Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
129


__ADS_3

Cinta membawa mereka mengarungi hidup yang menyenangkan. Dengan hadirnya cinta, segala trauma dan kesedihan perlahan terkikis dan digantikan dengan kehangatan.


Hari sudah pagi, tampak di rumah besar Park semua orang tengah melakukan aktivitas pagi mereka. Namun berbeda dengan pasangan Park itu, mereka masih terlelap mungkin karena kelelahan setelah aktivitas panas mereka semalam.


Sinar matahari menerobos jendela kamar itu menyapu lembut wajah Luna. Rasanya sangat hangat dan lembut.


Luna mengerjapkan mata, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya. Dia membuka matanya, ingin bergerak namun rasanya sulit.


Ada sesuatu yang memeluk tubuhnya dengan erat, hanya saja sensasinya berbeda, dia dapat merasakan hangatnya pelukan itu, sentuhan kulit yang memberikan gelenyar aneh pada dirinya.


Luna menyadarkan dirinya,dia menatap sosok yang memeluknya erat.


"Ternyata semalam bukan mimpi, kami telah melakukannya, pantas saja tubuhku terasa sakit, dan di bawah sedikit perih" batin Luna saat mendongakkan kepalanya dan menatap wajah suaminya yang tengah tertidur lelap.


"Ahhh aku malu sekali, ini artinya dia sudah melihat seluruh tubuh ku, arghhh aku maluu," batin Luna yang kini menundukkan kepalanya, wajahnya merona dan telinganya memerah.


"Ummm tapi suamiku sangat lembut, dia juga tampan," batin Luna sambil senyum-senyum sendiri, tanpa sadar dia menusuk nusuk dada suaminya dengan ujung jarinya.


"Arhhh aku malu," gumam Luna sambil menggeleng-gelengkan kepalanya di dada suaminya.


"Apa kau begitu menyukai tubuhku nyonya Park?" Ucap Gama yang terbangun karena ulah Luna.


Luna mendongak, seketika ia menunduk kembali karena merasa malu, telinganya merah apalagi wajahnya.


"Apa aku mengganggumu?" Tanya Luna yang bersembunyi di dada suaminya.


"Tentu tidak sayang," ucap Gama sambil mengangkat kepala Luna hingga mereka saling bertatapan saat ini.


Cup


"Ciuman selamat pagi, aku akan melakukannya setiap hari!" Ucap Gama sambil tersenyum.


Wajah Luna merona, jantungnya kembali berdegup kencang, ia membalas senyuman Gama, dia merasa sangat bahagia.


Cup


"Ciuman selamat pagi, aku akan melakukannya juga setiap hari," balas Luna sambil mengecup bibir suaminya sambil tersenyum.


Gama tersenyum, dia memeluk istrinya dengan erat, hatinya benar-benar telah dikuasai oleh perempuan cantik itu.


"Aku mencintaimu sayang," bisik Gama, mereka dapat merasakan sentuhan hangat di kulit masing-masing, tentu saja karena mereka sama sama polos saat ini.


Luna membalas pelukan Gama membuat sesuatu di bawah sana bangkit dari tidurnya.


"Aku juga mencintaimu," bisik Luna lagi.


Gama yang sudah tidak tahan dengan hasratnya yang mulai membuncah langsung melahap bibir gadis itu, mereka menikmati permainan panas di pagi hari yang dingin.


Kejadian panas semalam kembali terulang, tak ada penolakan dari Luna, bahkan gadis itu mendesah dengan nikmat mengikuti semua permainan Gama di tubuhnya. Gama kembali menyemburkan benihnya dengan harapan yang sama.


Satu jam mereka melakukan itu, setelahnya Gama dan Luna membersihkan diri bersama sama tanpa ada aktivitas panas lagi, Gama tak mau istrinya kelelahan sebab hari ini jadwal mereka cukup padat.

__ADS_1


Luna duduk di depan meja rias, dia sedang mengeringkan rambutnya, sedangkan Gama sedang memeriksa jadwalnya.


"Astaga sayang!!!" Teriak Luna tiba-tiba.


Brukk


Ponsel Gama terjatuh ke lantai, untung tidak pecah, dia terkejut mendengar teriakan Luna. Tanpa mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai begitu saja, dia menghampiri istrinya dengan wajah khawatir.


"Ada apa sayang?" Tanya Gama panik.


Luna memutar tubuhnya dengan wajah panik.


"Sepertinya aku alergiii!!!" Teriak Luna sambil menunjuk jejak jejak merah yang cukup banyak di leher, bahu bahkan beberapa bagian tubuhnya yang lain.


"Pfhhtt...hahhahah,astaga sayang kau polos sekali,itu bukan alergi!" Ucap Gama yang malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi polos istrinya.


"Ck...lalu ini kenapa? Apa aku punya penyakit kulit? Kalau begitu kau jangan dekat-dekat dulu nanti kau tertular," ucap Luna sambil mengecek seluruh tubuhnya.


Gama tersenyum, dia memegang bahu Luna hingga gadis itu berhenti dan menatapnya.


"Itu bukan alergi, bukan penyakit kulit juga, apa kau tidak ingat yang semalam dan tadi pagi hmmm?" Tanya Gama seraya menaikkan alisnya dan menyentuh bibirnya.


Luna terbelalak, akhirnya dia mengerti kalau tanda tanda merah itu adalah bekas kecupan suaminya. Seketika wajahnya merona, dia sangat malu.


"Hahahah,wajahmu memerah lagi sayang," ucap Gama sambil mencubit gemas kedua pipi istrinya.


"Aku malu," cicit Luna.


"Lalu ini bagaimana dong?" Tanya Luna sambil menunjuk bekas bekas itu.


Gama menatao wajah istrinya,dia tersenyum lalu mengambil foundation dari meja rias Luna. Mengeluarkan sedikit dan menaruhnya di jarinya.


Tap....tap...tap


Gama mengoleskan foundation itu di leher Luna dan bagian tubuhnya yang terlihat memiliki bekas itu.


"Nah sudah,aman kan?" Ucap Gama sambil memutar tubuh istrinya menghadap cermin.


Luna memeriksa leher dan bahunya, seketika dia tersenyum.


"Terimakasih sayang," ucapnya sambil memeluk Gama dan meletakkan kepalanya di perut pria itu.


Gama mengelus kepala Luna, dia juga ikut tersenyum.


"Bagaimana dengan jadwalmu sayang?" Tanya Luna sambil melepas pelukannya dan mulai menyisir rambutnya.


Gama mengambil alih sisir Luna dan menyisir rambut Luna dengan lembut.


"Aku sangat ingin menemanimu ke rumah sakit, tapi ada rapat yang harus ku ikuti sayang,nanti sore aku akan langsung ke rumah sakit, kita akan menyaksikan pemakaman Papanya Aiden mungkin akan dilaksanakan pukul 7 malam di Indonesia," jelas Gama yang masih setia menyisir rambut panjang istrinya.


"Ohh....ya udah gak apa-apa,emmm aku boleh ajak Andin dan Ferdi kan, aku takut bosan disana, sekaligus mau menjalankan misiku hehehe," ucap Luna.

__ADS_1


"Boleh sayang selama pengawal menjaga kalian," ucap Gama.


"Nah sudah siap,ayo keluar, mereka pasti bingung nyariin kita," ucap Gam sambil mengambil tas kerjanya dan dasinya yang terletak di meja.


Luna berdiri dia mengambil tasnya, matanya tertuju pada dasi yang dipegang dan belum di pakai oleh suaminya.


"Sini kupasangkan," ucap Luna sambil mengambil dasi Gama dan memasangnya di leher suaminya meski harus berjinjit.


Sadar kalau istrinya tidak sampai, Gama langsung menggendong istrinya .


"Eh..." Luna sedikit terkejut.


"Biar mudah sayang," ucap Gama sambil tersenyum.


Luna memasang dasi suaminya dengan rapi dan cepat.


"Sudah selesai," ucap Luna seraya menepuk kepala suaminya dengan lembut.


Mereka keluar dari kamar dengan senyuman sumringah, jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi saat mereka keluar, Anna sudah berangkat ke sekolah dan kedua temannya tampak sibuk di ruang kerja mereka.


Luna dan Gama sarapan pagi dengan cepat, setelah itu, mereka berjalan menuju ruang kerja toko online yang sudah mereka rintis selama satu setengah bulan lebih.


"Tuk....tuk...tukk, permisi tuan dan nona," sapa Luna sambil masuk ke dalam ruangan itu dengan senyuman cerah nan indah diikuti Gama di belakangnya.


"Selamat pagi tuan dan nyonya Park," balas Ferdi dan Andin seraya memberi hormat.


"Hahahhahaha," mereka tertawa dengan tingkah mereka masing-masing.


"Ada apa na?" Tanya Andin yang tengah merajut tas dari bahan kulit, mereka baru memasukkan produk baru untuk toko mereka.


"Bagaimana pekerjaan kalian , apakah sulit? Ada kendala? " Tanya Luna seraya mengecek beberapa aksesoris yang sudah di pisah dalam lemari pesanan.


"Tidak sulit, pekerjaannya mudah tapi menjualnya yang susah, hufthhh," Andin tampak lesu. Beberapa hari ini penjualan mereka menurun dan pesanan juga semakin sepi.


"Hmmm aku tau, aku sudah mengecek laporan penjualan kita, maaf ya karena aku tidak fokus membantu kalian," ucap Luna merasa bersalah karena dia sibuk dengan kehidupan pribadinya hingga hanya sedikit waktu berinteraksi dengan kedua sahabatnya.


"Nggak apa apa kok Lun, malah kami berterimakasih karena kamu banyak membantu pekerjaan kami," ucap Ferdi sambil menunjuk rak aksesoris yang dirakit Luna sendiri saat dia punya waktu senggang.


"tapi yah begitulah mungkin karena kita nggak punya toko fisik atau brand yang menaungi kita akhirnya kita sedikit kalah saing dengan yang lain," keluh Andin.


.


.


.


jangan lupa like vote dan komen 😊😊


maaf author up lama, author lagi kerja sampai malam😒😒


nanti author usahain up 2 atau 3 bab lagi ya

__ADS_1


terimakasih dan maaf πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2