
Olaf tidak mengerti kenapa Jihan terus saja memaksanya mengatakan bahwa ia mencintai Tania, Jihan sendiri nampak terdiam beberapa saat dan menghela napasnya panjang, sepertinya dia begitu frustasi saat ini namun
Olaf tidak mau ambil pusing, ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Jihan yang tengah terduduk sendirian dengan raut wajah sedihnya. Setelah kepergian Olaf, Jihan merasa bersalah karena ia dikendalikan oleh emosi tadi, entah kenapa jika melihat wajah Olaf, maka bayang-bayang pria ini yang menjenguk Tania selama gadis itu ada di rumah sakit menghantuinya dan hal tersebut malah membuatnya begitu kesal.
“Kenapa aku bisa begini? Belum tentu juga Olaf mencintai Tania, namun kenapa aku malah memaksanya untuk mengatakan bahwa ia mencintai Tania?”
Jihan kini hanya dapat menyesali semuanya, ia sudah melewatkan kesempatan untuk lebih dekat dengan Olaf, kini Jihan memutuskan untuk kembali ke rumahnya namun saat ia baru saja beranjak dari taman, ia berpapasan dengan mantan kekasihnya, Jihan dan pria itu kembali terdiam dan menatap satu sama lain, namun Jihan tidak mau terlalu larut dalam hal ini, ia pun segera pergi meninggalkan pria ini, namun sebelum Jihan pergi, tangannya
sudah terlebih dahulu dipegang oleh pria ini.
“Kenapa kamu mencoba melarikan diri dariku?”
****
Di rumah, Bram melakukan video call dengan Minanti, ia menanyakan bagaimana kabar mereka selama berada di Seoul, Minanti mengatakan bahwa ia dan Tania baik-baik saja dan mereka sudah bertemu dengan dokter yang
akan melakukan operasi rekonstruksi wajah untuk Tania itu, Bram nampak begitu senang mendengarnya ia mendoakan agar Tania dan Minanti bisa segera kembali ke Indonesia.
“Aku harap kalian dapat sesegera mungkin kembali ke Indonesia.”
“Tentu saja kami akan segera kembali ke Indonesia, namun setelah semuanya sudah selesai.”
“Baiklah kalau begitu, kalau ada sesuatu hal yang lain kamu bisa segera kabari aku, ya?”
“Tentu saja, aku pasti akan memberikan kamu kabar jika ada perkembangan terbaru.”
“Baiklah, sampai jumpa.”
Akhirnya Bram memutuskan sambungan video call dengan Minanti, dan di saat yang bersamaan itulah sosok Olaf baru saja datang dan Bram pun menyambut putranya yang baru saja datang itu.
“Sudah selesai berolahraganya?”
“Kalau aku belum selesai olahraga, kenapa aku pulang?”
“Kamu ini, oh iya tadi Papa melakukan video call dengan Mama, mereka berdua sudah sampai di Seoul.”
“Benarkah? Apakah mereka baik-baik saja?”
“Tentu saja, mereka baik-baik saja dan sudah bertemu dengan dokter bedah, rencananya operasinya akan segera dimulai mungkin paling cepat lusa.”
“Begitu rupanya, aku harap operasinya dapat berjalan berhasil.”
__ADS_1
“Papa pun juga berharap demikian.”
****
Jihan pulang ke rumah lagi-lagi dengan wajah yang sedih, kesempatannya untuk berbicara empat mata penuh dengan kehangatan dengan pria idamannya tidak berjalan seperti apa yang ia rencanakan, yang ada mungkin
saat ini Olaf akan mencap dirinya sebagai wanita aneh yang memaksakan diri bahwa pria itu mencintai Tania.
“Mama pikir kamu tidak akan pulang ke rumah.”
“Jadi Mama ingin aku tidak akan kembali ke rumah ini? Tentu saja dengan senang hati aku akan pergi sekarang juga.”
“Kenapa kamu belakangan ini jadi sensitif, sih? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu belakangan ini?”
“Banyak sekali masalah yang menggangguku belakangan ini dan rasanya kepalaku ini mau meledak karena saking banyaknya masalah yang datang pada hidupku.”
“Kamu harus menjaga dirimu, Nak, ingat tidak lama lagi kamu dan Ferdian akan segera menikah, Mama harap di saat hari pernikahanmu dengan Ferdian, kamu dalam keadaan yang baik.”
Jihan menghela napasnya panjang, ia tidak menanggapi apa yang Minanti katakan, Jihan langsung pergi ke dalam kamarnya yang ada di lantai dua, dan rupanya hal tersebut membuat Minanti kesal.
“Ada apa dengan anak itu? Kenapa dia bersikap begitu?”
Sementara di dalam kamarnya, Jihan duduk di tepian kasur, ia menatap foto keluarganya yang ia taruh di atas meja kerjanya, ia meraih foto itu dan memeluknya.
****
“Apa yang membawamu ke sini? Seingatku kamu mengatakan bahwa kamu tidak akan mau menginjakan kakimu di rumah ini sebelum Tania kembali.”
“Kamu benar, aku ke sini karena ada keperluan denganmu.”
“Aku? Memangnya apa yang hendak kamu bicarakan denganku?”
“Aku ingin kita berdua bercerai.”
“Apa?
“Apakah yang aku katakan barusan tidak jelas? Aku ingin kita bercerai, hubungan kita sudah tidak sehat, dari pada kita berdua menyakiti diri sendiri, maka lebih baik kita berpisah saja saat ini.”
“Berpisah?”
Rupanya Jihan tidak sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh papanya, ia tadi begitu senang karena Handi datang ke rumah ini, namun kebahagiaannya itu mendadak sirna setelah tahu apa maksud Handi datang ke
__ADS_1
rumah.
“Papa dan Mama ingin bercerai?”
“Iya sayang, Papa sudah tidak dapat melanjutkan semua ini, hubungan kami berdua sudah tidak sehat dan berpisah adalah jalan terbaik,” ujar Handi.
“Kamu serius ingin bercerai denganku?” tanya Ester tak percaya.
“Tentu saja, apakah aku nampak main-main saat ini?”
****
Stefani kembali datang ke ruangan kerja Olaf saat ini, Olaf nampak jengah dengan kehadiran Stefani yang mengganggunya, ia mengatakan pada wanita ini untuk keluar dari ruangan kerjanya atau ia akan memanggilkan
satpam untuk membawa Stefani keluar dari ruangan kerjanya.
“Olaf, aku perhatikan sepertinya kamu agak agresif belakangan ini.”
“Apa maksudmu? Aku baik-baik saja.”
“Itu kan menurutmu, namun menurutku itu sama sekali tidak, kamu jadi lebih mudah marah dan tersinggung.”
“Hentikan bicara omong kosongmu dan segera tinggalkan ruangan kerjaku karena aku sama sekali tidak ingin diganggu olehmu.”
“Tentu aku akan pergi namun sebelumnya aku ingin bertanya sesuatu padamu dan aku harap kamu mau menjawabnya dengan jujur.”
“Tanpa kamu bertanya padaku pun, aku sudah tahu apa yang hendak kamu tanyakan padaku, kamu ingin bertanya apakah aku mencintai Tania, bukan?”
“Iya, kurang lebih itu.”
“Astaga, kenapa semua orang menanyakan hal itu padaku?”
“Apa? Jadi ada orang lain lagi yang menanyakan hal yang sama sepertiku?”
“Iya, dan sudah aku katakan bahwa aku tidak mencintai Tania.”
“Namun sikapmu sama sekali bertentangan dengan ucapanmu, itu hal yang membuatku jadi ragu dengan apa yang kamu ucapkan.”
“Kalau pun aku mencintai Tania, apakah itu menjadi suatu masalah bagimu?”
“Iya, itu jadi masalah Olaf.”
__ADS_1
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak suka kamu dekat dengan Tania.”