Berkah Cinta

Berkah Cinta
Janji Sebuah Pembalasan


__ADS_3

Tania hari ini sudah merapihkan semua pakaiannya, ia sudah bertekad akan kembali ke apartemennya karena tidak nyaman jika harus berlama-lama tinggal di hotel ini bersama dengan Ferdian padahal hari ini mereka seharusnya masih menginap di hotel ini hingga beberapa hari ke depan.


“Kamu mau pergi ke mana?” tanya Ferdian ketika melihat Tania sudah siap dengan kopernya.


“Aku akan kembali ke apartemen,” jawab Tania.


“Benarkah? Kamu akan kembali ke apartemen dan bukan menemui pria itu?”


“Aku tidak peduli dengan apa yang kamu katakan.”


Tania hendak pergi dari dalam kamar namun Ferdian menahan tangannya, Ferdian mengatakan bahwa saat ini dia adalah suami Tania, jadi Tania harus mendengarkan apa yang ia katakan.


“Berhentilah membuatku kesal Ferdian.”


“Aku tidak mau kamu pergi ke mana pun, kamu harus tetap di sini.”


“Ferdian!”


“Dengarkan aku, aku ini suamimu Tania, jangan jadi istri yang durhaka.”


Tania menggerutu kesal, ia tetap tidak mau menuruti apa yang Ferdian katakan hingga ia tetap hendak pergi dari kamar hotel ini, namun tentu saja Ferdian menghalanginya.


“Menyingkir.”


“Apakah kamu sungguh-sungguh ingin menjadi istri durhaka?”


“Ferdian, menyingkir!”


“Baiklah kalau kamu memang ingin pulang ke apartemen, aku juga akan pulang ke sana.”


“Apa?!”


“Kenapa? Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian, kamu ini istriku sekarang.”


Tania berusaha meredakan kekesalannya, pada akhirnya ia mengizinkan Ferdian untuk pergi bersamanya ke apartemennya walaupun sebenarnya ia keberatan dengan yang dilakukan oleh pria ini.


****


Sementara itu Galang mengunjungi Jihan di penjara, mereka membahas tentang Ester yang melarikan diri dari rumah sakit jiwa. Jihan bilang bahwa mamanya itu memang orang yang dapat melakukan apa pun, bahkan


untuk melarikan diri dari rumah sakit jiwa pun bukanlah sebuah hal yang sulit untuk ia lakukan.


“Apakah kamu tidak khawatir kalau dia akan melakukan hal yang buruk di luar sana?”


“Sejujurnya iya, dia hanya akan membuat dirinya terlihat buruk di depan banyak orang, dan aku harap polisi dapat segera menemukannya.”


“Aku pun demikian.”

__ADS_1


Setelah itu mereka pun terdiam untuk beberapa saat hingga akhirnya Galang pun memberanikan diri bertanya pada Jihan mengenai jawaban atas pertanyaannya waktu itu.


“Pertanyaan? Pertanyaan yang mana?”


“Tentu saja soal pertanyaan apakah kamu bersedia menikah denganku?”


Jihan nampak tidak langsung menjawab pertanyaan Galang barusan, ia menundukan kepalanya karena merasa dirinya ini kotor dan hina setelah semua perbuatan jahat yang ia lakukan di masa lalu.


“Ada apa Jihan?”


“Aku merasa kalau aku orang yang hina dan kotor,  kenapa kamu masih mau denganku, Galang?”


“Jihan… tidak peduli seburuk apa pun masa lalumu, namun semua itu hanya masa lalu yang terpenting saat ini adalah aku dapat melihat kesungguhan dalam dirimu untuk berubah.”


Jihan tentu saja tersanjung dengan ucapan yang diberikan oleh Galang barusan, pria ini nampak begitu serius dengan apa yang sudah ia katakan, maka Jihan pun akhirnya menganggukan kepalanya tanda bahwa ia


setuju untuk menikah dengan Galang.


****


Tania bilang bahwa dia ingin berbelanja dulu karena tidak ada bahan makanan di dalam kulkas, namun tentu saja Ferdian melarang Tania melakukan itu, ia bilang dia akan menemani Tania pergi berbelanja.


“Apa?”


“Kenapa? Aku harus memastikan kalau sesuatu hal yang buruk tidak terjadi padamu, kamu sedang hamil saat ini, Tania.”


“Aku tahu kalau supermarketnya tidak jauh dari sini, namun siapa yang akan menjamin kamu baik-baik saja saat perjalanan pulang dan pergi ke sana? Siapa tahu ada orang jahat yang hendak melukaimu?”


“Aku akan baik-baik saja.”


“Atau justru itu hanya alasanmu saja? Kamu sebenarnya ingin bertemu dengan Olaf, bukan?”


Tania tentu saja tersinggung dengan ucapan Ferdian barusan, ia memutuskan untuk pergi sendiri ke supermarket itu namun Ferdian menahannya dan mengatakan bahwa Tania tidak boleh pergi sendiri karena berbahaya.


“Lepaskan tanganmu.”


“Baiklah, aku minta maaf, aku akan menemanimu pergi ke supermarket, ya?”


Ferdian akhirnya bersikap lunak pada Tania, akhirnya mereka berdua pergi ke supermarket bersama-sama, sepanjang mereka pergi ke supermarket, rupanya ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka dari


jauh.


****


Olaf nampak ragu, apakah ia harus menelpon Tania atau tidak saat ini, fakta bahwa saat ini Tania sudah menikah dengan Ferdian dan ia tidak dapat melakukan apa pun untuk membatalkan pernikahan mereka membuatnya kesal.


“Astaga, semua ini membuatku kesal,” geram Olaf mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


Minanti yang melihat Olaf sedang duduk sendirian di taman belakang rumah sambil mengacak rambutnya membuatnya tergerak untuk menghampiri Olaf dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada putranya itu.


“Olaf, ada apa denganmu?”


“Oh, bukan apa-apa, Ma.”


“Kamu pasti sedang memikirkan Tania, ya?”


Olaf menghela napasnya panjang, ia pun akhirnya jujur pada Minanti bahwa ia sedang memikirkan Tania saat ini, ia benar-benar kesal karena tidak ada yang dapat ia lakukan untuk mengagalkan pernikahan Tania dan Ferdian.


“Mama mengerti kalau saat ini kamu sedang sedih dan kecewa, namun Olaf Mama hanya ingin berpesan jangan kamu menjadi pengganggu rumah tangga orang lain, ya?”


“Ma ….”


“Mama mohon, Mama tidak ingin namamu jelek di media, itu juga akan berdampak pada perusahaan bukan?”


Olaf menghela napasnya panjang, Minanti nampak tersenyum dan mengelus lengan putranya kemudian pergi meninggalkan Olaf seorang diri di sana.


“Apa yang harus aku lakukan saat ini?”


****


Sementara itu saat ini Ferdian menemani Tania berbelanja di supermarket, walaupun tidak nyaman dengan kehadiran Ferdian di sisinya namun Tania berusaha mengabaikan kehadiran pria itu dan fokus saja berbelanja apa yang ia perlukan. Hingga akhirnya ia sudah mendapatkan semua yang ia inginkan dan hendak membayar di kasir, saat itulah ketika Tania hendak membayar, Ferdian mengeluarkan kartu kreditnya pada sang kasir dan mengatakan


bahwa ia yang akan membayar semuanya.


“Terima kasih.”


Kini Ferdian membawakan belanjaan Tania dan mereka berdua hendak masuk ke dalam mobil, namun Tania merasa bahwa ada seseorang yang memperhatikannya dari suatu tempat saat ini, namun ketika ia mengedarkan


pandangan ia tidak menukan siapa pun di sekitar sana.


“Kamu sedang mencari siapa?”


“Bukan apa-apa.”


Maka mereka pun melanjutkan perjalanan menuju mobil namun beberapa saat kemudian sebuah ledakan petasan tidak jauh dari mereka membuat Tania terkejut hingga nyaris jatuh kalau saja Ferdian tidak menahan tubuhnya.


“Tania, apakah kamu baik-baik saja?”


“Iya, aku baik-baik saja, aku hanya terkejut saja.”


Ferdian menatap sekeliling untuk melihat siapa sebenarnya orang yang melakukan itu pada mereka saat ini, namun ia tidak dapat menemukan siapa pelakunya.


“Ayo kita masuk ke dalam mobil.”


Rupanya dari salah satu sudut supermarket nampak seseorang menyeringai pada mereka.

__ADS_1


“Tania, tunggu pembalasanku.”


__ADS_2