Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh

Terikat Skandal Dengan CEO Lumpuh
41


__ADS_3

Luna, Gama, Aiden dan Ken yang baru tiba di depan rumah begitu terkejut saat melihat Mark tengah berdebat dengan Andin sampai mereka tidak sadar kalau mobil sudah terparkir di dekat mereka.


"Astaga keajaiban dunia yang ke delapan, bisa melihat Mark berkelahi dengan seorang wanita!" celetuk Aiden.


"Ada apa dengan mereka? kenapa Andin sampai marah-marah," ucap Luna.


"Luna, apa dia sahabat yang kau katakan itu?" tanya Ken.


"Iya kak, dia Andin," ucap Luna dengan mata yang terus terpaku pada Andin dan pria asing yang tidak terlalu jelas wajahnya karena dilihat dari samping.


"Bukankah kau mengatakan dia baik dan lembut, tapi yang kulihat dia sebelas dua belas denganmu!" celetuk Ken yang membuat Luna reflek menoleh ke arah Ken.


"Heheheh, dia baik dan lembut kalau sama orang yang dia kenal kak, tapi kalau sama orang asing ya gitu deh," kekeh Luna sambil menggaruk tengkuknya.


"Dasar kau ini," ucap Ken gemas namun ditanggapi kekehan oleh Luna.


Mereka terus melihat Andin dan Mark berdebat hingga saat kejadian dimana Andin menampar wajah Mark dengan mata berkaca-kaca.


"Ya ampun, kenapa sampai begitu ?" ucap Luna panik, ia buru-buru keluar dari mobil.


"Wow, gadis itu patut diberi rekor MURI sebagai wanita pertama yang menyentuh wajah Mark!" celetuk Aiden lagi, tanpa sadar ia sudah ditinggal sendiri di dalam mobil.


"Lah kok di tinggal," gerutu Aiden.


Ken mendorong kursi roda Gama dan menyusul Luna yang menghampiri sahabatnya.


"Andin..." panggil Luna.


Mendengar suara sahabat yang sangat dirindukannya, Andin menoleh ke arah Luna begitu juga dengan Mark.


Begitu melihat Luna ia langsung berlari dan memeluk gadis itu dan menumpahkan tangisannya dalam pelukan Luna.


"Luna.....hiks...hiks...hiks," tangis Andin dalam pelukan Luna.


Luna membalas pelukan Andin dan menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.


"Ada apa ini? kenapa kau menangis Andin? " ucap Luna khawatir.


"Selamat sore tuan!" ucap Mark sambil menunggu 90° sempurna di hadapan tuannya.


"Sore," jawab Gama datar.


Luna menatap ke arah pria yang menyapa suaminya itu, ia menyergitkan keningnya mengingat wajah itu.


"Kau!" ucap Luna menatap Mark.


"Nona, kita bertemu lagi," ucap dengan nada sopan dan hormat sebab ia sudah tau siapa gadis itu tidak seperti saat ia bicara dengan Andin.


"Kau mengenalnya Luna?" tanya Gama yang datang bersama Ken dan disusul oleh Aiden.


"Tidak, tapi kami pernah bertemu di supermarket saat aku akan membawamu ke rumah sakit waktu itu," ucap Luna.


"Siapa dia sebenarnya?" ucap Luna.


"Seperti yang kukatakan di mobil, dia Mark asistenku," jelas Gama sambil menatap tajam ke arah Mark.


Mark mengerti arti tatapan tajam tuannya, ia langsung berlutut kala itu juga di hadapan Gama tanpa peduli dilihat oleh orang lain.


Luna dan Andin cukup terkejut saat melihat hal itu, namun bagi Ken dan Aiden ini sudah biasa.

__ADS_1


"Maafkan saya tuan, saya tidak bisa membiarkan tuan sendirian di luar kota apalagi dengan kondisi tuan serta lingkungan kumuh ini!"ucap Mark.


Ia menyadari kesalahannya, seharusnya ia menemui tuannya setelah lewat sebulan sesuai yang dikatakan oleh Gama tapi rasa khawatirnya menguasai dirinya.


"Lingkungan kumuh? apa maksudmu mengatai rumahku lingkungan kumuh!" kesal Luna.


"Maafkan saya nona," ucap Mark yang lagi-lagi salah bicara.


"Berdirilah!" ucap Gama dengan wajah kesal.


Mark menuruti perintah tuannya dan menatap ke arah tuannya.


"Ahhh....sial, kenapa aku punya asisten sebodoh dirimu!" kesal Gama.


"Maafkan saya Tuan!" ucap Mark lagi.


"Diam! jangan meminta maaf terus, kau sangat kaku," kesal Gama.


"Dasar tidak sadar diri, sendirinya juga kaku mengatai orang lain kaku, pantas saja kalian disebut dua gunung es di perusahaan!" batin Aiden.


"Apa yang terjadi kenapa kalian sampai berkelahi seperti tadi?" tanya Gama.


Mark pun menceritakan kronologi kejadian mengapa dirinya dan gadis itu berkelahi, Andin juga ikut menjelaskan walaupun terjadi lagi perdebatan kecil di antara mereka.


Luna dan Gama memijit pelipis masing-masing, mereka begitu kesal dengan kedua manusia keras kepala di hadapan mereka ini. Aiden malah duduk di depan mobil Mark dan merekam perdebatan mereka, sedangkan Ken hanya memperhatikan saja.


"Kau salah tuan sombong!" ketus Andin.


"Kenapa jadi saya nona, Anda yang terlalu bodoh sampai sampai merugikan saya," balas Mark tak mau kalah.


"Apa kata katamu itu tidak terlalu kasar pada orang yang baru kau kenal tuan sombong!" ucap Andin lagi.


"Kau gila ya, kau sudah benar benar gila!" kesal Andin.


"Kau yang gila dasar gadis Beo!" balas Mark lagi.


"Berhenti!!" teriak Luna dan Gama bersamaan, mereka sudah pusing mendengar perdebatan dua manusia beda jenis kelamin itu.


Baik Andin maupun Mark sama-sama tersentak kaget saat mendengar teriakan mereka. Aiden hanya cekikikan saat melihat wajah keduanya, sedangkan Ken masih sama , ia memasang wajah datarnya.


"Sekarang kalian masuk ke dalam! aku tidak mau ada perdebatan lagi!" ketus Luna sambil berjalan menuju pintu dan mengeluarkan kunci untuk membuka rumah.


Mereka semua masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang santai. Luna dan Ken membantu Gama duduk di atas sofa, Mark malah menganga saat melihat tuannya mau disentuh oleh orang lain apalagi itu seorang wanita.


"Apa dunia akan kiamat?" batin Mark dengan tatapan tak percaya.


"Apa dia sudah gila?" tanpa sadar Andin menyenggol lengan Aiden yang duduk di sampingnya.


"Entah, mungkin saja," balas Aiden juga.


"Jadi mau apa kau kemari Mark? kau membuat masalah saja, sudah kukatakan aku akan menghubungi dirimu!" ucap Gama dengan tatapan datar seperti biasa ia bicara dengan asistennya itu, tapi tidak untuk Luna.


"Saya hanya ingin memastikan keadaan tuan baik-baik saja," ucap Mark.


"Hanya itu?" ucap Gama.


"Emmm...ti...tidak tuan!" ucap Mark tegagap.


"Hmm...baiklah, tetapi jika itu bukan hal penting bersiaplah ku kirim ke neraka!" ketus Gama.

__ADS_1


"Siapa pria ini? kenapa seram sekali?" batin Andin.


"Andin sejak kapan kau tiba disini? ada apa?" tanya Luna, mereka semua menatap ke arah Andin.


"Aku hanya ingin bertemu denganmu dan meminta penjelasan darimu!" ucap Andin, kini wajahnya penuh selidik.


"Apa yang mau kau tanya?" ucap Luna.


"Apa benar kau sudah menikah?" ucap Andin.


"Ya aku sudah menikah," ucap Luna.


"Jadi benar? kenapa kau tidak memberitahukan padaku Luna? aku mendengar dari orang desa yang datang ke panti untuk menjenguk keluarganya," ucap Andin kesal.


"Hei nona, apa kau sudah lupa kalau ponselku hilang?" ketus Luna.


"Ahh benar juga," ucap Andin menggaruk kepalanya.


"Bodoh!" gumam Mark namun masih bisa di dengar oleh Andin.


"Lalu mana suamimu?" tanya Andin.


Luna tersenyum tipis, Gama menyergitkan keningnya saat melihat senyum licik di wajah istrinya. Ken juga menyadari itu.


"Astaga apa yang akan dilakukan gadis bar bar ini lagi?" batin Gama.


"Mereka bertiga suamiku, kau tau kan kalau orang kampung ini tidak bisa membiarkan seorang gadis tinggal bersama dengan pria lajang, jadi mereka memaksaku menikah dengan mereka bertiga!" ucap Luna .


Andin membelalakkan matanya, mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya.


"A....apa kau menikahi tiga pria sekaligus?" ucap Andin terkejut.


"Astaga Luna, apa ini karena selama seumur hidup kau tidak pernah jatuh cinta sampai membuatmu nekat menikahi tiga pria? kau pemain yang hebat!"celetuk Andin.


"Pfft.....hahahahahah," Aiden tertawa keras saat mendengar ucapan gadis itu.


"Hahahahah, kau masih saja sama, dasar gadis bodoh, kau pikir aku ini apa sampai menikahi tiga pria sekaligus," ledek Luna yang malah ikut menertawakan kekonyolan sahabatnya.


Gama tersenyum saat melihat tawa di wajah Luna begitupun dengan Ken.


"Ya Tuhan jangan sampai dunia ini berakhir, aku melihat pemandangan langka lagi!" batin Mark yang terperangah tak percaya saat melihat Gama dan Ken tersenyum.


"Hahahah, ini perkenalkan suamiku Gamaliel, ini Kak Ken dan yang di sampingmu itu kak Aiden, dan untuk kalian dia Andin sahabat baikku," ucap Luna menatap mereka bergantian.


"Kalau begini kan jelas siapa suamimu," ucap Andin.


"Tapi ngomong-ngomong Kenap pria itu menganga seperti itu, pantas saja ada bau tidak sedap," ucap Andin sambil menutup hidungnya dan melirik ke arah Mark.


"Pfftttthhh...astaga Mark, ada apa denganmu?" ucap Aiden tertawa terbahak-bahak melihat wajah bodoh Mark.


.


.


.


like, vote dan komen 😊😉😉


jalan ceritanya santai, gak main kebut kebutan, jadi enjoy aja man teman,😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2