Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
114


__ADS_3

Aiden, Rendy, Ken, serta Mark berusaha keras untuk melacak keberadaan Luna sedangkan Bima menemani Gama di rumah besar Park.


Pria itu benar-benar sudah seperti mayat hidup sekarang, dia mengurung diri di dalam ruang kerjanya menatap layar komputernya dan mengulang-ulang video saat Luna menangis di belakangnya.


"Ayolah Gam, kau harus makan bagaimana kau bisa mencari Luna jika makan pun hanya sekali sehari?" Ucap Bima berusaha menyadarkan Gama.


Mendengar nama Luna, Gama meraih makanannya dia mengunyah makanannya tanpa semangat, ini adalah hari kelima Luna tidak bersamanya dan selama hari itu pula dia makan hanya sekali sehari.


"Arhhh.... bagaimana ini Bima? Sudah lima hari tapi Luna belum juga ditemukan, uhukk....uhukk....uhukk," tangis Gama tersedu-sedu saat memakan makanannya bahkan dia sampai tersedak.


"Tenanglah Gam, kalau kau begini kau tidak akan bisa menemukan keberadaan istrimu, kami sejua berusaha mencarinya bahkan keluarga Farenheit juga ikut turun tangan !" ucap Bima seraya memberikan air minum untuk Gama.


"Kau harus kuat demi Luna!" Tegas Bima.


"Arhhh.....aku hancur Bima, hidupku hancur, bodoh, bdoh kau Gama!" Teriak Gama frustasi.


"Ck....cepat makan makananmu, kau bisa sakit, kalau kau sakit Luna tidak bisa ditemukan!" Ucap Bima.


Gama menurut, dia makan dengan tidak berselera.


Anna dan Andin sudah kembali ke rumah utama keluarga Park setelah Ferdi dan Bima mengurus pelayan yang menjadi mata-mata di rumah itu.


Dua hari laiu saat mereka sampai di rumah besar Park, mereka langsung mengecek rekaman CCTV rumah itu, ternyata ada seorang pelayan wanita yang sering mengintip dan mencuri dengar pembicaraan mereka selama di rumah itu, dia baru diterima beberapa hari yang lalu sebagai pembantu di rumah itu.


Ferdi dan Bima langsung mengeksekusi pelayan wanita itu, mereka tau bahwa dia adalah orang suruhan tuan Jae Sung yang sedang di bekuk di sel tahanan khusus dan sedang dalam proses hukum.


Anna mengintip kakaknya dari balik pintu, dia menatap sedih pada Gama.


"Hiks....hiks...hiks... hikss," Anna menangis di dekat pintu ruangan itu.


Bima dan Gama yang mendengar suara tangis seseorang menoleh ke arah pintu masuk.


Bima beranjak lalu mendekati pintu itu, dia cukup terkejut melihat Anna yang menangis di balik pintu sambil meringsut ke lantai.


"Anna, kenapa kau disini? Apa kau sedih dek, ayo masuk ke dalam," ucap Bima seraya membantu Anna untuk bangkit berdiri.


Anna masuk masih dengan tangisannya, dia menangis menatap kondisi kakaknya yang sudah seperti gelandangan.


"Hiks...hiks...hiks...kakak bodoh, kenapa kakak bisa sampai sebodoh itu huhuhuh," Anna memeluk Gama yang menatapnya dengan tatapan sendu.


"Kenapa kakak biarkan Kak Luna sendirian, hiks... hiks...hiks, apa masa lalu kakak sebegitu berpengaruhnya sampai sampai kakak melupakan istri sendiri?" Tangis Anna tersedu-sedu.


Anna kasihan sekaligus kesal pada Gama, tapi dia sudah berjanji pada Luna untuk tidak memberitahukan keberadaan gadis itu.


"Kenapa kakak gak bisa move on dari masa lalu kakak, kakak sampai melupakan kak Luna hiks hikss, gimana kalau kak Luna kenapa-kenapa?" Tangis Anna lagi.


"Maaf sayang, kakak benar-benar gelap mata hari itu...emm..ka...kakak, arhhh....kakak benar-benar menyesal hiks hiks," Gama ikut menangis, pria itu berubah menjadi sangat cengeng sekarang.


Mereka berdua menangis bersama sama, Bima juga ikut sedih tapi dia tak bisa berbuat apa-apa untuk menemukan keberadaan Luna.

__ADS_1


Aiden dan Ken belum memberitahukan keterlibatan Alex dalam hilangnya Luna, mereka tidak ingin membuat Gama benar-benar kacau setelah mendengar berita itu.


Mereka harus memastikan terlebih dahulu apakah Luna benar-benar bersama Alex.


Hari menjelang siang, Anna duduk di ruang kerja kakaknya, dia menemani Gama yang seharian menatap layar komputernya dan melacak keberadaan istrinya.


Tampak pria itu berkali-kali menghubungi ponsel Luna, namun hasilnya masih sama, ponsel Luna tidak dapat dihubungi bahkan untuk dilacak keberadaannya pun tidak bisa.



Anna yang merasa bosan menyalakan siaran televisi nasional. Banyak berita yang disiarkan siang itu.


Tiba-tiba terdengar berita pembunuhan seorang wanita berusia 20 tahunan. Gama menatap layar televisi itu, matanya terbelalak mendengar dan menonton berita yang disampaikan oleh penyiar itu.


Deg


Deg


Jantung Gama berpacu dengan kencang, pikirannya tertuju pada Luna, apalagi saat melihat pakaian korban pembunuhan itu persis seperti pakaian Luna bahkan ukurannya sama, tas dan juga ponsel Luna sama persis dengan korban pembunuhan itu.


Gama berdiri, ia mendekati televisi itu berusaha mendengar lebih jauh lagi.


"Anna.....di...dia bukan ka...kakakmu kan An? A...apa dia Lu...Luna? Arhhh....Lu...na, Luna tidak ja..jangan tinggalkan aku arhhhhh....,"


Bruk


Gama pingsan, pria itu sudah tidak kuat lagi. Anna panik melihat reaksi kakaknya, dia pikir Gama tidak akan sebodoh itu mengenali istrinya sendiri yang jelas-jelas wajahnya berbeda dengan wajah korban pembunuhan itu.


"Kakak hiks hiks, Kaka Gama,.....Kaaakkk Biimaaaaa, Kaka Andiiinnnn, Kak Ferdiiiii.....tooooloooooongggg!!!" Pekik Anna histeris saat melihat Gama tak sadarkan diri setelah mendengar berita itu.


Bima, Ferdi dan Andin serta kepala pelayan dan pelayan lainnya berlari pontang-panting saat mendengar teriakan Anna.


"Ada...ap.....astaga Gama!!" Teriak Bima panik, dia langsung mendekati Anna dan Gama.


Ferdi cepat cepat menghubungi dokter George untuk memeriksa keadaan Gama yang sangat drop saat ini.


Bima mengangkat tubuh Gama ke dalam kamar Gama. Andin memegangi Anna yang tampak khawatir dan ketakutan melihat kakaknya pingsan seperti itu.


"Ada apa An?" Tanya Andin pada Anna, mereka sedang duduk di dalam kamar Gama.


"Hiks...hiks...ta.. tadi kak Gama melihat berita pembunuhan, Kakak berpikir korbannya adalah kak Luna padahal jelas wajah mereka berbeda, saat itu juga Kak Gama tidak sadarkan diri hiks...hiks...hisk," Anna menangis sambil menjelaskan kronologisnya.


"Fuuhh......kamu tenang ya An, kakakmu pasti baik-baik saja," ucap Andin seraya mengelus punggung Anna.


Bima memijit pelipisnya, dia harus menghubungi Ken dan Aiden agar datang kesini, Bima tidak bisa menghadapi Gama.yang depresi sendirian.


Tak beberapa lama Dokter George yang memang sudah ditugaskan di Jakarta berlari tergesa-gesa setelah menerima panggilan dari Ferdi yang mengatakan kalau Gama tidak sadarkan diri.


Selama beberapa hari ini Gama selalu menolak jika diminta untuk diperiksa keadaannya, tapi kali ini dokter George benar-benar harus bertindak.

__ADS_1


Saat dokter memeriksa keadaan Gama, Bima menghubungi Ken dan Aiden serta kedua asisten itu agar datang ke rumah besar Park.


Mendengar berita mengejutkan dari Bima sontak membuat mereka berempat khawatir dan panik.


Tawanan mereka yang belum dieksekusi mereka tinggalkan disana dan dijaga oleh penjaga khusus.


Dengan cepat mereka berempat melesat ke rumah besar Park yang jaraknya 20 menit perjalanan normal dari markas besar J.B grup.


"Bagiamana keadaannya dok?" Tanya Ferdi.


"Dia mengalami tukak lambung dan sistem imunnya menurun drastis, mungkin malam ini dia akan demam, kita harus segera memindahkannya ke rumah sakit," ucap Dokter George.


"Tidak, lakukan perawatan disini dok, ubah saja ruangan ini menjdi tempat perawatan, aku akan menyediakan peralatannya," ucap seseorang yang ternyata adalah Ken yang tiba dengan sangat cepat, dia menyetir seperti orang gila sehingg bisa sampai dalam waktu kurang dari 10 menit.


Sedangkan Aiden, Mark dan Rendy masih di jalan menyusul pria itu.


Semua orang menoleh pada Ken.


"Dia harus di bawa ke rumah skait Ken supaya lebih aman," ucap Bima.


"Jangan, traumanya bisa muncul jika dia ke rumah sakit apalagi saat ini dia sedang depresi, dan tidak ada Luna yang mendampinginya," tegas Ken yang sangat mengerti konsidi Gama.


Akhirnya mereka menurut dan mengubah ruangan itu menjadi ruang perawatan. Ken mendatangkan alat-alat medis dari rumah sakit miliknya dan memfasilitasi Gama di sana.


Sementara itu di apartemen Alex tampak Luna begitu panik saat melihat Gama tak sadarkan diri apalagi berita yang ditonton Gama juga dilihat olehnya.


"Kaaakk....Aaa.....leeexxxx, kita pulaaang sekarang!!" Teriak Luna.


Tap....tap....tap...tap


Alex berlari ke arah Luna dengan wajah panik saat mendengar teriakan gadis itu, dia baru saja dari kamar mandi bahkan masih ada tisu toilet di tangannya.


"Ada Apa Luna??" Tanya Alex sambil mengatur pernafasannya.


"Siapkan dirimu Kak, kita pulang sekarang!" Ucap Luna.


Alex menghembuskan nafasnya dengan kasar, sepertinya memang sudah saatnya dia bertemu dengan Gama.


"Baiklah, aku akan bersiap-siap dulu," ucap Alex yang langsung pergi ke kamarnya.


Luna menatap punggung Alex, gadis itu terlihat sendu.


"Kuharap hubungan kalian semua bisa diperbaiki kak, aku akan melakukan apa pun agar kalian semua bisa kembali bersama dan meluruskan kesalahpahaman ini!" Batin Luna.



.


.

__ADS_1


jangan lupa like, vote dan komen 😉😉😊


__ADS_2