Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
141


__ADS_3

Luna dan yang lainnya kembali duduk di sofa, sementara Rose memulai tugasnya. Karena ini pertama Kalinya dia menyentuh tubuh seorang laki-laki dan dia cukup merasa canggung apalagi saat membantu membersihkan tubuh Ken.


Deg...


Deg...


Deg...


Jantungnya benar benar tak bisa dikontrol saat ini tapi sebisa mungkin dia menahan diri karena tak mau melakukan kesalahan di hari pertama dia bekerja.


Sementara itu di sisi ruangan itu,Luna meminta penjelasan dari Aiden dan yang lainnya.


"Kak kapan kalian pulang, kenapa gak bilang-bilang?" Tanya Luna.


"Biar surprise Luna, kita sebenarnya udah pulang dari kemarin malam naik penerbangan biasa supaya si kolot di sampingmu itu nggak tau," jelas Alex.


"Ck...jangan mengejekku pantat ayam," ketus Gama.


"Jangan berdebat dulu ihk, kalian kalau udah disatukan selalu saja berdebat dasar Om om kurang umur!" Ejek Luna.


"Hahahah, iya iya tante cerewet!" Balas Gama yang membuat Luna mendelik tajam.


"Apa masalah kalian sudah selesai disana?" Tanya Luna.


"Sudah kok na makanya kita bisa balik ke sini, oh iya Mama akan tinggal di Indonesia selama sebulan ini," ucap Aiden sambil merangkul Mamanya.


"Wah benarkah Aunty?" Tanya Luna dengan mata berbinar binar.


" Iya Luna, Aunty akan tinggal di rumah Aiden selama sebulan ini, entah apa rencana pria tampan ini," ucap Nyonya Maureer sambil mengelus kepala Aiden yang berada di bahunya.


Luna menatap iri pada Aiden, dia mengepalkan tangannya sambil mengulum bibirnya. Aksinya ini disaksikan oleh mereka.


"Ada apa na?" Tanya Bima sat melihat Luna terus menatap Aiden dan Mamanya.


"Ehh....ummmm...nggak ada apa-apa kak," elaknya.


Mereka saling memandang, ada yang aneh dengan gadis itu, mereka sudah hapal dengan sifat Luna.


"Ada apa sayang?" Tanya Gama sambil menggenggam tangan Luna.


"Ada apa dengan Luna?" Pikir mereka.


"Enggak ada apa-apa kok, kita makan yuk, Luna lapar!" Ucapnya sambil tersenyum.


Aiden, Bima, Alex dan Gama saling menatap mereka merasa aneh dengan gadis itu, tapi mereka tidak mau terlalu berpikir negatif.


"Kak Ken mau makan apa?" Tanya Luna menghampiri Ken yang sedang dibersihkan oleh Rose.


"Kamu yang pilih ya dek, kakak akan makan yang kamu pilih," ucap Ken.


"Baiklah, Kak Rose mau makan apa?" Tanya Luna pada Rose.


"Ehh...nggak usah repot-repot aku sudah makan tadi," ucapnya berbohong.


"Ck....kak jangan berbohong ahh,kalau belum makan bilang kak, jangan tunggu sekarat baru bilang lapar, kakak ini gimana sih emangnya ini jaman penjajahan, kakak juga butuh makan biar ada tenaga buat merawat kak Ken," gerutu Luna sambil mengerucutkan bibirnya dan mengerutkan wajahnya.


Ken menatap heran pada adiknya yang semakin cerewet itu.


"Eh...i..iya maaf Na kalau begitu kamu yang pilih menunya kakak bisa makan menu apa aja," ucap Rahel merasa tidak enak.


"Oke baiklah, ehh tapi kakak nggak ada alergi sesuatu kan?" Tanya Luna yang kini sudah tersenyum manis.


"Ngga ada, kakak gak ada alergi," jelas Rose.


"Baiklah," ucap Luna meninggalkan mereka disana.

__ADS_1


Rose membersihkan Ken dengan lembut dan telaten. Ken dapat merasakan sentuhan lembut dan tulus dari gadis itu, membuat jantung nya ikut berdebar seperti pertama kali dia melihat gadis itu.


Rose hanya membersihkan tubuh bagian atas Ken dan memasang pakaian baru,dia membantu Ken ke kamar kecil untuk mengganti celananya dengan infus yang masih terpasang di tangannya.


Setelah selesai dia membantu pria itu kembali ke tempat tidurnya.


"Apa anda pusing tuan?" Tanya Rose saat Ken terlihat oleng saat berjalan.


Ken mengangguk pelan, kepalanya kembali sakit seperti di tusuk tusuk meski tidak separah sebelumnya.


Tiba-tiba Ken berlari kembali ke kamar mandi...


Huweekkk....


Uhuukkk...


Huuweeekkk..


Ken mulai mual dan muntah lagi gejala yang harus dihadapi setiap hari meski durasinya mulai berkurang tetapi ini sangat menyiksa.


Bima, Alex, dan nyonya Maureer panik saat mendengar pria itu muntah-muntah, mereka langsung menghampiri mereka.


Luna, Gama dan Aiden sudah keluar bersama untuk membeli sarapan pagi untuk mereka semua karena Aiden dan yang lain sama sama belum makan sejak datang ke rumah sakit.


"Ada apa dengannya?" Tanya Bima panik, dia langsung mengambil alih tabung infus Ken dari tangan Rose.


Rose yang sedang menepuk punggung Ken terkejut melihat mereka sudah berkumpul di dekat kamar mandi.


"Tuan Ken mual dan muntah tuan, bisakah saya minta tolong ambilkan handuk kering tuan," pinta Rose.


"Sebentar ku ambilkan, apalagi yang kau butuhkan!" Ucap Alex yang sudah bergerak cepat.


Nyonya Maureer membantu memijit tengkuk Ken perlahan agar tegang di lehernya berkurang sedangkan Bima memposisikan botol infusnya agar tetap mengalir dengan benar.


Huweekkk....


Huweekkk


Ken terus mengeluarkan cairan bening dari perutnya sebab ia masih belum makan dan perutnya kosong.


Pukk...pukkk....pukkk


Rose terus menepuk-nepuk punggung pria itu dia menopang Ken dengan tubuh kecilnya namun dia cukup kuat.


"Sudah tuan?" Tanya Rose lembut, Ken mengangguk pelan setelah ia benar-benar berhenti muntah.


"Ayo bawa dia ke ranjang," ucap nyonya Maureer.


"Aunty bisa pegang ini sebentar," ucap Bima menyerahkan botol infus itu pada Nyonya Maureer.


Bima langsung mengangkat sahabatnya itu menuju tempat tidur dan membaringkan dengan lembut disana. Mereka semua bekerja sama merawat Ken dengan telaten dan penuh perhatian.


"Ini handuk dan air hangatnya!" Ucap Alex yang sudah datang dengan bakul berisi air dan handuk.


Rose mengambil handuk itu dan memeras lalu menempelkannya di atas perut Ken.


"Tuan, apa boleh saya minta tolong lagi?" Tanya Rose.


"Katakanlah!" Ucap Alex.


"Tolong minta pada suster karet penyimpan air hangat, itu akan lebih efektif, kita bisa menempelkan benda itu di perut tuan Ken agar dia tidak kedinginan setelah handuk ini di lepas," ucap Rose.


"Ahh baik, akan ku Carikan!" Ucap Alex yang langsung berlari keluar.


Nyonya Maureer memijit kening Ken seperti seorang Ibu, dia melakukannya dengan perlahan dan penuh perhatian agar Ken tenang dan hasilnya Ken memang tenang.

__ADS_1


"Ini minum dulu," ucap Bima sambil membantu Ken minum.


Ken meminum air hangat itu, rasa mual dan pentingnya sedikit berkurang dan mulai membaik.


Tak beberapa lama, Alex datang dengan karet berisi air hangat yang sudah diisi langsung.


"Ini karetnya," ucap Alex.


Rose mengambil handuk kering lalu mengelap perut Ken dengan handuk kering agar tidak basah. Dia mengambil buli buli air hangat itu lalu meletakkannya di atas perut Ken.


Perlahan keadaan Ken membaik setelah ditangani beramai-ramai oleh mereka.


"Terimakasih semuanya," ucap Ken lirih, dia terharu, sedih sekaligus senang karena memiliki sahabat dan orang-orang seperti mereka di sisinya.


"Tenanglah nak," ucap Nyonya Maureer.


"Rose apa kita tak perlu memanggil dokter?" Tanya Bima.


"Sepertinya tidak tuan, kita menunggu makan pagi dulu setelah itu konsultasi dengan dokter," ucap Rose.


"Untuk pasien meningitis, hal ini sudah biasa terjadi dan kita tidak perlu terlalu khawatir selama perawatan dilakukan dengan intensif," jelas Rose.


Mereka mengangguk mengerti.


"Tapi darimana kamu tau?" Tanya Bima.


"Ahh....saya sebenarnya mantan perawat tuan," ucap Rose.


"Ahhh.....pantas saja," gumam mereka.


"Pantas apanya?" Tanya Nyonya Maureer.


"Luna memilih orang yang tepat Aunty, kami sebenarnya sempat heran kenapa Luna memilih Rose, ternyata ini alasannya," jelas Alex.


"Tapi Luna belum tau tentang masa lalu saya tuan," ucap Rose.


"Kau belum mengenal Luna dengan baik Rose, lihat lah ke depannya kau akan menemukan kejutan besar dari gadis itu," ucap Bima yang dianggukkan oleh Ken dan Alex.


Rose dan Nyonya Maureer terdiam, menurut mereka Luna memang orang yang unik.


Sementara itu di sisi lain di sekolah Internasional Jakarta, tampak sekolah itu sedang heboh dan ramai karena seorang pria yang tampan dan kharismatik datang sebagai tamu di acara pentas seni itu.


Anna dengan bangga menggandeng tangan Ferdi memasuki area sekolah, halaman sudah ramai dan panggung sudah dipasang.


Semua mata tertuju pada Ferdi dan Anna yang tampak sangat serasi,Anna si gadis cantik tapi dingin dan Ferdi si pria tampan kharismatik.


"An, apa penampilan kakak aneh, kenapa mereka melihat kakak sampai sebegitu nya?" Bisik Ferdi pada Anna.


"Hahahah,itu karena kakak tampan!" Bisik Anna.


"Ahh jangan mengada ada deh, " ucap Ferdi.


"Sudah percaya diri aja kak!" Ucap Anna .




.


.


.


Jangan lupa, like vote dan komen 😉😉😊

__ADS_1


__ADS_2