Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
106


__ADS_3


Sebuah Buggati Chiron berwarna biru dengan kisaran harga Rp.40 M parkir di halaman High school internasional Jakarta.


Mobil ini lantas menjadi sorotan sebab hanya orang orang Kaya yang mampu memiliki mobil mewah ini.


Anna yang masih berusia 14 tahun dimasukkan ke kelas akselerasi setelah mengikuti ujian dan berhasil mengalahkan ribuan siswa berprestasi lainnya.


kecerdasan gadis kecil itu bukan main-main, dia hebat dalam hal akademik maupun non-akademik. Sela


Gama, Luna dan Anna keluar dari dalam mobil membuat semua mata tertuju pada mereka. Gama yang tampan sempurna dan Luna yang cantik natural tidak berlebihan dan bisa terbilang sangat sederhana tapi mampu menghipnotis banyak mata para siswa bahkan guru yang sudah tiba di sekolah itu.


"Ayo kak, Anna tunjukin kelas Anna, asal kalian tau guru guru Anna baik semua loh, Anna juga punya banyak teman, senang banget bisa sekolah disini," seru Anna sambil menggandeng lengan Luna dan Gam di masing-masing sisi tubuhnya.


Gama dan Luna saling menatap, mereka juga turut bahagia jika gadis kecil itu merasa nyaman.


"Kamu yang rajin belajarnya, jangan banyak gaya gayaan, kamu boleh ikuti perkembangan teknologi, tapi jangan sampai kamu diatur oleh teknologi," nasehat Luna sambil mereka berjalan menuju kelas Luna.


"Siap kakak ipar!" seru Anna.


"Dan jangan jadi orang yang tinggi hati, kamu harus tetap merendah, selalu berhikmat dalam segala hal, dan kamu gak perlu mengumbar umbar kelebihan kamu dan apa pun yang kamu miliki ke orang lain,"


"Kamu harus banyak bersyukur buat semua yang Tuhan limpahkan pada kamu, kecantikan fisik dan juga kecantikan hati, kecerdasan, kebijakan dan banyak hal lainnya kamu harus bisa bersyukur dengan semua itu,"


"Banyak orang di luar sana yang menginginkan posisi kamu, mereka bahkan tidak bisa sekolah di tempat senyaman ini, bahkan ada yang tak bisa bersekolah hanya melihat dari jendela kamar menatap orang-orang yang pergi sekolah, kamu harus bisa bersyukur dengan apa yang kamu miliki saat ini ya Na," ucap Luna sembari mengelus kepala adiknya dengan sayang.


Anna berhenti dan menahan kedua kakaknya, dia menatap haru pada Luna.


Grepp


Anna memeluk Luna dnegan erat, tak terasa air matanya tumpah begitu saja dengan semua ucapan Luna. Bahkan Gama terdiam dengan ucapan Luna yang sangat menyentuh perasaannya.


"Terimakasih selalu mengingatkan Anna kak, terimakasih sudah menjadi sosok kakak, sahabat dan Ibu bagi Anna, Anna sayang sama kakak hiks hiks hiks," Anna menangis terharu sambil memeluk Luna dengan erat.


Luna membalas pelukan Anna sambil menepuk pundak gadis itu. Gama sendiri merasa tertampar dengan ucapan Luna. Selama ini dia sering hidup tanpa mengucap syukur dengan segala yang telah Tuhan berikan, bahkan kita sendiri pun sering merasa bahwa Tuhan itu tidak adil dengan hidup kita.


Sering kali kita menuntut ini itu, selalu tidak puas dengan apa yang ada pada hidup kita. Padahal di luar sana banyak orang-orang yang menginginkan posisi kita yang masih bisa tidur dengan nyenyak di atas kasur, makan sehari tiga kali, bersekolah, punya atap untuk berteduh.


Banyak anak-anak terlantar di luar sana yang di buang oleh orangtuanya, yang ditinggal oleh orang tuanya, tersiksa, harus mengemis remah remah roti dari sisa makan orang, mengais di tempat sampah padahal seharusnya dia menikmati masa kecilnya dengan bermain dan bersekolah.


Menghabiskan waktu bersama orang tua dan sebagainya, namun surat takdir setiap orang berbeda. Apa pun yang kita alami, seberat apa pun masalah jangan pernah lupakan Tuhanmu entah apa pun agamamu, kepercayaanmu, jangan pernah lupakan Dia yang selalu menjaga dan melindungimu.


Gama sadar dengan kenyataan ini, jika sebelumnya dia tidak menerima dirinya yang lumpuh padahal istrinya yang kalinya buntung saja mempunyai semangat hidup yang berkali lipat.


Satu kesalahan telah disadari maka akan membuka pada kebahagiaan selanjutnya.


"Sudah kok jadi melankolis begini sih, ayo masuk tunjukin kelas kamu!" seru Luna sambil mengusap pipi adiknya.


"Heheh, aku terrrhuuuuraaaa, hhehehe," Anna terkekeh, dia masih bergelayut manja di lengan kakak iparnya.

__ADS_1


"Sungguh aku bersyukur kepada Tuhan karena sudah mengirimkan wanita hebat ini dalam kehidupanku, " batin Gama sambil menatap Luna dan Anna.


"Ayo!" seru Luna.


Mereka bertiga berjalan menuju kelas Anna. Dengan bangga Anna membawa kedua kakak kebanggaannya.


"ini kelas Anna kak!" seru Anna menunjukkan ruangan kelasnya.


Gama merangkul Luna sambil masuk ke dalam ruangan kelas itu. Beberapa siswa yang juga sudah tiba menyapa mereka dengan hormat, anak-anak di sekolah ini benar benar diajari tata Krama dengan baik.


"Halo tuan, nona!" sapa mereka.


"Hai, kalian teman teman Anna ya!" sapa Luna sambil tersenyum lembut.


"Iya nona," jawab mereka.


"Semangat ya kalau begitu kami permisi," ucap Luna yang dianggukkan oleh mereka.


"Kami pergi dulu ya Na,kamu yang rajin belajarnya,"ucap Luna.


"Kami pergi ya sayang, kalau ada apa-apa hubungi kakak," ucap Gama sambil menepuk kepala adiknya dengan lembut.


Luna dan Gama keluar dari sekolah itu, mereka melaju menuju perusahaan setelah mengantar Anna ke sekolah.


"Emmm....apa kamu ngerasa ada sesuatu dengan sekolah Anna tadi?" tanya Luna tiba-tiba.


Gama memalingkan wajahnya pada Luna sebentar lalu kembali fokus pada jalanan.


" Sepertinya ada yang mengawasi Luna disana, ada beberapa orang yang terlihat seperti mengawasinya tadi, apa itu orang suruhanmu?"tanya Luna.


"Aku punya beberapa suruhan memang, dan tadi ada dua di dalam kelas itu, siswa yang menyapa kita tadi," ucap Gama.


"Hmmm, bukan mereka, ada sekitar beberapa orang yang terlihat seperti mengawasinya, aku takut dia kenapa-kenapa apa yang harus kita lakukan?" ucap Luna.


"Aku akan mencari tahu tentang ini, jika mereka memang mencurigakan akan langsung dieksekusi," ucap Gama mengeraskan rahangnya.


Siapa kira kira yang mengincar adiknya pikirannya.


"Emmm sayang, kemarin aku melihat seseorang yang mungkin akan membuatmu marah," ucap Luna, Gama masih mendengarkan.


"Aku melihat Alex!" ucap Luna.


Ckiiiittttttt


Gama tiba tiba mengerem mobilnya


Brukk kepala Luna terbentur ke dashboard mobil, reflek Gama menarik Luna dan langsung memeriksa keadaan gadis itu.


"Awhhh....shhh......" Luna meringis kesakitan, dahinya sedikit memar.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang, astaga dahimu memar," ucap Gama panik.


"Sudah tak apa, kau harus mengendalikan emosimu yang tidak stabil itu, kau bisa membahayakan orang orang di dekatmu, bagaimana kalau tadi kamu menabrak orang bisa berabe urusannya!" ketus Luna sambil mengelus dahinya.


"Baru mendengar namanya saja kau sudah seperti itu, apalagi bertemu dengannya kau mungkin membunuh orang di dekatmu!" ketus gadis itu.


Gama terdiam, dia memang sangat marah hanya mendengar naman itu disebutkan.


"Maaf," ucap Gama datar.


Ia menyalakan mobil nya dan tidak membahas apa pun lagi. Luna terdiam, ia merasa sedih melihat suaminya menjadi dingin seperti itu.


Ingin ia melanjutkan perkataannya tapi rasanya sangat berat mengeluarkan suaranya apalagi dengan aura dingin Gama yang kembali lagi seperti pertama mereka bertemu.


Jantung Luna berpacu kencang, dia tidak suka didiamkan.


Sepanjang perjalanan Gama hanya diam saja, wajahnya datar dan dingin. Gama keluar dari dalam mobil tanpa membukakan pintu untuk Luna seperti biasa ia lakukan.


Luna terdiam, rasanya sesak, ingin dia menangis saat ini.


"Kau kembali lagi, hatiku sakit melihatmu begini," lirih Luna dalam hatinya.


Gama berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu istrinya, entah apa yang merasuki pria itu sekarang.


Luna berusaha mengejar Gama namun kakinya terasa sakit, dia tidak bisa banyak berlari. Gama jauh di depannya, ia melihat Laura dengan seringai jahat menggandeng Gama tanpa tau malu.


Gama tidak menolak dan malah terus berjalan seperti kehilangan nyawanya.


Deghh


Luna terdiam menatap punggung Gama yang menghilang di balik pintu lift bersama Laura. Banyak karyawan yang menyaksikan itu, Mereka jadi percaya dengan semua rumor yang disebarkan oleh Laura selama ini.


Luna berhenti, dia memegang dadanya yang terasa sakit, jantungnya berdegup kencang hancur sudah hatinya melihat Gama mengabaikannya begitu saja hanya karena menyinggung nama pria itu.


Air mata Luna bercucuran, ia berlari dengan terseok-seok keluar dari perusahaan itu, hatinya sakit didiamkan oleh Gama seperti ini.


"hiks hiks hiks, ini yang kutakutkan, jika aku memberi tahukan padamu maka kau akan marah tapi jika tidak kuberitahukan kau pasti marah juga," lirih Luna sambil memegang dadanya yang terasa sangat sesak.


Tiba-tiba semuanya gelap, Luna tak dapat melihat apa-apa, dia kehilangan kesadarannya.


.


.


.


Please jangan lupakan Likenya, kalau ada yang ketinggalan tolong di-like kembali ya 😭😭😭😭


Gama Bodoh ahhhh😭😭😭😭😭

__ADS_1


Reader kita senam jantung dulu ya, 🤣🤣peace


Jangan demo author hahahha


__ADS_2