
Sejujurnya Tania penasaran dengan apa maksud dan tujuan Minanti datang ke apartemennya tadi pagi, namun karena memang jadwal hari ini yang padat maka Tania tidak bisa menyanggupi keinginan Minanti untuk sarapan bersama. Setelah bergelut dengan pekerjaannya hingga larut malam, akhirnya Tania pulang juga, ia baru sempat membuka ponselnya karena saking sibuknya hari ini bekerja. Nampak ada beberapa pesan yang di antaranya dari
Olaf yang menanyakan apakah dia sudah pulang atau belum.
“Kamu di mana?”
“Baru saja pulang dari kantor.”
“Apa? Ini jam 10 malam.”
“Aku tahu, namun hari ini aku sibuk sekali hingga harus lembur.”
“Tania, ingat kamu sedang hamil, tidak baik terlalu memaksakan dirimu bekerja sampai larut malam begini.”
“Tenang saja Olaf, aku tidak terlalu lelah kok.”
“Namun tetap saja, kalau kamu terus menerus pulang larut malam begini aku jadi khawatir.”
Tania nampak tersenyum mendengar ucapan Olaf barusan, hingga akhirnya ia pun sampai juga di parkirkan, mobilnya sudah menunggu di sana, ia segera masuk masih dengan menelpon Olaf.
*****
Awalnya Tania tidak menaruh curiga sedikit pun pada sopirnya ini, namun ketika mereka semakin jauh ke luar kota tentu saja Tania merasa heran dan bertanya kenapa mereka pergi ke luar kota.
“Lebih baik anda duduk diam dan nikmati perjalanannya.”
“Siapa kamu?”
“Anda tidak perlu tahu siapa saya.”
“Berhentikan kendaraan ini!”
Namun orang tersebut sama sekali tidak menggubris apa yang Tania katakan, maka Tania pun berusaha menghubungi polisi untuk meminta bantuan, namun orang tersebut langsung merebut ponsel Tania.
“Kembalikan ponselku!”
“Lebih baik anda duduk diam di sana.”
Namun Tania tidak mau menuruti apa yang dikatakan oleh orang ini, ia berusaha merebut kembali ponselnya hingga mobil pun menjadi oleng dan tidak dapat dikendalikan dengan baik, sementara itu dari arah yang
berlawanan nampak sebuah truk besar melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka.
“AWAS!”
Maka tabrakan pun tidak dapat dihindarkan, mobil yang Tania tumpangi ringsek dan terguling ke sisi kanan jalan, sementara itu sopir truk melarikan diri pasca kejadian itu.
__ADS_1
“Ada kecelakaan!”
Warga sekitar yang melihat adanya kecelakaan langsung berbondong-bondong menuju lokasi kejadian sementara yang lainnya menelpon polisi dan ambulance agar cepat datang.
“Kasihan sekali.”
Beberapa warga nampak berusaha mengevakuasi Tania dan orang itu dari dalam mobil yang ringsek sembari menunggu ambulance dan polisi datang ke lokasi kejadian ini.
*****
Olaf terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara berisik dari ponselnya, ia meraba nakas dekat tempat tidurnya dan meraih benda itu tanpa melihat siapa yang menelponnya saat ini, ia langsung menjawab telepon itu.
“Siapa ini?”
Seketika Olaf langsung terbangun dari tidurnya dan kesadarannya kembali terkumpul setelah menerima telepon dari orang ini.
“Di mana dia sekarang?”
….
“Baiklah, aku akan ke sana sekarang.”
Olaf turun dari tempat tidur dan berganti pakaian, ia meraih kunci mobil dan jaketnya sebelum pergi dari kamarnya, ia menuruni anak tangga dengan agak tergesa-gesa, dan rupanya Minanti belum tidur dan tengah ada di ruang tengah sambil meminum air terkejut ketika melihat Olaf seperti terburu-buru malam-malam begini.
“Tania, dia butuh bantuan.”
“Apa maksudmu? Memangnya apa yang terjadi pada Tania?”
“Dia kecelakaan.”
“Apa? Ya Tuhan, apakah kamu tidak bercanda, Nak?”
“Untuk apa aku bercanda dalam kondisi seperti ini, Ma?”
“Tunggu sebentar, Mama ikut denganmu.”
“Tidak, lebih baik Mama tidak perlu ikut, hari sudah malam.”
“Pokoknya Mama harus ikut, tunggu sebentar, Mama akan ganti baju dulu.”
Maka Olaf pun menunggu Minanti berganti pakaian dan tidak lama kemudian akhirnya Minanti selesai berganti pakaian dan mereka pun bergegas menuju rumah sakit.
*****
Keadaan Tania masih kritis dan saat ini wanita itu masih terbaring lemah di ICU, Olaf begitu terpukul mendengar berita tentang wanita yang ia cintai kini dalam keadaan hidup dan mati, apalagi ia dikabarkan bahwa bayi yang ada di dalam perut Tania tidak dapat diselamatkan.
__ADS_1
“Tenang Olaf.”
“Bagaimana bisa aku tenang sementara saat ini Tania belum sadarkan diri, Ma?”
“Mama tahu ini berat bagi kita semua, namun tidak ada yang dapat kita lakukan selain berdoa pada Tuhan.”
Apa yang Minanti katakan itu memang benar, tidak ada yang dapat mereka lakukan kecuali meminta pertolongan pada Tuhan karena Tuhan yang mampu membuat Tania kembali siuman. Hari sudah pagi dan kini nampak Bram
serta Juan dan Felli datang ke rumah sakit setelah sebelumnya Olaf memberikan kabar bahwa Tania masuk rumah sakit.
“Bagaimana keadaan Tania?” tanya Bram.
“Dia belum sadarkan diri,” jawab Olaf.
“Ya Tuhan, semoga saja dia segera siuman,” ujar Juan.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit?” tanya Felli.
“Kata perawat yang semalam aku temui, mobil yang ditumpangi Tania ditabrak oleh truk besar dan membuat Tania serta orang asing dalam mobilnya kini keadaannya kritis.”
“Orang asing?” tanya Bram heran.
“Iya, ternyata sopir Tania disekap di sebuah gudang di area kantor dan orang asing itu sepertinya hendak mencelakai Tania karena lokasi kejadian yang jauh dari permukiman warga dan mengarah ke luar kota.”
*****
Maya mendatangi penjara untuk menjenguk putranya sekaligus memberikan kabar yang mengejutkan bagi Ferdian yaitu Tania mengalami kecelakaan.
“Apa maksud Mama Tania kecelakaan?”
“Semalam dia mengalami kecelakaan, dari kabar yang Mama dapat, dia sedang kritis saat ini.”
Ferdian begitu sedih dan terpukul saat mendengar wanita yang ia cintai sedang ada dalam pertaruhan hidup dan mati, ia ingin sekali menjenguk Tania dan melihat secara langsung kondisi wanita itu, namun ia tidak diperkenankan untuk menjenguk Tania.
“Tania, Tania, hiks.”
“Ferdian, apakah kamu benar-benar mencintai wanita itu sampai-sampai kamu menangisinya?”
“Iya, aku mencintainya, aku ingin bertemu dengannya andai saja mereka mengizinkanku untuk menjenguknya.”
“Kamu mencintai wanita yang bahkan tidak mencintaimu Ferdian? Ya Tuhan, anakku yang malang.”
Karena waktu besuk yang sudah habis, maka Maya pun mau tak mau harus segera pergi dari sana, Ferdian nampak memohon pada penjaga agar mengizinkannya untuk pergi menjenguk Tania sebentar saja, namun mereka tetap tidak mengizinkan Ferdian untuk menjenguk Tania karena mereka takut kalau Ferdian akan melarikan diri dari proses hukum yang berlaku, maka Ferdian pun kembali digiring kembali ke dalam sel tahanannya dengan berderai air mata.
“Tania, aku mohon kamu segera sadarlah, hiks.”
__ADS_1