
Di rumah besar Park tampak Laura mondar-mandir menatap jam dinding di rumah itu, dia menunggu kedatangan penghuni rumah itu untuk menjalan aksinya yang sudah dia susun dengan sangat matang.
Laura berjalan kesana kemari, sejak tiga hari lalu Keluarga Park dan yang lainnya tidak menampakkan wajah mereka di rumah itu membuat Laura kesal sendiri.
"Ck... kemana para bajingan itu pergi? kenapa tidak ada satu pun yang di rumah saat aku akan memulai rencanaku!!!" gerutu Laura sambil mondar mandir mengigit jarinya dan terus menerus menatap jam dinding.
"Hei kamu Ken kayak cacing kepanasan begitu?" tegur Bi Eni yang melihat gelagat aneh pelayan yang baru dimasukkannya ke rumah itu beberapa Minggu lalu.
"Eh... engg..enggak kok Bi, saya cuma heran aja kenapa tuan Park, Nyonya Park dan yang lainnya belum pulang ke rumah ini," ucap Laura berpura pura lugu di depan Bi Eni.
Bu Eni menyipitkan matanya menatap Laura, saat Gama memberitahukan tidak akan di rumah untuk sementara waktu, Gama menunjukkan bukti itu pada Bi Eni, membuat wanita itu terkejut bukan Main, bahkan wanita itu tidak menyangka kalau akan terjadi hal seperti itu.
Bu Eni sempat disudutkan oleh Gana yang memanggil wanita itu secara langsung ke kantornya, karena merasa tak bersalah dengan apa yang dituduhkan Gama, Bi Eni sampai memohon-mohon di depan Gama, dia mengatakan semuanya dan berkata jujur di depan Gama sebab dia tidak tau kalau wanita itu adalah musuh majikannya.
Oleh karena itu, Bu Eni diperintahkan untuk mengawasi Laura selama Keluarga Park belum kembali ke rumah itu. Bu Eni harus mengawasi Laura setiap saat dan juga pelayan laki laki yang menyusup ke rumah besar Park itu.
"Ohh ya sudah sana lanjutkan pekerjaanmu, oh iya ajak Toni bersamamu, kalian harus membersihkan kolam berenang di samping rumah, sudah sebulan tak dipakai," titah Bi Eni yang sontak membuat Laura membulatkan matanya karena terkejut dengan perintah yang tidak boleh dia abaikan jika tak ingin penyamarannya terbongkar.
"Ba..baik Bu akan saya lakukan" ucap Laura meskipun di dalam hati dia benar benar merasa geram dengan perintah wanita itu.
"Sialan kau Eni, beraninya kau memerintahku," geram Laura sambil berjalan menunduk dan mengepalkan kedua tangannya dan menggertakkan giginya.
Laura berjalan dengan kesal, Bi Eni menatap sinis ke arah Laura, "beraninya kau membuat namaku jelek di depan tuan Gama dan yang lainnya, lihat saja aku akan membuatmu menderita selama bekerja disini!!!" ucap Bi Eni di dalam hati.
Bi Eni pergi ke samping rumah dan menemui kedua pelayan gadungan itu.
"Hei kalian, apa yang kalian lakukan, cepat bersihkan ini!!!" teriak Bi Eni dengan wajah garang membuat kedua Laura dan Tomi terkejut mendengar suara wanita itu.
"Tapi Bi kami masih ..."
"Nggak ada tapi tapian cepat bersihkan tangga ini, bagaimana cara kerja kalian, kenapa kotor seperti ini!!!" bentak Bu Eni dengan suara melengking.
Para pelayan yang bekerja di rumah besar itu sampai terkejut karena baru kali ini Bi Eni berbicara kasar dengan Pelayan, biasanya sebesar apa pun kesalahan pelayan tak akan membuat Bi Eni berteriak seperti itu.
"Wah ada aoa dengan Bi Eni?" bisik Cindy pada koki Rumah besar Park.
__ADS_1
"Entahlah, tak biasanya Bi Eni marah marah seperti itu, mungkin para pelayan itu melakukan kesalahan fatal," jawab Koki yang sedang menyiapkan makan siang untuk para pelayan.
"Iya bener juga sih" ucap Cindy sambil melanjutkan pekerjaannya.
Bu Eni dengan wajah marah menyuruh Laura dan Tomi kesana kemari, menyikat Genteng, memotong pohon, membongkar kasur dan menjemur lalu memasangnya kembali dan banyak pekerjaan lain membuat Laura dan Tomi benar benar kewalahan akibat titah Bi Eni.
"Ck... sialan ini semua akibat ulah wanita sialan ini, kenapa juga dia harus mengajakku membersikan kolam itu arhhhhhh..... sial, kalau bukan karena gaji dari Sarah yang besar aku tak akan menerima pekerjaan ini!!!" batin Tomi yang tengah membersihkan atap rumah dengan sikat yang di berikan Bi Eni.
Sementara itu di rumah Aiden, tampak mereka semua tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana Bi Eni beraksi dan mengerjai kedua penyusup itu. Bahkan si kembar dan Baby Aurel yang ikut menyaksikan itu ikut tertawa terbahak karena melihat Laura dan Tomi begitu kesal tapi tak bisa meluapkan kekesalan mereka.
"Pffftthhh hahahhahaha, hebat sekali Bi Eni menghukum Pelayan bodoh itu hahahaha," Aiden tertawa terbahak-bahak.
"Kau benar Den, Bi Eni memang benar benar bisa di andalkan, ternyata Bi Eni bukan pelakunya, syukurlah Bi Eni orang yang benar benar setia," ucap Gama.
Ferdi dan Anna benar-benar disibukkan dengan kehidupan mereka sekarang, mereka berdua sibuk mengurus perusahaan bersama dengan Rendy dan Katie, bahkan hari ini mereka sedang melakukan perjalanan bisnis ke kota New York, segala urusan perusahaan yang mengharuskan pergi ke luar kota atau ke luar negeri diserahkan kepada mereka berdua dengan dampingan Rendy.
Alex tak ikut dengan mereka sebab dia sedang menemani Vanya di rumah sakit sedangkan Bima dan Celine sedang di luar, tampaknya Bima Celine mulai nyaman dengan status mereka saat ini, terlihat dari Bima yang membawa Celine menuju kantornya.
"Jadi kau benar benar Presdir ya?" ucap Celine untuk kesekian kalinya.
"Heheh wajah mu tak meyakinkan, " kekeh Celine.
"Ck... dasar aneh, kau sama saja dengan Luna, dia juga seperti itu pada Gama, dia tak menyangka kalau Suami nya adalah seorang Presdir," ucap Bima.
"Sudah ayo turun, aku ingin menunjukkan sesuatu yang menarik padamu saat di dalam perusahaan nanti, ku harap kau menikmatinya heheh," kekeh Bima.
"Kenapa aku merasa seperti akan terjadi hal yang besar dan mencengangkan?" ucap Celine sambil menatap Bima dengan tatapan penasaran.
"Tunggu saja dan saksikan, aku sudah menunggu momen ini untuk membalas orang bodoh itu,"kekeh Bima.
mereka berdua pun keluar dari dalam mobil yang berjalan bersebelahan masuk ke dalam perusahaan milik Bima, kedatangan Bima sontak menjadi sorotan para karyawan, dia disambut oleh sekretarisnya yang sudah Iya ganti beberapa tahun lalu.
"Selamat datang tuan," sapa sekretaris Bima yang ternyata adalah seorang laki-laki.
"Hmmm apa pria itu sudah datang?" tanya Bima.
__ADS_1
"Belum tuan, mungkin sebentar lagi," ucap Sekertaris Bima.
"Baiklah," jawab Bima datar.
"Ayo," ajak Bima sambil memegang tangan Celine membuat perempuan itu sedikit terkejut namun dia tak menolak uluran tangan Bima.
mereka berdua berjalan berdampingan dengan wajah dingin dan datar, para karyawan yang melihat kedatangan Celine dan Bima langsung merinding melihat wajah datar pasangan itu.
Bima yang jarang membawa gadis atau wanita ke perusahaan sontak menjadi sorotan. biasanya Bima hanya akan membawa Luna, Mikha atau sahabatnya yang lain jika mereka ingin berkunjung dan para karyawan sudah mengenali wanita-wanita tersebut.
Namun yang dibawa oleh Bima kali ini adalah seseorang yang berbeda. Seorang wanita dengan tatapan dan ekspresi yang benar-benar persis sama dengan Bima.
mereka berdua menaiki lift dan Tak lama kemudian sampai di lantai di mana ruangan Bima berada.
langkah kaki mereka terdengar nyaring di atas lantai, mereka masuk ke dalam ruangan kerja Bima.
"Duduk disini Cel, kita akan menunggu kedatangan seseorang," ucap Bima sambil tersenyum.
"Siapa?" tanya Celine.
"Nanti kau juga tau," ucap Bima sambil duduk di sebelah Celine.
Selama lima belas menit mereka menunggu dengan obrolan ringan diantara keduanya.
Tok... tok... tokk
Bima tersenyum tipis
.
.
.
like, vote dan komen 😉😉😊
__ADS_1