Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
164


__ADS_3

Wosshhhh......


Angin berhembus menyentuh wajah polos Luna yang tetap cantik meski tanpa make up.


Aura mempesona dari seorang Luna si gadis berambut biru mampu menarik perhatian setiap orang. Bunga bunga berjatuhan, daun daun berguguran menyentuh rambut panjang itu.


Swissshhh


Swoossshhhh


Hempas kesana hempas kesini, cantik, cantik, ulalala....


Gula warna warni menari di mulut mungil wanita cantik itu, matanya fokus menatap pemandangan di depannya, angin berhembus semakin kencang kala pemandangan di depannya semakin panas.


Woshhhh.....


Swoossshhhh......


Angin semakin kencang menerpa wajah Luna yang sedang menikmati gula warna-warninya. Semakin kencang dan semakin kencang hingga........


Plakkkk


Satu pukulan telak, mendarat dengan sempurna di lengan Aiden si pria tampan mempesona.


"Awhhh.... Kok dipukul sih Lunaaaa!!" Gerutu Aiden sambil menggosok lengannya yang sudah berbekas karena pukulan maut dari Luna.


"Kak Aiiideeennnn...... Anginnya terlalu kencang Kak!!!!" Gerutu Luna pada Aiden yang mengipasi dirinya.


"Eh maaf Luna Kakak terlalu serius melihat komputernya sampai nggak memperhatikan kalau anginnya udah jadi angin topan...." kekeh Aiden sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Ngapain garuk-garuk Kakak punya kutu ya?? Ihkk dasar jorok!!" Ucap Luna meledek Aiden yang garuk-garuk kepala untuk bukan di kebun binatang kalau nggak dikira kerabat simpanse.


"Ck... Gatal Na, kepala kakak gatal ngelihat si Bima itu bucin parah sama si ulet keket urghhh... Pengen Eike cabik cabik dah itu mukanya ulat keket grhhhhh," geram Aiden .


Saat ini Aiden dan Luna sedang berada di apartemen Alex, nyonya Maurer sendiri di tinggal di toko Luna bersama Andin dan yang lainnya.


Sebelumnya Luna menghubungi suaminya dan Alex kalau dia akan ke apartemen Alex. Awalnya Gama ingin mengantar Luna namun tugasnya menumpuk dan tidak bisa ditinggalkan.


Dengan terpaksa Gama membiarkan istrinya berangkat bersama Aiden dan tentu saja di kawal dengan iring iringan pengawal di berbagai sisi.


Alex sendiri langsung pulang ke apartemen setelah selesai dengan urusan bisnisnya.


"Luna Juga kesel banget lho Kak, dasar perempuan munafik, kasihan kak Bima, tapi apa kak Bima emang gak bakalan percaya kalau kita bilangin?" Tanya Luna.


"Bima itu hampir sama dengan Gama, mereka keras kepala dan susah percaya na, " ucap Alex yang baru datang dari dapur dengan membawa segelas susu untuk ibu hamil dan cemilan untuk mereka.


"Ini minum dulu," ucap Alex menyerahkan susu ibu hamil itu.


"Terimakasih kak," ucap Luna menerima gelas itu.


Glekk... Gleekk... Glekkk


Dalam sekali tegukan susu itu habis tak bersisa membuat Aiden dan Alex menganga.

__ADS_1


"Wow itu perut apa karet na, kok muat semua??" Celetuk Aiden sambil mengangkat gelas Luna yang sudah kosong.


"Heheh, haus kak," kekeh Luna.


"Bagaimana perkembangan penyelidikan kalian? Apa ada sesuatu yang menarik?" Tanya Alex.


"Belum dapat kak, sepertinya kita harus memasang penyadap," ucap Luna.


"Kak Ai, mereka di hotel kakak yang mana?" Tanya Luna.


"Di hotel yang di Jakarta na," ucap Aiden.


"Hmmm.... Nyamm... Nyamm... Nyamm," Luna bergumam sambil terus mengunyah keripik kentang yang dibawa Alex tadi.


Klik... Klakk... Klik... Klikkk


Luna memainkan komputer di depannya dengan lihai bahkan kemampuan perempuan ini semakin bertambah sebab jika ada waktu senggang Luna akan meminta bantuan Alex untung mengajari dirinya tentang hacking.


"Dapat!!" Seru Luna saat dia berhasil menyadap ponsel Clara, sekretaris Bima si ulet keket.


Aiden dan Alex saling menatap tak percaya, bagaimana bisa ibu hamil ini melakuakna penyadapan hanya dalam beberapa menit, bahakna tidak ada kesulitan sedikit pun?


"Wah kamu hebat na, kalau gitu boleh gak kita sadap ponsel Joe Biden?" Ucap Aiden sambil menatap layar komputer berisi data-data dari dalam ponsel Clara, lebih tepatnya Luna menggandakan data ponsel Clara.


Pletakkk


Kali ini bukan Luna yang pukul tapi Alex.


"Aishhh.... Kan bisa tuh kita sadap terus kita ancam, setelah..... Awuhhhhhhh.... Shhhhh arhhhh sakit kenapa digigit Lunaaaaa!!" Teriak Aiden sambil menggosok punggung tangannya yang berbekas gigitan Luna.


"Kakak ngomong terus, Luna gak konsen nih, ini mau nyadap rival bisnisnya kak Bima, diam dulu!!"ketus Luna melanjutkan pekerjaannya dan makanannya.


Krokk


Krokk


Krokk


Suaranya kunyahan Luna terdengar nyaring di telinga membuat Aiden dan Alex tergiur untuk mencicipi keripik kentang di depan Luna yang tampaknya sedap.


Alex dan Aiden mengulurkan tangannya untuk mengambil cemilan Luna.


Pletakk....


"Jangan di sentuh!" Ucap Luna yang masih fokus dengan layar komputernya namun tangannya masih sempat memukul tangan Alex dan Aiden yang mendekati keripik kentangnya.


Aiden dan Alex saling menatap, mereka terkikik geli dengan reaksi adik cantik mereka itu.


"Hahahhaha, apa kamu sesukai itu sama keripik nya? Baiklah kalau begitu kakak ambilkan lagi," kekeh Alex.


"Ck... Dasar ribut, rakus!!" Celetuk Luna.


Aiden geleng-geleng kepala, yang rakus siapa, yang dikatain rakus siapa, Luna kau memang unik pikir Aiden.

__ADS_1


Aiden duduk di sofa yang ada dalam ruangan itu, dia terus mengkhawatirkan Bima yang kalau sudah jatuh cinta pasti selalu berujung patah hati karena tidak berhati-hati meletakkan hatinya.


"Ck... Si bodoh itu membuat khawatir saja," gerutu Aiden.


"Sabar kak Den, kita cari cara untuk menyadarkan kak Bima, nanti Luna coba bicara sama kak Bima," ucap Luna yang meski konsentrasinya terbagi dia masih mendengar ucapan Aiden.


"Apa sih yang dilihatnya dari wanita ular itu? Cantik? Nggak, muka kanji iya, ihkk amit amit deh dapat perempuan begitu!!" Celetuk Aiden.


"Sepertinya kita harus melihat langsung si Clara ini kak, kita laksanakan operasi kedua!" Ucap Luna.


"Kita temui Clara di hotel tempatnya sering menginap, dan kita bawa kak Bima!" Ucap Luna.


"Tapi itu terlalu beresiko untuk kamu Luna," tolak Alex yang datang dengan banyak cemilan.


"Iya Alex benar, kamu lagi hamil, kami gak mau terjadi apa-apa dengan kamu dan kandungan kamu," tambah Aiden.


Luna memutar kursinya, kini dia menatap Alex dan Aidne dengan tatapan serius.


"Baby twin yang mau," ucap Luna dengan mata berbinar-binar sambil mengusap perutnya.


"Huhhh... Apa kamu ngidam pengen nyoksa orang na? Anak kamu calon mafia?" Celetuk Aiden.


"Pengen bantuin kak Bima aja lepas dari ulet keket, boleh ya kita lakukan itu, pleaseee!!" Pinta Luna.


"Huffft.... Kamu tanya suami kamu dulu," ucap Aiden.


"Berarti boleh, okee kalau masalah itu biara urusan Luna!" Seru Luna dengan riang gembira.


Aiden dan Alex geleng-geleng kepala melihat tingkah Luna.


"Kita mulai teror pertama heheheh," ucap Luna sambil menyeringai licik.


"Makin hari, Luna makin serem, kemampuan dan ketelitiannya makin tajam, wah anak anak mereka pasti bakal jadi orang jenius Bro!" Ucap Aiden sambil melirik Luna yang begitu serius dengan keripik dan penyadapan nya.


"Kau benar, " jawab Alex.


Sementara mereka melanjutkan pekerjaan mereka di kantornya, Bima sedang menatap foto dirinya dengan Clara, sekertaris cantik yang di depannya selalu tersenyum manis dan tidak neko-neko.


Pakain Clara pun selalu sopan dan tidak berlebihan, hal inilah yang membuat Bima jatuh cinta atau lebih tepatnya terobsesi dengan kelicikan Clara.


"Ummahh... Muachhh... Aku mencintaimu sayang, aku akan mengajakmu menikah, kita akan hidup bahagia bersama, kau adalah wanita yang tepat untuk mendampingi aku!" Ucap Bima sambil menciumi foto mereka.


Bima tidak curiga sama sekali dengan Clara, bahkan saat di jam kerja seperti ini, Clara memohon ijin keluar dari perusahaan karena ada klien yang meminta bertemu dan dia mengijinkan Clara keluar.


Tanpa dia ketahui, perlahan-lahan Clara mulai menghancurkan perusahaannya.


.


.


.


Like, vote dan komen 😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2