
Clara duduk dengan wajah munafiknya di dalam ruangan bersama gerombolan ceetah yang siap menerkam dirinya kapan pun mereka mau.
Gama sendiri kembali ke kamar Luna, dia merasa mual saat melihat dan mencium bau parfum Clara, padahal tak tercium apa-apa di hidung yang lain.
Sepertinya baby mereka bahkan tau memilih siapa yang cocok dijadikan teman.
"Eghh, dia bau sekali!" Gerutu Gama sambil melangkah ke kamar Luna.
Mata mereka semua tertuju pada gadis itu, sorot mata tajam dan kejam memburu jantung Clara yang merasa gugup sekaligus kesal dengan mereka.
"Ck... Sialan, kalau bukan karena si bodoh itu belum menandatangani dokumennya, aku tak akan berdiam diri seperti ini!!" Batin Clara sambil menunduk dan mengepalkan kedua tangannya.
"Sayang, apa kau tau tidak toko yang menjual topeng di kota ini? Aku ingin cari topeng yang bagusss sampai orang tidak tau wajah di balik topeng itu," ucap Andin sambil bergelayut manja di samping kekasihnya Mark.
"Sa.. sayang?"
Gumam mereka semua sambil mengalihkan tatapan mereka pada Andin yang tiba-tiba bertingkah aneh.
Apalagi dengan Mark dia malah terbelalak mendengar kata kata sayang dan sikap Andin yang memeluk lengannya dengan posesif.
Mark tentu tak marah, kesempatan besar pikirnya.
"Wah parah, Andin mulai beraksi, gak ada Luna, Andin yang beraksi, gadis gadis ini benar-benar bar bar!" Batin Alex.
Mark tersenyum tipis, dia membalas kekasihnya sambil merangkul dan merapatkan tubuh Andin ke pelukannya.
"Hmmm,cari topeng ya, kurasa seseorang di dalam ruangan ini tau produsen topeng yang terbaik, karena topengnya benar-benar bagus, sayang" ucap Mark sambil mengusap pucuk kepala Andin.
"Asataga jantung ku nggak kuat kalau begini Maaaaakk," batin Andin yang malah termakan caranya sendiri
Andin mendengus, dia berusaha menetralkan jantungnya, misinya membuat Clara jatuh mental harus berhasil, pikirnya.
"Sepertinya, kita bisa tanya pada gadis itu Din, kakak juga pengen beli topeng mau di pakai berdua, iya kan sayang," imbuh Rose yang malah ikut memanaskan situasi.
Ken tersenyum mendengar panggilan Rose pada dirinya, dengan cepat dia menggenggam tangan Rose.
"Ya, sepertinya dia tau," ucap Ken sambil melirik Clara yang pura pura tidak mendengar percakapan mereka dengan sibuk bermain ponsel.
Sebenarnya Andin dan Rose melakukan ini agar Clara tak berani macam-macam pada pasangan mereka masing-masing, tentu mereka tak mau ada pelakor disini apalagi paras Clara cantik tapi tak secantik akhlaknya.
"Astaga Tuhan, kejam sekali mereka ini pamer pasangan di depan jomblo, huh kapan aku punya pasangan Thor!!!"gerutu Alex di dalam hatinya.
"Astaga mereka ini benar-benar, huuffttt syukurlah Anna tidak disini, pikirannya bisa dikotori dengan ulah kakak kakak sablengnya ini," batin Ferdi .
"Oh iya Anna!!" Teriak Ferdi tersadar membuat mereka semua terkejut bukan main mendengar teriakan pria muda nan tampan itu.
Prangg...
"Eh kampret, bisa nggak jangan teriak-teriak!! Kuping gue budek tau dasar bodoh!!!" Teriak Clara yang terkejut bahkan sampai menjatuhkan ponselnya dan membuat ponselnya pecah.
__ADS_1
Mereka semua menatap tak percaya dengan gadis yang tidak punya sopan santun itu. Mata mereka terbelalak dengan sifat asli gadis itu.
"Eh...ma.. maaf, sa.. saya hanya terkejut, ma.. maaf," ucap Clara gugup sambil memungut ponselnya yang pecah itu dengan terburu-buru.
"Pfftttthhh," Rose dan Andin terkikik geli melihat wajah pias Clara yang baru saja menunjukkan salah satu sifat aslinya.
"Tolong jaga mulutmu itu, dasar perempuan munafik!!" Senggak Ferdi dengan sorot mata tajam, meski usianya lebih muda tetapi Kharisma nya jika sudah marah akan membuat dirnya Benar benar berbeda dari Ferdi yang biasanya.
"Hahahah, Ferdi benar-benar banyak berubah," bisik Ferdi di telinga Mark.
Jujur saja Mark sangat menyukai situasi seperti ini yang bisa membuat hubungannya dengan Andin semakin dekat.
Mark tersenyum lembut, " itu juga karena ada sahabat-sahabatnya yang mendukung dia sampai sejauh ini, dan salah satunya adalah kamu," balas Mark yang membuat Andin tersipu malu dan wajahnya merona membuat Mark gemas sendiri melihat wajah kekasihnya itu.
"Wah, Apa Ferdi selalu begitu Ken?"bisik Rose pada Ken.
Ken menoleh pada Rose, " tidak, dia hanya akan mengeluarkan taringnya jika benar-benar perlu seperti saat ini," jelas Ken sambil menyisipkan anak rambut Rose ke belakang telinga nya, Rose tersipu malu dengan perlakuan manis Ken meski di depan sahabat sahabat mereka, pria itu tak segan berbuat romantis.
Mereka yang romantis romantisan, Alex yang bersungut-sungut di ujung lain ruangan itu.
"Cih... Dasar sok mesra, pamer pacar masing-masing, Arhhkkk... Kenapa aku harus menyaksikan pemandangan ini !!!" Alex mendengus kesal.
"Ckk.. mending aku ke kamar Luna dan melihat bagaimana nasib si bodoh itu sekarang daripada harus menonton drama romansa di siang hari yang cerah ini," batin Alex sambil bangkit berdiri.
"Mau kemana Lex?" Tanya Ken.
"Mau ke kamar Luna, males nonton Drama romansa terus dari tadi," sindir Alex dengan tatapan kesal.
"Kak, aku jemput Anna dulu ya, dia pasti udah nungguin, takutnya traumanya balik lagi," ucap Ferdi segera mengambil konci sepeda motor yang diberikan Gama padanya.
"Ahh oke, kalau balek bawain martabak ya Fer!" Pesan Andin.
"Oke, ada pesanan lain gak? Biar sekaligus," Tanya Ferdi.
"Sekalian bawain topeng Fer hahahahah," kekeh Rose sambil melirik Clara yang berwajah masam.
"Ahh tooo...peng ya," ucap Ferdi sambil menatap Clara.
"Oke, aku pergi dulu kak!" Ucap Ferdi.
"Hati-hati di jalan, bawa Annanya hati hati ya Fer!" Pesan mereka yang dianggukkan oleh Ferdi.
Setelah kepergian pria itu, Andin dan Rose semakin menjadi-jadi mengganggu si ulet keket yang duduk di ujung sofa.
"Kalian mau minum apa? Biar ku buatin, soalnya disini suasana PANASHHH!!"ucap Andin.
"Apa aja deh, yang penting seger!" Seru Ken.
"Oke," ucap Andin.
__ADS_1
"Din aku iku," ucap Rose langsung beranjak mengejar Andin.
Kini tinggal Mark, Ken dan Clara di dalam ruangan itu, hening, tak ada percakapan, suasana dingin menyeruak menyentuh kulit tipis Clara membuat bulu kuduknya merinding, kedua pria tampan itu tak melakukan apa-apa tetapi suasananya benar-benar mencekam.
Raut wajah Ken dan Mark kembali dingin dan datar tepat setelah kedua gadis itu meninggalkan mereka disana.
"Seram, sepertinya nafasku tercekat, kenapa mereka semenyeramkan itu, ughh... Ini sangat menyiksa," batin Clara yang melirik lirik Ken dan Mark yang sedang fokus dengan ponsel mereka masing-masing.
"Ekhm.. Ken apa yang akan kita lakukan pada tahanan itu?" Tanya Mark menyinggung soal Lima manusia tanpa otak dan hati nurani yang masih di kurung dalam tahanan markas J.B group.
"Ahhh,kurasa orang yang mencoba menghancurkan kita harus dihancurkan kembali, mungkin dibuat mati perlahan lahan lebih baik Mark," balas Ken dengan seringai di wajah tampannya.
"Caranya, ?" Tanya Mark.
"Mungkin untuk seseorang yang menusuk dari belakang akan sangat cocok dikuliti hidup-hidup, lalu gantung tubuhnya di hutan belantara supaya di makan burung bangkai," ucap Ken sambil menatap ke arah Clara dengan tatapan Pembunuh hingga membuat gadis itu merasa ketakutan.
"Ah,.. pasti jantungnya akan dimangsa terlebih dahulu, akan menyenangkan melihat itu!" Balas Mark.
"Hmm kau benar, pertama sekali kita kuliti, dengan gunting kuku, lalu bawa tubuhnya ke atas pohon paling tingga dan biarkan disana,"
Greepp... Krekkk
"Seketika tubuhnya hancur berantakan karena menjadi rebutan burung bangkai hahhaha," ucap Ken dengan tawa kesetanan yang sudah jarang dia tunjukkan.
Glekkk
Clara menelan kasar Salivanya,
"Psikopat, mereka psikopat, gadis-gadis tadi juga, aku tau mereka menyinggung ku, ck... Arghhh sial, bagaimana caranya aku bisa pergi dari sini?" Pikir Clara.
"Tak mungkin mereka tau kan? Kami menyembunyikannya dengan rapat, tak mungkin kan mereka tau," batin Clara.
Gubrak...
Pintu di buka dengan kadar dan seseorang terjatuh di atas lantai dengan tubuhnya berlumuran darah
Mereka tersentak kaget melihat siapa yang masuk ke dalam apartemen Alex.
"Aideeennnn!!!!" Teriak Ken dan Mark begitu juga dengan Rose dan Andin .
"Ini kesempatan untuk lari!!"pikir Clara yang bersiap lari keluar saat mereka lengah.
"Duduk dulu nona, mau kemana hmmm?" Bisik Rose dengan tatapan tajam sambil mencengkram kuat lengan gadis itu hingga membuatnya sedikit meringis kesakitan.
"Arghhhhh.. ssshhhhh sakit," rintih Clara masih dengan aktingnya sebgaai gadis polos dan lugu.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 😉😉😉😉