.. lagi dong," ucap Aiden yang malah menikmati martabaknya.
Plakkk
Luna memukul punggung Aiden dengan telapak tangannya.
"Eh... Aduh hehehe, Luna, oh iya Luunaaaaa....hemmph," lagi lagi Aiden berteriak, kali ini mulutnya di sumpel dengan bungkus martabak yang di pegang Luna.
"Hak prreeeffftttt.... Hak erhhh... Kok kertas sih na, martabak dong!" Ucap Aiden sambil mengeluarkan guungan kotak pembungkus martabak itu dari dalam mulutnya.
"Behh, itu punya baby," ucap Luna.
Tak.....
"Jangan teriak-teriak dasar anak nakal!"
Nyonya Maureer memukul punggung Aiden dengan keras sehingga membuat pria tampan itu meringis kesakitan.
"Awchh..... Schshhhhhh Woi..... Kenapa muk.. eh Mama," Aiden yang akan berubah jadi singa liar seketika berubah menjadi anak kucing menggemaskan di hadapan nyonya Maureer.
"Apa hmm, mau ngomong apa hah? Dasar anak nakal, mobil belum dikunci, ponselmu ketinggalan Mama juga ditinggalin dasar ceroboh!" Ketus nyonya Maureer.
Plakk
"Isshhh kak Aii gimana sih, Mama kok sampai ditinggal !" Ucap Luna sambil memukul lengan Aiden dengan puulan mautnya.
"Awhhh sshshhh," Aiden meringis kesakitan sambil menggosok lengannya.
"Iya aku salah, maaf deh maaf, ini juga karna panik na, Bima itu loh bikin khawatir!!" Ucap Aiden dengan wajah benar benar serius.
Luna menatap Aiden dengan wajah penasaran,
"Ayo bicara di ruanganku kak, Ayo Ma," ucap Luna sambil menggandeng lengan Nyonya Maureer dan Aiden di masing masing sisinya.
Kini mereka duduk di dalam ruang kerja Luna yang bernuansa biru sesuai dengan kesukaan ibu hamil itu.
"Ada apa dengan kak Bima?" Tanya Luna.
__ADS_1
"Dia pacaran sama tepung kanji eh aduh plukk" Aiden menepuk mulutnya yang selalu salah bicara.
"Pacar yang dimaksud Bima itu bukan gadis baik-baik Na, dia siluman licik yang menyamar menjadi manusia, dia cuma mau nguras hartanya Bima," terang Aiden dengan wajah benar benar serius kali ini, jarang jarang si babang tampan serius.
"Darimana kakak tau? Apa kakak yakin?" Tanya Luna mulai menyelidiki, Karena menurutnya tidak mungkin Aiden hal itu tanpa dasar.
"Aku melihatnya jalan bersama pria lain na, dan itu rival bisnisnya Bima sendiri, aku takut mereka merencanakan sesuatu," ucap Aiden.
"Rival? Bisa saja itu kakaknya," ucap Lunatak langsung percaya.
"Ck... Apa ada kakak yang akan mecium bibir adiknya dengan sangat keras sampe mau disedot dah itu mulut ihk melemer dah air liurnya," ucap Aiden .
"Bayangin Luna, Mama, ini mulutnya Si cowok ini mulutnya Si cewek," ucap Aiden sambil menggunakan kedua tangannya sebagai contoh.
"Lalu... Tap cep cep cup ca, emh.. ahh, cup.."
Plaak
Nyonya Maureer dan Luna memukul lengan Aiden yang selalu over dosis kalau menjelaskan sesuatu.
"Jorok ih!" Ketus Nyonya Maureer.
"Heheh maaf mom, terlalu bersemangat, pokoknya gitu deh," ucap Aiden.
"Mana ciuman di hotelku pulak, tangan cowoknya udah jalar ke sini dan sininya si cewek, " ucap Aiden sambil menyentuh dad dan bokongnya sendiri.
"aku lihat di CCTV na pas lagi cross cek keamanan hotel yang di Bali!" Ketus Aiden.
"What!!!" Pekik Nyonya Maureer dan Luna bersamaan.
"Kapan kakak lihat?" Tanya Luna.
" Huffft beberapa jam lalu saat aku sampai di kantor, cross cek keamanan hotel selalu kulakukan setiap hari, dan betapa tidak beruntungnya mataku melihat dua manusia itu bercumbu huweeeek Eike mual," ucap Aiden bergidik ngeri.
"Grrrhhhhhh... hahh.. Siapa nama perempuan itu kak? Beraninya diaaa!!" Geram Luna sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Na jangan terlalu stress ingat kandungan kamu," ucap Aiden yang memang sangat perhatian meski mulutnya gak bisa dikontrol.
"Huuffttt kak... Ambilin es krimku," ucap Luna yang masih ingat makan di situasi begini.
"Ini na," ucap Aiden.
Hap
Hap
Hap
"Nyamm..nyamm..nyam Kita mulai operasi menangkap ular beludak!" Seru Luna sambil mengunyah es krimnya dengan seringai di wajahnya sambil menatap Aiden.
"Siap nyonya Park!" Balas Aiden sambil memakan martabak yang masih ada di meja.
Nyonya Maureer geleng-geleng kepala melihat tingkkah dua manusia gesrek itu.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like vote dan komen 😉😊