
Di dalam ruangan itu hanya ada Luna dan Nyonya Maureer. Wanita mendekati Luna yang sedang menangis tersedu-sedu. Perlahan Nyonya Maureer menggenggam tangan Luna dengan lembut.
"Hey perempuan cantik, kenapa kau bersedih hati? Nanti babymu juga ikut sedih loh, ada apa? Apakah ada sesuatu yang kamu inginkan?" Tanya nyonya Maureer lembut.
"Hiks hiks hiks, ma... maafkan Luna aunty, Luna hanya rindu mama Luna, maaf karena telah mengganggu acara makan pagi kita, " tangis Luna tersedu-sedu.
Nyonya Maureer tersenyum lembut, dia memeluk Luna yang memang sangat sensitif di masa kehamilannya ini.
"Kemarilah peluk aunty, perempuan cantik nggak boleh nangis, jangan sedih, Mama kamu sudah tenang di alam sana, kalau kamu butuh sandaran butuh teman untuk curhat kamu boleh datangin aunty, kamu boleh menganggap Aunty sebagai teman kamu sahabat kamu atau kamu anggap sebagai Mama kamu juga boleh, jangan bersedih hati kami menyayangimu Luna," ucap Nyonya Maureer sambil mengelus pundak Luna.
Luna memeluk nyonya Maurer dengan sangat erat, dia dapat merasakan lembutnya pelukan seorang ibu dari nyonya Maureer. Luna masih terisak namun perlahan-lahan Isak tangisnya mulai mereda.
"Terima kasih aunty, ummm... Luna ada permintaan.... Bolehkah aunty mengabulkannya?" Tanya Luna sambil melepas pelukannya dan menatap nyonya Maurer dengan mata sembabnya.
Nyonya Maureer mengelus wajah Luna dan mengusap air mata perempuan itu,
"Katakanlah Apa keinginanmu, sebisa mungkin nanti aku akan memenuhinya untuk kamu," ucap Nyonya Maureer sambil tersenyum lembut.
Luna menggigit kecil jarinya, dia merasa gugup untuk menyampaikan permintaan nya.
Menyadari hal itu nyonya Maurer menggenggam tangan Luna agar Gadis itu tenang.
"Katakanlah jangan ragu," seru nya.
"Ummm...maukah Aunty menjadi mamanya Luna? Emm.... Ka..kalau ti.. tidak boleh nggak apa apa kok," ucap Luna, namun matanya tak bisa bohong dia mengharapkan Nyonya Maureer menerima permintaannya.
Nyonya Maureer tersenyum, dia memeluk Luna dengan lembut menyalurkan kasih sayang seorang ibu kepada Luna.
"Siapa yang akan menolak jika gadis cantik seperti kamu meminta hal itu? " Ucapnya.
Luna menatap Nyonya Maureer dengan mata berbinar-binar.
"Ja..jadi Aunty mau?" Ucap Luna.
Nyonya Maureer mengangguk pelan.
"YESS!!" Seru Luna kegirangan.
"Mulai hari ini mama kan jadi mamanya luna, sekarang dan sampai selamanya terima kasih Ma, hiks hiks hiks," ucap Luna sambil menangis haru.
"Lho kenapa nangis lagi na? Anak manis jangan nangis dong nanti mama juga nangis," ucap Nyonya Maureer.
Luna tersenyum, dia memeluk Nyonya Maureer, moodnya benar-benar mudah berubah.
"Heheheh, terimakasih Ma," ucap Luna.
"Sudah Jangan menangis Lagi ayo kita keluar mereka semua sudah menunggu, asal kau tahu Kakak Kakak mu itu sangat mengkhawatirkan dirimu," ucap Nyonya Maureer.
"Kamu cengeng sekali," ledek Nyonya Maureer sambil mencubit gemas kedua pipi Luna.
__ADS_1
"Heheheh, Luna juga bingung kenapa Luna semakin sensitif," ucapnya.
"Itu hal wajar yang dialami oleh ibu hamil, apalagi Kamu hamil anak kembar" ucap Nyonya Maureer.
"Mama benar," balas Luna.
"Sudahlah ayo kita keluar kalian pasti sudah lapar," ajak Nyonya Maureer yang dianggukkan oleh Luna.
Nyonya Maureer menggenggam tangan Luna seperti seorang Ibu yang menjaga erat anak perempuannya dan menemani anaknya di masa kehamilan.
Luna bergelayut manja di lengan nyonya Maureer, dia sudah melupakan kesedihannya.
Mereka keluar dari dalam kamar dengan senyuman sumringah di wajah mereka. Saat membuka pintu tampak Gama dan yang lainnya sudah menunggu mereka di depan pintu kamar.
"Sayang, kamu baik-baik saja? Apa kamu masih sedih?" Tanya Gama yang langsung menghampiri istrinya.
Luna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, dia memeluk lengan Nyonya Maureer. Melihat Luna kembali tersenyum seketika mereka semua bisa bernafas lega.
"Syukurlah kamu baik-baik saja Kakak jadi merasa bersalah, maaf ya Luna," ucap Aiden.
"Maaf juga untuk kalian semua," ucapnya pada yang lainnya.
"Maaf untuk apa Aiden??" Tanya mereka serentak.
"Maaf karena emm... Aku tau kalau kalian juga tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu, aku... Terlalu berlebihan," ucap Aiden sambil menggaruk kepalanya.
Aiden menatap heran kepada mereka semua. Pria tampan ini mengerutkan keningnya menatap teman-temannya yang menertawai dirinya.
"Ck... Haishhh susah payah aku untuk menyusun kata-kata untuk meminta maaf kepada kalian tapi hasilnya?? Kalian malah menertawai aku ? Haahh.... Dasar teman teman laknat!" Ketus Aiden dengan wajah kesal.
"Ck... Ck.. ck.. Aiden, siapa bilang kami tidak punya Ibu," ucap mereka dengan tatapan meledek pada Aiden.
"Maksudnya?" Tanya Aiden bingung.
"Nyonya cantik itu Ibu kami wleekkk," ledekk mereka sambil membawa Nyonya Maureer meninggal Aiden sendirian disana.
Plukk
"Yang sabar ya bro, sepertinya Mama cantikmu tidak akan memperhatikan dirimu lagi, sebab dia punya banyak anak yang harus diurus," ucap Bima sambil menepuk pundak Aiden yang terdiam.
"Hahahahahahah, " mereka semua tertawa, Nyonya Maurer merasa senang karena di terima di keluarga itu, bukan masalah baginya jika mereka menganggap dirinya sebagai Ibu mereka, justru dia akan sangat senang.
Aiden terbujur kaku menatap Mama cantiknya dibawa sahabat-sahabatnya.
Plakkk
"Awhhh sakit," ucap Aiden tepat setelah menampar wajahnya sendiri.
"Aku tidak mimpi Arhhhhh Maaaaamaaaaa....."teriak Aiden histeris saat menyadari apa yang terjadi, kalau Mamanya sudah di bawa sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
"Woiiii..... Emak gue mau di bawa kemana woiii, !!!" Teriak Aiden mengejar mereka yang berjalan menuju ruang makan.
Mereka semua tertawa mendengar teriakan Aiden. Sungguh keluarga ini benar-benar harmonis, rumah besar keluarga Park selalu ramai apalagi jika mereka berkumpul seperti ini.
Setelah Makan pagi yang penuh dengan canda tawa apalagi ada Aiden dan Luna yang selera humornya sama, mereka melanjutkan aktivitas mereka sebagaimana biasanya.
Ken, Aiden, Bima dan Alex berangkat menuju perusahaan mereka masing-masing, tak lupa Aiden membawa Mamanya, dia ingin menunjukkan hasil kerja keras nya selama ini pada sang Mama. Rose akan tinggal di rumah besar Park sebagai perawat Luna selama masa kehamilannya.
Selain itu Rose juga akan diajak bekerja di toko aksesoris karena Luna akan banyak menghabiskan waktunya disana, sebagai kekasih sebenarnya Ken tidak ingin Rose bekerja tetapi gadis itu ingin tetap melanjutkan pekerjaannya karena menurutnya itu akan menyenangkan.
Meski demikian, Ken akan mengantar Rose menuju toko aksesoris adiknya tentunya mengambil kesempatan untuk berduaan.
Anna di antar oleh Ferdi ke sekolah, gadis itu memang sudah mulai masuk sekolah hanya saja dia di pindahkan ke sekolah khusus perempuan atas permintaan Anna sendiri karena Ferdi tidak bisa terus mendampinginya.
Andin berangkat bersama kekasihnya Mark. Sedangkan Gama tentu saja berangkat bersama istri tercintanya.
"Mark tolong handel rapat bersama kak Rendy, aku akan menemani Luna sebentar," pesan Gama pada Asistennya.
"Baik tuan!" Jawab Mark seperti biasanya lalu segera beranjak menuju mobil yang akan membawa dirinya bersama Andin.
"Kita mau kemana sayang?" Tanya Luna penasaran, dia sedang duduk di atas sofa dengan permen lollipop di tangannya, sejak hamil Luna suka sekali makan makanan yang punya rasa yang kuat.
"Kita ke taman bermain, kamu mau kan?" Tanya Gama sambil menghampiri istrinya.
Mendengar kata taman bermain, mata Luna langsung berbinar-binar, dia langsung berdiri dengan penuh semangat sambil memasukkan permennya ke dalam mulutnya.
"Dari mana kamu tahu aku ingin ke taman bermain sayang?" Tanya Luna.
"Tentu saja aku tahu apa yang kamu inginkan sayang, ayo!" Ucap Gama sambil menggandeng tangan istrinya.
Mereka semua pergi dari rumah besar keluarga Park. Para pelayan menatap kepergian tuan mereka sambil tersenyum bahagia.
"Bi Eni,tuan kita sudah benar-benar berubah ya, bahkan beliau lebih ramah dibanding dulu," ucap salah satu pelayan yang berdiri di samping di ini sambil memandang kepergian majikan mereka.
Bi Eni mengangguk pelan, air matanya menetes melihat majikannya sudah kembali normal.
"Hiks hiks hiks, akhirnya rumah ini tidak seseram kuburan, huh aku sungguh terharu," ucap Bi Eni dengan gaya centilnya.
"Hahahhaha, satu-satunya yang tidak berubah di rumah ini adalah Bi Eni yang tetap Centil hahahaha," ledek para pelayan yang membuat Bi Eni mengerucutkan bibirnya.
"Ck..sudah sana, lanjutkan pekerjaan kalian," ketus Bi Eni.
.
.
.
jangan lupa like, vote dan komen 😉😉😉
__ADS_1