
Ken tersenyum menatap Luna, gadis kecilnya yang selama ini ia rindukan.
"Boleh kan kita cari kakakku," ucap Luna dengan mata berbinar-binar menatap mereka satu persatu, tentu tatapan memelasnya itu membuat siapa pun tidak tahan dengan gadis itu.
"Nona Anda berhasil menghipnotis manusia manusia super kejam ini menjadi seperti seekor kucing yang penurut, aku salut denganmu nona!" batin Mark, jujur saja dia mengakui bahwa wajah Luna memang sangat menggemaskan.
"Apa kau sebegitu inginnya bertemu dengan kakakmu Luna? bukankah kami sudah ada disini, kami kan kakakmu juga," kali ini Bima yang berbicara, sebenarnya mereka ini hanya ingin mendengar celotehan gadis cerewet mereka itu.
Jika ditanya, Aiden, Bima, dan Ken memang sudah sangat sayang pada Luna terlepas dari identitas aslinya. Mereka selalu bisa tertawa jika berada di dekat gadis cerewet itu.
Bahkan setelah bekerja mereka selalu menyempatkan diri untuk mendengar Omelan Luna yang selalu menghiasi rumah besar keluarga Park.
Bahkan Aiden, Bima dan Ken setiap hari lebih memilih menginap di rumah Gama daripada pulang ke kediaman masing-masing hanya agar bisa menerima Omelan gadis cantik itu.
Menurut mereka mendengar ocehan Luna bisa sedikit mengurangi rasa penat setelah bekerja, aneh memang mereka ini, pulang kerja seharusnya cari yang tenang tapi malah cari suasana heboh.
"Emmm...aku...aku hanya merindukannya, dia sangat baik, kalian juga kakakku tapi aku juga rindu dengannya, a..apa aku tidak boleh mencarinya?" ucap Luna, tanpa sadar air matanya menetes sambil menatap mereka satu persatu.
"a..aku hanya ingin bertemu dengannya, ta...tapi kalau kalian ti..tidak mengijinkan gak apa-apa kok, mungkin dia juga udah lupa, ini udah belasan tahun, kalau dia memang mencari Luna pasti dia udah datang dari dulu hiks hiks hiks," Luna menangis tersedu-sedu, kali ini ia menunduk, bahunya bergetar jujur saja ia baru mengingat kakaknya dan rasanya dia benar-benar merindukan sosok kakak itu.
Gama, Ken, Aiden malah menatap tajam ke arah Bima yang membuat gadis kesayangan mereka menangis.
"Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya bertanya saja," bisik Bima, dia juga jadi merasa bersalah mengatakan hal itu pada Luna padahal niatnya bukan seperti itu tadi.
"Luna, lihat sini," ucap Gama.
Luna masih menunduk, Gama mengangkat kepala gadis itu hingga wajah mereka saling bertatapan. Dengan pelan Gama mengusap kedua pipi gadis itu.
"Jangan menangis, dan kau tidak perlu mencari kakakmu lagi," ucap Gama.
Luna malah semakin menangis mendengar kata-kata Gama.
"Tuan jangan buat dia menangis terus, kalian bisa tidak menghargai perasaannya, kasihan dia," ucap Andin yang tidak tega melihat sahabatnya menangis.
"Tenang dulu Andin dia belum selesai bicara," balas Aiden yang membuat Andin menghela nafas, ia tidak suka sahabatnya menangis.
"Luna dengar dulu, jangan menangis, kau tidak perlu mencari kakakmu, dia disini, dia sudah di dekatmu !!" ujar Gama sambil memegang bahu Luna dan menatap matanya dengan dalam.
Luna berhenti menangis, ia menatap Gama dengan wajah bingung.
"Maksudmu?" tanya Luna.
"Siapa nama kakakmu?" tanya Gama.
"David Kenzo Anderson!"jawab Luna.
"Lalu siapa yang duduk disamping mu itu?" ucap Gama lagi sambil melepaskan tangannya dari bahu Luna.
Luna menatap Kenzo yang sedari tadi memperhatikan gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
"Dia kak Kenzo," jawab Luna dengan polos lalu kembali menatap Gama.
__ADS_1
Gama menaikkan satu alisnya lalu melirik lagi ke arah Ken.
Luna menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya terbelalak, sekarang ia mengerti dengan maksud suaminya serta arti pertanyaan pertanyaan mereka tadi.
"A..apa...di..dia..." ucap Luna mencari jawaban pasti dari Gama, ia menatap Aiden dan Bima juga. Mereka bertiga mengangguk sambil tersenyum lembut.
Luna membalikkan badannya dan menatap Ken yang duduk di sampingnya, Ken merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum namun matanya tak bisa bohong, ia juga menangis haru menatap adiknya itu.
Luna menghamburkan pelukannya pada Ken, ia memeluk erat pria itu, air matanya lolos begitu saja, rasa rindu, terkejut, bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Dia benar-benar bahagia saat ini begitu juga dengan semua orang di dalam ruangan itu.
Andin juga ikut terharu saat mengetahui bahwa sosok kakak yang sering diceritakan Luna di mimpinya ternyata adalah pria yang sekarang duduk di samping Luna.
Ken mengelus punggung adiknya ia memeluknya menyalurkan semua rasa rindu yang selama ini tersimpan di hatinya.
"Adikku sayang...Nananya Kenzo....Ini kakak, kamu hidup, arhhh...adikku hidup adikku kembali padaku," saat itu juga seorang Kenzo menangis di depan adik dan sahabat-sahabatnya, pemandangan yang tidak akan pernah orang lain saksikan seumur hidup.
"Hiks...hiks..hiks..kenapa dari dulu gak bilang sih? jadi ini wajah kak Kenzo dewasa, ishh...kenapa gak bilang-bilang, kak Kenzo jahat, kakak gak cariin Luna..... huhuhuhu," Luna memukul dada Ken dengan berderai air mata.
Luna menatap Ken begitu juga dengan Ken. Kenzo tersenyum lembut, ia mengusap air mata adiknya dengan sayang dan penuh kasih.
"Kan kakak udah bilang kakak lihat video kalau kamu meninggal sayang, kakak gak bisa melakukan apa-apa, hidup kakak hancur waktu itu," jelas Ken sambil menangkup wajah Luna dengan kedua telapak tangannya.
"Hmm...iya ya, ga apa-apa yang penting Luna udah ingat sama kakak, kakak juga udah disini, Luna senang banget hehehe," ujar Luna kembali memeluk Ken.
Ken membalas pelukan adiknya, " Kakak juga senang Luna, kamu mau dipanggil Nana atau Luna nih?" tanya Ken lagi.
Luna melepas pelukannya, "Panggil nama yang sekarang aja, lagian orang lain taunya kan Luna bukan Nana heheheh," jawab Luna.
"Andin ini kakakku, aku seneng banget heheh," ucap Luna pada sahabatnya.
"Selamat ya Luna, aku turut senang akhirnya kamu bertemu kakakmu dan ingatanmu kembali," balas Andin sambil tersenyum tulus.
"Heheh, " kekeh Luna.
"Ekhmm... mentang-mentang udah tau siapa kakaknya, kakak yang disini dilupain ya?" ucap Aiden dengan wajah cemburu.
"Nggak dong kak Aiden, kalian juga kakak Luna sampai selamanya, terimakasih udah jaga kak Kenzo," balas Luna sambil tersenyum menatap mereka satu persatu.
"Hmm... terimakasih juga karena sudah bertahan selama belasan tahun ini Luna, kamu hebat!" ujar Bima sambil mengacungkan jempolnya.
"Hehehe iya dong, " balas Luna.
"Kamu senang?" tanya Gama.
Luna mengangguk bahagia, ia beranjak dari tempat duduknya lalu memeluk Gama, entah apa yang merasuki gadis itu tapi dia sangat senang memeluk suaminya.
"Terimakasih," ucap Luna sambil memeluk suaminya.
"Apa pun untuk kebahagiaanmu sayang," ucap Gama yang langsung membuat Luna merona.
Luna melepaskan pelukannya lalu kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
"Tapi ada yang aneh!" ujar Luna.
Sontak mereka semua menatap ke arah Luna dengan tatapan penasaran.
"Apa lagi yang akan diucapkan gadis tengil ini?" bisik Aiden pada Bima.
"Hmm...Luna mulai beraksi," bisik Bima pada Aiden.
"Apa yang aneh Luna?" tanya Gama.
"Emmm...." Luna menatap wajah Ken sambil memeriksa wajah itu, tiba-tiba ia menyergitkan keningnya.
"Gama bener yang kamu bilang tadi," ucap Luna, matanya masih menatap wajah Ken yang lain juga ikutan melihat Ken tak terkecuali Mark.
"Maksudmu apa Luna?" tanya Gama.
"Kak Ken makin jelek!!!" tukas Luna dengan tatapan meledek ke arah Ken.
"Pffthh.....hahahahahahah,"
"Huahahahahahaha,"
Mereka semua tertawa mendengar ucapan Luna yang mengejek kakaknya sendiri. Wajah Ken kini malah memerah karena diejek oleh Luna, ingin marah tapi dia sayang sungguh dilema memang mempunyai adik yang blak blakan seperti Luna.
"Ahahahah, astaga Luna kau mengerikan bagaimana bisa kau mengejek kakakmu sendiri hahahah, aduhh...ahahaha...gak kuat aku hahahah," Aiden tertawa terbahak-bahak sampai sampai ia tersungkur di lantai dan malah memukul-mukul lantai.
"Ya ampun Luna, jangan terlalu jujur hahahah lihat wajah Ken hahahha, dia dinistakan adik sendiri hahahah," Bima juga terbahak-bahak.
"Kau ada-ada saja Luna, memangnya kenapa kau bilang dia makin jelek?" ujar Gama.
"Lihat rambutnya warnanya aneh, padahal waktu kecil rambutnya biru sama seperti milikku, lalu wajahnya itu seperti tidak dirawat, ck...ck....ck pasti dia tidak pernah berkencan iya kan?" tukas Luna masih mengamati wajah Ken dengan serius.
"Hahahah, Luna Luna matamu ternyata jeli sekali hahaha," Gama tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan istrinya.
"Hahahah, Luna cukup aku gak kuat hahahah, kau benar dia tidak pernah berkencan, hidupnya hanya kerja kerja dan kerja saja, hahahahha" Aiden tertawa terbahak-bahak perutnya sudah sangat keram mendengar ucapan Luna.
Bahkan Mark yang jarang tertawa juga malah ikut tertawa bersama mereka.
Andin sambil menahan sakit ia juga tertawa padahal lukanya masih belum kering semua, Luna memang selalu bisa memporak-porandakan situasi.
"Luna, jangan bilang gitu dong, kakak kan jadi malu," ucap Ken sambil menggaruk tengkuknya.
"Kan fakta kakakku sayang heheheh," balas Luna sambil cengengesan.
.
.
.
Like, vote dan komen 😊😉😊
__ADS_1
Aduh gemesh banget sama karakter Luna ini hahahaha