
Ckiiiittttttt
Ken terkejut dengan teriakan Luna, ia menginjak rem mendadak sehingga membuat tubuh mereka sedikit terhuyung ke depan.
"Apa apa Luna?' tanya mereka bertiga kompak.
Luna terdiam ia menunjuk seseorang yang sangat di kenalnya sedang berjalan menuju sebuah hotel bersama seorang pria tua yang juga sangat dikenalnya.
"Itu sepertinya Andin, apa aku salah lihat?" ucap Luna.
Ketiga pria itu menatap ke arah hotel yang di tunjuk oleh Luna namun sosok itu sudah tidak nampak lagi.
"Mungkin kau salah lihat Luna, bukankah kau mengatakan bahwa Andin bekerja di panti Jompo? buat apa dia kesini?" ucap Ken yang walaupun dia juga merasa curiga.
"Iya kau bisa saja salah lihat Luna, sudahlah mungkin kau terlalu memikirkan dia sampai-sampai semua orang kau lihat sebagai Andin," ujar Bima yang mengerti kode dari Ken.
"Apa benar aku salah lihat? tapi benar juga sih apa yang kak Ken katakan tidak mungkin Andin keluar saat jam kerja begini," ujar Luna berusaha tetap berpikiran positif tentang sahabatnya.
"Ya sudah ayo jalan!" titah Gama.
Pria itu tampak mengeraskan rahangnya, ekspresinya seketika berubah,ia juga melihat sosok yang ditunjuk Luna tadi. Namun ia tidak ingin mengambil kesimpulan yang salah.
Ken, Bima, Gama dan Luna pulang ke desa dengan pikiran mereka masing-masing. Tak ada lagi percakapan setelah kejadian itu.
Setelah sampai di rumah, mereka di sambut oleh Ferdi, Anna dan Aiden yang sudah menunggu mereka.
Anna langsung memeluk Luna dengan erat. Jujur saja ia sangat khawatir dengan kondisi kakak iparnya itu.
"Kakak baik-baik saja kan? apa kata dokter?" ucap Anna dengan wajah khawatir sambil memeluk Luna.
"Kakak baik-baik saja, untuk ada kakak kakak tampan yang menolong kakak semalam," ujar Luna sambil melirik ketiga pria itu.
"Syukurlah kalau kakak baik-baik saja," ucap Anna.
"Eh apa ada tamu?" tanya Luna saat melihat mobil hitam terparkir di depan rumahnya.
"Ohh..itu kak Mark datang katanya ada urusan penting dengan tuannya," ucap Anna sambil melepaskan pelukannya dan memilih menggenggam tangan Luna.
"Mark? ada urusan apa dia kesini?" ucap Gama yang datang bersama Bima.
"Entah, ya sudah ayo masuk dulu kak," ucap Anna.
Mereka semua masuk ke dalam rumah.
"Anna bisa pinjam kamarmu tidak? kami sangat lelah," ujar Ken sambil memijit punggungnya yang terasa pegal karena kurang tidur.
"Oh silahkan kak," ucap Anna.
__ADS_1
Ken dan Bima masuk ke kamar Anna dan merebahkan tubuh mereka disana, rasanya cukup lelah dan mengantuk.
"Kalian kan sudah datang kalau begitu kami ke rumah Ferdi dulu ya, buat beres beres barangnya," ujar Aiden sambil mengambil kunci mobil miliknya. Mulai hari ini Ferdi akan tinggal bersama mereka di rumah Luna, mereka tidak tega membiarkan pria itu disana sendirian.
"Baiklah," ujar Gama.
Kini tersisa lah Gama, Luna, Mark dan Anna di ruangan itu.
"Ada apa kau kemari?" tanya Gama dengan aura dingin seperti biasa ia bicara dengan asistennya yang sangat kaku itu.
Mark melirik Luna dan Anna, ia merasa tidak nyaman membicarakan hal yang ingin disampaikan olehnya di depan kedua gadis itu.
Luna mengerti tatapan mata Mark langsung bangkit berdiri hendak beranjak dari sana, namun Gama menahannya, segala sesuatu tentang dirinya maupun perusahaan harus diketahui oleh istrinya mulai saat ini.
"Tetap disini," ucap Gama sambil menarik Luna hingga gadis itu kembali duduk.
"Dan kau bicaralah sekarang," ucap Gama menatap Mark.
"Baik tuan," ucap Mark.
"Sepertinya tuan harus segera kembali ke Jakarta, kita tidak bisa menunggu seminggu lagi, ada banyak proyek yang membutuhkan kehadiran tuan, selain itu mereka mulai beraksi lagi!" ujar Mark.
Mendengar itu membuat Gama mengepalkan tangannya. Kenapa tiba-tiba banyak masalah yang terjadi, belum selesai dengan masalah disini ia harus menghadapi hama yang selalu mengganggunya selama setahun ini.
"Sialan!" kesal Gama dengan wajah marah, tampak urat nadinya menegang seketika.
Gama menatap mata Luna yang seolah berkata jangan marah. Semua itu tidak lepas dari pandangan seorang Mark.
Gama menghembuskan nafas berat, ia memijit pelipisnya, untung saja ada Luna dan Anna yang mendampinginya disana. Jika tidak, mungkin saja ia sudah menghancurkan semua barang di sekitarnya.
"Baiklah, kau urus keberangkatan kami, Anna, Luna dan Ferdi akan akan pulang ke Jakarta, dan Kau akan mempunyai tugas baru disini, aku akan menghandel perusahaan bersama Aiden, Bima dan Ken!" titah Gama.
"Tugas apa kalau boleh saya tahu tuan," ucap Mark.
"Kau akan bekerjasama dengan Rendi mencari tahu beberapa hal, filenya sudah kukirim padamu, tapi kurasa kau pasti sudah mengetahui sesuatu!" ucap Gama dengan tatapan menelisik.
Gama sangat mengenal pria di depannya itu, ia tau kalau Mark belum mengungkapkan sesuatu padanya melihat dari bagaimana tenangnya Mark saat ia meminta Mark tinggal di Bali untuk mengerjakan tugas lain.
"Saya akan beritahu nanti tuan!" ucap Mark dengan tenang.
"Hmmmm... baiklah kalau begitu segera siapkan, dan satu lagi kewajiban yang harus kau ingat!" ucap Gama lagi.
Mark menatap tuannya dengan tatapan penasaran.
"Keselamatan Luna dan Anna menjadi prioritas utama mulai saat ini!" ucap Gama tegas.
"Baik tuan!" balas Mark tanpa menentang sedikit pun.
__ADS_1
"Keselamatan kalian adalah prioritasku tuan, sebab apa yang membuat anda nyaman maka hal itu yang akan saya lakukan termasuk menjaga nona Luna dan nona Anna," batin Mark.
"Pergilah, Kami akan berangkat malam ini, kuharap semaunya segera beres!" ucap Gama.
Gama tidak mau berlama-lama lagi disana, ia juga harus segera melakukan pengobatan intens pada kakinya, sebab firasatnya mengatakan bahwa ada hama yang harus segera ia singkirkan.
Mark segera pergi untuk mengurus keberangkatan tuannya malam ini.
"Jadi kita akan berangkat malam ini?" ucap Luna setelah Mark pergi.
" Iya, apa kau keberatan? jika iya aku bisa mengundurnya," ucap Gama menatap Luna.
"Tidak aku baik-baik saja, lagi pula sama saja mau kita berangkat hari ini atau Minggu depan," ujar Luna.
"Baiklah, bagaimana denganmu Anna?" tanya Gama beralih pada Anna.
"Aku setuju kak, wah aku sudah tidak sabar ingin melihat tempat aku tinggal dulu!!" seru Anna dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Kau senang sekali ya," ucap Luna sambil tersenyum.
"Tentu saja heheheh," tawa Anna.
" Baiklah kalau begitu ayo persiapkan barang-barang kita," ucap Luna.
"Tak usah membawa terlalu banyak, kita akan beli baru disana," ujar Gama.
"Baiklah tuan tampan!" seru Luna sambil mengedipkan sebelah matanya pada Gama.
"Acieee....hahahah," Anna tertawa saat melihat bagaimana Luna menggoda Gama.
"Dasar gadis aneh!" celetuk Gama walaupun hatinya senang karena tampaknya Luna merasa nyaman dekatnya.
"Aneh tapi cinta ya kan kak hahahah, " ledek Anna yang sudah berlari ke dapur meninggalkan Gama disana.
Sementara itu di jalanan kota Bali, tampak Mark menyergitkan keningnya saat melihat tugas baru yang diberikan tuannya.
"Kenapa dengan gadis cerewet ini? apa terjadi sesuatu dengannya?" gumam Mark saat melihat file yang dikirim tuannya. Saat ini Mark sedang parkir di pinggir jalan hanya sekedar untuk mengecek file yang dikirim tuannya.
Setelah tau apa tugasnya Mark terlebih dahulu menyiapkan penerbangan untuk tuannya. Ia akan memastikan semuanya berjalan lancar dan tidak ada halangan apa pun. Barulah ia mengerjakan tugas selanjutnya.
.
.
.
Like, vote dan komen 😊😉😉
__ADS_1
Komen sebanyak-banyaknya ya , author pengen tau tanggapan kalian tentang cerita author, kritis juga gak masalah biar author bisa perbaiki lagi 😉😉😉😉😊😊