Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
187 (Keanehan)


__ADS_3

Dokter yang menangani nenek Rose keluar dari dalam ruangan operasi dengan ekspresi yang tidak dapat digambarkan. Seorang Dokter perempuan yang masih terbilang muda dengan paras yang cantik khas orang Asia keluar dengan wajah lesu.


"Bagaimana Dok?" tanya Alex langsung menghampiri dokter itu diikuti keluarganya yang lain.


"Maafkan saya, nenek tidak dapat diselamatkan benturan keras di kepalanya menyebabkan pembuluh darah pecah dan merusak sistem saraf otaknya, saya mohon maaf say tidak dapat berbuat apa apa," ucap Dokter cantik yang biasa disapa Dokter Vanya itu sambil membungkuk,dia juga menangis sedih karena ini kali pertamanya tak bisa menyelamatkan nyawa seseorang.


Deghhh....


Mendengar ucapan Dokter mereka semua terkejut, apalagi Rose dia menangis histeris kala mendengar penjelasan dokter.


"Ne..nenek... arhhhh ... tidak.. nenek nggak boleh pergiiiiii..... neeeeneeeek gaaak boleehh pergiiiiiiiii... arhhhhhhhhh!!!!" teriak Rose histeris, dia menangis sejadi-jadinya, tubuhnya bergetar dia meringsut ke atas lantai air matanya membanjiri wajahnya.


"Oze... tenang sayang kumohon," ucap Ken sambil memeluk Rose dengan erat, mereka berdua duduk di atas lantai, gadis itu menangis tersedu-sedu, tangisan yang sangat menyedihkan dan menyayat hati.


"Hiks... hikss.. hikss, Kak Rose, nenek," tangis Luna sambil memeluk suaminya. Gama menenangkan istrinya dan menepuk-nepuk punggung wanitanya.


Andin juga turut menangis, dia begitu sedih melihat Rose menangis histeris mendengar kematian sang nenek.


Mark dengan sigap memeluk Andin dan mendekap gadis itu di depan dadanya, Andin menangis tersedu-sedu dalam pelukan Mark sambil memeluk erat kekasihnya itu.


Bima merangkul bahu Anna yang juga ikut menangis, mereka semua merasa kehilangan dengan kepergian sang nenek yang sering mereka kunjungi bahkan mereka sudah dekat dengan nenek Rose.


"Hufffthhhh...." Alex mendesah, dia melihat sahabat sahabatnya bersedih.


"Dok boleh saya bicara sebentar?" ucap Alex pada dokter Vanya yang di balas anggukan oleh dokter cantik tersebut.


"Gama, aku akan bicara dengan dokter sebentar, ini tentang kematian nenek, aku mencurigai sesuatu," bisik Alex pada Gama dan Luna.


"Baiklah," jawab Gama.


"Na jangan terlampau sedih, kakak gak mau kamu drop!" ucap Alex sambil menepuk bahu Luna yang memeluk suaminya.


"Iya kak," jawabnya lirih.


"Harmonis," batin Dokter Vanya saat melihat interaksi mereka.


"Dimana kita bisa bicara dok?" tanya Alex sopan, meski Alex pria yang segesrek Aiden dan Luna dia selalu menghargai orang lain dan berbicara sopan.


"Kita ke ruangan saya saja tuan," ucap Dokter Vanya yang dianggukkan oleh Alex.


Sementara itu, Jenazah nenek untuk sementara akan di simpan di ruang penyimpanan mayat dan akan di kremasi besok sebab jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Semuanya diurus dengan baik oleh Bima dan Gam serta dengan bantuan Aiden yang baru tiba di rumah sakit bersama istri dan adik iparnya.


Sungguh berita yang menyedihkan, mereka tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Namun yang paling membuat mereka semua bertanya tanya adalah bagaimana nenek Rose bisa terjatuh dari tangga.


Rose masih bersedih, mereka semua berusaha menguatkan gadis itu,Ken pun tidak pernah melepaskan pelukannya dari sang kekasih, dia terus mendampingi Rose bahkan saat mereka melihat jenazah sang nenek.


Sungguh Rose hancur saat melihat tubuh Neneknya terbujur kaku. Dia dan Ken saat ini berada di ruang mayat, Gama sendiri membawa istrinya untuk beristirahat di salah satu kamar VIP yang disiapkan untuk mereka, Andin dan Anna juga ikut bersama Gama.

__ADS_1


Sedangkan Bima dan Mark segera mengurus segala keperluan untuk pemakaman sang nenek besok dibantu Aiden dan yang lainnya.


"Nenek... hiks hiks hiks,nenek gak boleh pergiiii... arhhh Ken nenek kenapa tidur terus,nenek bangun ahh jangan buat Rose nangis terus, neneeeekkk!!!" Rose menangis tersedu-sedu di samping tubuh neneknya.


Rose memeluk tubuh nenek yang sudah dingin dan kaku. Air matanya tak berhenti mengalir, dia terus menangis. Ken tak sanggup melihat kekasihnya menangis tersedu-sedu seperti itu. sungguh sakit rasanya melihat Rose seperti itu.


"Rose,nenek sudah tenang, jangan menyiksa dirimu seperti ini," ucap Ken sambil menepuk punggung gadis itu dari belakang.


Rose menatap Ken dengan derai air mata.


"Ken, nenek pergi hiks hiks hiks, Aku nggak punya siapa siapa lagi, nenekku... nenek sudah pergi meninggalkan aku sendirian di dunia ini arhhh.. neeneeekk...," rintih gadis itu sampai dia terduduk di atas lantai.


Greppp,


Ken menarik Rose ke dalam pelukannya, dia memeluk gadis itu dengan erat, dia juga ikut menangis melihat kekasihnya begitu hancur hati saat ini.


"Oze, ada aku disini ada kami semua disini sebagai keluargamu, kamu nggak sendirian sayang, kamu gak sendirian ada aku, ada Luna ada yang lainnya, kita keluarga kami keluargamu," Ucap Ken sambil membelai kepala Rose dia memeluknya dengan erat.


"Ken... hiks hiks hiks, nenek arhhh nenek kenapa bisa begini keeenn," lirih gadis itu, dia menangis sampai tak ada lagi air mata yang tumpah, dia menangis dengan hati yang hancur dan lemah.


Ken mendekap Rose, dia tak peduli jika dia duduk di atas lantai yang dingin, yang dia tau dia harus menenangkan kekasihnya saat ini.


"Sayang, Ze, Oze...." panggil Ken.


Ken menatap Rose yang tidak menyahutnya, betapa terkejutnya dia saat Rose malah pingsan dalam pelukannya dengan wajah merah dan sembab.


"Dokter!!" panggil Ken, kebetulan Dokter George lewat dia langsung membantu Ken.


"Periksa dia Dok, kenapa dia?" ucap Ken panik sambil melihat Rose yang sedang dibawa k e dalam ruang pemeriksaan.


"Tuan tenangkan diri Anda dahulu, biarkan saya memeriksa nona Rose," ucap Dokter George.


"Boleh aku disini?" tanya Pria itu.


"Silahkan tuan, tapi mohon jangan panik," ucap Dokter George dan Ken pun menurut, dia berdiri dengan tenang sambil menatap Rose yang sedang diperiksa oleh Dokter.


Tak lama, dokter George selesai dengan pemeriksaannya.


"Bagaimana?" tanya Ken.


"hufff... Nona terlalu panik dan stress hingga kesehatannya drop, nona butuh istirahat yang cukup dan usahakan agar dia tidak depresi tuan, ini akan sangat mempengaruhi kesehatannya," jelas dokter George.


"Saya akan memberikan resep vitamin agar nona Rose lebih fit," tambah dokter George.


"Baiklah, terimakasih atas bantuannya dok," ucap Ken yang dijawab anggukan kepala oleh Dokter George.


Setelah kepergian dokter George, Ken duduk di samping bed rest Rose, dia menggenggam tangan Rose dengan erat matanya tak bisa lepas dari wajah gadisnya itu.


"Jangan sakit sayang, aku gak tahan melihatmu seperti ini, " ucap nya sambil mengelus wajah Rose.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja, aku janji kau tak akan sendirian, tak akan ada yang menyakiti dirimu lagi, tak akan ada yang akan membuatmu bersedih aku janji sayang," ucap Ken sambil mengecup punggung tangan Rose.


Sementara itu di ruang dokter Vanya, Alex tengah berbicara dengan wanita itu tentang kematian nenek Rose.


"Dok apa ada hal yang aneh pada nenek Rose?" tanya Alex dengan tatapan penasaran.


"Karena ini sangat mendadak, tak mungkin nenek bisa berjalan melalui tangga darurat sedangkan di sekitar nenek saja banyak pengawal, apa ada yang aneh dengan tubuh nenek?" tanya Alex dengan rasa curiganya yang tinggi.


"Huff... sebenarnya dari pandangan saya sebagai seorang dokter, ini kematian yang tidak wajar tuan, karena nenek hanya jatuh dengan jarak yang pendek itu pun di tangga darurat, benturan di kepalanya sangat tidak wajar, biasanya benturan seperti itu di dapat akibat kecelakaan kendaraan atau benturan batu atau benda tumpul yang dipukul dengan sangat kuat, atau bisa juga jika kepala di benturkan ke benda keras maka akan mendapatkan cedera separah itu," jelas Dokter Vanya.


"Saya tidak langsung menjelaskannya di depan keluarga pasien, karena melihat situasi yang tidak memungkinkan, saya juga heran bagaimana nenek bisa mendapatkan luka sebesar itu," jelas Dokter Vanya.


"Belum lagi memar biru di punggung nenek ada sampai 4 memar, ini sungguh aneh, awalnya saya pikir kalau nenek mengidap penyakit lain namun setelah di cek ternyata itu memar akibat pukulan," ucap Vanya.


"Arhhh... bagaimana ini bisa terjadi!" geram Alex sambil mengepalkan tangannya.


"baiklah kalau begitu saya permisi dok, ahh boleh saya minta kartu nama Anda? mungkin akan perlu untuk kebutuhan penyelidikan," jelas Alex.


"Baiklah, ahh... ini tuan silahkan," ucap Dokter Vanya sambil menyerahkan kartu namanya.


Alex membaca kartu nama itu, lalu memasukkan nomor itu ke ponselnya.


Drrtt..drrttt..


Ponsel Vanya berbunyi, "Simpan nomorku, " ucapnya sambil memasukkan ponselnya ke dalam kantung celananya.


"Nama Anda?" tanya Dokter Vanya.


"Alex Hilton!" ucapnya.


"Baiklah,"


"Saya permisi dok, terimakasih atas penjelasannya," ucap Alex yang dianggukkan oleh Dokter Vanya.


Alex keluar dari ruangan dokter Vanya dengan seribu pertanyaan di kepalanya, dia langsung berjalan menuju ruangan Gama dan yang lainnya.


"Baru kali ini aku melihat seseorang segesit itu, dan dia tidak banyak berbicara, wahh sungguh pria yang unik, eh...? kenapa aku jadi memikirkannya? huffft sadar Vanya uang berobat adekmu belum lunas jangan aneh-aneh!!" gumam dokter cantik itu sambil menepuk wajahnya.


.


.


.


Like, vote dan komen 😊😊😉😊😊😊


Ciee dokter Vanya uhuyyy hahhaha


__ADS_1


__ADS_2