Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
188 Tantangan


__ADS_3

Alex menemui yang lainnya di ruangan khusus untuk mereka. Dengan wajah muram Alex masuk ke dalam ruangan itu dimana sahabat-sahabat rasa keluarga sudah berkumpul disana.


Luna duduk di samping Gama, Andin duduk bersama Anna dan Mikha dan yang lain mengambil tempat mereka masing-masing.


Mereka tidak lagi memakai pakaian pesta sebab tadi Aiden sudah membawakan pakaian untuk mereka.


"Ada apa Lex?" tanya Gama.


"Ada sesuatu yang mencurigakan dengan kematian neneknya Rose, dokter tadi pun mengatakan hal yang sama, kalau nenek mati dengan cara yang tidak wajar" jelasnya sambil duduk di sofa tepat di samping Aiden dan Bima.


"Kalau begitu harus segera kita selidiki kak!" ucap Luna.


"Tenang dulu Luna, serahkan masalah ini pada kami, kamu istirahat saja, jangan sampai kamu juga sakit karena terlalu banyak pikiran," ucap Bima.


"Bima benar sayang, kamu harus banyak Istri," ucap Gama memberi pengertian pada istrinya.


"Tapi kan aku ingin membantu," ucap Luna.


"Ck... Na perutmu sudah buncit begitu mana jalan kayak pinguin lagi, kami gak tega lihat kamu banyak gerak dek, kalau kenapa-kenapa gimana? kami gak mau ya kalau kamu dan baby twins sampai dalam keadaan bahaya!" ketus Aiden sambil melemparkan tatapan kesal pada Luna.


"Mereka benar Na, kamu harus rileks gak boleh banyak mikir yang nggak nggak, " ucap Andin memberi pengertian pada sahabatnya.


"Ck .. iya iya dasar bawel, awas saja ya kalau masalahnya gak kelar kelar kusuruh kalian jadi badut seharian di taman hiburan, Kita lihat aja kalau sampai dalam enam hari masalahnya gak kelar juga siap siap jadi badut!" ancam Luna dengan sorot mata tegas.


"Aku gak ikut kan sayang," ucap Gama.


"Termasuk kamu juga, kecuali, Anna, kak Mikha, Andin dan Ferdi sama kak Ken, sisanya akan kena hukuman!!" ketus ibu hamil yang kembali ke mode cerewet dan galaknya itu.


"Kalau sampai gak kelar juga! hmmm siap siap menerima hukuman!" ketus Luna sambil mengangkat tinjunya ke udara.


Glekk


Ibu hamil di depan mereka itu auranya malah lebih berkali kali lipat menyeramkan dibandingkan dengan dulu. Dulu saja dia sudah seram apalagi sekarang.


"Astaga Luna kalau udah ngamuk gini nih, keluar mode emak emaknya," gumam Aiden.


"Kedengaran kak den, kalau mau ngeluh keluar sana!" ketus Luna.


"Idih dasar emak emak tukang omel!" ledek Aiden.


"idih dasar Abang Abang sok kegantengan!" ketus Luna.


"Hadehhh... sebenarnya kita ini sedang berduka atau sedang dalam acara debat sih? dua manusia tengil ini gak akan pernah berhenti," ucap Bima sambil geleng-geleng kepala.


"Sudahlah kalian semua beristirahatlah, besok acara pemakaman nenek, mungkin keluarga Rose juga akan datang kita harus bersiap melindungi nya aku yakin mereka akan melakukan berbagai cara untuk mengganggu gadis itu lagi," ucap Alex.


"Kakak benar, tapi aku mau nemanin kak Rose, mereka kok belum balik juga?" ucap Luna khawatir.

__ADS_1


Ceklek....


Suara pintu di buka, semua orang menatap ke arah orang yang masuk.


"Kak Ken mana kak Rose," tanya Luna.


"Rose sedang istirahat, dia pingsan tadi, sudah ditangani dokter George," jelas Ken dengan wajah lemah dan kusutnya itu.


Tampak pria itu juga terpuruk apalagi melihat kondisi kekasihnya saat ini.


"Apa kak Rose baik baik saja? kenapa dia pingsan? apa yang terjadi kak? sudah berapa lama dia pingsan, kak Rose di ruangan mana? Luna mau kesana!" cerocos Luna.


"Luna tenang dulu dek, kamu lagi hamil jangan banyak pikiran, gak baik buat kamu dan janin kamu, Kak Rose pingsan karena panik tadi, dia terlalu lemah jadi sekarang dia sedang istirahat besok saja dikunjungi, sekarang kamu istirahat sana," ucap Ken yang juga khawatir dengan adiknya, dia tidak mau Luna kenapa-kenapa.


Luna mencebikkan bibirnya, dia benar benar kesal dengan mereka semua, mereka menyuruhnya istirahat padahal dirinya benar-benar ingin membantu dan ini adalah keinginan dirinya dan kedua jabang bayinya.


Luna berjalan menuju tempat tidur dengan wajah kesal.


"Kalian semua mengesalkan! kalian pikir aku sakit hah? sikit sikit nyuruh tidur , istirahat, ini itu, gak boleh ini gak boleh itu arhhhh kalian pikir ibu hamil itu penyakitan dasar bodoh!!!" gerutu gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya.


"Gak boleh banyak bergeraklah, gak boleh banyak mikirlah, gak boleh ini lah nyyenyeney bla bla bla bla grrhhhh kalian aja yang hamil bikin kesel aja dasar aneh, ck.... mimpi apa aku dulu ketemu orang aneh seperti kalian grrhhhhh kesel aku!!!" ocehnya lagi sambil mengambil selimutnya untuk menutupi tubuhnya.


Brakkk


" awas ya kalau sampai masalahnya gak kelar kelar habis kalian di tanganku!!!" kesal Luna sambil melemparkan notes yang ada di atas nakas sebagai pelampiasan rasa kesalnya.


Dia mengelus perutnya yang sudah membuncit, "Sabar ya nak, jangan dengarkan orang orang bodoh itu nanti kalian ikutan bodoh," ucap Luna menyindir mereka semua.


"Besok kita beraksi sendiri ya anak anak Mama, sabar, setelah nenek dimakamkan kita cari tahu semuanya termasuk yang menjebak Tante Rose dan Paman Aiden, biarkan mereka bekerja sendiri, kita akan lihat sampai mana mereka bisa menyelesaikannya," ucap Luna pada anak anaknya.


Dugg


Dugg


Luna merasakan tendangan buah hatinya, dia pun tersenyum sambil memejamkan matanya.


Yang lain malah saling bertatapan mendengar Omelan gadis itu, baru kali ini Luna mengeluh dengan semua yang mereka minta.


"Makin lama makin seram aja dah si Luna," bisik Alex pada Aiden.


" Benar Lex, baru kali ini dia ngeluh tapi ada benarnya juga sih, kalau ibu hamil kebanyak diam juga gak bagus nanti pas persalinan akan sulit," bisik Aiden .


"Tau dari mana bro?" tanya Aiden.


"Dari Mama waktu hamil Joshua, meski aku cuek tapi aku perhatikan semuanya apalagi waktu Mama hamil Joshua," bisik Aiden.


"Woy ngapain bisik bisik, kedengaran begok!" ucap Bima sambil menggetuk kepala mereka berdua.

__ADS_1


" Awhhh sakit dodol!" keluh mereka berdua sambil menggosok kepala mereka yang sakit karena ulah Bima.


"Apa kita terlalu ketat pada Luna?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Gan yang tengah menatap istrinya yang tau taunya sudah terlelap, sejak Luna hamil,dia memang mudah sekali terlelap, rebahan dikit udah tidur tapi bukannya senang justru Luna tersiksa karena harus istrinya terus padahal dia juga butuh bergerak dan berjalan jalan agar semuanya seimbang.


Mereka menatap pada Luna, seorang gadis bar bar dan cerewet yang justru mempersatukan mereka semua, gadis yang memiliki peran besar dalam hidup mereka.


"Ya sepertinya memang kita terlalu berlebihan, aku sering melihatnya duduk di depan televisi dengan wajahnya yang bosan dan kesal karena tidak bisa melakukan apa apa, apalagi sejak kita melarangnya ke toko," ucap Andin.


"Tapi itu juga untuk keselamatannya, aku tak mau Luna kenapa kenapa," ucap Bima.


"Ada benarnya juga, tapi kalau terlalu ketat seperti ini Luna juga bosan, dia juga butuh hiburan, kita bahkan tak pernah membawanya liburan ke tempat yang jauh setelah tiba di Jakarta, dia hanya menuruti permintaan kita dan direpotkan dengan berbagai masalah yang justru kita sendiri yang lakukan dan dia yang menyelesaikannya," tambah Ken.


"Arhhh kalau begini jadi serba salah, aku juga kasihan dengannya, padahal dulu sia sangat senang di Bali, dia bebas dengan kehidupannya sekarang malah kita yang mengekangnya," ucap Aiden.


"Hufftttt aku jadi bingung harus bagaimana, padahal kandungannya semakin besar, kalau kita berbuat gegabah bisa bahaya bagi mereka, aku tak mau istri dan anak anakku ke apa kenapa," ucap Gama.


"Hadehhh... kalian ini ya, pantas saja Luna mengatai kalian bodoh!" gerutu Andin yang membuat mereka menoleh ke arah gadis itu.


"Dari yang aku lihat kan, Luna itu gak perlu banyak liburan kesana kemarin, dia butuhnya dilibatkan dalam semua kegiatan kita, Luna itu orangnya gak banyak nuntut tapi kalau udah gini, kalian harus menyanggupi tantangan yang udah dia bilang tadi," jelas Andin.


"Apa itu gak bisa dibatalkan?" tanya Mark.


"Nggak, Luna gak bakal menarik kata katanya, sih jadi lebih baik kalian selesaikan sebelum batas waktu yang dikatakan Luna," tambah Andin.


"Tapi kenapa kalian gak kena hukum?" tanya Aiden.


"Kak, kakak gak kenal Luna ya? kami juga kena imbasnya nanti makanya nasib kami tergantung pekerjaan kalian," ucap Andin.


"Waduh berabe nih, sempat si bumil marah, hancur dunia persilatan!" celetuk Alex.


"Ya sudah, sebaiknya kita mulai bekerja malam ini!" ucap Bima yang dianggukkan oleh mereka.


Gama mendekati istrinya yang sudah terlelap, dia membelai lembut wajah istrinya yang terlihat tidur dengan lelap.


"Maaf ya sayang," batin Gama.


Pria itu menyempatkan memijit kaki istrinya dan melepaskan kaki palsu Luna yang selalu sulit dilakukan Luna karena perut buncitnya itu.


"Aku merasa tak berguna sebagai suamimu, maafkan aku," lirih Gama.


.


.


.


jangan lupa like, vote dan komen 😉😉😊

__ADS_1


__ADS_2