Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
21


__ADS_3

"Aku akan menjamin kebahagiaanmu!"


-Gamaliel Park-


"Aku akan menjadi rumahmu untuk pulang,"


-Luna Christina-


...****************...


"Sudah selesai, sekarang tinggal salep dan plesternya,"


Dengan lembut Gama mengoleskan salep ke luka di kening Luna akibat benturan karena terjatuh tadi.


Mata mereka saling beradu, jantung mereka saling berpacu, saling menatap untuk sekian detik namun terasa waktu berjalan sangat lambat.


Perlahan tangan Gama mengelus wajah lembut Luna, bagaikan terhipnotis Luna mengangkat tangannya dan meletakkannya di wajah suaminya.


Dekat, semakin dekat, hembusan nafas keduanya terasa di kulit wajah mereka masing-masing.


Panas, berdebar, jantung ini terasa berpacu lebih kencang seratus kali lipat, gemuruh di hati terasa kala dua benda kenyal berwarna merah jambu itu saling bertautan, sensasi bak sengatan listrik memperdalam hasrat keduanya.


Sebuah ciuman yang diawali dengan kecupan manis semakin lama semakin panas dan penuh hasrat. Saling bertukar rasa diantara keduanya, gemuruh di dalam hati semakin membuncah.


Rasa bergelora yang tak pernah mereka rasakan bagaikan menggelitik hati mereka, nikmat terasa sangat nikmat.


Tiba-tiba......


"Luna, hey Luna!" panggil Gama.


"Sudah selesai, Lun, hello Luna?" Gama sedikit menggoyang bahu Luna agar ia tersadar dari lamunannya.


"Eh...i..iya ada apa?" tanya Luna tersadar dari lamunannya, wajahnya memerah bagai kepiting rebus dan jantungnya berdetak kencang. Luna menegakkan badannya dan mundur beberapa langkah dari posisinya.


"Aduh...kok pikiranmu jorok banget sih Lun, hisshhh ya ampun bego bego bego, ini gara-gara si Andin nih ngajakin nonton Drakor terus jadi kebanyakan halu kan," gumam Luna sambil memukul-mukul jidatnya.


"Kau kenapa? kenapa wajahmu memerah? keningnya jangan dipukul nanti plesternya lepas," ucap Gama yang heran dengan tingkah absurd gadis itu. Ia telah selesai memasang plester di kening Luna namun ia bingung dengan Luna yang malah melamun.


"Emm....eng..nggak kenapa-kenapa kok,Ekhmm makasih plesternya!" ucap Luna membalikan badannya lalu melanjutkan pekerjaannya yang tadi.


"Kau pasti berpikir yang aneh-aneh ya," goda Gama yang membuat Luna menatapnya sebentar lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.


"Idih sok tau, nggak ya, paling juga kamu yang mikir aneh-aneh," kilah Luna, padahal wajahnya sudah sangat memerah, jantungnya berdegup kencang.


"Ya sudah kalau nggak, aku ke depan dulu!" ucap Gama meninggalkan Luna sendirian di dapur.


Luna melirik Gama yang sudah keluar dari dapur, ia berjalan berjinjit mengikuti pria itu dan memastikan kalau Gama sudah keluar.


"Huffft....haaahhhh...,"


Luna menyandarkan tubuhnya di dinding dapur hingga merosot ke lantai. Luna menekuk kedua kakinya dan duduk di atas lantai.


"Arghkkkk kenapa aku jadi berpikiran mesum begitu sih, haishhh Andin awas kamu ya, ini virus dari dirimu! arghh malu malu malu banget...."

__ADS_1


Luna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menggeleng-gelengkan kepalanya seperti orang gila sampai tak sadar Gama sudah berada di hadapannya.


Gama meletakkan tangannya di kening Luna,


"Masih normal, apa isinya korslet ya," gumam Gama sambil memegang kening gadis itu.


Merasa ada yang memegang kepalanya, Luna mendongak dan melihat Gama kini sudah ada di hadapannya


"Situ kenapa sampai meringsut di lantai segala, mana geleng-geleng lagi kayak orang gila," ledek Gama sambil menarik tangannya dari kening Luna.


"Eh...ga..Gama, sejak kapan disitu?" Luna gugup, Ia bangkit berdiri lalu kembali ke wastafel.


"Baru saja, kupikir kau sudah tidak waras tadi," ledek Gama.


"Ck...ada apa kenapa kau kembali?" tanya Luna mengalihkan pembicaraan.


"Kotak obatnya ketinggalan tadi, ya udah aku ke depan dulu," jawab Gama Sambil membawa kotak obat yang ditinggalkannya tadi.


"Bodoh Luna hissshh..." gerutu Luna.


Sementara itu Gama di ruang depan tengah melamun. Ia kembali mengingat apa yang dibayangkannya tadi di dapur


"Haishh... kenapa otakmu jadi tidak waras Gama, bagaimana bisa kau membayangkan hal semacam itu?" ucap Gama merutuki dirinya sendiri.


Alasannya sama seperti Luna tadi, ia membayangkan sesuatu yang sebenarnya sah sah saja jika mereka lakukan toh mereka juga sudah jadi suami istri, hanya saja mungkin ini terlalu cepat.


Satu jam kemudian, Luna selesai membereskan dapur dan masakannya, sedangkan Gama selesai dengan semua aksesoris unik yang dia rakit dan rangkai menjadi barang yang bernilai seni tinggi.


Luna membawa makan siang mereka ke ruang santai, Luna biasanya memang makan di ruangan itu sambil menonton acara televisi kesukaannya atau sambil menonton drama Korea dari kaset yang diberikan oleh sahabatnya Andin.


Luna dan Gama menikmati makan siang mereka dengan hening tanpa ada pembicaraan apa pun. Setelah selesai, Luna kembali ke ruang santai dan duduk di sofa tepat di samping Gama.


"Jadi....jelaskan tentang yang tadi!" ucap Luna langsung pada inti pembicaraan, sejujurnya dia sudah sangat penasaran namun ditahannya sampai mereka menyelesaikan makan siang.


"Yang mana?" tanya Gama pura-pura tidak tahu.


"Ck....yang di barber shop tadi Gama," ketus Luna.


"Ohh....yang mana mau dijelasin?" tanya Gama lagi.


Kali ini Gama benar-benar berniat untuk menggoda gadis itu. Menurutnya wajah kesal Luna sangat menggemaskan.


"Gama....." geram Luna mulai kesal.


"Kamu ini ya bercanda melulu, bikin kesel deh!"


Luna mencebikkan bibirnya, ia sangat kesal karen dijahili terus oleh Gama.


"Hahahaha, iya iya dengar ya aku kasih tahu, Bima itu salah satu sahabat sekaligus rekan kerjaku kami sangat dekat sebenarnya tapi sejak kecelakaan itu, aku menghindar dari semua teman-temanku," jelas Gama.


"Hmmm, lalu kenapa dia takut dengan ancamanmu? memangnya pekerjaan mu apa sampai dia ketakutan begitu, dia kan super kaya masa takut sama kamu," tanya Luna lagi.


"Kalau aku bilang aku ini juga Presdir gimana?"

__ADS_1


Gama balik bertanya.


Luna menatap Gama sebentar, tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak.


"Bwahahahah......ehhei Gama jangan bicara omong kosong deh, masa iya kamu Presdir? Kalau mimpi malam hari dong jangan di siang bolong gini hahahah," celetuk Luna.


Gama merotasikan kedua bola matanya, firasatnya tepat pasti gadis itu tidak akan percaya padanya dan malah berakhir kena bully oleh istri sendiri.


"Hadeh...nasib nasib, dapat istri kok gini amat," batin Gama.


"Ya udah kalau gak percaya entar kamu juga lihat kok," balas Gama kesal lantaran Luna malah menertawainya.


"Pfthhh...iya iya terserah deh Pak Presdir hahahah,"


Luna tertawa cekikikan sambil memegangi perutnya, rasanya ia sangat puas bisa meledek suaminya itu.


"Ck....nyesel cerita sama kamu," ketus Gama.


"Ya elah ngambek hahahha, udah udah aku gak kuat, makanya mimpi jangan ketinggian pake bilang kamu Presdir segala lagi, haduh Gama Gama," tawa Luna sambil geleng-geleng kepala.


"Emangnya kamu gak mau punya suami kaya raya, Presdir lagi, tampan terus terkenal gitu?" tanya Gama.


"Emmm, gimana ya? menurut aku pribadi sih kalau semisal kita gak pernah ketemu, aku mungkin gak akan pernah menikah," ucap Luna.


"Kenapa gitu?" tanya Gama penasaran.


"Ya aku sadar mana ada yang mau sama cewek miskin, buntung pulak, terus gak punya asal usul yang jelas kayak aku, yah aku cukup tahu diri dan gak mengharap lebih," jelas Luna dengan santai tanpa ada beban, tak ada nada kesedihan dari suara gadis itu.


"Seandainya kita tidak menikah apa yang akan kamu lakukan sepanjang hidupmu?" tanya Gama lagi.


"Mmmm aku akan membuka toko aksesoris bersama adikku, jika tokonya sukses kami akan melakukan pengobatan untuk mengembalikan ingatan Yuna supaya dia bisa mengingat keluarganya, aku akan mendampinginya sampai dia menikah dan yah hidupku akan berlanjut," jelas Luna memaparkan rencana hidupnya.


"Apa kau tidak pernah jatuh cinta?" tanya Gama tiba-tiba.


"Hmmm, jatuh cinta? aku tidak yakin hanya saja aku menyukai anak lelaki di masa kecilku, waktu itu kakiku baru diamputasi karena mengalami kebusukan akibat luka bekas ikatan besi, aku sedang merakit aksesoris dan menggambar di taman rumah sakit tiba-tiba dia datang dan menemaniku, dia bahkan banyak tertawa hari itu padahal lengannya baru saja diijahit karena jatuh dari tangga saat di taman bermain, dia berjanji akan menemuiku jika sudah besar tapi dia tak pernah kembali," jelas Luna dengan wajah sedih.


"Apa kau masih mengharapkannya untuk datang?" tanya Gama.


"Hmmm....ya aku berharap dia datang, gambar yang kau lihat kemarin adalah miliknya, jika bertemu lagi aku hanya ingin mengucapkan terimakasih karena membuat masa kecilku berwarna meskipun hanya beberapa hari kami bersama, setelah itu dia pulang ke rumahnya di luar kota," jelas Luna lagi.


"Apa kau ingat namanya?" tanya Gama.


"Seingatku aku dulu memanggilnya iel, dia beberapa tahun lebih tua dariku,"


"Jika dia datang apa kau akan kembali padanya?" tanya Gama.


.


.


.


Like vote dan komen 😊😉

__ADS_1


__ADS_2