
Ken memapah Luna yang merasa pusing, Aiden mendorong kursi roda Gama, mereka berjalan menuju mobil Gama.
"Ferdi, boleh aku minta tolong?" ucap Gama tiba-tiba.
"Katakanlah," ucap Ferdi.
"Bima kau pergilah bersama Ferdi dan melapor tentang kalian yang akan tinggal di rumah Luna, aku tidak mau ada gosip buruk lagi tentang Luna," ucap Gama sambil terus menatap Luna yang dibantu Ken masuk ke dalam mobil.
"Baiklah," ucap mereka berdua.
"Emmm...tapi aku bawa motor, kalian pergilah dahulu," ucap Ferdi.
"Tak perlu, kita naik motormu saja," ucap Bima.
"Baiklah kalau begitu," ucap Ferdi.
"Kami pergi dulu," ucap Bima yang dianggukkan oleh Gama.
"Setelah itu kalian langsung ke rumah ya!" ucap Gama lagi yang ditanggapi dengan acungan jempol oleh Bima.
Gama, Ken, Aiden dan Luna kembali ke rumah sedangkan Bima dan Ferdi melapor ke kantor kepala desa, memang begitulah kebiasaan di desa itu, jika ada tamu atau orang asing yang ingin menginap maka harus melapor pada kepala Desa.
Ken mengendarai mobil dengan tenang, sesekali ia melirik Luna yang bersandar di bahu Gama dengan Gama memeluknya dari samping.
"Tenanglah Luna, kau tidak boleh panik. Mungkin saja mereka sedang dalam perjalanan atau ponselnya mati," ucap Gama sambil menepuk-nepuk bahu gadis itu.
"Semoga saja Gam, aku takut Yuna kenapa-kenapa, meski dia bukan adik kandungku aku sangat menyayanginya, hanya dia keluargaku satu-satunya," lirih Luna.
"Hey, apa kami bukan keluarga bagimu, anggap aku kakakmu," ucap Aiden.
"Anggap kami keluargamu Luna, aku menganggapmu sebagai adikku," tambah Ken.
"Dan aku suamimu, aku adalah keluargamu!" ucap Gama.
Luna mengangkat kepalanya dan menatap mereka satu-persatu, bulir-bulir bening jatuh dari kedua pelupuk matanya.
"Terimakasih kak Ai, Kak Ken, Gam," ucap Luna terharu.
"Aku sangat menginginkan keluarga, punya kakak pasti akan sangat menyenangkan, punya orangtua, punya saudara, hanya saja nasibku begitu buruk," lirih Luna sambil menunduk.
Gama menggenggam erat tangan gadis itu, Luna tampaknya mulai bisa mengeluarkan keluh kesahnya dan rasa sesak yang ia pendam selama ini di hadapan mereka.
"Kau bisa menceritakan semuanya pada kami Lun, jangan ragu kami kakakmu, mulai hari ini kami juga keluargamu," ucap Ken.
Akhirnya selama perjalanan mereka mendengar cerita Luna, identitas Luna yang tidak ia ketahui, amnesia yang dia alami, traumanya, kecacatan yang dialaminya serta saat ia ditemukan oleh kakek dan nenek Frans dan semua tentang dirinya.
Ken dan Aiden begitu terkejut saat mengetahui kebenaran tentang diri Luna, apalagi saat melihat bekas ikatan di kaki kanan yang masih membekas, tampaknya kakinya diikat sangat erat serta kaki kiri Luna yang buntung.
Luna setiap hari selalu memakai celana panjang, jika harus memakai celana pendek maka ia akan memakai kaos kaki untuk menutupi bekas lukanya.
Deg
Deg
Deg
Jantung Ken berpacu dengan cepat, ia melihat bekas ikatan itu, bekas yang sama seperti miliknya, bekas luka di kedua pergelangan kakinya. Bagaimana ini bisa terjadi pikir Ken.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya kau Luna?" batin Ken.
Aiden dan Gama menatap heran saat melihat Ekspresi Ken yang tampak pucat, bahkan tangannya gemetar saat memegang setir mobil.
Sejenak Gama dan Aiden berpikir, mereka tahu arti dari ekspresi pria itu.
"Kau kenapa kak Ken? apa kakak sakit?" tanya. Luna.
Ken tersadar, ia menepis rasa risaunya dahulu, ia tak mau terjadi apa-apa dengan mereka karena saat ini ia menyetir.
"Ahh...tidak apa apa nana," ucap Ken tiba-tiba memanggil Luna dengan nama gadis yang dirindukannya.
deg
Mendengar nama itu jantung Luna bak lari maraton. Ia merasa senang, sedih dan rindu dengan nama itu, namun ia menepis perasaannya, ia tidak tahu apa itu.
"Nana?" ucap Luna bingung.
Gama dan Aiden menunggu reaksi Luna.
"Nana siapa kak? apa itu panggilan untukku? atau kak Aiden?" ucap Luna dengan polosnya serta tatapan sedikit meledek pada Aiden.
Tampaknya setelah bercerita, mood Luna sudah kembali membaik.
"Hey namaku Aiden bukan Nana," ketus Aiden.
"Hehehe, bercanda kak," kekeh Luna.
Gama menghela nafas lega saat melihat gadis itu kembali ceria begitu juga dengan Ken dan Aiden.
"Syukurlah dia sudah tersenyum lagi, aku akan mencari tahu semuanya Luna, jika kau memang adik Ken maka aku akan melindungi kalian dari orang jahat itu, tak akan ku biarkan mereka hidup tenang," batin Gama dalam hatinya.
"Nana itu nama adikku Luna," ucap Ken.
"Ahh kak Ken punya adik ya, wah pasti dia cantik sekali secara Kak Ken kan juga tampan," ucap Luna.
"Ya dia cantik sekali, sangat cantik seperti dirimu," ucap Ken sambil tersenyum mengingat wajah cantik adiknya.
"Benarkah? apa aku boleh bertemu dengannya?" tanya Luna.
"Seandainya bisa, aku juga ingin bertemu dengannya Luna, dia...dia sudah pergi untuk selamanya," lirih Ken.
"Ahh...ma...maafkan aku kak Ken,aku...aku tidak bermaksud," ucap Luna meras bersalah mengungkit masa lalu Ken.
"Tak apa- apa Luna," ucap Ken sambil tersenyum agar gadis itu tenang. Tampak Luna ingin menanyakan sesuatu, ia rasanya sangat penasaran namun diurungkannya.
" Sebaiknya aku tidak menanyakan itu, nanti saja jika suasana lebih baik," batin Luna.
Gama menatap Luna yang menjadi diam.
"Apa yang kau pikirkan Luna?"tanya Gama.
"Hmm?" ucap Luna menatap Gama.
"Ah tidak ada Gam, oh iya keadaanmu bagaimana? apa ada yang sakit? apa kau kelelahan?" tanya Luna sambil memeriksa tubuh Gama dengan penuh perhatian.
Gama yang menerima perlakuan seperti itu menjadi tersenyum karena merasa diperhatikan oleh istrinya.
__ADS_1
Gama menggelengkan kepalanya,"Aku baik-baik saja, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku," ucap Gama sambil tersenyum.
"Sudah kewajibanku, aku kan istrimu," ucap Luna sambil menunduk Karena malu dengan kata-katanya sendiri.
"Cieee.... ada yang mulai jatuh hati nieee," ledek Aiden.
"Heheheh, jangan meledekku kak, aku malu," ucap Luna langsung menutup wajahnya yang memerah.
Ken, Aiden dan Gama tergelak melihat tingkah malu-malu gadis cantik itu.
"Emmmm....Luna, tadi kau mengatakan kau melihat potongan memori masa kecilmu, apa yang kau ingat?" tanya Aiden yang sedari tadi penasaran dan benar-benar ingin bertanya.
"C'mon man, jangan melihatku seperti itu, aku hanya penasaran," ketus Aiden saat mendapat tatapan menyeramkan dari Gama dan Ken.
"Emm....aku seperti melihat ruangan hitam seperti gudang, ada suara gemerincing dan ada yang masuk tapi aku tak tau dia siapa, dan ada anak lelaki di sampingku, aku tidak tau, wajahnya buram..." ucap Luna.
" argkkkhhh....shhhh....kepalaku kok sakit sih," ucap Luna reflek memegang keningnya.
"Gemerincing?" batin Ken.
Deg
"Nana!"ucap Ken dalam hati.
"Hmmm....sudahlah kau tidak usah mengingat itu,aku tak mau kau sakiti karena masa laluku," ucap Gama.
Luna mengangguk dan menyandarkan tubuhnya di kursi agar sakit kepalanya berkurang.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah, tampak sebuah mobil mewah berwarna hitam tengah terparkir di samping ketiga mobil sport yang juga diparkir disana.
Tampak seorang pria dengan kacamata hitam dan setelan jas formal tengah duduk di depan mobilnya sambil menunggu seseorang.
"Hei tuan apa kau tuli? tuanmu tidak ada disini, kenapa kau malah diam di sini? sana cepat pergi, ini rumah sahabatku!" ketus seorang gadis yang tak lain adalah Andin.
"Kenapa kau cerewet sekali nona!" kesal Pria yang tak lain adalah Mark yang datang mencari tuannya.
"Terserah padaku, ini mulutku, kenapa juga aku harus bertemu dengan kulkas lima pintu seperti dirimu, bahkan di tempat yang sama ck...." kesal Andin.
"Astaga baru kali ini aku melihat Mark bisa berbicara dengan wanita, apa pria itu sedang sakit Gam?" celetuk Aiden saat melihat perdebatan kedua orang itu dari dalam mobil.
"Itu siapa?" tanya Luna.
"Dia asistenku Mark," jawab Gama.
"Asisten? sebenarnya apa pekerjaanmu sampai kau mempunyai seorang asisten?" tanya Luna terheran-heran.
"Dia seorang Presdir Luna," ucap Ken.
"Ck...jangan bercanda denganku kak Ken," ucap Luna tidak percaya.
"Ya sudah kalau tidak percaya,"balas Ken sambil memarkirkan mobil ke halaman rumah.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan Komen 😊😉😊