
Mikha menatap mereka dengan berani. Kali ini dia benar-benar tidak ingin kalah lagi seperti sebelumnya, dia mengingat perkataan suaminya semalam saat mereka berbincang di dalam kamar mereka di kediaman alias rumah besar Park.
"Jangan membiarkan orang lain bertindak semena-mena atas dirimu, tubuhmu milikmu, mau bagaimanapun keadaannya itu adalah milikmu, kamu boleh insecure dengan orang lain, tetapi jadikan itu sebagai batu loncatan untuk menjadi lebih baik dengan apa yang sudah Tuhan berikan padamu, ingat kamu itu berharga dan kamu semakin berharga karena ada kami keluarga yang mendukungmu disini!"
Kata kata dukungan dari Aiden terngiang di kepala Mikha, itu benar benar membuatnya bangkit dan membuatnya lebih percaya diri.
"Aiden benar, aku ini berharga tak ada yang bisa menghina diriku atas apa yang Tuhan berikan padaku!!" ucap Mikha menyemangati dirinya sendiri.
"Iya kan Mikha, kamu kemarin pinjam uang Flora?" ucap Bianca lagi sambil memelototi Mikha.
"Uang? kapan? aku saja tidak masuk kampus selama Beberapa hari? kapan kita bertemu? dan untuk apa aku meminjam uang Flora? jangan mengada ada Bianca, apa kau masih belum bangun dari tidurmu yang nyenyak itu hmmm?" balas Mikha dengan nada ketus, dia sebisa mungkin memberanikan diri meski tangannya menggenggam erat kemeja Aiden dan pria itu tau.
"Awal yang bagus Mikha," ucap Aiden dalam hati.
"Eh... emm.. bu..bukankah kau meminjam uangku beberapa hari lalu?" ucap Bianca gugup.
"Loh Bian, kamu bilang tadi aku minjam uang Flora sekarang minjam uang kamu? uang yang mana Bian? atau uang yang kalian ambil dari dompetku waktu itu?" ucap Mikha sambil menatap mereka dengan berani.
"U..uang? eh.. udah masuk nanti aja deh!" ucap Bianca panik saat Mikha mulai berani mendesaknya seperti yang sering dia lakukan pada gadis itu.
"Loh kenapa Bi?" tanya Mikha lagi.
"Ck.. kamu jangan sok manis deh Mikha, aku tau kamu itu cuma perempuan gak beres yang rela sedot lemak biar bisa cantik iya kan? buktinya baru beberapa hari kami gak masuk badan kamu udah kurus begitu, cih jangan jangan kamu sudah menjual tubuhmu!" ejek Bianca berusaha mencari perhatian Aiden agar pria itu marah pada Mikha.
Aiden mengeraskan rahangnya saat mendengar perkataan sarkas Bianca tentang Istrinya, ingin dia berbicara tetapi tiba-tiba istrinya beraksi.
"Hahahah Bianca kau sangat memperhatikan tubuhku ya, hmmm apa kau iri dengan kecantikan ku? atau ingin kutunjukkan dokter bedah plastik yang terbaik agar hidung dan matamu tidak miring?" sindir Mikha membuat Keempat anak gadis itu kesal bukan main.
"Ck..ck.. ck.. kau ini bodoh atau bagaimana Bianca? seseorang yang melakukan sedot lemak dan operasi plastik tak bisa langsung sembuh total dalam beberapa hari butuh waktu pemulihan sampai tiga bulan, dimana otakmu, bukankah kau paling hebat dalam hal ini hah!?" balas Mikha dengan berani, tetapi Aiden tau kalau Mikha sudah ketakutan terbukti dengan tangan Mikha yang mencengkram kuat kemeja belakang Aiden.
"Kamu bisa, kamu pasti bisa!" batin Aiden.
"Eh... jangan mengada ada Mikha, kamu memang gak punya sopan santun, apalagi ada tuan Aiden!" sergah Flora.
"Sopan santun?apa itu? sejenis makanan ringan kah? karena aku tak melihatnya di diri kalian!" ucap Mikha.
"Sial! kenapa dia jadi seberani ini, ini pasti karena ada tuan Aiden di belakangnya, ck... apa hubungan mereka, kenapa mereka terlihat dekat, arhhh tidak boleh begini, aku harus menjaga image ku di depan tuan Aiden!" batin Bianca.
"Ck.. ck.. ck... kau memang perlu belajar Mikha, inilah perbedaan antara anak yang dididik oleh orangtua dengan anak pembawa sial!" sindir Bianca.
Mikha mengepalkan tangannya.
Plakkkkk
Mikha menampar wajah Bianca dengan keras membuat gadis itu sedikit terhuyung ke belakang.
"Apa yang kau lakukan Mikha!!!" bentak Vera mencoba mendekati Mikha dan menarik rambutnya.
"Sedikit saja kau menyentuh seujung rambut pun dari dirinya maka nantikan apa yang akan terjadi pada perusahaan ayahmu nona Vera Sanjaya!" ucap Aiden dnegan suara tegas dan dingin.
Glekk mereka semua menelan Salivanya dengan kuat, menakutkan, kata itu yang muncul dalam pikiran mereka.
"Lain kali kami akan membalasmu Mikha!!!" ketus Vera dengan wajah kesal.
"Ayo pergi," ajak Flora.
"Loh bukannya kalian mau bicara tadi?" ucap Aiden.
"Ahhh na..nanti saja tuan, su.. sudah jam pelajaran ka..kami pergi dulu, ayo Bi!" ucap Key temannya Bianca.
Mereka berempat langsung lari dan pergi dari hadapan Aiden dan Mikha saat Gadis itu mulai berani menyerang mereka.
"Sialan Lo Mikha, lihat aja gue bakal buat perhitungan sama Lo!!!" geram Bianca yang merasa dipermalukan oleh Mikha di depan Aiden si pria tampan yang sangat terkenal di kalangan pebisnis dan tentunya menjadi incaran para wanita seperti Bianca yang gila popularitas.
" By the way kok si jelek itu bisa kurus secepat itu?" ucap Key.
"Terserah mau kurus kek mau gendut pokoknya kita harus cari celah untuk bisa ngebalas si jal4ng itu, mana dia mempermalukan kita di depan tuan Aiden lagi!" ketus Bianca.
"Ya udah kita balas nanti, kita ikutin dia," ucap Flora sambil tersenyum.
Sementara itu tampak Mikha terdiam kaku setelah Bianca dan temannya pergi.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Aiden.
"Mikha? hey!" panggil Aiden.
"A... aku bisa melawan mereka," ucap Mikha sambil menatap Aiden dengan mata berkaca-kaca.
Aiden tersenyum, dia juga sempat terkejut saat melihat Mikha bisa dengan begitu berani mempermalukan keempat perempuan itu.
"Bagus, aku bangga padamu, kau hebat," ucap Aiden.
"Terimakasih," balas Mikha.
Pelajaran pun berlangsung, tampak Mikha dengan serius mengikuti setiap kelas yang dia masuki hari ini, Aiden menunggu di luar kelas Mikha sambil mengecek laporan perusahaannya sekaligus mengamati situasi di kampus tempat istrinya kuliah.
__ADS_1
Para mahasiswa terkejut bukan main saat melihat perubahan besar pada diri Mikha, bahkan sampai ada yang tak mengenalinya dan berpikir kalau dia adalah mahasiswa pindahan.
Kehadiran Aiden juga tak kalah mencengangkan dengan perubahan besar pada Mikha yang selalu diejek sebagai si kerbau gendut bahkan tak ada yang mau berteman dengannya, bukan tanpa alasan, jika Bianca dan teman-temannya melihat siapapun berteman dengan Mikha maka saat itu juga mereka ikut di bully, jadi daripada cari masalah mereka memilih menghindar dari Mikha.
Saat pelajaran berlangsung, Mikha permisi keluar, dia tidak memperhatikan Aiden yang duduk dengan fokus di depan kelasnya sambil memainkan ponselnya, begitu juga dengan Aiden dia terlalu fokus hingga tidak melihat istrinya keluar.
Mikha berjalan menuju toilet wanita yang harus melewati lapangan sebab toilet wanita di lorong gedung itu sedang dalam masa perbaikan.
Mikha berjalan dengan santai tiba-tiba dia merasa ada yang mengikutinya. Mikha tetap tenang dan berjalan pelan.
" Sisi kiri dan kanan ada dua orang," batin Mikha.
Byuuuurrrr..
Tap.. tap... tap
Mikha menghindari siraman air comberan yang dibawa oleh Flora dan Vera dengan Bianca dan Key di sisi mereka yang juga memegang tepung di dalam ember.
"Aaaarrrhhhhhhh......" Pekik mereka berempat saat air comberan dan tepung itu malah mengenai diri mereka masing-masing. jika dilihat mereka tampak seperti saling siram menyiram air dan tepung.
"Pfftttthhh hahahhahaha," Mikha terkekeh geli.
"Sialan kau kerbaaaauuuuu!!!!" teriak Bianca marah karena dirinya kini bau comberan dan berlumuran dengan tepung.
"Kemari kau!!" teriak Flora sambil mengambil tempat sampah dan mencoba memukul Mikha dengan benda itu.
Prakkk
Brukk
Mikha dengan cepat mengambil tempat sampah itu dan memukulkannya ke kepala Flora tepat seperti yang mereka lakukan dulu pada Mikha.
"Kau ingat tidak apa yang kau lakukan padaku dengan tempat sampah ini?" ucap Mikha menatap mereka dengan tatapan kebencian dan kemarahan.
Prakkk
Mikha memasukkan tong sampah itu ke kepala Flora dan menendang nya persis seperti yang dilakukan Flora padanya dulu.
"Arhhhh..." teriak Flora.
"Sialan !!" teriak Vera dan Key mencoba menarik rambut Mikha seperti yang mereka lakukan saat membully Mikha.
Namun keadaan berbalik, Mikha malah menjambak rambut Vera dan Key dan menariknya dnegan kuat hingga menyebabkan rambut mereka rontok dan kulit Kepala mereka berdarah.
Brukkk
Mikha membenturkan kepala mereka berdua hingga mereka meringis kesakitan dan ada benjolan di kening mereka.
"Masih ingat dengan benjolan ku dulu ?" ucap Mikha sambil memelintir tangan mereka berdua.
brukkk
"Arghhhhh.."
Mikha berjalan mendekati Bianca, dia menatap Bianca dengan tatapan menyeringai, dia mengeluarkan pulpen dari dalam kantong roknya.
klik klakk klikk klaakk
"ingat dengan suara ini Bianca?" ucap Mikha yang sudah mencengkram leher Bianca dengan keras dia mengarahkan pulpen itu ke mata Bianca.
"A.. apa yang mau kau lakukan,ja..jangan jangan!!" teriak Bianca histeris saat pulpen itu semakin mendekat ke matanya.
"Hahahhaha kau sudah mengambil mata kiriku Bianca, kau tak lihat warnanya ini? ini semua akibat perbuatanmu, aku buta Bianca!!" teriak Mikha marah.
"Kau tau aku membutuhkan mataku untuk pertandingan panah nasional tetapi kau merusak semua mimpikuuuu!!!" teriak Mikha.
"Lihat mataku Bianca!!!"
"Lihat kau merusaknya, kau memasukkan air keras ke dalam obat mataku, kau merusak mataku Bianca!!!!" geram Mikha dengan kemarahan yang sudah berkobar kobar.
Aiden yang sedari tadi memperhatikan mereka begitu terkejut akan kenyataan mata merah Mikha yang ternyata hasil kejahatan Bianca.
"Aku... Akan merusak cita citamu juga Biancaaa," bisik Mikha sambil mengangkat tinggi-tinggi tangannya dan......
"Mikhaaaa jangan!" teriak Aiden menghentikan Mikha.
"Aku akan melakukannya,"
Sreeekkkk...
Sraaakk..
"Arrrhhhhhhhhhh tangankuuuuuuu!!!" teriak Bianca saat melihat tangan kanannya tertusuk pulpen tepat di bagian telapak tangannya.
Bianca adalah seorang pelukis, tanpa tangannya dia tidak akan bisa melukis dengan baik.
__ADS_1
Brukk
Mikha melemparkan Bianca ke atas lantai lapangan.
"Haahh... haaahhh... itu yang kurasakan saat kalian menghinaku, kalian menghina hidupku hiks hiks hiks... apa serendah itu aku dihadapan kalian? siapa kalian berhak menilai hidupku hah!!!" teriak Mikha menangis.
Para mahasiswa dan Dosen ternyata menyaksikan semua kejadian itu, Mikha menatap mereka semua dengan mata berkaca-kaca.
"Apa karena aku orang miskin, kalian bisa semena-mena padaku? apa karena aku tak punya orangtua? atau karena tubuhku hah?" teriak Mikha menatap semua orang disana.
"KENAPA TAK ADA SATU PUN YANG MENOLONGKU SAAT AKU DI BULLY!!!" Teriak Mikha sambil menangis tersedu-sedu.
Tak ada yang menjawab, semuanya diam, mereka semua tau kalau Mikha disiksa tetapi tak ada yang berani melawan.
"Mikha," panggil Aiden, semua orang menoleh pada pria itu.
"Aiden," lirih Mikha.
Aiden berjalan menuju Mikha sambil merentangkan kedua tangannya.
Mikha berlari dan menghampiri suaminya dan memeluk pria itu dengan erat sambil menangis tersedu-sedu.
"Kau hebat, kau hebat sayang," ucap Aiden sambil memeluk istrinya.
Aiden menatap mereka semua.
"Dengarkan aku wahai manusia tanpa aturan dan tanpa hati nurani!!" teriak Aiden.
"dan terutama kalian berempat, bersiaplah menanggung kehancuran keluarga kalian, dan untuk semua yang berada di universitas ini saat ini juga karir masa depan kalian hancur!!!" teriak Aiden.
"Vera dan Key akibat ulah kalian aku sudah menarik investasi ku di perusahaan keluarga kalian bahkan saham milik Gamaliel Park juga telah dicabut dari perusahaan kalian!!" ucap Aiden yang membuat mata mereka terbelalak.
"Untuk Flora, kuharap kau bisa bertahan hidup Luntang lantang di jalanan karena ayahmu ditangkap atas kasus prostitusi!!!" teriak Aiden yang membuat Flora menangis histeris.
"Dan kau Bianca, nikmatilah hidupmu di penjara!!!" teriak Aiden.
"Penjara?" semua bergunjing apa maksud Aiden. Bianca sendiri sudah bergetar ketakutan.
"Silahkan lihat sosial media kalian!" teriak Aiden.
Semua melakukan yang dipinta Aiden, betapa terkejutnya mereka saat melihat berita tentang penjualan organ manusia dimana salah satu penjahatnya adalah Bianca yang menjadi salah satu dalang di balik hilangnya puluhan anak di kota Jakarta.
"Arhhhhhhh.... sialan kau Mikhaaaaaa..." teriak Bianca histeris, dia mengambil pisau dari kantongnya dan berlari ke arah Mikha.
bughh..
Srakkk
Aiden menendang Bianca namun lengannya tertancap pisau yang di lemparkan oleh Bianca.
"Arghhh..shhh," Aiden meringis namun dia menutup kepala Mikha agar gadis itu tak melihat apa yang terjadi.
"Tangkap mereka pengawal!" teriak Aiden.
drap... drap... drap
seketika sepuluh orang pengawal berbaju hitam masuk dan menangkap keempat perempuan itu.
"Kau tak apa?" tanya Aiden yang dijawab gelengan kepala oleh Mikha.
"Dengarkan aku, siapapun yang berani mengusik istriku akan mengalami nasib yang sama dengan mereka!" teriak Aiden.
"istri?!!" semua orang bergunjing tentang pengakuan Aiden.
"tutup matamu sebentar"ucap Aiden.
srakkk
"Eghh.... shhhh," Aiden mencabut pisau itu dari lengannya dan membuangnya ke lantai, darahnya bercucuran ke atas lantai.
"Tanganmu," lirih Mikha.
"Tak apa, ayo pergi!" ucap Aiden sambil merangkul Mikha.
Mereka semua terdiam melihat kejadian itu, tak ada yang berani berbicara, Taka ada yang berani melawan saat Aiden sudah bertindak.
.
.
.
like, vote dan komen 😉😉😊
Wohooo i love you babang tampan!!!
__ADS_1