Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
130


__ADS_3

Gama dan Luna saling menatap,


"Hmmm iya kamu benar Din, dari review pelanggan banyak yang ragu untuk membeli barang kita, takut kena tipu katanya," jelas Luna.


"Oh iya Na, seminggu lalu aku lihat ada beberapa toko online yang malah mirip karya kita dan membuat label atas karya itu, sialnya pembeli jadi bilang kalau toko kita plagiat dan pencuri karya orang," kesal Ferdi.


"Ck....gimana ya hishhh kok bisa gini sih," gerutu Luna, dia menggaruk kepalanya bingung.


"hmmm.....kita dirikan Brand kita sendiri aja, jadi setiap barang yang akan kita pasarkan, nantinya akan punya merk sehingga memiliki hak cipta yang diatasnamakan merk kita, dengan demikian orang-orang akan tau mana yang asli dan yang palsu!" Usul Luna.


"Wah bener Luna, itu ide bagus na, tapi kita juga butuh banyak tenaga untuk perakitan barang-barang kita, karena gak mungkin kita cuma ngasih desain lama yang sebagian udah dicuri orang kan?" Ucap Andin.


"Hemmm, kamu benar Din, pemasukan kita bulan sebelumnya cukup tinggi, sepertinya akan cukup untuk menggaji karyawan baru, nanti aku yang cari sendiri karyawannya," ucap Luna.


"Untuk merk nanti kita pikirkan sama-sama, Pokoknya masing-masing harus memikirkan desain, ide dan apa saja yang perlu kita tambahkan untuk bisnis aksesoris kita ini!" Ujar Luna lagi yang dianggukkan oleh mereka berdua.


Gama memperhatikan perbincangan istrinya dan teman temannya itu, dia kembali kagum dengan istrinya yang selalu bisa memecahkan masalah dalam segala kondisi.


"Tapi mendirikan brand nggak segampang itu loh Luna," ucap Gama memotong pembicaraan mereka.


Andin, Luna dan Ferdi menatap ke arah Gama yang berdiri di dekat salah satu rak aksesoris.


"Iya aku tau, kami akan buat kerja sama pada beberapa perusahaan besar, yah meski sulit kenapa tidak di coba," ucap Luna.


"Lalu kalau tidak ada yang mau?" Tanya Gama balik.


"Ummm masih ada banyak jalan sayang, ingat kata pepatah seribu jalan ke Roma, sama dengan usaha ini, ada banyak cara agar usaha ini dilirik oleh investor investor besar, tentu kami harus bekerja lebih giat," ucap Luna dengan percaya diri.


Mendengar ucapan istrinya, Gama tersenyum, dia yakin istrinya ini pasti bisa membangun bisnis itu dengan baik.


Gama tidak mau menghalangi istrinya untuk berkarya, sebab ia tau kalau Luna adalah wanita yang cerdas dan bisa diandalkan, buktinya dia bisa bertahan hidup selama belasan tahun di kota orang tanpa mengenal siapa pun hingga akhirnya dia dikenal baik di tempat dia tinggal dulu.


Gama tidak ingin mengekang wanita kesayangannya itu, namun dia akan melindungi Luna dengan penjagaan super ketat mengingat kejadian terakhir yang menimpa Luna.


"Bagaimana kalau J.B Grup saja yang mensponsori kalian?" Tawar Gama.


"Wah benarkah? Ini penawaran bagus, kami akan memberikan proposal bisnis kami sayang," ucap Luna dengan senyum sumringah di wajahnya


"Kalian gak perlu proposal, kalian bisa langsung dapat kontrak dan menentukan merknya sekarang," ucap Gama.


"Ck....kalau semudah itu, maka karya kami tidak akan ada nilainya di mata perusahaan kalian sayang, kita harus mengikuti prosedur sesuai dengan peraturan bukan?" Ucap Luna menyatakan realita.


"Apa coba kata karyawanmu nanti kalau bisnis ini asal masuk saja tanpa mengikuti prosedur sesuai ketentuan, bagaimana kalau kami justru hanya akan membuat malu perusahaan, kan malah kamu yang kesusahan sayang," jelas Luna .


"Hmmm kau benar kalau begitu saya selaku presdir J.B grup akan menunggu proposal bisnis kalian nyonya Park!" Ucap Gama sambil menatap istrinya.


" Segera kami sampaikan tuan Park," balas Luna sambil menghormat dengan senyuman manisnya.


"Wow, kalian serasi sekali," celetuk Ferdi yang malah terkagum-kagum dengan pasangan itu sampai sampai mulutnya menganga.


Plukk

__ADS_1


"Tutup mulutmu, bau jengkol huhh," dengus Andin.


"Ck...aku tadi makan Pete bukan jengkol, ini haaahhhhhhh harum kan," ucap Ferdi sambil membuang nafasnya ke wajah Andin.


"Huwekkk, bau Pete Ferdiiiii, ihk kamu jorok ahhkk!!" Gerutu Andin sambil menutup hidungnya dan menjauh dari Ferdi.


"Haaahhh, ini harum loh Din haahhhh," Ferdi mengejar Andin yang berlari menjauh dari dirinya.


"Sana ahkk, bau Pete Ferdiiiii," gerutu Andin.


"Hahahah, kalian ini selalu saja berdebat," kekeh Luna, Gama juga ikut tersenyum dengan tingkah kocak mereka berdua.


"Andin, Fer kita tutup dulu hari ini, kita ke rumah sakit yuk," ajak Luna, yang langsung menghentikan perdebatan dua anak manusia itu.


"Oh....oke oke, kebetulan orderan lagi sepi," ucap Andin yang langsung berlari ke dekat Luna untuk menghindari Ferdi.


"Fer kamu sikat gigi dulu Gih, entar pasien di rumah sakitnya pada kabur gara gara ku bauukkkk!!" Ucap Andin yang bersembunyi di belakang tubuh Luna.


"Ck...iya iya," ketus Ferdi yang membuat Luna dan Andin terkikik geli.


"Emmm sayang, bisa tidak kami nanti mencari gedung untuk toko online ini?" Tanya Luna pada suaminya.


"Gedung? Ahhh aku punya gedung yang letaknya dekat dengan perusahaan, kurasa itu akan cocok dengan semua pekerjaan kalian ini," ucap Gama.


"Wah benarkah?" Tanya Luna dan dijawab anggukan oleh Gama.


"Baiklah tuan pemilik gedung, sepertinya kita harus membicarakan masalah sewa gedung ini juga heheh," ucap Luna.


"Nggak bisa gitu dong sayang namanya bisnis mana ada yang gratis, kamu ini ada ada aja," ucap Luna menolak usulan suaminya.


"Kali ini kau tidak bisa menolak nyonya Park, pakai gedung itu atau tidak sama sekali," ancam Gama.


Luna mencebikkan bibirnya kesal walaupun sebenarnya dia bersyukur tak perlu ribet cari gedung yang pas untuk semua karya karya mereka.


"Ya sudah ayo kita berangkat," ajak Gama.


"Nanti kalian boleh lihat lihat gedung barunya bersama Mark, gedung itu masih kosong, areanya juga cukup luas dan ada 6 lantai, kalau kalian nambah karyawan juga bakal muat banyak," jelas Gama.


"Wahhh oke sayang, Din ini PR besar buat kita, kalau begini aku semangat banget kerjanya!" Celetuk Luna sambil menggandeng tangan Andin.


"Tuan Gama hebat ya, gedongnya ada dimana mana, keren!" Celetuk Andin.


"Biasa aja Andin, dan jangan panggil aku tuan, aku bukan majikanmu," balas Gama.


"Lalu?" Tanya Andin balik.


"Panggil kakak, anggap aku kakakmu," ucap Gama.


"Baik tu...eh kak," ucap Andin merasa canggung.


"Cie yang senang punya kakak nieee," Goda Luna sambil mencolek pipi sahabatnya.

__ADS_1


"Heheh senang dong Luna sayang,eh kakak ipar dong ahahahahah," balas menggoda Luna.


"Hushhh,jangan panggil kakak ipar berasa aku tua banget," ketus Luna.


"Iya bawel," balas Andin.


Gama menatap mereka dengan tersenyum, kedua gadis ini kalau disatukan memang ada ada saja perdebatannya apalagi kalau sudah gabung dengan Ferdi makin kacau.


Luna, Ferdi, Andin dan Gama berangkat menuju rumah sakit dengan menggunakan mobil yang sama dan Gama sebagai supirnya.


Setelah mengantar mereka ke rumah sakit, Gama langsung berangkat menuju perusahaannya untuk menghadiri rapat penting bersama kliennya yang kini sedang di handel oleh Rendy.


Gama berjalan dengan santai memasuki gedung J.B Grup yang beberapa hari ini tak ia kunjungi setelah kejadian saat Luna hilang, dia sama sekali tidak mau menginjakkan kakinya di perusahaan.


"Selamat datang tuan!" Sambut Rendy bersama jajaran petinggi penting perusahaan itu.


Kedatangan Gama sontak menjadi pusat perhatian para karyawan, tentu saja karena Presdir mereka telah kembali seperti satu tahun yang lalu sebelum kecelakaan terjadi.


Wajah dingin dan penuh kharisma itu melenggang masuk ke dalam perusahaan miliknya.


Siapa saja yang melihatnya akan menunduk hormat pada pria itu.


Gama tiba di ruang rapat dimana kliennya sudah menunggu.


Kliennya menyambut kedatangan Gama dengan senyum sumringah karena mereka bisa bertemu langsung dengan Gamaliel Park pria muda kompeten yang memiliki bisnis dimana-mana.


Seorang pria paruh baya berusia sekitar 54 tahun-an, dua orang pria muda yang mewakili perusahaan asing, dan seorang perempuan cantik yang tampaknya adalah anak pria tua itu sebab kontur wajah mereka begitu mirip, menyambut kedatangan Gama.


"Maafkan atas keterlambatan saya tuan-tuan, nona," ucap Gama sambil duduk di kursi yang disediakan untuknya.


"Ahhh kami yang terlalu cepat tuan, kami terlalu bersemangat untuk kerja sama ini," ucap Pria tua itu.


"Baiklah tuan Frans, mari kita mulai rapatnya!" Ucap Gama dengan hormat.


Mereka melakukan rapat dengan tenang, presentasi bisnis dari ketiga perusahaan tersebut cukup menarik bagi Gama dan pasti akan memberikan keuntungan besar bagi J.B grup.


Namun ada sesuatu yang membuat Gama tidak nyaman, dia sedari tadi mengeraskan rahangnya sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.


Gadis yang ikut dalam presentasi itu dengan sengaja menundukkan badannya saat presentasi hingga mengekspos bagian dadanya di depan Gama, bahkan roknya tampak tidak layak pakai.


Perempuan itu terus menatap Gama seperti kucing kelaparan membuat Gana geram, ingin dia marah namun wajah Luna seketika terbayang dalam benaknya.


"Jangan marah marah sayang, hadapi dengan kepala dingin," kata kata yang terbayang di pikiran Gama membuatnya bisa sedikit meredam emosinya.


.


.


.


jangan lupa like vote dan komen 😉😉😊

__ADS_1


selow up ✌️✌️✌️✌️


__ADS_2