
Konfrensi pers berlangsung saat ini dan Handi nampak berusaha tegar saat memberitahu para awak media yang sudah berkumpul di tempat ini mengenai apa saja kejahatan yang sudah Ester lakukan pada mendiang kakaknya. Nampak Minanti yang duduk di kursi paling depan menyeringai tipis, Tania nampak begitu tenang duduk di sebelah Handi sementara Ferdian nampak terkejut saat mendengar pernyataan Handi barusan bahwa Ester adalah pembunuh kedua orang tua Tania. Namun suasana konfrensi pers yang tenang berubah menjadi gaduh ketika seseorang tak dikenal masuk dan menodongkan senjata api pada semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
“Kalian semua harus mati!”
DOR
Letupan senjata membuat seisi ruangan berhamburan melarikan diri diiringi dengan pekikan ketakutan yang menggema, Handi, Tania, serta yang lainnya berusaha menghindari peluru yang dimuntahkan oleh senjata
api milik orang tidak dikenal itu.
“Sudah aku duga bahwa akhirnya akan seperti ini,” ujar Handi.
“Namun setidaknya Om sudah memberitahu yang sebenarnya pada semua orang,” ujar Tania.
“Iya, Om tahu dan Om siap jika harus mati saat ini.”
****
Kejadian mengerikan itu berlangsung cukup cepat, ketika orang itu hendak menyerang Handi dengan senjata apinya, polisi datang dan langsung membekuknya, kini ia sudah dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Setelah suasana kembali kondusif, kini Handi meminta maaf pada wartawan dan juga Minanti serta Ferdian yang hadir di acara konfrensi pers ini.
“Saya meminta maaf atas apa yang terjadi tadi,” ujar Handi.
“Anda tidak perlu meminta maaf atas apa yang barusan terjadi,” ujar Minanti.
“Kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Ferdian pada Tania.
“Aku baik-baik saja,” jawab Tania.
“Syukurlah kalau begitu, apakah wanita itu dalang di balik semua ini?” tanya Ferdian.
“Sebenarnya saya tidak ingin berspekulasi, namun dia dapat melakukan apa pun ketika posisinya terancam,” ujar Minanti.
“Apa yang Nyonya Minanti katakan benar, bukannya mau menuduh namun bisa saja dia dalang di balik semua ini, dia ingin membunuhku karena sudah membuka rahasianya pada masyarakat luas,” ujar Handi.
“Kalau memang dia ingin membunuh Om, maka aku tidak akan membiarkannya terjadi,” ujar Tania menggenggam tangan Handi erat.
Handi tentu saja merasa tersentuh dengan ucapan Tania barusan, Tania begitu baik dan perhatian padanya padahal ia sudah bersekongkol dengan Ester untuk menutupi rahasia kematian kedua orang tua wanita ini.
__ADS_1
“Sejujurnya Tania, Om jadi merasa tidak enak padamu,” ujar Handi.
“Om tdiak perlu merasa begitu.”
****
Rupanya konfrensi pers Handi yang berujung bencana menjadi pemberitaan media massa, baik elektronik maupun online saling memberitakan apa yang telah terjadi tadi, Olaf yang kebetulan sedang membaca berita online tentu
saja terkejut ketika melihat berita itu, dengan segera ia mencoba menelpon Tania untuk memastikan bahwa Tania baik-baik saja.
“Halo?”
“Apakah kamu baik-baik saja?”
“Tentu saja, aku baik-baik saja, apakah kamu menelpon karena melihat berita di internet?”
“Begitulah.”
“Tenang saja, semua orang baik-baik saja, tidak ada yang terluka sedikit pun atas insiden tadi.”
“Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya.”
“Tania, aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, aku permisi dulu.”
“Baiklah, sampai jumpa.”
TUT
Setelah Olaf mematikan sambungan teleponnya, pria itu nampak menghela napasnya berat, ia mengusak rambutnya frustasi karena ada rasa cemburu yang ada di dalam dirinya saat mengetahui bahwa Tania tengah bersama orang lain saat ini.
****
Ester mendapatkan surat panggilan dari polisi atas laporan dugaan melakukan percobaan pembunuhan, Ester nampak begitu kesal saat dilayangkan surat itu oleh polisi, sementara Jihan sendiri tidak mau terlalu ambil pusing akan hal tersebut. Asalkan Ester tidak membunuh Handi, maka ia sama sekali tidak peduli akan mamanya itu.
“Jadi dia ingin melaporkanku pada polisi, kurang ajar,” ujar Ester.
Ester menatap Jihan yang hanya diam saja dan sama sekali tidak memberikan komentar apa pun mengenai kasus yang tengah menimpanya saat ini, Ester mendelik kesal pada Jihan dan mengatakan bahwa semua rencananya gagal karena Jihan.
__ADS_1
“Semua rencana Mama jadi gagal lagi, semua itu karena kamu!”
“Lho? Kok Mama malah menyalahkan aku? Rencana Mama gagal itu karena salah orang suruhan Mama sendiri yang tidak dapat memanfaatkan situasi.”
“Kamu ini memang benar-benar, ya!”
Jihan meraih surat cerai yang waktu itu disimpan oleh Ester di dekat nakas tempat tidur, ia pun segera meraih pulpen dan menandatangani surat cerai itu, Ester nampak terkejut dengan yang dilakukan oleh Jihan.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Apakah Mama tidak melihat apa yang sedang aku lakukan saat ini?”
“Kenapa kamu melakukan itu, Jihan?!”
“Karena aku sudah tidak mau lagi berumah tangga dengan Ferdian, aku sudah muak dengan pria itu.”
“Lalu apakah kamu akan membiarkan Tania menang begitu saja?!”
****
Ferdian mendatangi rumah sakit di mana Jihan dirawat setelah wanita itu memintanya datang karena ada sesuatu yang ingin ia katakan pada pria itu, Ferdian memasuki ruangan inap Jihan, tidak ada seorang pun di sana,
ia pun berjalan menghampiri ranjang Jihan dan langsung bertanya apa maksud dan tujuan Jihan mengundangnya ke sini.
“Bisakah kita tidak perlu basa-basi dan langsung masuk pada intinya saja, apa yang membuatmu ingin bertemu denganku di tempat ini?”
“Ini, kamu menginginkan tanda tanganku, bukan? Aku sudah tanda tangan,” ujar Jihan menyerahkan surat cerai itu.
Ferdian meraih surat cerai yang disodorkan oleh Jihan barusan, ia melihat surat itu dengan seksama dan Jihan memang sudah menandatangani surat itu, ia pun mengulas sebuah senyum.
“Akhirnya kamu menyerah juga, baguslah, semua akan berakhir tidak lama lagi,” ujar Ferdian berbalik badan dan hendak pergi dari ruangan inap Jihan.
“Kamu pikir semua ini akan berakhir dengan bahagia untukmu, Ferdian?”
Langkah kaki pria itu terhenti ketika mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Jihan, ia pun berbalik badan dan menatap tajam Jihan, wanita itu nampak mengulas sebuah seringai jahat di bibirnya.
“Kamu pikir aku tidak akan melakukan apa pun untuk membuat kamu dan Tania sengsara selepas ini?”
__ADS_1
“Silakan saja kalau kamu mau mencobanya, namun aku sarankan agar kamu tidak melakukan itu karena kamu akan menyesalinya di kemudian hari.”