Berkah Cinta

Berkah Cinta
Kamu Milikku


__ADS_3

Tania tidak dapat diam saja ketika tahu di dalam Handi masih terjebak di tengah kobaran api, namun karena api yang memang sudah sangat membesar hingga tentu saja berbahaya jika Tania memaksakan dirinya untuk masuk


ke sana.


“Nona, jangan masuk.”


“Namun Om Handi ada di dalam.”


“Bibi tahu, namun ini terlalu berbahaya.”


Petugas pemadam kebakaran akhirnya tiba dan langsung berusaha menjinakan api yang sudah terlanjur membesar dan membuat rumah itu nyaris rata dengan tanah. Tania hanya dapat berdoa semoga saja Handi bisa menyelamatkan diri sebelum ia terpanggang di dalam kobaran api itu. Setelah berjibaku selama hampir 3 jam lamanya untuk memamdamkan kobaran api yang besar, maka saat ini api sudah berhasil dijinakan dan pemadam kebakaran mulai melakukan penyisiran untuk melihat apakah adanya korban jiwa dari kejadian mengerikan ini. Tania nampak terkejut ketika petugas membawa sebuah kantung mayat dari dalam rumah dan seketika tangis Tania pecah saat itu juga, ia berusaha mendekati kantung mayat itu namun dihalangi oleh petugas.


“Om Handi, tidak mungkin itu Om Handi,” ujar Tania histeris.


Minanti baru saja tiba di rumah ketika ia baru mendengar berita bahwa rumah yang dihuni oleh Tania dan Handi terbakar, Minanti lansung menghampiri Tania dan memeluknya dengan erat.


****


Saat ini Minanti dan Tania menunggu di rumah sakit, mereka masih menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh tim dokter untuk mengungkap siapa identitas jenazah yang terpanggang di dalam rumah, sebelumnya


Jihan juga sudah datang dan ia diambil sampel DNA-nya untuk keperluan identifikasi jenazah. Jihan nampak begitu marah pada keadaan, ia takut sekali kalau sampai orang yang meninggal dunia itu adalah sang papa.


“Aku tidak akan memaafkanmu,” lirih Jihan.


Setelah menunggu hasil tes yang lama, serta mencocokan data yang ada, maka kini tim dokter sudah menemukan kesimpulan atas siapa identitas jenazah yang terpanggang di dalam rumah Handi yang terbakar. Seketika isak tangis pun pecah ketika mereka tahu bahwa identitas jenazah yang terbakar itu memanglah Handi, Jihan begitu terpukul dan menangis tak terima, begitu pun dengan Tania, ia begitu sedih dan terpukul karena Handi harus pergi untuk selama-lamanya.


“Tenangkan dirimu, Nak,” ujar Minanti ketika ia memeluk Tania.


Jihan yang melihat Tania menghampiri wanita itu dan kemudian memakinya, Jihan mengatakan pada Tania bahwa seharusnya yang meninggal dalam insiden kebakaran itu adalah dirinya dan bukan sang papa.


“Harusnya kamu yang mati terpanggang di dalam sana, bukan papa!” seru Jihan.


****

__ADS_1


Jihan nampak mendatangi Ester yang sedang duduk di ruang tengah seolah tidak terjadi apa pun, Jihan langsung menghampiri Ester dan membuat wanita itu menoleh padanya, Jihan tanpa basa-basi menanyakan kenapa


Ester melakukan semua itu pada Handi.


“Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan ini.”


“Mama boleh saja berkelit, namun aku tahu bahwa Mama adalah dalang di balik semua ini, Mama terlalu takut kalau Papa akan terus buka suara dan membuat hidup Mama hancur, maka dari itu Mama melenyapkan papa,


bukan?”


Ester berdiri dan kemudian menatap Jihan seraya melipat kedua tangannya di depan dada, Ester mengatakan pada Jihan untuk tidak perlu mengungkit masalah itu lagi.


“Mengungkit masalah itu lagi? Bukankah sudah pernah aku katakan pada Mama untuk tidak melakukan sesuatu hal yang buruk pada Papa?!”


“Aku tidak memiliki pilihan, orang-orang yang berusaha menghalangiku maka aku harus melenyapkan mereka.”


“Mama memang iblis, bagaimana bisa Mama melakukan tindakan keji seperti itu?!”


“Mama tidak akan melepaskan semua ini, sampai mati pun Mama tidak akan rela jika semua hal yang Mama perjuangkan selama ini jatuh ke tangan wanita itu!”


“Tutup mulutmu, Jihan, memangnya kamu ini tahu apa?!”


****


Suasana duka sangat terasa ketika jenazah Handi disemayamkan di rumah duka, Tania masih begitu sedih dan terpukul atas kepergian Handi untuk selama-lamanya, Minanti berusaha menguatkan Tania agar dapat melalui hari-hari buruk ini. Olaf, Juan, Felli dan juga Bram ikut hadir di rumah duka ini, Olaf dari tadi ingin mendekati Tania untuk menghibur wanita itu, namun ia tidak enak pada sang mama yang ada di sana.


“Kenapa kamu tidak pergi ke sana?” bisik Juan.


“Ke mana maksudmu?” tanya Olaf.


“Aku tahu kamu mengerti apa yang kamu maksud,” jawab Juan.


Olaf menghela napasnya panjang, sejujurnya ia ingin pergi ke sana dan menghibur Tania yang sedang berduka akibat kepergian Handi untuk selama-lamanya, namun lagi-lagi adanya Minanti membuat dirinya jadi sungkan melakukan itu. Ketika Olaf tengah memperhatikan mereka dari jauh, Ferdian datang ke rumah duka ini dan langsung menghampiri Tania, wanita itu nampak langsung memeluk Ferdian. Olaf yang melihat itu sontak memalingkan wajahnya, ia buru-buru pergi dari rumah duka itu.

__ADS_1


“Apa yang terjadi padanya?” tanya Felli pada suaminya.


“Sudahlah, jangan dibahas,” jawab Juan.


Ketika Tania memeluk Ferdian, sebenarnya Tania sempat melihat Olaf pergi dari rumah duka ini ketika ia mulai memeluk Ferdian, sejujurnya Tania ingin Olaf yang memeluk dirinya dan bukannya Ferdian.


****


Ketika Olaf sedang menenangkan dirinya di luar rumah duka, seseorang datang menghampirinya dan tentu saja orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Stefani, wanita itu nampak mengusap bahu Olaf hingga membuat Olaf yang tidak menyadari kehadirannya begitu terkejut dan berbalik badan.


“Mau apa kamu ke sini?”


“Aku datang ke sini karena aku dengar kamu ada di sini.”


“Jangan bertindak hal yang aneh di tempat ini, Stefani. Kamu tahu bahwa ini adalah rumah duka!”


“Tentu saja aku tahu ini adalah rumah duka, Olaf. Aku tidak akan melakukan hal yang aneh, kamu saja yang nampaknya terlalu sensitif,” ujar Stefani tenang.


Olaf hendak pergi meninggalkan Stefani, namun wanita itu menahan lengan Olaf, pria itu kemudian menatap Stefani tajam dari tatapannya itu seolah menyiratkan bahwa Olaf ingin agar Stefani melepaskan lengannya sekarang juga.


“Aku tahu kamu keluar karena ada pemandangan menyakitkan di dalam sana, bukan?”


“Sudahlah, aku tidak mau bicara apa pun padamu, lepaskan aku.”


“Olaf, dia tidak mencintaimu.”


“Cukup Stefani!”


“Dia tidak mencintaimu dan kamu harusnya sadar bahwa saat ini kamu hanya melukai dirimu sendiri!”


“Aku katakan cukup Stefani! Jangan mengatakan apa pun lagi!”


Setelah mengatakan hal itu, Olaf langsung pergi meninggalkan Stefani yang masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


“Aku akan mendapatkanmu, Olaf, bagaimanapun caranya aku pasti akan mendapatkanmu.”


__ADS_2