Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
The Real Revenge 2


__ADS_3

Ken tersenyum tipis saat melihat tuan Anderson menangis histeris saat melihat istri dan anak perempuannya diseret dengan kaki yang terpenggal dengan darah yang muncrat kemana mana bahkan mereka sudah tak sadarkan diri.


"KEJAAAMMM KALIAN KEJAAMM!!!!!!" Teriak tuan Anderson dengan amarah yang membuncah dia menghancurkan semua barang di dalam ruangan itu, Ken dan Gama menatap sinis ke arah pria yang kini sedang menggila itu.


"Kejam? itu tidak seberapa dengan kematian Mama kami Anderson! kau membunuhnya, kau menghianati nya sejak awal!!" teriak Ken.


"Arrhhhh siaaal semua gara gara wanita sialan itu, kenapa kalian harus dilahirkan kenapa kalian harus mengacaukan kehidupan ku!!!" teriak Anderson.


Ken mengeraskan rahangnya, dia dan Luna hanya mengharapkan satu permintaan maaf yang tulus dari pria itu namun, tak ada satu kata maaf yang tulus keluar dari mulutnya bahkan di saat Gisel dan Laura dihukum.


"Bawa benda itu ke dalam, ikat dia!" ucap Ken pada bawahannya yang mengawasi Anderson di dalam bangunan itu.


"Apa yang mau kau lakukan bajingan, anak durhaka!!" teriak Anderson yang kini sudah diikat oleh anak buah Ken di dalam ruangan itu.


"Lepas... Lepaskan aku lepaskan aku dari sini!!!!" teriak Anderson meronta ronta saat mengeluarkan mengikat tangan dan kakinya.


"kau akan merasakan apa yang kami rasakan saat pedofil itu memberikan minuman ini pada kami!" ucap Ken.


Seorang pengawal masuk dengan membawa sebuah mangkuk berisi minuman berwarna hitam pekat. Dari warnanya tampak minuman itu adalah racun, bahkan aromanya sangat menyengat sampai-sampai pengawal yang menjaga Tuan Anderson memakai penutup hidung agar tidak menghirup aroma racun itu.


"Apa itu Ken?" tanya Alex.


" Racun Hemlcok atau sering disebut Conium, racun ini di campur dengan Polonium yang punya bau yang sangat menyengat, ku bawa dari Eropa," jelas Ken.


"He.. Hemlcok? kau gila Ken!" ucap Alex terkejut saat Ken menggunakan Hemlcok yang sangat mematikan untuk di berikan pada pria itu.


"Apa itu,apa yang mau kau lakukan padaku hah!!" teriak Anderson ketakutan saat anak buah Ken membawa benda itu ke dalam ruangan.


"Biarkan dia meminumnya!" ucap Ken.


Pengawal itu menarik kepala Anderson dnegan kasar dan mendongakkan kepalanya ke atas menghadap langit langit ruangan itu.


Glek..


glekk..


glekk


Anderson di paksa meminum racun yang sangat mematikan itu.

__ADS_1


"Uhukk.... uhukk... kau kejam Ken, kau jahat!!!" teriak Anderson marah.


"Bahkan di saat seperti ini pun kau tidak mengakui kesalahanmu!!" teriak Luna yang sedari tadi menonton mereka melalui kamera itu.


"Ahhh.... nasib sial apa ini sampai aku harus punya seorang ayah seperti dirimu, kejam sekali kau bahkan tidak memihak kami, sampai detik ini kau tidak mengganggap kami anakmu!!!" teriak Luna menangis tersedu-sedu, dia benar-benar sedih saat melihat Anderson bahkan tidak menganggap mereka sebagai keluarga.


"Cuihh.. lebih baik aku mati daripada harus memiliki anak seperti monster, cih... anak dari jal4ng sialan itu membuat hidupku dan keluarga ku tersiksa!!!" ucap Anderson.


Kan dan Luna terdiam, mereka benar benar sedih dengan ucapan Anderson, luka dihati mereka semakin dalam menembus relung hati terdalam mereka.


"Lepaskan ikatannya, biarkan dia merasakan siksaan itu!" ucap Ken yang langsung dituruti oleh anak buahnya.


Perlahan Anderson mulai melemah, dia tak bisa bergerak, tubuhnya mulai mati rasa namun kesadarannya masih ada.


"Eghh... apa yang kau berikan padaku, uhukk uhuk...," Anderson mulai merasakan efek racun itu.


Brukk


dia terjatuh ke lantai, sendi sendinya melemah, matanya membulat, urat uratnya tampak menegang, wajahnya memerah menahan rasa sakit di tubuhnya.


Racun Hemlcok dan Polonium bekerja menyerang sistem tubuh secara perlahan lahan membuat yang mengonsumsinya merasakan kematian yang sangat menyiksa.


"Ingat ini tuan Anderson, ku harap kau akan terlahir kembali dalam keluarga yang kacau dan mengalami hal yang sama seperti yang kami alami, kuharap hidupmu menderita!!" ucap Ken.


"Eghhh.. uhuk...uhuk... ma.. maafkan aku," ucap Anderson sebelum dia benar benar Lumpuh dan tak bisa bicara, tubuhnya kaku dia tidak bisa bergerak dengan bebas, racun bekerja dengan sangat cepat menyerang sistem tubuhnya.


Dia tak lagi bergerak, namun Matanya masih bergerak dan kesadarannya masih ada, dia menatap ke layar LED dimana Luna menangis sambil memeluk Andin dan Anna dan Mikha dan Ken juga menangis.


"Aku patut dihukum," batin Tuan Anderson sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya di depan mereka semua.


"Hufff, ini pembalasan yang setimpal bagi orang yang telah menghancurkan kehidupan kita," ucap Bima.


"Bahkan sampai Akhir dia tidak meminta maaf dengan tulus, sampai akhir dia bertahan dengan pendiriannya," ucap Mark.


" Urus jenazahnya, berikan pemakaman yang layak baginya, Bagaimana pun dia masih orangtua kandung Luna dan Ken,"ucap Gama.


Mereka semua hening sejenak, Rose mengusap punggung Ken yang tampak sangat terpuruk, dia menggenggam tangan pria itu agar bisa menguatkan dirinya.


Ken menatap Rose dengan mata berkaca-kaca, dia memeluk kekasihnya itu dnegan erat, menumpahkan segala kesesakan dalam hatinya.

__ADS_1


"Tenang Ken," ucap Rose sambil mengusap punggung pria itu.


Mark, Bima, Alex dan Gama menatap tawanan yang lain. Mereka semua sudah bergetar ketakutan melihat cara mereka menghukum tuan Anderson, Gisel dan Laura, bukan hanya hukuman biasa namun langsung memusnahkan mereka dari muka bumi ini.


Pak Subroto hanya dia menatap mereka dengan wajah pucat ketakutan begitu juga dengan Harry yang duduk meringkuk di sudut sel itu.


Melly sendiri diam tak berani bicara, keluarga Rose juga sama ,mereka tak bisa berkutik dengan apa yang mereka lihat tadi sungguh mengerikan dan itu adalah hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka masing masing.


Krakk.


krakk


"Eghhh saatnya membereskan para tikus," ucap Alex maju ke depan sambil merenggangkan tubuhnya, Bima dan Mark ikut berdiri di depan sel itu dengan senyuman menyeringai membuat para tahanan bergetar ketakutan melihat mereka disana.


Sedangkan Gama, Ken dan Rose menenangkan diri mereka. Gama pergi keluar untuk menelepon sang istri yang tampak menangis akibat kejadian tadi, dia benar benar khawatir dnegan kondisi istrinya.


Gama menghubungi istrinya via video call.


"Halo sayang," ucap Gama saat di luar di ruangan itu, dia kini duduk dalam ruangan pribadinya di dalam gedung itu.


"Halo, apa sudah selesai?" ucap Luna dengan suara lirih tampak dia habis menangis, sebab Luna dibawa Andin untuk menenangkan diri tadi.


"Belum, biarlah mereka yang menangani orang orang itu, kamu baik baik saja? apa kau menangis? bagaimana kondisimu, aku benar benar khawatir, apa aku harus kesana?" tanya Gama, tampak pria itu benar benar khawatir dengan kondisi istrinya yang sedang hamil besar itu.


"Aku baik sayang, huffft... hanya saja yang kusesali dia bahkan tidak mengucapkan satu kata maaf yang tulus dan benar bahkan di ujung hidupnya,"lirih Luna sambil meneteskan air matanya.


"Husshh sayang jangan menangis lagi, sudah sudah jangan menangis lagi ya, sekarang kamu tenangkan pikiranmu, sebentar lagi aku pulang, tenang ya," ucap Gama


"he.. em... cepat pulang," ucap Luna yang dianggukkan oleh suaminya.


Sementara mereka berbicara di sana, Dalam ruangan penyekapan, tampak Mark, Alex dan Bima mulai menggila.


"Bawa ketiga pria bajingan itu ke depan ini, ikat mereka !" titah Mark.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 😉😉😉


Giliran bang Mark, Alex dan Bima guys


__ADS_2