Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
126


__ADS_3

Luna, Gama, Alex dan Aiden keluar dari ruangan dokter George dengan ekspresi yang tak bisa diartikan.


Drrtt....drrtt


Ponsel Aiden berbunyi, ia merogoh kantongnya dan melihat siapa gerangan yang meneleponnya, dan ternyata dia adalah sang adik laki-laki nya.


"Bro, kalian duluan aja, mau angkat telpon!" Ucap Aiden yang di balas anggukan oleh mereka bertiga.


Luna, Gama dan Alex masuk beranjak ke dalam ruangan Ken. Bima menatap mereka dengan tatapan sendu, pria itu benar-benar terpukul saat mendengar penjelasan dari dokter George sebelum Luna, Gama dan Alex datang.


Luna menatap Bima, dia tau kalau pria itu sedang sedih, gadis itu menatap suaminya. Seolah tau apa maksud Luna, Gama mengangguk pelan.


Gama dan Alex duduk di sofa bersebelahan dengan tempat tidur Ken sedangkan Luna dan Bima di sisi lain.


Gama membahas beberapa hal yang akan merekaakukan untuk menyelesaikan kasus tuan Jae Sung dan ketiga wanita yang di sekap di markas besar J.B grup.


Luna mendekati Bima, meski dia juga terpukul, Luna termasuk orang yang bisa kuat jika menghadapi hal seperti ini, apalagi mendengar ucapan dokter tadi besar harapan kalau Ken bisa sembuh.


"Kak Bim, kenapa diam saja?" Tanya Luna yang kini duduk di samping Bima.


"Emm....ngga apa apa Lun, kamu gimana? Kamu baik-baik saja?" Ucap Bima pelan sambil menatap Luna yang juga menatapnya.


"Luna tadi sempat syok saat dengar dokter George bilang kalau kak Ken mengidap meningitis, Luna takut kak Ken kenapa-kenapa," jelas Luna, tampak tangan gadis itu sedikit bergetar, bahkan suaranya juga lirih.


"Apa kakak khawatir?" Tanya Luna sambil meremas kedua tangannya yang bergetar.


"Jujur saja Luna takut kak, tapi Luna yakin kalau kak Ken akan sembuh," ucapnya lagi.


"Kakak juga khawatir Lun, dia sahabat kakak, kakak gak bisa terima kalau salah satu sahabat kakak kenapa-kenapa, rasanya seperti sebagian jiwa ini menghilang, kami sudah lama bersama, dia orang yang sangat kuat," ucap Bima lirih sambil menatap Ken yang berbaring di atas tempat tidur.


"Apa pernah kak Ken cerita?" Tanya Luna.


"Beberapa hari yang lalu dia sering mengeluh kalau kepalanya sakit, tangannya juga gemetaran, sudah ku ajak ke rumah sakit tapi dia bilang cuma kelelahan aja," jelas Bima.


"Ck....dia ini memang keras kepala, kalau sudah bangun akan ku omeli dia, " ketus Luna.


"Kau ini ya, orang sudah sakit mau kau omeli lagi, dasar cerewet!" Ledek Bima.


"Hmmm....dia membuat kita khawatir, seharusnya dia bilang kalau ada keluhan seperti ini, jangan sampai dia kenapa-kenapa, dasar bandel!" Ketus Luna.


"Sekarang yang perlu kita lakukan adalah memberikan semangat padanya, asal kau tau saat kau hilang dia menghajar suamimu seperti kesetanan!" Ucap Bima .


Luna menatap Bima sambil membelalakkan matanya, dia cukup terkejut dengan informasi ini.


"Benarkah itu kak?" Tanya Luna terkejut.


Bima mengangguk.

__ADS_1


"Wahh...pantas saja wajah suamiku lecek lecek, kupikir di cium nyamuk ehh tau taunya di cium tangan kak Ken heheheh," gurau Luna.


"Hahahah, kau ini bisa saja, eh Aiden dimana?" Tanya Bima.


"Kak Ai lagi telponan seseorang, Luna gak tau sama siapa," ucap Luna sambil berusaha membuka botol air mineral yang dia ambil dari atas meja.


Bima mengambil botol itu karena melihat Luna sedikit kesulitan membukanya.


"Mungkin itu adiknya, sepertinya ada masalah dengan adiknya di Belanda," ucap Bima sambil menyerahkan botol air mineral yang sudah di bukanya tadi.


"Terimakasih kak," ucap Luna sambil menerima botol itu.


"Sebenarnya ada apa dengan keluarga kak Aiden?" Tanya Luna penasaran.


"Ummm....kurasa lebih tepat kalau kau bertanya padanya nanti Luna, kakak gak enak kalau harus cerita," ucap Bima seraya menggaruk tengkuknya.


Luna mengangguk paham," oke deh, entar Luna tanyain," ujarnya.


"Kakak jangan khawatir ya, Luna yakin kak Ken pasti sembuh!" Ucap Luna menyemangati Bima.


"Heheh, kita terbalik ini, harusnya kakak yang nyemangatin kamu, haduhh kamu ini memang selalu di luar dugaan," ucap Bima sambil mengacak-acak rambut Luna.


Luna tersenyum lembut, senyuman yang benar-benar bisa menghibur sipaa saja yang sedang patah hati.


"Eh itu Aiden udah datang, tapi tu anak kenapa senyam senyum begitu?" Ucap Bima bingung.


"Mungkin otaknya korslet kak, atau ada sarafnya yang putus kali," ujar Luna sambil menatap Aiden yang berjalan dengan senyum sumringah di wajahnya.


"Aneh!" Celetuk mereka berdua saat Aiden duduk di samping Luna.


"Kak Ai kenapa, lagi kesurupan penghuni rumah sakit ini ya?" Ledek Luna.


Aiden menatap Luna dengan tatapan datar, seketika wajahnya kembali dengan senyuman sumringah di wajahnya.


"Uhhhh....kamu cantik banget sih, gemeshh kakak ulu ulu, adekku yang cantik, gemesin banget heheh," ucap Aiden sambil mengucek uyel pipi Luna seperti sednag bermain boneka.


Tapi matanya tampak sendu, meski dia tersenyum seperti itu, matanya mengatakan ada suatu hal buruk yang sedang terjadi.


"Ada yang aneh dengan Aiden," pikir Bima.


"Ada apa den? Pasti terjadi sesuatu, aku sangat mengenalmu, ada apa?" Tanya Bima.


Gama dan Alex turut memperhatikan mereka. Gama menyadari ada yang salah dengan Aiden, sebab meski pria itu tersenyum, matanya tampak menahan kesedihan yang mendalam.


Luna memegang tangan Aiden yang ada di wajahnya.


"Apa kau baik-baik saja kak?" Tanya Luna lembut.

__ADS_1


Aiden terdiam, dia menatap netra Luna, tiba-tiba saja dia menggeleng lemah, air matanya jatuh.


Ya seorang Aiden menangis saat ini, kepalanya menunduk, bahunya bergetar ada sesuatu yang membuatnya sampai selemah ini.


" Ada apa kak?" Tanya Luna panik saat melihat pria itu menangis di depannya.


"Arhhh...Papaku...Papaku meninggal dunia arhh....huhuhuhu," Aiden menangis tersedu-sedu saat memberitahukan apa yang terjadi.


Gama, Bima, Alex dan Luna begitu terkejut dengan berita itu.


Luna dengan cepat memeluk Aiden dan menepuk-nepuk punggung pria itu. Gama tidak marah sebab ia tau kasih sayang sahabat-sahabatnya pada istrinya sudah seperti seorang saudara kandung.


Gama dan Alex mendekati mereka dan memegang pundak Aiden.


"Arhhh....apa lagi ini Tuhan, kenapa semua masalah ini terjadi di saat yang sama," batin Gama.


Gama sangat kenal dengan Aiden, meski pria itu marah pada Papanya yang nyatanya selingkuh, dia tetap menyayangi Papanya sebab pria itu yang merawat dan membesarkan Aiden dan adiknya Benedictus sejak kecil.


Papa Aiden tidak seperti Mama mereka yang meninggalkan Aiden dan Ben saat mereka masih butuh kasih sayang seorang ibu.


Kehilangan sang Papa sama saja seperti kehilangan sebagian hidupnya. Belum sempat dia membahagiakan Papanya, tapi pria itu sudah dipanggil Tuhan terlebih dahulu.


"Kak Aiden, kakak harus tenang, hiks hiks hiks, Tuhan sayang sama Papanya kak Aiden makanya Tuhan panggil beliau sekarang, kakak harus kuat!" Hibur Luna.


Aiden memeluk Luna dengan erat, rasa sedihnya sedikit berkurang saat ada sahabat sahabat dan adiknya yang mendampinginya disana.


Benar benar hubungan yang tidak bisa di beli dengan uang. Persaudaraan yang benar-benar penuh kasih, saling mendukung dan menjaga satu sama lain, begitulah gambaran mereka saat ini.


"Kau harus tenang bro,Ben membutuhkanmu,kau pasti bisa!" Ucap Gama.


"Benar, kau harus kuat Aiden, aku akan menemanimu terbang ke Belanda, kita berangkat malam ini," ucap Bima.


"Akan kuurus keberangkatan kalian, malam ini kita akan terbang ke Belanda,aku ikut dengan kalian!" Ucap Alex.


Aiden melepaskan pelukannya, dia menatap mereka satu persatu dengan derai air mata, dia sangat bersyukur di saat dia terpuruk seperti ini dia memiiik sahabat sahabat yang lebih dekat dari saudara berdiri di sampingnya dan menguatkan dirinya.


"Terimakasih teman teman, terimakasih dek, aku menyayangi kalian semua, arhhh aku jadi terharu hiks hiks, kalian baik sekali," tangis Aiden penuh haru.


.


.


.


.


Duhh kasih likenya juga dong, vote sama banyak hadiah penyemangat nya,

__ADS_1


ummm kasihan Aiden ya,😭😭


__ADS_2