Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
98


__ADS_3

Laura Melly dan Tuan Jae Sung keluar dari gedung itu dan memilih berbicara di dalam mobil Tuan Jae Sung.


Melly menatap curiga pada mereka berdua, namun ia berusaha untuk menepis pikiran anehnya tentang perkataan Gama tadi. Bisa saja itu hanya akal akalan pria itu pikirnya.


"Om bagaimana apa om mendapatkan data-data dari ruangan kerja Gama waktu itu?" Tanya Laura to the point.


"Itu satu satunya cara agar kita bisa mengancam Gama," tambah Laura yang duduk di kursi penumpang sedangkan Melly dan Jae Sung duduk di kursi depan.


"Tenang saja akau mendapatkan semua data-data perusahaan mereka, ini bisa kita gunakan untuk menjatuhkan perusahaan besar itu!" Ujar Tuan Jae Sung sambil mengangkat flash disk yang selalu dibawanya di dalam kantong bajunya.


"Coba cek isinya!" Ujar Melly sambil menyerahkan sebuah laptop yang diambilnya dari dalam tas.


"Aku yakin kau belum memeriksa file itu!" Ketus Melly yang sudah hapal dengan sikap teledor suaminya.


Tuan Jae Sung memasang wajah datar menanggapi ucapan sang istri.


Dia membuka laptop itu dan memasang flashdisk itu. Dengan cermat dia memeriksa file-file dalam flashdisk.


Semakin ia memeriksa tak ada satu file pun yang dia dapatkan, yang ada hanya sumpah serapah dan ejekan di dalam setiap file yang dibuka.


"Loh...loh, ini filenya kemana?" Panik Jae Sung sambil mengotak Atik laptop itu.


"Ada apa Om? Filenya ada kan?" Tanya Laura penasaran.


"Ck... makanya kalau ngambil sesuatu itu di cek dulu, gini kan jadinya!!" Ketus Melly.


Brak


Brakk


"Arhhh....siallll, mereka mengerjaiku sialan kau Gamaaaaa!!!" Teriak Jae Sung sambil memukul setir mobilnya berkali-kali.


"Apa!!!jadi filenya gak ada!???" Teriak Laura yang juga kesal.


"Astaga bisa tidak kalian kecilkan suara kalian!!" Ketus Melly.


"Om ini gimana sih, kerja kok gak becus arhhh sial!!" Kesal Laura.


"Arhhhh, ck...tenang kamera dan penyadap sudah kupasang!" Ucap Jae Sung.


Ia membuka ponselnya dan hal yang sama terjadi, tak ada kamera yang terhubung dengan ponsel pria itu.


"Astaga lima kameraku mati semua, ada apa ini? Hanya yang satu ini saja yang masih terhubung!" Ucap Jae Sung.


"Ck...kau tidak bekerja dengan baik!" Ucap Melly kesal.


"Coba kau saja yang pasang aku yakin belum selesai kau sudah ketahuan," balas Jae Sung.


"Arhhh.... sudahlah yang penting ada kamera yang satu itu, hanya dengan itu saja kita bisa melakukan rencana selanjutnya!" Ucap Laura sambil tersenyum tipis.


Sementara itu di dalam ruangan Gama tampak Luna, Gama, Aiden dan Rendy baru tiba di ruangan itu.


Mark, Ken dan Bima yang yang melihat kedatangan mereka begitu terkejut sekaligus senang melihat perubahan total yang terjadi pada Gama.


Tapi tampak aura tidak menyenangkan di wajah Luna. Gadis itu berjalan terlebih dahulu lalu duduk di sofa tunggal dan memalingkan wajahnya ke arah meja kerja Gama dengan kedua tangan dilipat di depan dada.


"Wah selamat datang kembali Gama!" Ucap Bima dan Ken yang begitu senang melihat sahabat mereka sudah sembuh.


"Selamat tuan!" Ucap Mark yang juga ikut senang melihat perubahan total pada pria itu.

__ADS_1


"Terimakasih!" Ucap Gama sambil tersenyum namun ia tampak gusar dan lesu.


Ken melirik Aiden begitu pun Bima untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka juga menyadari raut kekesalan ada di wajah Luna sejak gadis itu masuk ke dalam ruangan.


Aiden melirik Gama dan Luna bergantian menandakan bahwa ada masalah di antara mereka berdua.


"Luna," panggil Gama pelan sambil mendekati istrinya.


Luna menatapnya dengan tatapan datar dia mengarahkan tangannya ke bibirnya untuk mengatakan agar pria itu tidak bicara dan tidak mendekatinya.


"Lu.." belum siap Gama bicara Luna langsung bangkit berdiri lalu mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu disana.


Mereka semua terdiam dengan aksi gadis itu.


"Sebenarnya ada apa ini?" Batin Ken.


"Ada apa dengan Luna?" Bisik Aiden pada Bima.


"Sepertinya gadis itu sangat marah," balas Bima ikut berbisik.


Luna menunjukkan ponselnya dan ada kata-kata disana.


"Kak coba lihat ini," ucap Luna dengan suara yang agak ambigu ditelinga mereka semua.


Gama menatap ponsel itu, ia terkejut dengan isi pesan Luna, dia yakin pasti ada yang tidak beres dengan tempat mereka sekarang.


"Jangan ribut, jangan banyak bicara, apa ada tempat lain agar kita bisa bicara dengan tenang?" Begitulah isi pesan Luna.


Gama mengambil ponsel itu dan membalas ketikan Luna.


"Sepertinya ada yang tidak beres!" Gumam Ken.


"Kita bicara di ruang pribadiku," isi pesan Gama.


Luna duduk kembali di atas sofa, kali ini dia harus bisa memulai aktingnya dengan mulus.


"Ekhmmm....arhhh, kak kenapa kalian diam saja? Membosankan tau, coba deh lihat isi ponselku ada yang seru disini!" Ujar Luna sambil menyerahkan ponselnya pada kakak kakaknya.


Ken, Aiden, Bima dan kedua asisten itu melihat isi ponsel Luna.


Aiden yang cepat tanggap langsung memulai aktingnya dengan tertawa, ia sekilas melihat arah tangan Luna yang tampak seperti menunjuk sesuatu.


"Hahahahahah, astaga Luna, ini lucu sekali, bagaimana bisa kau mendapatkan gambar ini hahahahah," Aiden tertawa terbahak-bahak sambil mendekati Luna.


Ken dan Bima saling menatap mereka mengerti situasinya.


"Wahh kau benar den ini lucu sekali hahaha, bagaimana bisa pantat monyet ini berwarna hitam hahahhaha," Bima membalas tawa Aiden.


"Astaga kalian ini ada ada saja," ujar Ken terkekeh, Mark dan Rendy diam saja seperti biasa di posisi mereka masing-masing.


"Arghhh, kak kemarilah!" Ujar Luna sambil berjalan menuju ruangan pribadi Gama meski sambil terseok-seok karena kakinya terluka tadi.


Akhirnya setelah melakukan akting masing-masing mereka semua kini berada di dalam ruangan pribadi Gama.


Mark yang terakhir masuk langsung menutup pintu itu dengan rapat. Luna memilih duduk di kursi tunggal sambil memegangi kakinya yang terasa sakit dan nyeri.


Gama mendekati Luna namun gadis itu menghentikan Gama dengan tangannya.


"Nggak usah dekat-dekat!" Ketus Luna.

__ADS_1


Ken, Aiden dan Bima saling menatap.


"Kalian kenapa sebenarnya? Lalu kenapa kita harus kesini Na?" Tanya Ken yang kini duduk di depan Luna sambil membuka kotak obat yang di ambilnya tadi.


Luna membuka kaos sepatu dan kaos kakinya.


Klek


Ia membuka kaki palsunya, lututnya tampak memar dan ujung tungkai kakinya yang buntung tampak memerah dan lecet.


"Shhh....kalian tidak lihat tadi dimeja kerja yang di belakang kita ada kamera kecil tepat di samping monitor, tampaknya itu masih aktif!" Ketus Luna.


"Kamera?" Ucap mereka semua terkejut. Luna mengangguk pelan sambil memijit kakinya.


"Mark apa yang terjadi?" Tanya Gama.


"Sebenarnya sekitar dua hari yang lalu tuan Jae Sung masuk ke dalam ruangan tuan dan memasang kamera pengawas serta alat penyadap di kursi tuan, saya sudah mencabut semuanya dan mengganti perabotan, namun saya tidak melihatku kamera yang tertinggal itu tuan!" Jelas Mark.


Ken, Aiden, Bima dan Gama terkejut mendengar ucapan Mark, lain halnya dengan Luna yang malah menatap sinis ke arah Mark.


"Tidak becus!" Gumam Luna yang sibuk mengoles obat pada kakinya.


Mark menelan Salivanya sendiri saat mendengar ledekan gadis itu. Benar apa kata Aiden dan yang lain, tingkat kejelian gadis itu persis seperti Ken bahkan melebihi pria itu.


"Lalu apa kau tau sesuatu tentang motif pria tua itu?" Gama.


"Mereka ingin menjebak tuan bersama nona Laura dengan begitu mereka bisa menjalankan rencana mereka dengan lancar tuan," jawab Mark.


"Cih..******!!! Kalau dia mau dia ambil saja pria pembohong itu!" Ketus Luna.


Gama terdiam, sepertinya Luna benar benar kecewa padanya.


Ken, Aiden, Bima , Rendy dan Mark paham dengan situasi ini.


"Bro kalian bicaralah dahulu, kau harus menanggung resiko dari apa yang kau lakukan!" Ucap Ken sambil menepuk bahu Gama.


"Jangan bikin adik kami menangis Gam!" Bisik Aiden.


Mereka berjalan menuju pintu keluar.


"Kalian mau kemana kak? Aku ikut, aku tidak suka dekat pembohong!" Ketus Luna sambil memakai kaki palsunya. Gama menghentikan tangan Luna dan menahannya disana.


"Kalian pergilah, sebentar lagi kami keluar, untuk kamera itu, Mark kau tau yang terbaik, urus semuanya, dan periksa ulang ruangan ku!" Perintah Gama.


"Baik tuan!" Ucap Mark.


"lun kami keluar dulu ya, selesaikan masalahnya, bukannya kamu kangen sama suami kamu?"ujar Bima.


"Hmm, malas kak," ketus Luna sambil menunduk dan mencebikkan bibirnya.


"Kalian bicaralah baik-baik!" Ucap Bima yang dianggukkan oleh Gama.


.


.


.


Luna ngambek guysss

__ADS_1


like,vote dan komen ya teman-teman 😊😉😉😊😊😉


__ADS_2