Berkah Cinta

Berkah Cinta
Tenggelam


__ADS_3

Jihan merasa jengkel dengan yang dilakukan oleh Ester, padahal ia sudah mengatakan yang sejujurnya pada sang mama bahwa Olaf adalah pria yang ia cintai namun Ester tidak mau mendengarkannya. Bagaimanapun juga Jihan harus dapat membuktikan bahwa Olaf adalah penghuni di komplek perumahan ini, maka keesokan paginya ia sudah siap dengan pakaian olahraganya dan membuat Handi dan Ester yang ada di ruang makan nampak heran dengan penampilan Jihan pada pagi ini.


“Apa yang kamu lakukan dengan pakaian itu?”


“Apakah Mama tidak nampak apa yang sedang aku pakai saat ini? Tentu saja ini adalah pakaian olahraga.”


“Kamu mau berolahraga? Sejak kapan?”


“Kenapa Papa bertanya begitu? Sudahlah, aku sudah terlambat.”


Maka Jihan pun segera pergi keluar rumah dan memulai misinya yaitu menemukan di mana rumah Olaf tinggal, komplek perumahan elit ini cukup luas dan Jihan nampak bingung harus memulai dari mana misinya kali ini.


“Kira-kira aku harus pergi ke mana, ya?”


Jihan pun memutuskan menyusuri jalan di depan rumahnya terlebih dahulu dari ujung ke ujung sambil menatap ke kiri dan ke kanan, karena siapa tahu pagi ini pria itu juga akan olahraga pagi apalagi hari ini adalah akhir pekan, tidak menutup kemungkinan bahwa pria itu juga akan olahraga pagi.


****


Tania nampak ragu-ragu untuk mengetuk pintu ruangan kerja Handi, karena ia terlalu fokus pada pintu di depannya dan pikirannya, ia sampai tidak menyadari bahwa orang yang ia cari itu berada tepat di belakangnya saat ini.


“Tania, kamu mau apa?”


Tania terkejut bukan main saat mendengar suara Handi dari belakangnya, Tania kemudian berusaha bersikap sebiasa mungkin namun ia menundukan kepalanya.


“Tania, ada apa?” tanya Handi.


“Anu Om, sebenarnya...aku mau meminta izin pada Om.”


“Izin? Memangnya ada apa?”


“Aku mau pergi ke makam, menemui papa dan mama.”


“Oh tentu saja, silakan, kamu boleh pergi.”


“Terima kasih banyak, Om.”


“Sama-sama, sudah sana pergi.”


Tania nampak tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya ketika Handi memberikannya izin untuk pergi ke makam kedua orang tuanya, namun Ester yang melihat itu nampak mengerutkan kening, ia bertanya-tanya akan pergi ke mana Tania saat ini.


“Mau pergi ke mana dia?” tanya Ester pada suaminya.

__ADS_1


“Dia akan pergi ke makam kedua orang tuanya,” jawab Handi tenang.


“Apa? Dan kamu mengizinkannya pergi ke sana?”


“Ester jangan berlebihan begitu, dia hanya ingin bertemu dengan kedua orang tuanya, itu saja.”


“Tapi ....”


“Ngomong-ngomong soal melaporkanmu pada polisi, aku masih mempertimbangkannya jadi kamu jangan begitu yakin kalau aku tidak akan melaporkanmu pada polisi.”


*****


Tania menaburkan bunga di atas makam papa dan mamanya, air matanya nampak tidak kuasa untuk jatuh saat ini, ia membayangkan masa kecilnya yang dihabiskan dengan kedua orang tuanya, walaupun itu singkat namun begitu banyak memori masa kecil yang membekas dalam ingatan Tania.


“Pa, Ma... beristirahatlah dengan tenang di atas sana,” lirih Tania.


Setelah menumpahkan semua kesedihannya di makam kedua orang tuanya, kini Tania mulai memanjatkan doa agar kedua orang tuanya mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan. Setelah berdoa, kini Tania berpamitan


pada kedua orang tuanya untuk segera pulang karena kalau ia tidak segera pulang, maka bukan tidak mungkin kalau Ester akan mengamuk dan malah akan membuat suasana menjadi lebih kacau. Ketika Tania baru saja melangkahkan kakinya keluar dari pemakaman, ia merasa ada sebuah mobil yang menepi mendekat ke arahnya,


Tania merasa heran dan pengemudi itu pun menurunkan kaca mobilnya hingga akhirnya Tania dapat melihat dengan jelas siapa orang yang ada di dalam mobil tersebut.


Tentu saja pria itu adalah Olaf, ia nampak mengenakan pakaian santai sepertinya baru saja selesai olahraga, Tania masih diam dan tidak menjawab pertanyaan dari pria itu, Olaf mengatakan bahwa Tania bisa naik ke mobilnya dan ia akan mengantarkan sampai ke rumah.


“Tidak perlu.”


*****


Jihan sudah mengitari komplek perumahan, namun ia tidak menemukan Olaf di mana pun, ia jadi agak patah semangat apalagi jika memikirkan ucapan Ester yang mengatakan bahwa jangan-jangan pria itu memang bukan tinggal di komplek ini atau mungkin dia hanya sebatas satpam atau tukang kebun salah satu rumah.


“Tidak, dia bukan satpam atau tukang kebun, aku yakin,” lirih Jihan.


Jihan memutuskan untuk kembali ke rumah namun ia melihat ada sebuah mobil berhenti di depan rumahnya, Jihan nampak bersembunyi di balik semak-semak dan ia menatap sosok Tania yang keluar dari dalam mobil itu, tentu saja Jihan terkejut bukan main, bagaimana mungkin sosok Tania bisa keluar dari dalam mobil itu?


“Bagaimana bisa dia keluar dari mobil itu?”


Tania nampak berterima kasih pada Olaf karena telah sudi mengantarkannya pulang ke rumah, pria itu nampak tersenyum dan mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah sebuah masalah besar.


“Itu bukan masalah.”


“Kalau begitu, saya permisi dulu.”

__ADS_1


Tania pun segera masuk ke dalam rumah dan mobil itu pun segera pergi meninggalkan depan rumah, setelah kondisinya aman, kini Jihan sudah memberanikan diri keluar dari tempat persembunyiannya, ia nampak penasaran siapa gerangan yang menyetir mobil itu?


“Aku harus mencar tahunya sendiri.”


*****


Jihan mencari-cari di mana keberadaan Tania hingga akhirnya ia menemukan Tania sedang membersihkan kolam renang yang ada di belakang rumah, Jihan nampak tidak mau berbasa-basi dan ia langsung bertanya pada Tania siapa orang yang mengantarkan Tania pulang tadi.


“Katakan padaku yang sejujurnya.”


“Maksud Nona?”


“Sudahlah, kamu tidak perlu berpura-pura tidak tahu Tania, siapa orang yang mengantarkanmu pulang tadi?”


“Orang yang mengantarkanku pulang?”


“Kamu pikir aku tidak tahu kalau tadi kamu diantarkan oleh sebuah mobil mewah?”


“Soal itu ....”


“Katakan siapa yang mengantarkanmu pulang,” ujar Jihan memegangi kedua bahu Tania.


“Tuan Olaf,” jawab Tania akhirnya.


“Olaf? Siapa dia?”


“Pria yang waktu itu pernah bertemu Nona di depan rumah,” ujar Tania.


JIhan nampak menyeringai karena akhirnya ia tahu siapa nama pria incarannya itu, namun kemudian saat ini ia menatap tajam Tania, ia begitu benci pada gadis ini dan kemudian dengan sengaja Jihan mendorong tubuh Tania hingga Tania terjatuh ke kolam renang.


“Rasakan itu!” seru Jihan kemudian ia masuk ke dalam rumah dan membiarkan Tania yang nyaris tenggelam di kolam renang karena Tania tidak bisa berenang.


“Tolong!”


Handi yang mendengar suara minta tolong dari arah belakang rumah segera menghampiri sumber suara, ia terkejut ketika melihat Tania nyaris tenggelam di kolam renang.


“Tania!”


Ester yang melihat itu dari kejauhan nampak menggeram kesal, ia kesal sekali karena Handi menolong Tania, padahal kalau Handi tidak ada mungkin Tania sudah tenggelam karena tidak bisa berenang.


“Awas saja kamu.”

__ADS_1


__ADS_2