Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
Baikan


__ADS_3

Hari sudah malam, tetapi Gama dan si kembar belum pulang juga ke rumah Aiden, membuat luna semakin khawatir. Dia benar benar tidak bisa tenang jika belum melihat suami dan anak anaknya pulang ke rumah, sedari tadi dia mondar mandir didepan rumah menunggu kedatangan suami dan anak anaknya.


Sedangkan kakak kakaknya sedang menjenguk Celine di rumah sakit, hanya Rose dan Andin yang tidak ikut karena Rose sudah terlelap sejak pukul 7 tadi dan Andin mengurus Jesika yang masih kecil dan rewel.


Karena hari cuaca cukup dingin malam ini, Luna memilih duduk di sofa di ruang depan sambil menunggu kedatangan suaminya, dia benar benar merasa bersalah karena telah membuat Gama kecewa dan merasa tidak dapat diandalkan.


Luna lama menunggu bahkan jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi Gama dan Baby C belum juga kembali. Luna menunggu sampai ketiduran di atas sofa sambil memeluk bantal sofa.


Beberapa menit kemudian, mobil Gama tiba di rumah itu, Gama masuk dengan perlahan sambil menggendong kedua putranya yang terlelap setelah perjalanan mereka.


Mata Gama langsung tertuju pada istrinya yang terlelap di atas sofa, dia mendesah dengan kasar.


“Dasar bodoh,” kesal Gama.


Dia membawa si kembar menuju kamar mereka dan membaringkan keduanya di dalam kamar itu. Kemudian dia berjalan lalu menghampiri istrinya yang masih tidur di atas sofa dengan sisa air mata yang masih belum kering di kedua pelupuk matanya.


Gama menatap Luna dengan sendu,”Bodoh, kenapa kau tidur disini, kau bisa masuk angin nanti, kalau kau sakit bagaimana,” gerutu Gama sambil mengangkat tubuh istrinya yang tetap ramping itu.


Gama berjalan menaiki tangga sambil menggendong Luna, dia benar benar tidak tega melihat istrinya seperti itu. Tapi dia juga kecewa karena luna tidak meminta pendapatnya saat mengambil keputusan.


Dia membawa wanita itu ke dalam kamar mereka, lalu membaringkan Luna dengan lembut dan memakaikan selimut untuk istrinya.


Sejenak dia memandangi wajah Luna yang sembab, di usapnya pipi wanita itu, disingkirkannya anak rambut Luna.


“Maaf membentakmu tadi sayang, au benar benar khawatir,” gumam Gama sambil mengecup kening istrinya.


Gama lalu berdiri dan mengganti pakaiannya, saat dia pergi tadi sebenarnya dia pergi ke rumah besar Park untuk membereskan maslah disana serta mencabut semua kamera CCTV dan alat penyadap yang dipasang Laura.


Dia memastikan kalau rumah besar itu siap dihuni kembali dan sudah aman untuk anak dan istrinya. Gama juga kembali mengecek ulang seluruh daftar pelayan yang ada di rumah itu, dan memastikan keaslian identitas mereka agar tidak terjadi lagi hal hal seperti sebelumnya.


Sedangkan pria suruhan Sarah sudah diusir entah kemana, yang pasti pria itu sekarang hidup luntang lantang di jalanan karena perbuatannya sendiri.


Gama mengajak si kembar karena mereka yang hapal semua letak kamera CCTV di rumah besar itu. Sembari membereskan masalah di rumah Besar Park, Gama terus memikirkan istrinya yang menangis karena perkataannya, ya dia melakukan hal itu agar Luna tidak melakukan tindakan yang sembrono dan malah bisa mengancam nyawa mereka.


Gama berdiri membelakangi Luna, dia sedang mengganti pakaiannya, sambil sesekali mendesah berat karena maslah tadi.

__ADS_1


Tiba tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya pertanda seseorang memeluknya dari belakang dan itu adalah Luna yang terbangun dari tidurnya.


“Kau pulang, hiks hiks hiks, maafkan au.... kumohon jangan marah lagi, aku salah aku minta maaf, tak akan kuulangi lagi hiks hiks hiks, maafkan aku sayang,” Luna menangis sesenggukan di balik punggung Gama sambil mengungkapkan isi hatinya.


“Maaf karena telah menyakiti hatimu, aku tidak nbermaksdu melakukan itu, aku .... aku benar benar menyesal hiks hiks hiks...” Luna masih menangis, suaranya terdengar bergetar, bahunya naik turun dia memeluk gama dengan erat.


“Huuuffftt.... fuhhhhh...” Gama menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. Dia menggenggam tangan istrinya yang kecil itu dan mengusapnya dengan lembut.


Kemudian Gama berbalik dan mengubah posisi mereka, dia memeluk Luna dari depan.


“Maaf karena membentakmu tadi, aku benar benar khawatir sayang , aku tidak akan bisa terima kalau terjadi apa apa pada dirimu dan anak anak, aku benar benar khawatir,” ucap Gama lembut sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Luna.


“Aku tidak bisa kehilangan salah satu dari kalian, lebih baik aku yang mati dahulu daripada harus kehilangan salah satu dari kalian, aku tidak akan bisa sayang,” ucap gama sambil mengusap air mata istrinya dengan Lembut.


“Maafkan aku, au salah, aku tak akan mengulanginya, maaf,” ucap Luna dengan suara bergetar.


Gama kembali memeluk Luna dia menepuk nepuk punggung wanita itu dengan lembut.


“Iya aku paham, maaf juga karena membentak mu tadi, jangan menangis lagi aku tak tahan melihatmu seperti ini,” ucap Gama.


Luna mengangguk pelan sambil menatap suaminya. Gama tersenyum lembut, seketika membuat hati Luna tenang dan nyaman, sebuah senyuman yang sangat ditunggu oleh Luna. Dia juga ikut tersenyum sambil menatap suaminya.


“Nah kalau senyum begini kan cantik, jangan nangis lagi ya sayang, aku mencintaimu, aku benar benar sangat mencintaimu,” ucap Gama.


“heheh... aku juga sangat... sangat sangat sangat sangat sangat mencintaimu, jadi jangan pernah pergi meninggalkanku seperti tadi, aku benar benar khawatir,” ucap Luna yang mengalungkan tangannya di leher suaminya.


“Tak akan, aku janji,” ucap gama sambil mengecup bibir mungil istrinya.


Cup...


Cup...


Berawal dari sebuah kecupan manis berujung menjadi malam yang panjang dan panas penuh dengan peluh, kalau kata Mikha dan Aiden mendaki gunung, melewati lembah, memasuki goa dan mendaki tebing hingga beberapa kali membuat balon balon cinta mengudara ke atas langit malam ini.


Sementara itu yang lainnya sudah pulang ke rumah setelah dari rumah sakit. Bima tetap di rumah sakit dan mendampingi istrinya dengan penjagaan ketat dari pengawal.

__ADS_1


Vanya yang hamil muda mengalami mual dan muntah yang cukup parah membuat Alex sampai was was seperti saat ini, Vanya terus bolak balik kamar mandi karena perutnya terasa dikocok.


Alex dengan setia mengawasi istrinya bahkan dengan sangat hati hati membantu istrinya berjalan.


“Kau pucat sekali, bagaimana ini, ck... bisa bisanya dokter kandungan itu mengatakan kalau ini hal yang wajar, kau sangat lemah, aku membenci hal itu, benar benar dokter bodoh,” ucap Alex yang malah mengumpati dokter kandungan yang memeriksa istrinya tadi.


“hahahaha.... kau ini ada ada saja sayang, dia benar ini hal yang wajar dialami ibu hamil, dan mungkin selama dua bulan ke depan akan terus seperti ini, jadi jangan terlalu panik,” ucap vanya yang malah tertawa melihat kepanikan suaminya.


“Apa dua bulan lagi,” pekik Alex yang benar benar tidak tega kalau istrinya harus mual dan muntah seperti itu.


“Astaga..... kenapa selama itu? Apa tidak bisa dipercepat sayang, aku tidak tega melihatmu menderita seperti itu,” ucap Alex sambil mengusap perut istrinya yang masih rata itu.


“Tentu tidak sayang, lagi pula itu suka dukanya, kita akan menantikan kelahiran bayi kita dan akan menjadi momen berharga yang kita ingat seumur hidup kita,” ucap Vanya sambil membelai lembut wajah suaminya.


“ Ya kau benar sayang, huhhh.... ku harap dia tumbuh dengan sehat disini,” ucap Alex sambil mengusap perut istrinya dengan lembut.


“Anak Papa sehat sehat ya sayang ya, jangan bikin Mama sakit loh,”ucap Alex. Namun tiba tiba alex merasakan sesuatu yang sangat tidak enak di perutnya, bagaikan diaduk aduk membuat dirinya mual.


“ooeekk... emphh...” Alex melompat dari atas kasur dan berlari ke kamar mandi, dia malah muntah muntah disana membuat Vanya khawatir namun seketika dia tersenyum geli karena suaminya mengalami sindrom simpatik yang bisa terjadi karena sang papa dari jabang bayi terlarut dengan kondisi istrinya bahkan khawatir secara berlebihan.


“eghh... kenapa aku tiba tiba mual ya, apa jangan jangan,” ucap Alex sambil menatap Vanya, wanita itu mengangguk.


“Aku hamil? Tiiiiidaaakkkkkk...”teriak Alex yang dikira Vanya paham dengan apa yang terjadi pada dirinya. Vanya tertawa terbahak bahak mendengar ucapan suaminya serta cara suaminya melihat perutnya sendiri berpikir kalau dia sedang hamil juga.


“Hahahahah ada ada saja kau,” ucap Vanya.


.


.


.


Like, vote dan komen.


Hadeuh bang Alex... bang alex

__ADS_1


__ADS_2