
Bugh
Bughh
brakkk
bughh
"Ken Cukup kau bisa membunuhnya!" teriak Bima mencoba menghentikan Ken yang menyerang Gama secara membabi buta, dia seperti iblis yang terlepas dari rantainya.
Kilatan amarah menguasai pria itu, aura hitamnya terpancar keluar seolah membunuh siapa saja yang berani bermain-main dengannya.
Gama hanya diam menerima semua pukulan membabi buta dari Kenzo. Kali ini di benar-benar kehilangan akal pikirannya.
"Kennn!!" teriak Bima lagi, ia menarik Ken dan menjatuhkan pria itu hingga merosot ke lantai.
"Arghhhhh, dimana adikku bodoh!!" teriak Ken penuh Amarah, sekali lagi ia bangkit berdiri dan ingin menghajar Gama yang sudah babak belur dengan berbagai bekas Bogeman di wajah dan tubuhnya.
Tadi Ken langsung melesat dari rumah besar Park setelah mendapatkan berita jika Luna menghilang atau lebih tepatnya di culik oleh kelompok tak di kenal, hal ini disampaikan oleh Mark.
"Kau bodoh bangsat, kenapa kau membiarkan adikku hilang? kau tidak sadar kalau kau sudah menyakitinya hah?" Ken benar benar marah kali ini.
"Apa kau sudah kehilangan akalmu hah!!" teriak pria itu lagi sampai wajahnya benar benar merah menahan amarah.
"Ken, kau tenang dulu, kita tidak akan bisa menemukan Luna jika kau ribut begini, sebaiknya kita tinggalkan si bodoh ini, dia benar-benar tidak berguna setelah mendapatkan kesembuhannya!" sinis Bima yang sama marahnya dengan Ken.
"Sialan kau Gama!" ketus Ken.
Mereka keluar dari dalam ruangan Gama, Ken dan Bima langsung pergi ke markas Ken, pria itu punya koneksi dengan dunia bawah.
Gama menatap kosong ke seluruh ruangannya, dia duduk di lantai dan bersandar di dinding ruangan besar yang tampak berantakan karena amukan Ken itu.
Kejadian satu Jam yang lalu,
Gama yang mendengar nama Alex menjadi gelap mata dan marah, seketika pikirannya dipenuhi oleh tindakan penghianatan yang dilakukan mantan asistennya itu.
Gama sampai melupakan Luna yang masih terluka karena ulahnya, dia terus diam bahkan menatap kosong ke depan meninggalkan Luna yang berjalan terseok-seok di belakangnya.
Bahkan Gama tidak sadar kalau Laura yang menggandeng tangannya, dia berpikir itu Luna dan tidak menoleh sama sekali, dia terus diam dan diam bahkan sampai saat dia masuk ke dalam lift.
Di dalam Lift Gama terus saja diam, Laura mengambil kesempatan untuk berfoto dengan Gama dan menggunakan foto itu sebagai alat konfirmasi bahwa ia adalah kekasih seorang Gamaliel Park.
Ting
Pintu Lift terbuka, Gama masih berjalan seperti mayat hidup, dia membuka ruangannya dan disana ada Mark yang menyambutnya.
Mark terkejut melihat siapa yang dibawa oleh Gama ke dalam ruangannya, Laura si wanita ular bergelayut manja di lengan Gama.
"Tuan!" teriak Mark.
Gama tersentak kaget, ia melirik seseorang di sampingnya.
Brukk
"Apa yang kau lakukan j4lang!!!" teriak Gama sambil mendorong Laura menjauh dari tubuhnya.
"Tu..tuan bukankah tuan ya..." Laura terdiam saat mendengar ucapan Gama.
"Tangkap dia dan kurung sekarang juga bersama Ibunya!" ucap Gama pada Mark.
"Ta..tapi tuan, tuan apa salah saya?" Laura meronta ronta saat Mark meminta pengawal menangkapnya.
"Bawa dia ke markas!" ucap Mark.
__ADS_1
Gama mengeraskan rahangnya, ia menyadari Luna tidak ada disisi nya.
"Astaga bodoh sekali kau Gama, sampai kau melupakan istrimu!" ucap Gama merutuki dirinya sendiri.
Segera Gama berlari keluar dari dalam ruangannya dan turun ke lantai satu mencari dimana Luna.
Ia menghubungi nomor Luna berkali-kali namun tak ada jawaban dari gadis itu.
Gama berlari tergesa-gesa, ia merasa sangat bersalah telah mengabaikan gadis itu.
"Luna, dimana kau sayang," Gama berteriak frustasi, bahkan para karyawan sampai memandangnya.
"Luna," panggil Gama berlari kesana kemari mencari istrinya namun nihil tak di temukan.
Saat ia di luar gedung ia melihat sepatu Luna tertinggal disana.
Gama berlari lalu mengambil sepatu itu.
"Luna dimana kau sayang?" Gama meremas rambutnya frustasi karena tak kunjung menemukan Luna.
"Arghhhh sialan!!" kesal Gama.
"Mark segera lacak keberadaan Luna!" ucapnya pada Mark yang ikut berlari bersamanya.
Pria itu berlari menuju ruang kontrol CCTV, disana ada Rendy yang sedang mengawasi.
"Tuan ada yang menculik nyonya muda!" ucap Rendy yang baru saja akan pergi melaporkan kejadian itu, tadi dia baru mengecek rekaman sebelumnya karena dia baru dari toilet.
"Luna diculik??!"teriak Gama panik.
"Putar rekamannya!" ucap Gama.
Rendy memutar ulang kejadian di depan perusahaan tadi. Tampak Luna yang berjalan terseok-seok karena rasa nyeri di ujung tungkainya, Luna tampak menangis, tiba-tiba ada sekelompok orang yang menutup kepalanya dengan kain hitam dan memukul tengkuknya sampai dia pingsan.
"Kak Ren, Mark segera lacak siapa dalang dibalik ini semua!" tegas Gama dengan mata dipenuhi kilatan amarah.
Gama mengeraskan rahangnya, dia keluar dari ruangan itu dan segera beranjak ke ruangannya.
Mark dengan cepat menghubungi Ken dan Bima, karena ini menyangkut keselamatan nona mudanya.
Saat Gama sedang melacak keberadaan Luna melalui GPS ponsel gadis itu tiba-tiba Pintu dibuka dengan kasar, Ken yang sudah naik pitam menghajar Gama secara membabi-buta.
Gama hanya menerima pukulan itu tanpa membalas, ia tau kalau ini semua terjadi karena kesalahannya.
Kembali pada saat ini, tampak Gama terdiam, dia menatap kosong ke depan setelah di tinggalkan oleh Ken dan Bima.
"Arhhhhh, bodoh bodoh bodoh kau Gama," teriaknya frustasi.
Gama mencoba bangkit berdiri meski tubuhnya terasa sakit setelah dihajar habis-habisan oleh Ken, yang notabenenya adalah kakak iparnya sendiri.
Gama membuka komputer nya melacak keberadaan Luna memalui GPS ponsel gadis itu. Namun tak ada hasil, ponsel Luna mati dan tak bisa dilacak keberadaannya, padahal tadi ponselnya masih aktif.
Gama merutuki kebodohannya yang malah membiarkan dirinya digandeng oleh wanita lain.
Gama menatap rekaman ulang saat diri berjalan meninggalkan Luna di belakang. Tatapan datarnya kembali seperti saat pertama mereka bertemu, hal itu yang paling dibenci oleh Luna.
Dilihatnya Luna menatap kepergiannya dengan mata berkaca-kaca, gadis itu menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak, air matanya berjatuhan.
Brakkk
Brukk
Prangggg
__ADS_1
Gama memukul meja berkali-kali, ia menghancurkan semua yang ada di dalam ruangan itu.
"Arghhhhh.....Luna!!" teriaknya, Gama menangis saat ini ia merasa sangat bersalah dengan perlakuan buruknya tadi.
Selama berjam-jam Gama mencari. keberadaan Luna, dia mengarahkan semua orang kepercayaannya untuk melakukan misi pencarian ini.
Namun hasilnya nihil, dia tidak bisa menemukan Luna dimanapun.
Hari sudah larut malam, Gama bergegas pulang dengan harapan ia menemukan Luna di rumah.
Pria itu menatap kosong jalanan, Mark yang menyetir, kali ini Rendy juga ikut serta ke rumah besar Park, mereka masih dalam misi pencarian.
"Dimana kau sayang? aku takut kehilanganmu,"batin Gama berwajah murung.
Mereka tiba di kediaman besar Park.
Gama langsung membuka pintu mobilnya dengan kasar, penampilannya sangat kacau, tubuhnya penuh luka, semuanya acak-acakan saat Luna tidak ada didekatnya.
Gama berlari ke dalam rumah, dia dihadang oleh Anna yang menatapnya dengan marah.
"Mana Ka Luu....Naaaaaaa!!!" teriak Anna histeris saat melihat Gama pulang dengan keadaan berantakan tanpa membawa Lun ake rumah.
Deg
Gama terdiam, dia merosot ke lantai, Luna tak ada di rumah pikirnya.
"Mana kakakku? hiks hiks hiks, kau apakan kakakku? mana kak Luna??" Anna histeris, dia begitu terpukul saat mendengar berita hilangnya sang kakak ipar yang sudah seperti kakak kandung baginya.
"Mana Kaaaa.....kaaakkk..Kuuuu, Arhhhhhgghhh" Anna histeris dan
Brukk
Gadis itu pingsan seketika itu juga.
"Anna !!" Ferdi dan Andin segera memegangi Anna yang pingsan dan tak sadarkan diri. Saat pulang sekolah tadi dia mendapatkan kabar buruk mengenai kakak iparnya yang hilang, dia terpuruk seketika itu juga.
Ferdi menggendong Anna menuju kamarnya diikuti oleh Andin.
Gama terduduk diam di atas lantai, dia sudah seperti orang bodoh yang tak bernyawa, hatinya hancur berkeping-keping saat ini.
"Gama apa yang terjadi? kenapa Luna bisa sampai hilang?"tanya Aiden seraya memapah Gama untuk duduk di sofa ruangan itu.
Mark dan Rendy segera melakukan tugas mereka untuk mencari tahu keberadaan nyonya muda mereka dan mencari siapa dalang di balik penculikan ini.
Di ruang santai tampak suasana menegang, Gama menceritakan semua yang terjadi, Ken dan Bima yang baru tiba juga mendengar penjelasan Gama.
Ingin sekali mereka menghajar pria bodoh itu sekali lagi, namun sudah tidak ada tempat untuk luka baru di tubuhnya.
"Kau bodoh!"
.
.
.
Jangan lupa like vote dan komen ya teman-teman 😊😊😉😉😊
Dukungan kalian adalah semangat author.
__ADS_1