
Hari ini adalah jadwal terapi Gama ke rumah sakit dimana dokter pribadi Gama ditempatkan. Luna dan Yuna menyiapkan segala keperluan yang mereka butuhkan selama disana.
Biasanya mereka akan menginap di rumah sakit jika akan melakukan terapi alasannya agar terapinya bisa maksimal dilakukan.
Hari ini giliran Ken yang ikut mendampingi Mereka sedangkan Aiden dan Bima tinggal di rumah, lebih tepatnya saat ini mereka bersama Ferdi.
Ken, Aiden dan Bima berniat membantu Ferdi mengurangi berat badannya menjadi lebih ideal karena belakangan Ferdi sering mengeluh sakit di bagian kaki dan punggungnya, setelah di cek ternyata bobot badan berlebih yang menyebabkan Ferdi mengalami keluhan itu.
Di sebuah lapangan yang luas tampak tiga lelaki sedang melakukan aktivitas fisik disana.
"Ayo Fer kamu pasti bisa! ayo Fer bisa kamu bisa!" teriak Aiden.
"Fer ayo pasti bisa, angkat badanmu!" ucap Bima dari sisi yang lain.
"Ergghhh....ahhh....hah...hah...gak...bisaaaa,"
bushhhhh
Ferdi menghempaskan tubuhnya ke atas tanah.
"Yah kok nyerah Fer padahal satu aja belum nyampe, ini masih setengah!"ketus Aiden.
"Kamu bisa Fer ayo satu kali aja!" ucap Bima.
"Argghhh...gak kuat Bima, Aiden!" ucap Ferdi menyerah, sebenarnya ia sedang di suruh melakukan sit up oleh Aiden dan Bima namun sama sekali tak bisa ia lakukan.
"Ck..." Aiden dan Bima berdecak kesal, mereka duduk di atas tanah, tak ada rasa jijik di wajah mereka, kedua Presdir tampan sedang duduk di atas tanah dengan tubuh yang sudah berdebu dan kotor pasti ini akan menjadi trending topik dalam siaran gosip nasional.
"Jangan nyerah dong Fer, gimana kau mau kurus kalau lemah gitu!" kesal Aiden.
"Capek den, aku gak kuat, aku pengen makan!" gerutu Ferdi yang mulai pasrah.
"Apa makan? baru aja kamu makan telor satu Ferdi!" ucap Bima.
"Kan cuma satu, harus enam biar gak lapar lagi," ucap Ferdi.
"Astaga perutmu itu terbuat dari apa sih Fer, nggak boleh pokoknya makananmu kami yang atur!" ucap Aiden tegas.
"Tapi kan lapar den," ucap Ferdi.
"Kau mau sakit terus? kau mau terlebih dahulu dipanggil sama yang di atas dan meninggalkan simbokmu sendirian disini ? ya udah kalau gitu kami balik aja, mending kami temani Gama terapi!" ucap Bima yang kini sudah bangkit berdiri sambil berkancah pinggang dengan wajah kesal dan marah.
"Ahh.....kau benar Bima, lebih baik kami pulang saja, sia sia kami. membantumu kalau kau tidak punya semangat sama sekali," ucap Aiden yang juga ikut berdiri dengan memasang wajah marah.
"Ayo pergi!" ucap Bima yang dianggukkan oleh Aiden .
__ADS_1
Ferdi jadi merasa bersalah karena sangat mudah menyerah padahal Aiden dan Bima sangat bersemangat membantunya. Ferdi bangkit berdiri.
"Aiden, Bima jangan pergi aku akan latihan lagi," teriak Ferdi pada Aiden dan Bima yang sudah berjalan terlebih dahulu.
"Apa? kami tidak dengar? coba kau datang kesini!" teriak Bima dengan seringai licik di wajahnya, Aiden pun mengerti arti tatapan Bima.
"Kemarilah Ferdi, berlari kesini!" teriak Aiden.
Ferdi berlari mengejar Aiden dan Bima, namun yang dikejar malah berlari terus menerus mengelilingi lapangan itu.
"Hah...hah....tung...guuuu....," teriak Ferdi yang sudah ngos-ngosan, keringatnya bercucuran padahal ia baru berlari setengah putaran.
"Fer ayo apa tadi yang mau kau sampaikan?" ucap Aiden yang melewati Ferdi sambil berlari mundur bersama Bima.
"Aku...aku...mau latihan lagi," ucap Ferdi terengah-engah.
Namun lagi-lagi Aiden dan Bima mengerjai Ferdi sehingga Ferdi berlari mengelilingi lapangan itu hingga sepuluh kali putaran.
"Hahahah, kalau begini Ferdi bisa cepat kurus!" celetuk Aiden sambil berlari dan tertawa terbahak-bahak.
"Nak ayo pergi jangan lewat sini, ada orang gila!!" panik seorang ibu yang hendak melewati lapangan bersama anaknya, namun ia mendengar suara tawa dan melihat Aiden dan Bima berlari tanpa memakai baju atas mereka, penampilan mereka acak-acakan sudah seperti orang gila.
Sementara itu di rumah sakit tampak Yuna dan Ken menunggu di ruang tunggu, sedangkan Luna dan Gama berada di ruang terapi. Gama meminta Luna menemaninya karena ia
sangat tidak suka dengan rumah sakit namun beda halnya jika Luna di sampingnya.
Gama melakukan semua rangkain terapi dan menuruti semua ucapan dokter. Ia begitu bersemangat menjalani terapinya apalagi jika Luna yang membantunya.
Setelah selesai, Gama dibiarkan beristirahat sementara itu Luna berdiskusi dengan dokter.
"Untuk membantu memaksimalkan terapi, nona bisa membantu tuan Gama dengan cara memijit kaki selama lima menit setiap akan tidur dan bangun pagi, hal ini dapat membantu mempercepat kerja syaraf kaki," ucap sang dokter.
"Apa suami saya bisa sembuh dok?" tanya Luna penasaran.
Dokter wanita bernama Ester tersebut tersenyum saat mendengar pertanyaan yang memang hampir seluruh pasiennya menanyakan itu.
"Kesembuhan sudah di atur oleh Tuhan, yang kita perlu lakukan saat ini adalah melakukan terapi dan berikan dukungan mental pada beliau, jika menurut pengamatan saya, Tuan Gama pasti bisa sembuh jika mendapat dukungan dari istri hebat seperti anda nona," ujar dokter itu.
"Saya yakin nona pasti sangat mencintai tuan Gama, iya kan?"ucap Dokter itu.
Luna menggaruk tengkuknya, ia merasa bingung dengan dirinya.
"Emmm...dok, apa saya bisa bertanya sesuatu hanya saja ini lebih ke hal pribadi sih," ucap Luna sedikit malu.
"Saya akan menjawab jika memang masih bisa ditoleransi, silahkan nona," ucap dokter Ester.
__ADS_1
"Saya tidak tau apa yang terjadi dengan diri saya, tapi rasanya sering sekali jantung saya berdegup kencang, seperti ada yang menggelitik di hati saya, dan emmm....saya sering gugup dan wajah saya merona, apa saya menderita penyakit langka dok?" tanya Luna dengan wajah polosnya.
"Ha?" dokter tersebut tak percaya saat mendengar pertanyaan Luna.
"Hahahahha, saat kapan anda merasakan itu nona?" tanya Dokter Ester sedikit terkekeh.
"Ketika saya dekat dengan suami saya dok," ucap Luna dengan polosnya.
"Pfhhtt.... hahahaha, nona maafkan saya hahahah, tapi anda lucu sekali hahahh, biar saya tebak pasti nona tidak pernah pacaran ya?" ucap Dokter Ester yang tak bisa lagi menahan tawanya, bahkan air matanya sampai keluar saking lucunya.
Luna menggeleng pelan," Saya tidak pernah, emang ada hubungannya ya dok?" tanya Luna, biarlah dia di ejek kali ini asalkan ia mendapatkan jawaban penyebab jantung dan hatinya berdesir aneh.
"Hufftt..hahha, hmm...huhhh, baiklah satu pertanyaan lagi, kalian pasti menikah mendadak iya kan nona?" tanya dokter Ester lagi dan Luna kembali mengangguk.
"Ternyata benar, begini nona, Anda tidak memiliki penyakit langka atau kelainan tertentu, Anda hanya sedang jatuh cinta dengan suami Anda," jelas Dokter Ester sambil tersenyum.
"Cinta? jadi begini rasanya? tapi aneh sekali ya, bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta, kami saja baru kenal," ucap Luna lagi.
"Emmm...nona, saya rasa lama kita mengenal seseorang tidak menjadi jaminan kalau kita akan jatuh cinta dengan orang itu," ucap Dokter Ester.
"Ahh... begitu ya, tapi cinta itu rasanya aneh ya, seperti ada yang membuat kita selalu tenang, bahagia dan disini rasanya senang, gugup dan ya gitu bercampur aduk hehehh," kekeh Luna sambil menunjuk dadanya.
"Hmm, Anda lucu sekali nona, saya harap Anda dan suami Anda langgeng terus sampai maut memisahkan, dan semoga tuan Gama cepat sembuh," ucap dokter Ester.
"Terimakasih dok, saya doakan dokter juga bahagia," ucap Luna yang dibalas senyuman oleh dokter Ester.
Sesi konsultasi berakhir, Luna keluar dari ruangan dokter Ester dan menemui suaminya.
"Aku jatuh cinta ya? hmm jadi begini rasanya, apa dia juga jatuh cinta denganku?"batin Luna sambil senyum senyum sendiri menghampiri suaminya.
Gama menyergitkan keningnya saat melihat Luna senyum-senyum sendiri dan duduk di dekat brankarnya.
Gama memegang dahi Luna,
"Astaga istriku sudah gila!!" ucap Gama.
Pletakkkk
Satu pukulan melayang di lengan pria itu.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😊😊😊😉
ciee yang jatuh cinta 😊😊😊