Berkah Cinta

Berkah Cinta
Tidak Mau Tahu


__ADS_3

Ferdian berkeras tidak akan meninggalkan Tania sendiri, apalagi Ester adalah wanita jahat yang dapat melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya, Tania dan calon anaknya lebih penting baginya maka Ferdian akan melindungi keduanya dari wanita iblis ini.


“Apakah kamu yang menggagalkan rencanaku?”


“Apa maksudmu?” tanya Ferdian.


“Apakah yang anda maksud soal pemukulan terhadap mantan kekasih Jihan?”


“Jadi rupanya rekaman kamera CCTV itu benar.”


“Apakah saya harus menggunakan rekaman kamera CCTV itu sebagai bukti untuk menyeret anda ke polisi?”


“Kamu terlalu percaya diri Tania, walau kamu memiliki bukti rekaman kamera CCTV soal pengeroyokan itu, kamu tidak bisa menjeratku. Mereka yang melakukan pemukulan bukan diriku.”


“Namun kalau mereka buka mulut dan mengatakan semua pada polisi, bukankah anda bisa saja ikut terseret dalam masalah ini?”


“Kenapa kamu sepertinya ingin sekali aku dipenjara?”


“Sebab anda menyebabkan kedua orang tuaku meninggal dunia.”


“Aku harus menyingkirkan mereka berdua, karena mereka berdua adalah batu sandunganku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.”


“Anda bukan manusia, anda melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang anda mau, apakah anda tidak takut akan mendapatkan balasan dari Tuhan kelak?”


“Diam kamu!”


****


Ferdian sudah pulang ke rumahnya setelah memastikan bahwa Tania baik-baik saja dan Ester sudah pergi dari apartemen, pria itu meminta agar Tania memberikannya kabar kalau Ester kembali dan membuat keributan. Kini hari sudah malam dan Tania sedang menikmati makan malamnya seorang diri, pintu bel apartemennya berbunyi, ia pun nampak waspada kalau yang datang pada malam ini adalah Ester. Ia pun bergegas pergi ke pintu dan melihat


ke monitor yang terhubung dengan kamera CCTV yang ada di depan pintu, rupanya orang yang datang pada malam ini bukanlah Ester melainkan Olaf, Tania pun membukakan pintu untuk pria itu.


“Selamat malam, apakah aku mengganggumu?”


“Tidak, masuklah.”


Olaf pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen Tania, ia menemukan sebuah mangkuk yang berisi mie instant yang beberapa saat lalu tengah disantap oleh Tania.


“Kamu bilang aku tidak mengganggumu, namun sepertinya kamu sedang makan saat ini.”


“Aku memang sedang makan, namun kamu sama sekali tidak menggangguku.”


“Kenapa makan mie instant?”


“Karena ini makanan yang mudah dibuat.”


“Tidak baik mengkonsumsi mie instant terus menerus, apakah kamu ingin makanan lain?”


“Sejujurnya iya, namun aku malas membuatnya.”


“Kalau begitu, biar aku yang membuatkannya untukmu.”

__ADS_1


“Apa?”


“Kamu duduk manis saja di sini dan biarkan Chef Olaf


membuatkan hidangan yang enak untukmu.”


****


Tania tidak menyangka kalau Olaf bisa pandai memasak, melihat pria itu dengan cekatan memasak di dapur dan mengolah beberapa bahan makanan membuat Tania kagum dan Tania merasa kalau Olaf yang sedang memasak


terlihat begitu seksi namun ia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran anehnya barusan.


“Ini dia.”


Tania dapat mencium bau lezat dari masakan yang dibuat oleh Olaf, namun Tania merasa heran kenapa Olaf hanya menyajikan satu piring saja.


“Kenapa hanya ada satu piring?”


“Aku sudah makan, ini untukmu, aku khusus memasak untukmu.”


“Tapi ….”


“Sudahlah, ayo cicipi bagaimana menurutmu masakanku.”


Tania pun mulai menyendok makanan yang dibuat oleh Olaf, ia memuji masakan yang dibuat oleh pria itu karena rasanya yang lezat. Olaf nampak tersenyum ketika mendapatkan pujian dari wanita yang ia sukai, melihat Tania makan dengan lahap masakannya menjadi sebuah kepuasan tersendiri baginya.


“Bagaimana? Enak?”


“Selama aku kuliah di Amerika dulu, aku lebih suka mengolah bahan makanan sendiri untuk menghemat pengeluaran, kamu tahu sendiri kalau biaya sewa apartemen di sana kan mahal.”


“Namun kedua orang tuamu adalah orang mampu.”


“Dan apakah kamu pikir aku akan seenaknya meminta uang pada mereka kalau uangku habis?”


“Jadi kamu tidak meminta uang lebih pada mereka ketika


kamu kuliah dulu?”


“Tentu saja tidak, selama libur semester aku juga


sempat bekerja paruh waktu di restoran atau supermarket untuk mencari


pengalaman dan juga penghasilan tambahan.”


****


Tania senang sekali Olaf datang malam ini walaupun


Tania tahu bahwa Olaf pasti lelah sekali karena seharian ini pria itu bekerja


di kantor, walaupun lelah Olaf tetap menyempatkan diri mampir ke apartemennya

__ADS_1


dan membuatkan sebuah hidangan yang lezat khusus untuknya dan tentu saja


perlakuan pria itu membuat Tania begitu bahagia.


“Sejujurnya aku bahagia ketika kita berdua seperti ini,” ujar Olaf membuka percakapan dengan Tania.


“Aku pun.”


“Bagaimana dengan anak yang ada di dalam perutmu?”


“Dia baik-baik saja.”


“Kamu harus jaga pola makan dan juga kelola stres, ok?”


“Terima kasih karena kamu sudah peduli padaku, sejujurnya aku merasa bahwa aku tidak pantas mendapatkan perhatian darimu Olaf.”


“Kenapa? Apakah karena kamu sedang hamil anaknya Ferdian?”


“Lebih dari itu, sejujurnya aku merasa menyesal karena tidak mengungkapkan perasaanku padamu sejak dulu.”


“Namun saat ini kita berdua sudah sama-sama tahu bahwa kita memiliki perasaan yang sama, bukan?”


“Kamu benar, namun walau kita sudah saling mengungkapkan perasaan satu sama lain, kita tidak bisa bersama.”


Kenyataan pahit yang barusan dikatakan oleh Tania membuat mereka berdua terdiam, mereka berpikir apakah ada jalan untuk mereka dapat bersatu di kemudian hari?


****


Sementara itu pada pagi ini, nampak Ferdian baru saja tiba di apartemen Tania, pagi ini sebelum ia berangkat ke kantor dirinya sengaja ingin memberikan Tania sarapan untuk dinikmati oleh wanita yang ia cintai itu. Di dalam Ferdian nampak senyum-senyum sendiri ketika melihat makanan yang ia bawa di dalam paper bag itu, ia membayangkan bahwa ia Tania dan calon anak mereka hidup bahagia selamanya, Ferdian sudah sangat tidak sabar menanti hal tersebut. Akhirnya Ferdian pun tiba di depan pintu apartemen Tania, pria itu menekan bel pintu dan menunggu sampai Tania membukakan pintu untuknya, ketika ia sedang menunggu, Ferdian mendengar ponselnya berbunyi, ia merogoh saku celananya dan melihat di layar ponselnya tertera nama sekretarisnya,


Ferdian segera menjawab panggilan itu.


“Ada apa? Kenapa menelponku pagi-pagi begini?”


“Tuan Ferdian akan datang ke kantor hari ini, kan?”


“Tentu saja, aku akan datang ke kantor hari ini.”


“Syukurlah kalau begitu karena hari ini kita ada penandatangan kontrak dengan investor baru kita dari China.”


“Aku tahu, bukankah kamu sudah pernah mengatakannya kemarin?”


“Maaf Tuan.”


“Kalau kamu menelponku pagi-pagi begini hanya untuk mengatakan sesuatu yang sudah kamu katakan padaku kemarin, maka aku tidak akan segan untuk memecatmu, apakah kamu mengerti?!”


TUT


Ferdian nampak kesal saat menutup sambungan teleponnya dan saat itulah pintu apartemen Tania dan Ferdian nampak terkejut karena orang yang membukakan pintu apartemen Tania bukanlah wanita itu.


“Kenapa kamu ada di sini?!”

__ADS_1


__ADS_2