Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
146


__ADS_3

Gama menopang tubuh istrinya, dia juga syok dengan kabar ini.


"Sayang kemari, duduk dulu," ucap Gama sambil merangkul rubuh Luna.


"Anna....hiks hiks....sayang Anna, arhhh.... harusnya kutemani dia...Anna bagaimana ini sayang," tangis Luna langsung pecah saat itu juga, Gama memeluk tubuh istrinya dia sama khawatirnya dengan Luna.


"Husshh....kita harus kuat sayang, jangan khawatir aku akan mengurus hal ini," ucap Gama.


"Sayang aku mau melihat Anna,"ucap Luna sambil menghapus air matanya.


"Apa kami bisa melihatnya dok?" Tanya Luna pada dokter George.


"Bisa nyonya, nona Anna pasti membutuhkan kalian," ucap Dokter George.


"Terimakasih dok," ucap Luna.


Luna masuk ke dalam ruang perawatan Anna, dia berjalan sambil didampingi suaminya. Gama menggenggam tangan Luna dengan erat agar istrinya tidak syok.


Luna mendekati bed rest Anna, dia duduk di kursi di samping tempat tidur Anna sambil menggenggam tangan gadis itu.


"Erghh....kak...kak Luna," lirih Anna sambil membuka matanya saat merasa ada yang menyentuh tangannya.


"Anna kamu sudah bangun sayang? Mana yang sakit ? Jangan takut ya, kakak disini kamu harus tenang ya," ucap Luna sambil membelai kepala adiknya.


"Ann...kami disini sayang, jangan takut," ucap Gama berusa menyentuh kepala adiknya namun tiba-tiba ingatan Anna akan pelecehan yang dilakukan Harry terbayang di kepalanya.


Tiba-tiba tubuh Anna bergetar ketakutan,dia menangis histeris.


"Arhhh.. jangan....jangan...kak Luna...hiks hiks...jangan !!! Kak tolong Anna hiks hiks hiks," racau Anna sambil menangis histeris.


Gama dan Luna sangat terkejut,Anna mengalami trauma berat akibat kejadian itu. Gama segera menarik tangannya, dia sangat sedih saat adiknya tak mau disentuh olehnya.


"Sayang jangan memaksanya, sepertinya dia mengalami trauma," ucap Luna sambil memegang tangan suaminya yang terdiam kaku melihat adiknya begitu menderita.


"Siapa yang berani melakukan ini pada adikku!!!" Geram Gama.


"Anna tenang, itu kakakmu kak Gama, jangan takut," ucap Luna dengan pelan sambil mengusap lembut wajah Anna.


"Hiks...hiks...hiks...kak Gama, maafkan Anna, Anna gak bermaksud, Anna takut hiks hiks hiks," Anna menangis lagi, dia begitu syok dan ketakutan.


"Sssttt jangan menangis Anna, kamu yang kuat ya, kami ada disini jangan takut!" Ucap Luna sambil memeluk Anna dengan erat.


"Hikss....hiks...Anna takut kak," ucapnya lagi.


Begitu sakit hati Luna dan Gama saat melihat Anna mengalami trauma mendalam akibat kejadian itu, meski mereka belum tau kronologinya tapi Gama dan Luna bisa paham kalau Anna mengalami kekerasan melihat reaksi gadis itu.


"Anna jangan takut, Kami akan melindungi kamu," ucap Gama dia sangat ingin memeluk adiknya saat ini, namun dia menahan sebisa mungkin keinginannya agar Anna tidak histeris.


"Kak Ferdi dimana kak?" Tanya Anna setelah Luna melepaskan pelukannya.


"Kak Ferdi tadi pingsan, wajahnya pucat," ucap Luna.


"Kak Ferdi pasti kesakitan gara gara Anna kak, kak Ferdi...kak Ferdi Anna mau temuin kak Ferdi," Isak Anna sambil menggenggam tangan kakaknya.


"Nanti ya An, kamu harus istirahat dulu, nanti kakak bawa Kak Ferdi kesini," ucap Luna.


"Baik ka," ucap Anna mengangguk pelan.


Gama terus menatap Anna tanpa busa berbuat apa-apa, dia benar-benar sedih melihat adiknya seperti itu.


"An apa kamu gak mau dekat sama kakakmu?" Tanya Luna pada Anna sambil melirik Gama yang tampak sedih.

__ADS_1


"Emm...Anna, Anna..." Anna menggigit bibirnya, ia merasa ketakutan.


Gama menepuk pundak Luna, " sudah tak apa, kalian disini dulu supaya ku bereskan masalah ini, Anna kamu cepat sembuh ya sayang," ucap Gama sambil menatap adiknya dengan tatapan sayup, dia sangat sedih saat adiknya sendiri tak mau di sentuh olehnya.


"Kamu hati-hati sayang," ucap Luna sedangkan Anna hanya mengangguk pelan saja.


"Iya, aku pergi dulu sayang," ucap Gama setelah dia mengecup kening istrinya.


"Kamu jangan terlalu khawatir aku akan menangani ini," ucap Gama sambil menatap istrinya, Luna mengangguk paham.


Gama melangkahkan kakinya dengan penuh amarah, raut wajah pria itu menunjukkan kalau dia siap membunuh musuhnya saat ini.


"Jangan biarkan siapa pun keluar dari sekolah itu!" Titah Gama melalui ponselnya.


"Turunkan semua anak buah, kepung sekolah itu, aku akan membuat perhitungan pada bajingan yang telah melukai adikku!!" Ucap Gama pada Rendy asistennya sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobilnya.


Gama melajukan mobil menuju sekolah Anna. Dengan kecepatan secepat kilat dia menyalip mobil mobil di depannya membuat para pengemudi mengumpati pria itu.


Bruuummmm....brummm...brummmm


Hati Gama panas saat mendengar kalau Adiknya di perlakukan tidak senonoh, bahkan sampai tidak mau disentuh olehnya barang seujung jari pun.


"Mati kau hari ini bangsat!!" Ucap Gama yang sudah benar-benar marah.


Sementara itu di sekolah Anna, Aiden meletakkan dua buah kursi di tengah-tengah panggung dan menyeret Pak Subroto dan Harry untuk duduk di tengah panggung itu.


"Tak ada yang boleh merekam kejadian ini, jika kau berani maka hidupmu jadi taruhannya!!" Ancam Aiden .


Glekk


"Siapa mereka ini sebenarnya? Kenapa mereka sampai melakukan ini," para tamu undangan bergunjing, anak-anak sekolah yang ketakutan saling berpelukan.


Lapangan tampak kosong, tak ada yang berani bersaksi apalagi saat melihat tatapan kepala sekolah yang bersedia memakan mereka jika bertindak sedikit pun.


Tuk


Tuk


Tuk


Aiden mengetuk ngetukkan sepatunya ke lantai panggung, suasana hening dan mencekam, apalagi tiba-tiba semakin banyak pria misterius dengan pakaian serba hitam mengepung sekolah itu.


"Sekali lagi ku katakan, siapa pun yang tau dan pernah menjadi korban kedua bajingan ini silahkan maju ke depan!" Teriak Aiden dengan amarah yang membuncah.


Semuanya terdiam ketakutan, mereka takut dan tak berani bicara.


"Ck...jadi kalian mau kami bermain kasar, atau perlu kami pertontonkan aksi bejat pria ini agar tau siapa saja yang terlibat?" Ucap Alex dengan seringai di wajahnya.


"Setan, mereka ini setan!!" Teriak Pak Subroto.


Grepp


"Kau tidak diperbolehkan bicara Pak Subroto!" Ucap Aiden sambil menarik rambut Pak Subroto dengan kuat.


"Arghkh...siapa kalian bajingan, jika pemilik sekolah ini tau kalian membuat kekacauan disini maka habis sudah riwayat kalian!!!" Teriak Pak Subroto yang masih belum sadar dia melawan siapa.


"Hahahahahah, riwayatmu yang tamat!!" Ucap Aiden dengan tatapan mata pembunuhnya.


"Jadi apa kita putar saja videonya Lex?" Tanya Aiden karena melakukan hat lapangan masih kosong dan tak ada yang maju.


"Hmm...baiklah...kita...a..." Alex terhenti saat seorang gadis berkacamata berjalan ke tengah panggung sambil menundukkan kepalanya dan merem4s jari jarinya.

__ADS_1


"Ahhh.." Alex menatap gadis itu, membuat semua orang melihat siapa yang maju ke tengah.


"Baiklah sudah ada yang maju, " ucap Alex.


"Nona, apa kau tahu atau ...." Aiden berhenti saat gadis itu memotong ucapannya.


Gadis itu mengangkat kepalanya sambil menatap mereka dengan mata yang sudah menganak sungai, bahkan tubuhnya bergetar ketakutan namun dia beranikan untuk maju dan menatap mereka.


"SAYA KORBAN PELECEHAN ANAK PAK SUBROTO!!" gadis itu mengaku sambil menangis dan bergetar ketakutan membuat semua orang terkejut.


Aiden dan Alex saling menatap, mereka mengeraskan rahang mereka.


"Apa kau bilang!!" Teriak pak Subroto.


"Diam kau bajingan!" Ucap Aiden menahan Subroto.


"Nona, tenang lah kami akan mengurus ini untuk anda," ucap Alex agar gadis itu tidak panik.


"Apa cuma dia yang menjadi korban? Kalian semua berhak berbicara, tak perlu takut dengan pria bajingan ini, kami akan mengurusnya nanti, tapi...." Alex berhenti.


"Jika kalian tidak mengaku, maka kami terpaksa membongkar secara terang-terangan!" Ancam Alex.


Tak menunggu beberapa lama lapangan di penuhi oleh anak sekolah yang berani bersaksi baik sebagai korban maupun saksi kejadian itu.


"Silahkan memisahkan diri di sebelah kanan jika kalian adalah korban dan di sebelah kiri jika kalian adalah saksi," ucap Aiden.


Siswa berpencar, jumlah korban sebanyak 50 orang dan saksi 90 orang sedangkan yang lain tidak tau tentang kasus itu.


Para orang tua syok saat melihat anak anak mereka menjadi korban, bukan hanya perempuan yang menjadi korban, tetapi sebanyak 11 orang siswa laki-laki juga menjadi korban mereka.


Banyak yang histeris melihat ini, ingin mereka menyerang Pak Subroto dan Harry namun beruntung Gama dan Alex menurunkan anak buah mereka untuk menahan para orangtua dan kerabat agar tidak terjadi keributan dan menjaga agar penjahatnya tetap hidup untuk disiksa seumur hidup mereka.


"Mati kau bangsat!!" Teriak mereka.


"Arhhh....anakku, pantas saja dia berubah menjadi pendiam ternyata itu semua ulah kalian!!!" Teriak salah satu orang tua yang histeris.


Para siswa menangis melihat orang tua mereka yang menatap mereka tak percaya dengan apa yang dialami anak anaknya.


"Harap Tenang!" Ucap Alex.


Mereka semua diam dan menatap ke arah Alex, para orangtua yang syok masih menangis sambil menatap anak mereka.


Alex dan Aiden memijit pelipis mereka, ternyata masalah ini sangat kompleks, mereka pikir korbannya hanya sekitar belasan orang sesuai dengan yang terekam kamera CCTv, ternyata korbannya lebih dari itu.


Tap...


Tap...


Tap...


Terdengar langkah kaki seseorang melenggang masuk ke area pentas itu.


"Siapa bajingan yang melecehkan adikuu!!!" Teriak Gama dengan mata berapi-api sambil berjalan ke arah pentas, semua mata menatap ke arah pria itu.


.


.


.


like, vote dan komen 😊😊😊😉

__ADS_1


__ADS_2